
Langit-langit kamar berwarna kebiruan, didesain dengan pemandangan awan yang berkumpul, terlihat sedikit samar dikarenakan lampu yang memerangi kamar tidur itu sengaja diredupkan.
Pemuda yang berbaring di tempat tidur sengaja memilih lampu tidur yang redup untuk menerangi kamar. Pemuda yang hanya memakai celana pendek hitam dipasangkan dengan kaos putih berlengan pendek, berbaring di atas tempat tidur terbuat dari Kayu Mahoni berukiran penuh di kepala dan pinggirannya. Sangat terasa jelas ukiran yang memperlihatkan corak dari budaya Bali.
Pemuda yang berambut rapi, menindih lengan kanan dengan belakang kepalanya. Lengan itu tertempel ke bantal dengan sarung bantal berwarna putih. Kedua matanya yang kecil menerawang ke langit-langit kamar.
Dia memikirkan berbagai macam kemungkinan yang ada dipikirannya saat ini. Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam otak yang berusaha mencari suatu petunjuk dan menyaring informasi yang didapat.
Mengapa intuisinya tidak peka saat ini? Mengapa dia tidak bisa membaca aura jahat yang ada di tubuh gadis itu selama ini seperti hari pertama mereka bertemu? Apakah benar Tania adalah Kinnari, kembaran Kinnara yang diculik? Tapi untuk apa gadis itu mendekati dirinya? Apa Big Boss juga menculik Kinnari bersamaan dengan adiknya? Mengapa kaki Kinnari tidak seperti kaki Kinnara? Dan masih banyak pertanyaan yang lain.
"Ah...," desah pemuda yang tak lain adalah Hikma Andapi.
Dia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan cepat. Duduk di pinggir. Berpikir dengan keras. Menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Merapatkan bibir, berkumpul menjadi satu membentuk bulatan, lalu memonyongkannya ke depan. Lama dirinya mempertahankan posisi bibir itu. Tanpa sadar bertingkah imut sambil berpikir.
3 menit Dapi duduk dan bertingkah imut dengan bentuk bibir seperti tadi. Kemudian berdiri perlahan. Berjalan menuju jendela kamar, melihat teras Bale Dauh yang berada di luar kamar. Teras itu hanya diterangi lampu 24 watt.
Wajahnya datar. Dapi mengetuk-ngetuk kayu kusen jendela yang terpahat dengan ukuran yang indah dan rapi. Pikirannya berusaha membentuk suatu pola dan rencana.
Tadi sore, ketika Dapi bertemu dengan Tania, dia berusaha untuk menyelidiki tentang keluarga dan alasan Tania pindah ke Jakarta. Sepertinya Tania sedikit gugup ketika ditanya mengenai orang tua, keluarga dan alasan gadis itu pindah ke Bali. Kelihatan jika gadis itu berbohong dan mengarang cerita. Apalagi ketika Dapi bertanya tentang Objek Wisata yang bagus di Jakarta, Tania berkilah dengan mengatakan bahwa dia sedang tidak ingin banyak bercerita karena tidak sehat. Dari pertemuan pertama, Dapi sudah bisa menangkap jika Tania berbohong.
Sudah tiga bulan, Dapi dekat dengan Tania tapi Dapi tak tahu dia bersekolah dimana. Seminggu yang lalu ketika sedang melaksanakan Ujian Nasional Tingkat SMP di sekolahnya, Dapi secara basa-basi menanyakan mengenai kesukaran soal Ujian Nasional yang dikerjakan. Tapi, Tania tidak merespon hal itu sama sekali dan sepertinya dia tidak tahu mengenai Ujian Nasional. Pada saat itu, Dapi tak ingin membahas ketidaktahuan gadis itu lebih jauh.
Sekarang, semenjak Artha dan Kinnara mempunyai teori bahwa Tania adalah Kinnari, dia berusaha mengumpulkan semua ingatan dan kejadian bersama Tania dan berusaha menyaring semua hal, supaya dia bisa mendapat petunjuk.
Memang selama tiga bulan ini, suara berbisik yang berasal entah darimana selalu mengingatkan untuk fokus pada kasus penculikan adiknya dan fokus dengan kekuatan yang telah didapat saat ini. Namun, karena lagi mabuk kepayang, peringatan itu diabaikan. Sekarang dia baru menyadari suara bisikan yang ternyata adalah intuisinya.
Tapi, satu hal yang pasti, sudah diyakini olehnya bahwa Tania lebih banyak berbohong tadi sore. Rencana selanjutnya, dia akan membuka aura di tubuh gadis yang dicurigai adalah Kinnari. Dapi ingin menyelidiki aura jahat yang mengikuti gadis tersebut. Pemuda yang memiliki rambut hitam dan lurus dipotong rapi, sudah memikirkan cara untuk membuka aura gadis itu.
*******
- 29 Mei 2011 -
Hari minggu sore di Kota Amlapura, terlihat banyak wara-wiri masyarakat yang memakai baju adat Bali. Secara kalender Bali, hari ini adalah Buda Wage Ukir yaitu hari dimana upacara persembahan terhadap Sang Hyang Sri Nini, Dewa Sadhana pada tempat penyimpanan harta benda. Banyak masyarakat Kota Amlapura yang baru pulang sembahyang dari Pura Besakih yang jaraknya sekitar tiga puluh tiga kilometer dari Kota Amlapura. Karena itulah banyak masyarakat yang terlihat memakai baju adat Bali.
Saat ini, Dapi sedang berada di Taman Budaya Candra Buana di Jalan Lettu Alit di Kota Amlapura. Dia berjanji bertemu dengan Tania di sini. Sudah setengah jam lebih pemuda itu menunggu Tania, tapi gadis yang berjanji dengannya belum kunjung datang.
Dapi sudah menelepon Tania, tapi pemegang nomor yang dituju, tidak menjawab telepon. Tak biasanya Tania seperti ini. Sudah berpuluh kali mereka bertemu, tapi tak pernah gadis yang dikenal di Sanggar Candar Buana seperti ini. Tak mengangkat telepon. Tidak memberikan kabar.
Di taman yang tak jauh dari rumah Dapi, banyak anak-anak yang sedang bermain di tanah yang sengaja dikapling dan tanah itu sudah beralaskan pasir. Anak-anak kecil yang masih sekolah Taman Kanak-Kanak itu bermain pasir dengan temannya. Mereka tertawa gembira.
__ADS_1
Dapi teringat dengan adiknya yang bernama Firman, sudah hampir empat bulan menghilang. Ayah dan Ibunya sudah berusaha dengan keras untuk mencari anak laki-laki yang berbeda usia tiga tahun dengan Dapi. Tapi, hasilnya masih nihil. Polisi sudah tak sanggup lagi mencari adik kandungnya tapi mereka tetap berusaha. Orang pintar juga sudah didatangi dan mereka mengatakan bahwa ada kekuatan jahat yang menyelimuti anak laki-laki yang masih duduk di kelas satu SMP itu. Oleh karena itulah, mereka tak bisa melacak keberadaan adiknya.
Empat bulan yang lalu, ketika berangkat ke sekolah, anak laki-laki itu menghilang. Dikabarkan tidak masuk sekolah dan tidak juga pulang pada sore hari. Dapi, di hari kejadian tidak pergi bersama adiknya karena kurang sehat. Dia memutuskan untuk tidak berangkat sekolah. Biasanya Firman berangkat berdua dengannya menggunakan sepeda motor. Ayahnya hanya memesan ojek untuk mengantar Firman ke sekolah pada hari kejadian. Namun... di sore hari, sekitar pukul 15.00 Wita, Ibunya sudah khawatir karena anak bungsunya tak kunjung pulang ke rumah. Akhirnya Ayah Dapi bergerak ke sekolah untuk mengecek keberadaan anaknya. Ternyata, Firman tidak masuk sekolah pada hari kejadian, informasi itu didapat dari guru anaknya yang tinggal di sekitar komplek sekolah. Ayahnya langsung melapor ke kantor polisi. Polisi segera bergerak dan mengumpulkan informasi. Karena Ayah Dapi adalah orang yang berpengaruh di Kota Amlapura Kabupaten Karangasem, mereka tak ingin menunda lagi pencarian. Tapi... sehari, dua hari, seminggu bahkan sudah hampir empat bulan, anak itu tidak ditemukan.
Pada hari kejadian, Firman berangkat sekolah dengan menggunakan baju adat, karena memang ada satu hari dalam seminggu, siswa diwajibkan memakai baju adat di sekolah. Dapi masih ingat udeng yang dipakai oleh adiknya, karena dia yang memasangkan aksesoris pelengkap baju adat Bali yang diikatkan di kepala. Yang sangat disesali adalah mengapa dia harus absen ke sekolah padahal dia hanya demam dan batuk biasa. Setidaknya, dia bisa mengantar adik satu-satunya ke sekolah pada pagi hari dan kembali lagi untuk istirahat di rumah.
Dapi melamun ketika melihat dua anak kecil yang tertawa bermain pasir di taman. Di matanya, tergenang butiran bening yang akan jatuh dari kelopak matanya yang kecil, tapi butiran itu tertahan. Dia segera mengusap butiran itu dengan cepat sebelum jatuh.
Dapi melihat jam tangan yang dipakai, sepertinya sudah hampir satu jam dia menunggu Tania. Tapi yang ditunggu belum datang juga. Dia memanjangkan lehernya, melihat ke arah pintu gerbang taman.
Ternyata gadis yang ditunggu muncul. Gadis yang memakai celana jeans dan hoodie di badannya, berjalan masuk ke dalam taman. Gadis itu sudah melihat Dapi yang duduk di bangku semen di bawah pohon kamboja besar. Dia hanya memandang sekilas, lalu menundukkan kepala sambil berjalan. Tak ada senyum menghiasi wajah.
Dapi berdiri.
"Tania!"
Pemuda itu memanggil dengan berteriak. Dia mengira gadis berbadan ramping itu tidak melihat dirinya.
Sepertinya gadis yang memakai tas kain berwarna hitam, berjalan penuh beban. Tak semangat. Tania menyusuri keramik yang berwarna natural terbuat dari semen dan pasir. Dia tak melihat ke arah Dapi sama sekali. Hanya menunduk. Tapi dia terus berjalan ke arah pemuda yang menunggunya.
"Kamu kenapa?"
Dapi langsung bertanya ketika Tania sedikit mendekat. Padahal dia masih lima langkah berada di hadapan pemuda yang mengenakan baju kaos berwarna kuning muda.
Dapi menyusul dan duduk di sampingnya.
"Kamu masih sakit?" tanyanya khawatir.
Dia tak ingin mempermasalahkan keterlambatan gadis itu, walaupun diirnya hampir satu jam menunggu. Dia mengabaikan soal itu.
Tania hanya mengangguk.
"Kalau sakit, seharusnya kamu tidak perlu repot datang. Seharusnya bilang saja dan bisa kita batalkan janji ini."
"Tidak. Hari ini kita harus bertemu. Ada yang harus kita bicarakan."
"Apa itu?"
Tania terdiam sesaat. Dia berusaha menata hati untuk mengucapkan apa yang akan diutarakan. Tania berusaha merapikan rambutnya yang panjang walau tak nampak kusut. Mungkin dengan cara itu dia bisa tenang.
Kedua mata Dapi yang kecil menyorot ke arah Tania. Dia melihat gaya Tania tidak tomboy seperti biasa, malah lebih feminim. "Mengapa dia bisa berubah secepat itu?" pikir Dapi.
Tania menarik nafas panjang.
"Aku tak bisa berlama-lama. Aku harus cepat kembali ke asalku. Ini adalah pertemuan kita yang terakhir."
Jleb.
__ADS_1
Sepertinya ada tombak yang menancap di jantung Dapi. Sakit, namun tidak berdarah.
"Kamu akan kembali ke Jakarta?" tanya Dapi sembari menahan rasa sakit yang tak berujung arahnya entah kemana, di dalam hati.
Tania hanya diam.
"Mengapa diam?"
Dapi meraih tangan kanan Tania. Dia berusaha menggenggam erat tangan mungil di sampingnya. Ketika menyentuh tangan itu, Dapi merasakan hawa dingin di tubuh gadis yang hanya tertunduk.
"Sudahlah. Jangan bertanya lagi. Maafkan aku...."
Tania segera berdiri dan berusaha melepaskan genggaman Dapi.
"Tunggu!"
Dapi berusaha menahan kepergian Tania. Dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan mungil itu.
Tania menoleh.
"Oke. Aku berusaha untuk mengerti tapi setidaknya terima sesuatu dariku untuk perpisahan kita."
Dapi mengambil tas ransel berwarna hitam di sampingnya. Dia mengambil sebuah buku berukuran setengah HVS berwarna merah muda.
"Ini... ambillah...."
"Apa ini?"
Kening Tania berkerut. Wajahnya penuh tanda tanya.
"Coba dibuka. Nanti, kamu akan mengerti."
Tania membuka kulit dari buku kecil yang sudah berada ditangannya. Kulitnya yang keras berwarna merah muda, dibuka perlahan. Tak ada apa-apa di halaman pertama. Juga tidak ada tulisan. Tangan Tania tersekat ketika melihat tengah buku yang sedikit mengganjal. Ada sesuatu terselip di sana. Tania membuka secara perlahan. Dia membuka bagian itu secara berhati-hati. Di detik selanjutnya, dia terkejut melihat benda yang terselip di sana.
"Bunga Kasna?"
Dapi mengangguk dan tersenyum.
Tania tersenyum lebar. Tanpa sadar buliran bening jatuh di kedua pipi.
"Aku akan berusaha menyelamatkanmu," bisik Dapi pelan. "Pergilah...."
Tania seakan mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda yang memiliki perawakan imut di depannya. Dia segera memasukkan buku itu ke dalam tas yang disandang, lalu berbalik dengan cepat dan melangkahkan kaki dengan cepat pula.
Sore itu, Dapi melihat aura yang sangat pekat di sekujur tubuh Tania. Bukan... bukan Tania tapi Kinnari. Aura hitam yang pekat terlihat oleh Dapi sejak gadis yang diduga adalah Kinnari membuka buku kecil berwarna merah muda, terselip Bunga Kasna kering yang diberikan oleh Kinnara beberapa hari lalu di Padang Rumput Temukus Desa Besakih Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem Bali. Tanaman itu hanya akan tumbuh di Temukus, tak akan hidup di tempat yang lain.
*******
__ADS_1