Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Crystal Snow : Ep. 10


__ADS_3

"Putra Duyung."


Artha menyeletuk dan memandang ke Dapi. Tapi... dia melihat pemuda di sampingnya fokus melihat ke makhluk yang di depan mereka. Arthapun kembali menoleh ke depan, ke arah puluhan pasukan setengah ikan karena tak ada respon dari pemuda yang berada di sampingnya.


 


 


Di hadapan mereka telah berdiri puluhan pasukan berbentuk setengah ikan. Di depan puluhan makhluk setengah ikan, telah berdiri sesosok makhluk yang bermahkota dan memegang tombak berwarna perak.


 


 


Dapi segera menggerakkan tangannya melukis di ruang kosong. Berusaha untuk fokus dengan imajinasinya. Membuat suatu benda dengan kekuatannya.


 


 


"Kak, ini ambil!" Dapi menyerahkan beberapa benda kepada Artha.


 


 


Artha menoleh lagi ke arah Dapi. Ternyata sudah melayang beberapa benda, mendekati tubuh Artha yaitu busur panah berwarna biru laut dan beberapa anak panah beserta wadah anak panah dengan warna yang sama. Artha terbengong sekaligus takjub dengan benda yang diberikan Dapi. Benda yang melayang dan mendekatinya adalah perlengkapan memanah yang terbuat dari bahan dasar air. Dengan segera, api biru yang berada di kedua ujung jari telunjuk, dimatikan olehnya. Awalnya dia ingin melawan pasukan ikan hanya dengan kekuatan api.


 


 


"Untuk melawan mereka, Kak," nyata Dapi tanpa melihat ke arah Artha. Kedua matanya yang kecil menatap dengan tajam ke arah makhluk yang berwujud setengah ikan.


 


 


Artha meraih benda-benda yang diciptakan oleh Dapi. Dengan cepat dia memegang busur, memasang anak panah di busur. Kemudian merentangkan anak panah yang telah tersemat di busur yang terbuat dari bahan dasar air. Benda yang diciptakan oleh Dapi terlihat kokoh, bahkan tali yang terbuat dari air juga sangat solid dan lentur. Dia bangga dengan kemampuan Dapi.


 


 


Belum lagi habis rasa kagetnya mendapatkan alat perang dari Dapi, tiba-tiba di sekitar tubuhnya terisi seluruh udara. Udara itu membentuk ruang kosong dari kepala sampai ujung kaki seperti gelembung udara yang awalnya berada di kepalanya saja, tapi sekarang sudah pecah. Tubuh Artha tidak terbalut gelembung udara, tapi air dan udara memang benar-benar terpisah dengan sempurna. Kini tak ada air yang menyentuh tubuh Artha.


 


 


Pemuda itu melihat ke arah Dapi dan ternyata temannya juga berada di kondisi yang sama. Dapi membuat tubuhnya tak tersentuh air dengan adanya ruang kosong berudara. Mereka berdua mengambang di dasar laut dengan kondisi yang tidak biasa. Tidak seperti pasukan makhluk setengah ikan yang mengambang dan bernafas di dalam air laut.


 


 


Makhluk yang berdiri di depan kedua pemuda dan siap untuk bertempur, masih terdiam dan mengambang. Tapi terlihat wajah yang sangat keheranan dari raut mukanya. Begitu juga dengan pasukan setengah ikan yang berada di belakang.


 


 


"Apa kami melakukan kesalahan?" tanya Dapi.


 


 


"Siapa kalian?!"


 


 


Akhirnya makhluk setengah ikan berbicara. Sepertinya, dia pemimpin dari pasukan.


 


 


"Aku Hikma Andapi. Aku berasal dari Amlapura, Karangasem." Suara yang dikeluarkan Dapi sangat tegas.


 


 


"Kami tidak mengenalmu, tapi sepertinya kalian bukan manusia biasa." Pemimpin pasukan yang juga berwujud setengah ikan membalas perkataan Dapi, juga denga suara yang lantang.


 


 


Dapi mengerti maksud dari perkataan makhluk itu.


 


 


"Ya. Tapi kami hanya anak muda yang ingin melatih kekuatan dan ilmu kami di sini."


 


 


"Tapi ini daerah teritorial kami!" bentak pemimpin pasukan itu karena kesal mendengar bantahan dari Dapi.


 


 


"Aku tidak mengganggu siapapun!."


Dapi menjawab dengan nada setengah membentak. Wajahnya sedikit memerah. Ternyata dia juga bisa marah di balik wajahnya yang imut.


 


 


"Manusia yang datang dan bermain ke laut, semuanya pasti akan mengganggu daerah kami. Mereka saja yang merasa tidak mengganggu tapi sebenarnya kehidupan mereka yang penuh dengan keserakahan dan keegoisan sudah sangat lama mengganggu habitat laut." Pemimpin pasukan makhluk setengah ikan berujar dengan tegas dan lantang, lagi.


 


 


"Aku mengakui hal itu, tapi... maaf... kami hanya akan berenang ke bangkai kapal dan kami ingin bermain di sana." Dapi menjelaskan dengan lugas. Karakter Dapi yang manja, sangat tak tampak sama sekali pada saat ini. Dia sangat serius dan berwibawa mengucapkan semua perkataannya.


 


 


"Tapi, kalian sudah terlalu dalam ke dasar laut!” nyata pemimpin pasukan kembali dengan lantang.


 


 


"Aku bisa saja menyelam lebih dalam lagi, mungkin sampai ke kerajaanmu," tantang Dapi.


 


 


"Hei... kau manusia! Kau tidak tau apa-apa tentang kerajaan di bawah laut," bentak makhluk yang bermahkota sembari menunjuk ke arah Dapi.


 


 


"Siapa bilang? Kalian adalah Suku Siren yang berasal dari kamu Naiad," nyata Dapi dengan lantang.


 


 


Makhluk bermahkota itu terkejut. Terlihat dari ekspresi wajahnya. Tak hanya dia. Seluruh pasukannya juga terkejut dan terdengar suara terperangah bersamaan. Tidak ada manusia zaman sekarang ini yang tahu akan Suku Siren, apalagi kaum Naiad. Tapi pengetahuan Dapi mengenai Suku Siren, hal itu yang membuat mereka terperangah.


 


 


Artha kembali terpelongoh. Dia baru mengalami hal ini -walaupun sudah beberapa tahun berjuang dengan Papanya- yaitu kondisi berada di dalam laut, mengambang di dalam kantung udara tapi berada di dasar laut dan berhadapan dengan pasukan setengah ikan. Sekarang, dia berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Dapi.


 


 


"Siapa kau sebenarnya?!" Pemimpin makhluk setengah ikan kembali membentak. Kali ini terlihat wajahnya yang semakin murka.


 


 


"Aku hidup di zaman sekarang dengan nama Hikma Andapi. Aku titisan Raja Pertama Kerajaan Karangasem." Dapi masih berbicara dengan lantang.


 


 


"Jangan mengaku-ngaku! Aku tak suka itu!"

__ADS_1


 


 


"Jadi, aku harus bagaimana supaya kau mempercayai perkataanku?" tanya Dapi. Matanya sedikit membesar.


 


 


"Pergi dari sini dan kita sudahi pertikaian ini!" bentak pemimpin pasukan itu lagi. Tangan kanannya menunjuk ke samping dan memerintah.


 


 


"Kau tak berhak mengusirku karena aku juga berhak untuk berada di sini. Aku tidak melakukan tindak kejahatan dan merugikan kalian." Bantah Dapi.


 


 


"Dasar keras kepala!" bentak pemimpin makhluk itu.


 


 


Dia merentangkan tangan kiri ke depan, membuka telapak tangan dan mengeluarkan suara yang menderu. Air yang berada di hadapannya berubah menjadi batangan-batangan tajam yang meruncing di ujungnya, menyerang dengan cepat ke arah Dapi.


 


 


Dapi segera menggerakkan kedua tangannya ke depan. Dengan cepat terbentuk dinding tebal dan lebar yang menghalangi benda itu menyerang tubuh mereka. Batangan-batangan tajam itu mendarat, tertancap di dinding tebal yang diciptakan Dapi. Kemudian dinding tebal itu digeser dengan kedua tangannya, mencelat ke samping termasuk batangan-batangan yang menancap di dinding itu.


 


 


Pemimpin pasukan terperanjat dengan aksi perlindungan lawan yang cepat dari serangannya. Tapi dia berusaha menutupi reaksi dirinya dan berkata, "Aku katakan sekali lagi untuk pergi dari tempat ini!" seru makhluk bermahkota itu.


 


 


"Aku tetap pada pendirianku karena aku tidak merasa bersalah."


 


 


Dapi menggerakkan tangan dan melukis sesuatu dengan jarinya di ruang kosong. Dalam hitungan detik, keluar dari telapak tangannya tombak berwarna biru laut yang panjangnya hampir 1.5 senti meter. Tombak itu memiliki ujung yang runcing di bagian atas dan bagian bawah. Hal yang menarik, bagian tengah tombak itu, terdapat sepuluh ujung runcing yang tajam seperti ujung tombak yang tersusun secara  melingkar, sedangkan di tengah lingkaran itu ada lubang kosong berbentuk bulat.


 


 


Makhluk itu terperanjat. Kali ini, rasa kaget itu sangat jelas di wajahnya.


 


 


"Dari mana engkau mendapatkan tombak itu?" tanyanya dengan nada yang sangat terkejut.


 


 


Dapi hanya terdiam. Dia melihat ke arah tombak yang berada di tangan kanannya dengan rasa penasaran. Dia membuat tombak itu dengan imajinasi yang dipikirkannya. Bentuk itu yang terlintas dipikiran saat ingin membuat senjata." Ada apa dengan tombak ini?" gumamnya. "Mengapa dia bertanya dengan nada seperti itu?"


 


 


Lagi-lagi Artha hanya terbengong. Mengambang di udara yang terpisah dengan air laut yang menyelubungi tubuhnya. Busur dan anak panah yang terentang telah bersiap untuk menyerang. Kali ini wajahnya terlihat lebih lucu dari sebelumnya. Wajah polosnya yang mendeskripsikan beratus macam pertanyaan yang ingin mencari jawaban.


 


 


Makhluk yang berdiri di depan, mencermati tombak itu dengan baik. Ternyata ada satu bagian yang menjadi fokus penglihatannya.


 


 


"Dasar ******** penipu! Ternyata kau palsu!" Pemimpin pasukan setengah ikan menggerakkan tangan kirinya ke atas. Setelah berada lurus di atas, dia mengayunkan tangan kiri itu ke depan. Ternyata dia memberi aba-aba kepada seluruh pasukannya untuk menyerang kedua pemuda yang ada di hadapan mereka.


 


 


 


 


Artha mengangguk. Dia melesatkan tali di busur panah. Anak panah yang telah terentang sedari tadi, meleset dengan cepat.


 


 


Artha melihat puluhan pasukan yang ada di depan mereka melemparkan tombak yang mereka pegang secara bersamaan. Puluhan tombak melayang di udara. Artha telah melesatkan telah tiga anak panah dengan ujung berwarna biru, kemudian menjentikkan jarinya. Dari ketiga anak panah yang melesat, keluar Burung Elang Api Biru dengan cepat ke atas, menyerang tombak-tombak yang seperti hujan menyerang mereka.


 


 


Sedangkan Dapi membuat pusaran air yang cukup besar dengan memutarkan tombak di depan dadanya seperti gasing.


 


 


Makhluk bermahkota yang merupakan pemimpin mereka dan juga sekumpulan puluhan pasukan setengah ikan sangat terkejut dengan Burung Elang Api Biru yang berada di dalam laut dan menyerang tombak-tombak yang mereka lemparkan. Mereka seakan tak percaya wujud yang dikeluarkan berbentuk api bisa tetap hidup di kedalaman laut yang dikeluarkan oleh manusia. Mereka sering melihat fenomena api vulkanik di dasar laut yang selalu hidup beribu-ribu tahun. Api vulkanik itu tetap menyala, terpisah dengan air laut. Itu adalah kekuasaan Tuhan, tapi wujud Elang Api Biru yang sekarang mereka saksikan, dikeluarkan oleh sesosok manusia yang terkenal kaum lemah di mata mereka.


 


 


Burung Elang Api Biru melahap tombak-tombak yang melesat menyerang Artha. Tombak-tombak itu meleleh, masuk ke dalam tubuh Elang Api Biru. Elang Api Biru berdiri mengambang dengan mengepakkan sayapnya secara perlahan. Gelombang air di ke dalam laut, terasa menderu akibat kepakan sayap Elang Api Biru.


 


 


Sedangkan pusaran air yang diciptakan oleh Dapi dengan tombaknya, menggulung benda-benda yang dilempar oleh lawan dan mencelat ke samping, menjauh dari mereka.


 


 


Makhluk setengah ikan bermahkota menggeram. Dia mengangkat lagi tangan kiri. Kali ini dua jarinya berdiri sedangkan ketiga jari di tangan kiri tertekuk, jadi dia memberi kode baru kepada pasukannya. Dia mengambang sembari bergerak sedikit naik ke atas sedangkan pasukannya tetap di posisi semula. Posisi sekarang ini, pemimpin pasukan setengah ikan itu berada di atas pasukannya  termasuk di atas Dapi dan Artha. Dia naik sekitar sepuluh meter dari pandangan mereka.


 


 


Pasukan yang jumlahnya lebih dari enam puluh ekor melepaskan wujud Ikan Hiu yang berbahan air. Makhluk yang berwarna biru laut menggeram. Ikan hiu yang memiliki gigi tajam dan taring yang besar siap merobek kedua pemuda di depan. Wujud ikan hiu berjumlah enam puluh ekor.


 


 


Artha kembali mengendalikan Elang Api Biru yang sekarang berada di atas kepala setelah melawan balik serangan tombak-tombak itu. Elang Api menyerang lawan baru yang diciptakan oleh pasukan setengah ikan.


 


 


Tombak yang dipegang Dapi kembali berputar, kali ini dia berusaha membentuk jaring untuk menangkap ikan-ikan terbuat dari air dan membuat pusaran air agar ikan-ikan itu tergiring ke dalam jaring.


 


 


Elang Api menyerang Ikan Hiu terbuat dari air. Beberapa wujud itu pecah terkena sayap Elang Api Biru yang melebar pada saat menyerang. Sedangkan sisanya, masih banyak juga yang bergerak dengan gesit, mengelak serangan sayap Elang Api Biru.


 


 


Begitu juga dengan Dapi, hanya beberapa ekor wujud Ikan Hiu yang bisa masuk ke dalam pusaran air yang diciptakannya dan digiring ke jaring, tapi selebihnya, bisa lolos dari perangkap Dapi. Makhluk yang diciptakan oleh pasukan setengah ikan sangat gesit dan agresif.


 


 


Pasukan setengah ikan tetap mengendalikan makhluk yang mereka lepaskan dari kejauhan, masih ada sekitar empat puluh ekor lagi yang akan menyerang.


 


 


Belum lagi serangan dari wujud Ikan Hiu itu sampai ke kedua pemuda, pemimpin yang berada di atas, membuat serangan tambahan. Dia mengeluarkan pusaran dari putaran tombaknya. Pusaran ini berbeda dengan yang Dapi ciptakan. Pusaran ini bergerigi tajam di sisi luarnya seperti mata gergaji yang membentuk spiral terbalik ke bawah.


 

__ADS_1


 


Dapi sangat terkejut dengan serangan yang sangat bertubi-tubi ini. Dia berusaha mendekati Artha dan membentuk pelindung dari es kristal tebal. Mengangkat tombak yang dipegangnya ke atas. Tombak itu menyemprotkan uap es dari bagian tengah tombak. Dengan cepat air di sekitar Dapi dan Artha berubah menjadi beku dan membentuk es kristal. Es kristal itu menjalar ke sekeliling tubuh mereka berdua, membentuk lingkaran besar, berusaha membuat pelindung diri.


 


 


Sebelum es kristal yang sengaja diciptakan Dapi untuk melindungi mereka sempurna membentuk lingkaran dan tertutup, tiba-tiba ada benda yang melayang masuk ke dalam lingkaran yang diciptakan Dapi. Benda itu melesat dari atas menuju ke  dalam lingkaran dengan sangat cepat.


 


 


Syyyuuuut.


 


 


Benda itu melesat dari atas, berasal dari bangkai kapal yang berada sekitar seratus meter dari tempat mereka.


 


 


Taaak.


 


 


Benda itu menempel di bagian tengah tombak yang dipegang Dapi. Lubang bagian tengah yang terdiri dari sepuluh ujung tombak melingkar, diisi oleh sebuah benda keras berwarna biru laut.


 


 


Ketika benda keras itu bersatu menutupi lubang bagian tengah tombak yang dipegang Dapi, langsung berpendar cahaya berwarna biru ke seluruh penjuru. Cahaya biru itu berwarna sangat terang dan cahaya biru itu menghancurkan segala benda yang diciptakan oleh lawan yaitu wujud hiu air yang bergigi tajam serta pusaran air bergerigi yang diciptakan oleh pemimpin pasukan setengah ikan.


 


 


Cahaya biru yang terang itupun sangat menyilaukan mata semua makhluk yang ada di sekitar. Pasukan setengah ikan mengangkat tangan mereka untuk menutupi mata dari cahaya yang silau, termasuk pemimpin mereka.


 


 


"Batu Biru Laut!" jerit pemimpin pasukan itu. Dia menoleh ke arah Dapi yang berada di sudut enam puluh lima derajat dari tempat dia mengambang. Tangannya sudah turun dari daerah mata yang berusaha ditutupi.


 


 


Tentu saja, Dapi sangat terkejut dengan kejadian itu, apalagi Artha, banyak hal yang membuatnya terperangah hari ini.


 


 


Pemimpin pasukan setengah ikan bergerak menurun. Dia bergerak perlahan. Sekarang posisinya berada dua meter di depan Dapi.


 


 


"Maafkan saya Yang Mulia, meragukan kehadiran anda di sini." Secara tiba-tiba pemimpin pasukan itu melontarkan kalimat permintaan maaf.


 


 


Pemimpin yang bermahkota itu menundukkan kepala dan meletakkan tangan kanan di dada, sedangkan tangan kiri memegang tombak berwarna perak.


 


 


"Perkenalkan... saya Putra Mahkota dari Kerajaan Siren dari kawasan Laut Bali. Nama saya Gorgota." Pemimpin yang bernama Gorgota kembali menunduk. Sekarang suaranya terdengar lembut.


 


 


Dapi yang berada di dalam tameng es kristal, mencairkan tameng itu dengan cara mengangkat telapak tangan kirinya. Dia lalu tersenyum dan berkata," Aku... 400 tahun yang lalu bertemu dengan ayahmu, Paduka Raja Kerajaan Siren, karena itulah aku tahu tentang kerajaan kalian dan sekarang.., aku baru menyadari bahwa Batu Biru Laut yang ada ditombak ini adalah hadiah dari ayahmu sebagai tanda persahabatan kami. Batu ini kembali sesuai janjinya."


 


 


"Sekali lagi, maafkan saya yang tak mengenal Yang Mulia Kerajaan Karangasem karena wujud baru Yang Mulia saat ini." Gorgota sekali lagi menundukkan kepalanya.


 


 


"Tidak apa-apa. Salah faham itu biasa dan salah faham harus kita luruskan," jelas Dapi dengan bijak. "Saya harus mengikuti perkembangan zaman, tubuh inilah yang memang ditakdirkan untuk kembali dan tubuh ini lumayan digandrungi oleh para wanita." Dapi tertawa. Matanya sedikit menyipit. Dia berusaha mencairkan suasana. Sikap imutnya kembali lagi.


 


 


Tak disangka, Gorgota tertawa lebar mendengar pernyataan Dapi. Giginya yang besar dan rapi, membuat tawanya semakin khas di wajah. “Yang Mulia tidak salah memilih tubuh ini,” nyata Gorgota. Dia masih tertawa lebar. Kemudian Gorgota kembali menunduk dan berkata, "Sebagai balasan dari kebaikan Yang Mulia telah memaafkan kami, Yang Mulia bisa memanggil saya dan pasukan kapan saja ketika kami dibutuhkan. Yang Mulia pasti sudah tahu cara memanggil kami."


 


 


"Tentu. Terima kasih." Dapi sedikit menundukkan kepalanya.


 


 


"Kami mohon izin, Yang Mulia. Maaf mengganggu aktifitas anda."


 


 


Gorgota kembali menundukkan kepalanya.


 


 


"Ya." Dapi kembali membalas dengan menundukkan kepala dan sedikit membungkukkan badan.


 


 


Pemimpin pasukan yang merupakan Putra Mahkota Dari Kerajaan Siren kawasan Laut Bali kembali mendekati pasukannya. Mereka memberi hormat kepada Dapi dan Artha, lalu mereka berdiri diam dan sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan kedua pemuda seperti lampu yang dipadamkan secara perlahan.


 


 


Artha yang sedari tadi berdiri di samping Dapi melihat aksi pemimpin pasukan yang sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat berkata, "Apa kamu tidak merasa aneh dengan namanya?"


 


 


"Aneh?" tanya Dapi keheranan. Dia spontan menoleh ke Artha dengan memasang wajah serius.


 


 


"Grogot, nama apa itu?"


 


 


"Aish...." Dapi tertawa. Kepalanya sedikit menunduk menahan tawa.


"Gorgota!" teriak Dapi. Dia berusaha meluruskan kata yang diucapkan Artha.


 


 


"Sepertinya dia rakus, suka menggrogoti orang."


 


 


Dapi memukul bahu Artha sambil tertawa. Sifat imut Dapi kembali lagi. Dia tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri. Badannya sedikit tertunduk. Dia sangat senang jika melihat Artha bercanda dengan gayanya yang khas.


 


 


*******

__ADS_1


__ADS_2