
- 24 April 2011 -
Sheraton Bali Kuta Resort. Hotel berbintang 5 yang berada di pinggir Pantai Kuta terlihat begitu megah. Bangunan yang mewah dan megah ini hanya beberapa langkah saja dari pinggir Pantai Kuta Bali.
Dapi menyusuri Pantai Kuta Bali yang sangat ramai di pagi minggu ini. Dia berusaha untuk menikmati Pantai Kuta yang terkenal di dunia internasional. Tubuhnya yang tinggi dan ramping berdiri menghadap laut lepas. Kepalanya menghadap lurus ke depan melihat deburan ombak yang bergiliran menuju bibir pantai. Matanya terlindungi dengan kaca mata hitam. Pakaian yang digunakannya saat ini sangat santai. Pemuda itu hanya menggunakan celana putih pendek. Bagian atas memakai baju kemeja bercorak pemandangan laut dan di dalam memakai kaos putih. Baju kemeja itu tak dikancing. Dibiarkan terbuka. Angin dari laut menuju ke pantai membuat pakaiannya melambai terurai.
Pemuda yang memiliki kulit berwarna coklat, tapi lebih terang dari sebelumnya itu berdiri menghadap ke laut merasakan sensasi kekuatan laut yang begitu kuat. Dia menghirup dalam dalam udara laut yang segar. Kekuatannya seakan semakin bertambah ketika melakukan itu. Dia berdiri di atas pasir putih. Kakinya dibalut dengan sneaker putih. Ciri khas dari pemuda ini ketika berdiri tegak, kakinya akan membentuk huruf V, yaitu tumitnya yang akan menyatu seperti seekor pinguin, sedangkan ujung kakinya akan melebar membentuk diagonal.
Ayah Dapi sedang ada rapat pertemuan pemangku adat di hotel ini. Pemangku adat dari setiap Kabupaten dipanggil dan selalu ada pertemuan setiap 3 bulan sekali di kantor kepengurusan pusat yang berada di Kota Denpasar.
Ayahnya yang sudah berumur 45 tahun selalu meminta anak sulungnya itu untuk ikut menemani jika ada pertemuan. Jadi, setiap 3 bulan sekali Dapi selalu menemani ayahnya yang menjabat sebagai salah satu pemangku adat di Kabupaten Karangasem.
Beberapa hari ini, Dapi tidak terlalu memikirkan kasus penculikan adiknya. Dia sibuk dengan Tania yang selalu ingin bertemu atau setidaknya mengobrol dengannya melalui telepon jika mereka tidak bertemu hari itu.
Sepertinya Dapi merasa sedang jatuh cinta sekarang. Dan sepertinya juga cinta itu akan dibalas oleh Tania. Tapi sampai sekarang, setelah beberapa minggu mereka berkenalan, pemuda itu belum menyatakan cinta. Masih ada kejanggalan di hati.
Kasus penculikan adik satu-satunya, sudah diurus oleh ayah Dapi. Tapi walaupun ayahnya salah satu orang yang berpengaruh di Kabupaten Karangasem, kasus ini memang belum bisa terpecahkan. Dapi merasa hal itu sangat wajar karena penculikan ini berhubungan dengan makhluk kasat mata, bukan manusia biasa. Ibunya sekarang hanya pasrah dengan musibah yang menimpa keluarga. Dia berdoa secara terus menerus agar masalah ini bisa terselesaikan dengan baik.
Masih tetap berdiri, menatap lurus ke depan ke arah laut lepas, Dapi memikirkan masa depannya kelak. Dia masih duduk di bangku SMP kelas 9 saat ini. Sebentar lagi dia akan memasuki tingkat SMA atau SMK Seni yang akan dipilih. Bulan Oktober nanti usianya genap 16 tahun. Tapi terkadang dia merasa beban hidupnya terlalu besar karena anugerah dan kekuatan yang diberikan ini. Dia baru merasa dalam beberapa minggu ketika kekuatan itu muncul. Terkadang dia merasa seperti memiliki kepribadian yang ganda. Di satu sisi memang sifatnya masih kekanak-kanakan dan manja, di sisi lain dia akan berubah menjadi sangat berwibawa dan bijaksana karena pengaruh titisan Raja Karangasem yang pertama.
Pemuda itu berpikir, apakah dia sanggup untuk menjalani takdir yang sudah diberikan atau anugerah ini akan membuatnya menjadi depresi? Untuk masalah ini, Dapi sering cerita ke Artha dan pemuda yang sudah dianggap sebagai kakak kandung juga memikirkan hal yang sama. Tentu saja dia juga belum bisa memutuskan hal itu karena umur Artha juga tak jauh dengan Dapi, hanya berjarak 3 tahun. Tapi pemuda yang tinggal di Jakarta, hanya berpesan bahwa mereka adalah orang pilihan dan dia berusaha untuk menjalani takdir dengan baik.
Wisatawan yang berkunjung di Pantai Kuta Bali tak hanya bule - bule dari Eropa. Wisatawan dari Negara Asia lain juga berada di sini, ada juga wisatawan yang berkulit hitam, mungkin dari Benua Afrika atau juga Dari Timur Tengah. Mereka sangat menikmati keindahan alam dan sinar matahari pagi yang cerah. Matahari pagi yang masih sepenggalahan bersinar tak malu-malu pagi ini. Keceriaan matahari menyinari pagi membuat sinar itu terlihat sempurna di pinggir Pantai Kuta Bali.
Banyak aktifitas yang dilakukan para wisatawan di pantai. Berjalan di pasir putih, berjemur di bawah kursi - kursi pantai yang disediakan, berenang di pinggir laut. Semua manusia yang berkunjung di sini seakan ingin melepaskan penat mereka dari rutinitas sehari - hari.
Dapi melihat beberapa wisatawan yang berenang di laut lepas, jarak mereka masih terawasi oleh penjaga pantai. Namun, ada seorang anak kecil yang menggunakan perahu karet berbentuk angsa menjauhi bibir pantai. Mata Dapi jadi berfokus kepadanya.
Anak laki - laki itu sepertinya berusaha untuk mendekati bibir pantai dengan mengayuhkan kedua tangan, tapi ombak yang cukup besar membawa dia lebih ke tengah lagi. Usahanya gagal. Kayuhan tangan tidak bisa melawan arus ombak yang kuat.
__ADS_1
Beberapa kali Dapi menoleh dan mencari petugas pantai yang berada di kawasan itu, tapi sepertinya mereka sibuk dengan pengunjung yang lain. Hari minggu, seperti biasa, suasana Pantai Kuta akan membludak dipenuhi oleh pengunjung.
Dapi kembali fokus ke arah anak laki - laki yang berenang dengan menggunakan perahu karet berbentuk angsa besar berwarna putih. Akhirnya, matanya mendelik, perahu karet yang ditumpangi anak laki - laki itu terbalik dan dia masuk ke dalam laut. Tak terlihat lagi, hanya perahu karet yang berada di sana dengan posisi terbalik.
Dapi langsung melepas sepatu dan kemeja yang dikenakan. Kaca mata yang dipakai langsung dilemparkan ke pasir. Dengan cepat dia berlari ke arah laut dan melemparkan diri ke air laut seperti perenang yang sedang mengikuti perlombaan. Orang - orang di sekitar melihat aksinya.
*******
Ombak besar yang bergulung, telah menghempaskan anak laki - laki yang hanya memakai celana pendek. Setelah dihempaskan, kemudian dia ditarik kembali ke laut. Dia berusaha berenang melawan ombak tapi gulungan ombak sangat kuat. Tubuh kecilnya berputar di air. Beberapa kali mulutnya sudah menelan air laut yang asin. Dia berusaha kembali mengepakkan kedua kaki dan merentangkan tangan untuk mengayuh di kedalaman laut, tapi dia memang tak mampu. Tenaganya seakan habis.
Namun tiba - tiba, seperti ada tali yang membelit pergelangan tangan dan pinggang. Menarik tubuhnya dengan cepat ke pinggir pantai. Lalu dia merasakan sentuhan tangan seseorang berada di punggung. Dia tak sadarkan diri. Penglihatannya gelap.
*******
Dapi menggendong seorang anak laki - laki yang hampir seukuran dengannya. Pemuda itu berlari cepat menuju pinggir pantai lalu mendudukkan anak laki - laki itu di atas pasir putih. Air laut yang terbawa ombak masih mengenai bagian bawah tubuh mereka berdua.
Sudah banyak kerumunan para pengunjung yang mendekat, mengelilingi mereka. Dapi meletakkan telapak tangan kanan ke punggung anak laki - laki yang sedang duduk dan sedikit membungkuk, kepala anak laki - laki itu sudah mendekati kedua lutut. Dapi mengusapkan telapak tangan kanan dari bawah ke atas secara perlahan. Dia berusaha mengeluarkan air yang sudah masuk ke dalam organ vital anak laki - laki yang sudah terkulai lemas. Air laut itu diperintahkan oleh Dapi untuk keluar.
"Panggil petugas pantai dan medis. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit," seru Dapi kepada orang - orang yang berkerumun mengelilingi mereka.
Anak laki - laki itu tersadar, dia berusaha membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Bli...," lirihnya pelan. Dia melihat ke arah Dapi.
"Panca!" teriak seorang wanita secara tiba - tiba. Dia berusaha menembus kerumunan lalu menghempaskan kedua lutut ke pasir putih. Dia segera memeluk dan merangkul bagian atas tubuh anak laki-laki itu. Wanita itu menangis. Sepertinya wanita ini adalah ibunya.
Dapi mengusap punggung wanita itu sambil berkata,"Sudah tidak apa - apa, Tante."
"Terima kasih," jawabnya sambil terisak.
__ADS_1
"Mohon beri jalan!. Kami petugas medis," teriak seorang pria di belakang kerumunan itu.
Mendengar suara yang keras, kerumunan itu membuka diri dan memberi ruang untuk petugas medis dan penjaga pantai masuk ke dalam kerumunan.
Mereka membawa tandu berwarna hijau tua. Petugas medis memeriksa keadaan anak laki - laki yang terbaring dengan stetoskop. Setelah beberapa kali menempelkan alat itu di dada, lalu petugas medis memberi aba - aba kepada petugas pantai untuk mengangkat anak laki - laki yang terbaring ke atas tandu secara bersamaan.
Tubuh anak laki - laki yang kurus tapi setinggi Dapi, telah berpindah ke atas tandu. Lalu dengan cepat, dibawa oleh petugas medis dan penjaga pantai menuju rumah sakit terdekat yang tak jauh dari tempat itu.
"Sekali lagi terima kasih ya, nak."
Wanita yang memakai baju pantai dengan selendang pantai berwarna cerah menutupi bagian bawah tubuhnya, menggenggam tangan Dapi. Dapi masih dalam posisi setengah berjongkok.
Dapi tersenyum.
Wanita itu segera berlari menyusul petugas medis dan penjaga pantai yang membawa tandu.
Kerumunan yang dipenuhi oleh pengunjung pantai itupun bubar. Dapi masih berdiam diri di posisi awal. Rambutnya yang basah, menitikkan beberapa air ke paha.
"Laut yang indah dan terlihat ramah, akan menjadi malapetaka jika engkau tidak waspada dengannya," nyata Dapi pelan sambil memandang laut lepas yang berwarna biru.
*******
Di kamar rumah sakit berukuran 7 x 8 meter, terbaring seorang anak laki - laki di tempat tidur terbuat dari besi. Kedua bola mata yang besar melihat ke samping kiri, ke arah jendela kaca. Dia memakai baju pasien berwarna biru. Wajahnya tak pucat lagi, tak seperti ketika dibawa ke dalam ruangan itu setengah jam yang lalu.
"Kamu tidak apa - apa, Panca?" tanya wanita yang di sebelah kanannya. Wanita itu duduk di atas kursi yang disediakan oleh rumah sakit.
Anak laki - laki itu hanya mengangguk. Dia tidak menoleh ke wanita di samping sama sekali. Pikirannya melayang, mengingat mimpi yang telah menjadi kenyataan. Diselamatkan oleh seorang pemuda yang tak jauh beda usia dibandingkan dengan dirinya. Dia ingat jelas pemuda yang menyelamatkan dari gelombang air laut. Sama persis seperti di dalam mimpi.
Ketika dia membuka mata, pada saat tergeletak di bibir pantai, dia bisa mengingat jelas pemuda yang dihadapannya itu adalah orang yang sama di dalam mimpi. Namun, ketika dia ingin berbicara dengan pemuda itu, petugas medis dan petugas pantai sudah datang dan bergegas membawa tubuhnya pergi dengan tandu ke rumah sakit.
__ADS_1
Hal itu yang sangat disesali olehnya. Dia menunggu momen ini, dia berusaha mencari jawaban atas mimpi yang berulang kali. Namun, dia tak tahu dimana keberadaan pemuda penyelamat itu sekarang.
*******