
Bunga Kasna. Bunga berwarna putih hingga ke seluruh daun, hanya tumbuh di Temukus, Desa Besakih Kebupaten Karangasem. Bunga yang biasa juga disebut Bunga Edelweiss Bali ini memiliki daun yang panjang dan runcing. Bentuknya seperti belalang cangcorang yang sedang tertidur telungkup. Satu pohon memiliki banyak daun, sehingga terlihat sangat menawan dengan warna putih yang dimiliki pohon ini. Pohonnya yang hanya setinggi lutut manusia itu tumbuh subur di Temukus.
Bunga Kasna akan dipanen pada saat Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan karena bunga ini diperuntukkan memperindah Pura dan rumah-rumah penduduk.
Awal cerita Bunga Kasna diberikan oleh Hyang Widi kepada seorang wanita yang sedang bersedih karena kehidupannya yang sengsara. Wanita cantik itu memohon kepada Hyang Widi untuk memberikan anugerah terindah, sekali saja dalam hidupnya untuk menghibur hati. Lalu Hyang Widi memberikan Bunga Kasna dan mengizinkan bunga yang berwarna putih, tumbuh di daerah Temukus. Sejak saat itu, bunga yang dibudidayakan dan dipasangkan dengan Bunga Marigold ditanam di lereng Gunung Agung.
Bunga Kasna juga dipercaya dapat mengusir roh jahat di dalam diri seseorang. Bunga yang disebut juga dengan nama Edelweiss Bali sangat tidak disukai oleh roh jahat karena mereka merasa tidak nyaman ketika mencium wangi bunga berwarna putih. Itu adalah kepercayaan masyarakat Bali.
*******
Tubuh Panca bergetar. Sekujur tubuhnya bergerak dengan gerakan acak. Tubuhnya dibasahi keringat. Wajahnya yang polos juga dipenuhi dengan keringat. Rambutnya yang menutupi kening terlihat basah. Kedua pupil matanya yang berwarna coklat naik ke atas. Lebih banyak terlihat putih mata di bola mata saat ini. Dia seperti orang yang kesurupan. Kedua tangan menggenggam dengan keras.
Anak laki-laki itu berada sendirian di kamar tidur yang dicat berdominan warna kuning. Tak ada seorangpun yang berada di kamar itu selain dirinya.
__ADS_1
Tiba-tiba, anak laki-laki yang memakai celana hitam berpotong pendek, berdiri tegak. Bergerak dengan cepat seperti ditarik sesuatu benda. Tubuhnya masih bergetar. Kedua pupil mata masih di posisi yang sama. Dia berusaha berjalan tertatih dengan kondisi tubuh bergetar menuju meja belajar.
Panca menarik kursi meja belajar, lalu berusaha untuk memantapkan pantatnya di alas kursi. Setelah itu dia mengambil sepotong kertas dan pinsil berwarna hijau yang terletak di meja. Dia mencoret-coret kertas itu dengan cepat. Kepalanya tertunduk sangat dekat dengan kertas, sesekali dia menggelengkan kepalanya yang berukuran sedang bagi manusia.
Tangannya mempercepat coretan-coretan di kertas putih. Sebagian gambar sudah terbentuk. Pemandangan padang rumput yang ditumbuhi pohon yang sama persis satu dan lainnya, terlihat di gambar itu. Di tengah padang rumput itu duduk tiga orang pemuda. Tapi satu orang yang berada di sebelah kanan memiliki kaki seperti seekor burung.
Panca masih mencoret kertas itu dengan cepat. Tangan kanannya sangat lihai ketika melukis. Gambar itupun selesai. Tangannya berhenti. Terpaku. Diam. Anak laki-laki itu memundurkan badan dan menegakkan kepalanya. Posisi bagian atas tubuh sekarang duduk menyandar di sandaran kursi.
Panca memandang kertas yang dilukis berdasarkan alam bawah sadar. Dia melihat gambar itu dengan mata besarnya yang indah. Diam. Terpaku sesaat. Pandangannya tertuju kepada dua kata yang tertulis di gambar yang baru dilukis. Bunga Kasna.
"Temukus..., " lirihnya pelan. Semua orang Bali pasti tahu keberadaan Bunga Kasna, begitu juga dengan Panca.
Dia bergegas bangkit dari kursi, lalu mengambil handphone yang terletak di tempat tidur. Dia berdiri di samping tempat tidur. Membuka aplikasi youtube. Dia mengetik tiga kata. TEMUKUS. BUNGA KASNA.
__ADS_1
Terlihat beberapa konten mengenai Temukus dan Bunga Kasna yang tertampil di layar Handphone. Dia memilih satu konten yang menarik, lalu dia menonton konten dari youtube yang berdurasi 5 menit 24 detik. Belum habis durasi konten itu di menit terakhir, dia menekan tombol pause di menit 1.23 detik.
Anak laki - laki yang hanya menggunakan celana pendek berwarna hitam itu melihat dengan cermat konten video yang dihentikannya pada durasi 1.23 menit. Lalu dia berusaha menekan tombol untuk men-screenshot gambar itu.
Dia memperhatikan gambar yang telah di-screenshot dari konten video yang sebelumnya ditonton. Dia memperbesar gambar itu lima puluh kali dengan cara melebarkan jari telunjuk dan jempol di layar handphone. Jarinya berhenti dan tertegun.
"Aku harus ke sana dan memecahkan semua teka teki ini."
Panca berbicara pelan kepada dirinya sendiri.
*******
__ADS_1