Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Zero O'clock : Ep. 38


__ADS_3

Suara kokok ayam terdengar di beberapa tempat. Malam yang gelap akan bertukar dengan datangnya pagi. Mereka bertiga melompat dengan sangat cepat menuju lereng Gunung Agung. Artha, Dapi dan Kinnara memanfaatkan waktu, dimana sihir akan melemah pada saat sebelum shubuh. Dapi dan Kinnara tahu mengenai hal ini. Wawasan ini didapat dari Kitab Ilmu Dasar Sihir. Kinnara yang sudah ratusan tahun hidup dan berkecimpung di dunia sihir, tentu saja tahu akan hal ini. Sedangkan Dapi bergerak dan mengambil aksi berdasarkan intuisi yang didapat dari titisannya.


Artha mencecahkan kaki kanannya ke batu besar yang berada di lereng Gunung Agung pada jejak pertama. Disusul oleh Kinnara yang mencecahkan kaki di rumput tak jauh dari Artha, berada di bawah, di samping baru tempat pemuda pengendali api berdiri. Dapi menyusul selanjutnya dan berada di samping Kinnara.


Di depan mereka terlihat pohon besar dan bukit yang dialiri oleh air terjun yang deras.


Artha mengerutkan keningnya. Terlihat 3 lipatan mendatar di keningnya yang lebar. Dia berdiri. Kakinya yang panjang menopang tubuh kurusnya.


"Kemarin air yang jatuh dari atas, tidak sederas ini?"


Artha tidak bertanya kepada siapapun. Sepertinya dia bertanya dengan dirinya sendiri.


"Ya."


Kinnara yang menjawab, juga dengan wajah keheranan.


Dapi hanya terdiam. Berdiri di samping Kinnara. Dia masih memikirkan pesan yang berada di kertas putih.


Mereka bertiga berdiri dengan gagah tanpa sembunyi lagi. Artha dan Kinnara sudah yakin bahwa tempat ini adalah persembunyian Calonarang. Apalagi air terjun yang deras, seperti sengaja dibuat untuk menutupi jejak pintu masuk tempat persembunyian ini.


"Tapi... bagaimana kita masuk ke sana, kak?"


Kinnara bertanya tanpa melihat ke arah Artha yang berada di samping kanannya.


Artha tak menjawab. Dia berpikir. Tangan kanan mengangkat ke araj wajah, lebih tepatnya jari telunjuk dan jempol menyentuh dagu. Berpikir dengan memasang mode keren.


Dapi tertawa kecil melihat aksi pemuda yang sedang berdiri di atas baru besar. Dia sedikit mendongak ketika melihat Artha. Tubuhnya yang tinggi, semakin tinggi ketika berdiri di batu itu.


"Aku juga tidak tahu," ujar Artha. Dia melihat ke bawah, ke arah Kinnara dengan wajah polos.


Dapi tertawa lebar. Dia mengeluarkan tawa dengan sangat keras dan hampir terjungkal ke belakang karena mendengar pernyataan dari Artha. Bagaimana dia tidak tertawa. Dapi merasa geli ketika melihat Artha berlagak mikir dengan mode keren. Dapi dan Kinnara akan mendapatkan jawaban dari Artha mengenai jalan masuk ke gua. Tapi perkiraan mereka salah, ternyata pemuda itu juga tak tahu cara masuk ke dalam gua.


Kinnara melompat ke atas dan mengepakkan sayapnya beberapa kali. Memgambang, lalu dia terbang berkeliling.


"Apa yang dilakukan Si Manusia Burung? Apakah kunci untuk membuka pintu ini ada di angkasa?"


Artha mendumel sambil menengadahkan kepala, melihat kegiatan yang dilakukan Kinnara.

__ADS_1


Dapi... lagi - lagi tertawa. Dia melompat ke atas baru tempat Artha berpijak, memukul bahu pemuda itu. Dapi merasa pemuda ini sangat lucu itu. Apalagi ketika melihat mimik wajahnya yang serius mendumel ke arah Kinnara.


"Kenapa kau memukulku...!" jerit Artha.


"Hei... kita sedang mengintai, seharusnya kalian tidak berisik...!" teriak Kinnara dari atas langit.


Dapi semakin tergelak. Kini dia berjongkok di atas batu, menahan tawa. Perutnya terasa kram.


"Kenapa aku bisa bergaul dengan mereka yang bobrok ini?


Tentu saja aksi mereka membuat Dapi tergelak. Mereka bertiga sedang mengintai, Artha memarahi Dapi dengan teriakan karena memukul bahunya, sedangkan Kinnara menasihati mereka untuk tidak berisik dengan jeritan. Rangkaian kelakuan yang sangat tidak bisa dipercaya. Sepertinya itu bukan protokol dalam pengintaian.


Kinnara menapakkan kaki elangnya di tanah yang beralas rumput. Posisi Manusia Setengah Burung berada di bawah dari Artha dan Dapi. Dia menyimpan sayap putihnya di punggung.


"Tak ada petunjuk yang aku dapat sama sekali supaya kita bisa masuk ke dalam."


"Ya... elu sih. Nyarinya di angkasa. Emang keliatan dari angkasa, apa ada petunjuk gitu... seperti anak panah atau tulisan yang terlihat dari atas? Seperti kode SOS, gitu?"


Artha merapal kalimat itu dengan cepat keluar dari mulutnya.


"Ya. Bisa saja ada kemungkinan seperti itu, kan kak," jawab Kinnara. Makhluk Setengah Burung berjalan mendekati pohon besar ketika selesai mengucapkan kalimat itu.


"Aaaaarghh..."


Artha dan Kinnara menoleh ke belakang. Dapi yang sedang berjongkok di atas batu, mengeluarkan suara mengerang pendek. Kepalanya sedikit tertunduk. Tangan kanan memegang kening. Matanya terpejam.


"Pi, ada apa? Apa yang terjadi?"


Dengan cepat Artha melompat kembali ke batu tempat posisi dia berdiri semula. Berjongkok. Merangkul Dapi yang sedang kesakitan.


Dapi perlahan berdiri, diikuti Artha.


"Telepati..."


"Telepati?"


Dapi mengangguk. "Aku mendapatkan potongan gambar dari seseorang yang pernah datang ke tempat ini. Dan..."

__ADS_1


Dapi melompat ke arah Kinnara yang mendekati pohon besar. Setelah menapakkan kaki kanannya terlebih dahulu, dia langsung berjalan dua langkah. Dengan sigap matanya mencari sesuatu di bawah. Senyum kecil mengulas di bibirnya. Dia memperhatikan suatu benda. Menginjak batu kecil yang mencuat di samping pohon besar.


Tuk.


Terdengar suara berderak di detik berikutnya. Dapi melihat ke arah sumber suara. Pintu sedikit terbuka dan air terjun yang deras melimpah ke depan. Dapi dan Kinnara sedikit melompat.


Artha yang masih berdiri di atas batu besar berjarak sekitar 6 langkah dari pintu batu yang terbuka, bengong.


"Bagaimana kamu bisa tahu ada kunci pembuka pintu di situ?" tanya Artha kepada Dapi.


"Aku mendapatkan potongan memori yang masuk ke dalam pikiranku?" jawab Dapi sambil terus mengawasi pergerakan pintu di depan mereka.


"Seperti menonton LCD Proyektor?" tanya Artha lagi penasaran.


"Ya. Penglihatan itu seperti ada yang mengirimkan kepadaku. Ada seseorang yang pernah ke tempat ini dan berhasil membuka dan masuk ke dalam gua," jelas Dapi.


"Aku juga mengalami hal seperti itu ketika kamu bertarung dengan Big Boss dan masuk ke dalam lubang hitam," jelas Artha lagi. Mereka bercengkrama saling bersahutan dengan jarak yang lumayan jauh. Tapi kedua mata mereka memperhatikan pergerakan pintu batu yang ada di depan.


"Benarkah?"


Dapi langsung menoleh ke arah Artha. Dia mengerutkkan keningnya dan menggaruk pinggir batang hidungnya. Ada teori yang masuk dalam pikirannya mengenai telepati ini. Tapi tak ingin disampaikannya kepada Artha. Disimpan saja dulu, pikirnya.


Kinnara hanya terdiam melihat aksi mereka berdua. Dia fokus ke arah pintu gua yang sudah setengah terbuka. Memberi kode kepada kedua pemuda untuk segera masuk ke dalam. Makhluk Setengah Burung melompat sekali dan masuk terlebih dahulu ke dalam gua dan melewati beberapa tetesan air yang berasal dari sisa air terjun.


Dapi dan Artha mengikuti dari belakang.


*******


Panca tersenyum kecil. Bibirnya yang tipis menyeringai dengan manis. Dia berdiri di ambang pintu keluar yang mengarah ke teras lantai atas. Badannya sedikit miring, bersandar di ambang pintu. Kedua mata yang besar melihat ke arah gelap malam yang sudah mulai memudar.


"Kita pasti bertemu, bli dan menjalani takdir secara bersama. Itu pasti.... Aku adalah kau. Kau adalah aku."


Di tangannya, terdapat pot bunga berisi tanah dan Bunga Kasna yang mulai mekar.


"Sebentar lagi kamu akan kembali ke Temukus dan jadilah bibit yang baik untuk berkembang kembali seperti sedia kala. Hidup ini perjuangan, sayang... untuk semua makhluk hidup yang diciptakan Tuhan," lirihnya pelan. Dia memperhatikan bunga berwarna putih dengan mata yang cemerlang. Tangan kanan menopang pot bunga. Tangan kiri membeli daun-daun Bunga Kasna.


Anak laki - laki yang berumur 14 tahun, merangkai kalimat dengan bijak, seperti orang dewasa. Dia menaikkan kembali kepalanya. Menatap jauh ke depan di langit malam. Seakan tatapan itu membelah langit malam yang gelap.

__ADS_1


*******


__ADS_2