Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Zero O'clock : Ep. 40


__ADS_3

Seorang anak laki-laki berada di tengah tanah yang terhampar tanpa pohon sedikitpun. Tanah yang terlihat  bekas terbakar dan masih tersisa debu di atas tanah itu, kelihatan sangat gersang. Mungkin karena tadi sangat panas, jadi tak ada air yang menyirami tanah ini.


Anak laki-laki itu berdiri tepat di tengah lapangan yang terbakar beberapa hari lalu. Dia berdiri di tengah malam memakai pakaian hitam di seluruh tubuhnya. Di telapak tangannya tertumpu sebuah pot bunga kecil yang berisi bunga berwarna putih. Bunga itu adalah Bunga Kasna. Sebatang Bunga Kasna yang hidup, dibawanya dari rumah.


Padang rumput yang ditumbuhi Bunga Kasna, sengaja dibakar oleh Calonarang karena penyihir tua itu tahu Bunga Kasna sudah menggagalkan rencananya untuk menyerang Pemuda Pengendali Air di Amlapura. Dan serangan dari Calonarang digagalkan oleh anak laki-laki yaitu yang bernama Panca. Tak ada seorangpun tahu jika serangan dari sekumpulan Rangda dilumpuhkan oleh Panca. Bunga Kasna sebagai media unuuk melumpuhkan serangan makhluk yang diciptakan oleh Calonarang. Tidak Dapi, tidak juga Kinnara. Apalagi penyihir tua yang sudah menguap di udara menjadi asap hitam pekat. Tapi... Penyihir Tua tahu bahwa Bunga Kasna dipergunakan oleh seseorang untuk melumpuhkan sihirnya. Karena itulah, Penyihir Tua yang sudah berada di neraka saat ini, membakar padang rumput yang ditanam Bunga Kasna di Temukus.


Panca berjongkok, meletakkan pot bunga di tanah yang masih berdebu. Kemudian kedua tangannya mengorek lubang sedalam setengah meter. Dia mengeluarkan tanah dan Bunga Kasna dari dalam pot kecil berwarna hitam, lalu memasukkan sebatang Bunga Kasna beserta tanah ke dalam lubang. Langkah selanjutnya dia menimbun lubang dengan tanah yang ada di sekitar. Meratakan tanah yang menimbun lubang dengan ketinggian yang sama dengan tanah di sekitarnya.


"Wait...."


Seru anak laki-laki itu sembari mengacungkan telunjuk kanannya ke Bunga Kasna. Entah apa maksudnya. Dia mengambil pot kecil berwarna hitam, bergerak sedikit. Bangkit dan berkelebat dengan cepat. Cahaya putih terlihat melesat. Dalam hitungan 2 detik dia sudah berada kembali di depan Bunga Kasna. Posisinya berjongkok seperti semula. Tapi... pot kecil berwarna hitam berada di tangan kanannya.


Saat ini, di tangan kanan, Panca memegang pot kecil berwarna hitam tadi, tapi di dalam pot itu sudah ada air yang terisi. Dia menyiramkan air yang berada di dalam pot ke Bunga Kasna yang telah ditanam. Dia tersenyum kecil.


"Air dari Menara di Taman Air Tirta Gangga akan membantu pertumbuhanmu dengan cepat."


Panca berbicara ke Bunga Kasna. Seolah-olah Bunga Kasna akan mendengarnya. Dia tersenyum. Lagi. Senyum anak laki-laki itu mengandung arti. Dia kembali berusaha meratakan tanah yang sudah basah dengan air.


Panca mengambil air dari menara air di Taman Air Tirta Gangga. Dia berkelebat dalam 1 detik dari Temukus ke Tirta Gangga dan kembali lagi hanya dalam waktu 1 detik. Jarak Temukus ke Tirta Gangga sejauh 100 kilometer. Jika ditempuh dengan kendaraan memakan waktu 2 jam 17 menit dengan kecepatan standar. Tapi Panca menempuh perjalanan pergi dan pulang hanya memakan waktu 2 detik. Sungguh kekuatan yang luar biasa dimiliki oleh anak laki-laki ini.


"Sebentar lagi jam 12 malam, jadi kamu harus mengawali hari baru dengan semangat baru. Banyak manusia di sini yang mengharapkan berkah dari tumbuh kembangmu. Jangan kecewakan mereka."


Panca perlahan berdiri setelah mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang dilontarkan seperti keluar dari mulut orang dewasa. Dia kembali tersenyum.


"Bye. Bunga Kasna. Aku akan meninggalkanmu, berkembanglah. Jangan malu dan jangan kecewakan penduduk di sini. Jangan tiru aku. Karena aku adalah pemuda yang pemalu. Aku berusaha untuk merubah sifatku dan aku akan berubah demi seseorang yang berada di garis takdirku. Aku telah menemukannya. Dan malam ini aku ingin melihatnya di Amlapura. Good Bye, Bunga Kasna."


Anak laki-laki yang memiliki senyum yang manis dari bibir yang tipis, seolah-olah menasehati Bunga Kasna. Dia berdiri tegak, memandangi Bunga Kasna sebentar. Tersenyum. Lagi. Kemudian dia membalikkan badan dan berkelebat meninggalkan tempat itu dengan senyum yang manis. Cahaya yang berkelebat di tengah malam, tak terlihat lagi oleh mata. Cahaya putih hanya terlihat dalam waktu sekedip mata.


*******


Seharian ini, Dapi beristirahat di kamarnya di Bale Dauh. Sedangkan Kinnara dan Artha berada di kamar lain. Kamar tidur yang sudah tidak di tempat Firman beberapa bulan.

__ADS_1


Pemuda Pengendali Air yang berwajah putih saat ini, sedang terbaring di tempat tidurnya. Dia memandangi langit-langit kamar yang terlukis pemandangan laut lepas berwarna biru.


Sedih. Itu yang dirasakannya saat ini. Dia tak berhasil menyelamatkan Firman dan Kinnara. Entah dimana kedua orang yang disayangnya berada saat ini. Entah kemana Big Boss membawa mereka. Tapi... setidaknya, dia telah membunuh Calonarang. Penyihir tua yang merupakan kaki tangan Big Boss. Tapi otak dari semua ini adalah Pria yang bertopeng dan memiliki luka di wajah kirinya.


Dapi berusaha menyingkirkan kesediahan di dalam hati, tapi belum berhasil. Dia mengingat kembali Firman yang bermain bersamanya di masa kecil. Dia mengingat kembali memakaikan udeng di kepala adiknya sebelum pergi ke sekolah. Dan hari itulah dia terakhir bertemu dengan adiknya.


Dapi juga ingat dengan Kinnari. Kinnari yang manis, tomboy dan begitu cuek. Berubah dengan drastis dalam hitungan hari. Pemuda itu juga mengingat senyum manis Kinnari ketika dia membuka buku yang berisi Bunga Kasna.


"Dimanakah kalian? Aku harus menyelamatkan kalian berdua? Harus...."


Dapi meringkuk di atas tempat tidur. Dia menghadap ke sebelah kanan. Menekukkan kedua kalinya, berlipat. Kedua lututnya hampir menyentuh dada. Lengan atas tangan kanan tertimpa dengan kepalanya yang kecil. Sedangkan tangan kiri berlipat di depan wajahnya, terletak di atas tempat tidur. Dapi tidur miring menghadap ke kanan.


Dapi memandangi jam dinding yang semenit lagi, jarum-jarumnya akan bertindihan di angka 12. Sudah mendekati tengah malam.


"Tuhan... hilangkan kesedihanku malam ini, berikan kebahagiaan esok hari. Semoga aku bisa menemukan mereka secepatnya."


Pemuda itu berusaha untuk memejamkan kedua mata. Tak terasa, buliran bening jatuh membuat jalur di batang hidung, mengarah ke samping dan menitik di alas tempat tidur. Dapipun tertidur. Wajahnya yang putih sangat polos dan begitu menggemaskan pada saat ini. Saat ini, dia adalah Hikma Andapi yang rapuh, bukan titisan Raja Karangasem Pertama yang bijaksana.


*******


Pancapun seakan turut dalam kesedihan yang dialami oleh Pemuda Pengendali Air. Dia... memang bisa merasakan kesedihan pemuda. Jiwanya seakan bersatu dengan Pemuda itu, saat ini. Terasa sesak di jantungnya. Sesak yang tak tahu harus dilampiaskan kemana.


Panca melihat pemuda itu berbalik membelakanginya. Meringkuk di tenpat tidur. Tiba-tiba, Panca menitikkan air mata. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi hatinya sangat sakit seperti kehilangan sesuatu. Beberapa menit dia berdiri terpaku, melihat pemuda di tempat tidur. Menunggu. Akhirnya dia yakin bahwa pemuda yang diawasinya telah tertidur lelap.


Panca berkelebat dengan cepat masuk ke dalam kamar, melalui pintu depan Bale Dauh. Pintu kamar yang dibukanya dengan kecepatan yang tinggi tidak menimbulkan suara sama sekali.


Panca berdiri sebentar di samping tempat tidur. Tepat di hadapan pemuda yang terlihat sangat polos. Panca mengambil selimut berwarna putih yang berada di bawah kaki pemuda itu. Membentangkan selimut di atas tubuh pemuda yang terlihat kecil. Tanpa basa-basi lagi, Panca keluar dari ruangan yang bernuansa Bali dengan satu gerakan cepat. Semua itu dilakukan dengan sekejap mata. Hitungan detik, anak laki-laki itu sudah berada di dalam kamarnya di Mangupura.


Panca berdiri di depan dinding kamarnya. Di dinding yang banyak tertempel lukisan hasil karyanya. Dia berdiri di depan salah satu lukisan. Dia menatap gambar yang dituju. Terlihat gambar seorang pemuda dengan Tongkat Sakti Crystal Snow yang sedang diamati oleh anak laki-laki yang berpakaian hitam. Dia memandangi gambar itu dengan wajah sendu.


"Aku adalah Kau. Kau adalah Aku. Suatu saat kau akan tau siapa aku, Bli."

__ADS_1


Panca menggerakkan dirinya menuju tempat tidur dengan berjalan perlahan. Merebahkan tubuhnya yang kurus dan tinggi. Pakaian hitam dan sepatu masih terpasang di tubuhnya. Dia memejamkan mata tanpa mengganti pakaian dan melepaskan sepatu. Sebelum dia terlena dalam tidurnya, Wajahnya menyunggingkan senyum.


*******


"Biyang.... Lihat...."


Seorang anak kecil berteriak ketika dia membuka pintu rumah yang sedikit rapuh. Dia menunjuk ke arah padang rumput yang telah penuh dengan Bunga Kasna.


Ibu yang dipanggil oleh anak kecil yang berdiri di ambang pintu rumah, tergopoh keluar. Dia melihat ke arah pandangan yang ditunjuk oleh anak laki-laki yang tingginya sejajar dengan pinggang. Dia ternganga. Wajahnya begitu terkejut. Berdiri terpaku sesaat melihat padang rumput yang penuh dengan Bunga Kasna. Kedua matanya berkaca-kaca.


"Ajik... Ajik...!"


Perempuan yang merupakan ibu dari anak kecil tadi memanggil suaminya. Dari dalam rumah, seorang pria bertubuh kurus menyembulkan kepalanya di jendela.


"Ada apa?" tanya pria itu keheranan.


"Lihat...."


Perempuan itu menunjuk ke arah pandangan yang sebelumnya ditunjuk oleh anak kecil yang kini memeluk bagian bawah tubuh ibunya.


"Ouh Gusti...."


Pria itu berlari menuju pintu rumah. Berlari keluar. Dia melewati anak dan istrinya. Dia terus berlari, keluar dari teras rumah menuju halaman tanpa menggunakan sendal.


"Ajik mau kemana?" tanya istrinya.


"Ke rumah Pak Ketut."


Perempuan itu terdiam. Dia sudah mengerti maksud dari aksi suaminya memanggil kepala dusun. Dia kembali memandangi padang rumput yang telah diramaikan oleh Bunga Kasna yang tumbuh dengan subur. Lapangan padang rumput selebar setengah lapangan bola, terlihat indah dengan warna putih terhampar. Bunga Kasna seakan gembira menyambut matahari pagi ini.


"Terima kasih Gusti." 

__ADS_1


Dia menangis. Air mata jatuh membuat jalur di pipinya. Tangan kanan merangkul anak kecil yang masih memeluk dirinya.


*******


__ADS_2