
Malam hari di pinggir bibir jalur Pantai Jarsi yang penuh bintang, Dapi dan Artha duduk di ayunan yang tali - talinya dikaitkan ke pohon kelapa. Mereka berdua berada di satu ayunan. Duduk berayun menunggu larut malam untuk melatih kekuatan Dapi.
Malam itu, mereka berdua bercerita ringan. Artha bercerita tentang pengalamannya yang telah mendampingi 3 orang yang memiliki kekuatan yang akan direkrut. Artha bercerita tentang beberapa bulan yang lalu dia sering ke Palembang untuk mendampingi seseorang yaitu pemuda ke - 4 yang direkrut.
Pemuda itu memiliki kekuatan telekinetis, dapat menggerakkan seluruh benda dengan pikirannya. Dan dia juga bercerita tentang pemuda kedua dan ketiga yang telah ditemuinya. Artha juga bercerita tentang pertama sekali kekuatannya muncul dan dilatih oleh papanya.
Dapi merasa bahwa pemuda berumur 18 tahun yang duduk di sampingnya, merupakan pemuda yang pantang menyerah. Dari kecil dia menjalani takdirnya untuk menyelamatkan dunia ini dengan tim papanya. Dia lebih banyak bergabung di dunia superhero daripada bergaul dengan teman - teman dalam kehidupan yang normal seperti anak muda lainnya.
Artha bercerita mengenai musuh bebuyutan mereka yang merupakan teman dekat Om Bagas sewaktu muda dulu, tapi mereka memiliki persepsi yang berbeda untuk menyelamatkan dunia dari tangan - tangan keserakahan dan keegoisan manusia lain.
Mereka berdua menatap langit dengan pikiran mereka masing - masing. Dapi memikirkan bagaimana cara untuk mengembalikan keadaan dari musibah yaitu penculikan adiknya. Sedangkan Artha merenungi perjalanan hidup selama ini. Ada kesedihan yang terpancar di raut wajah. Dia kembali mengingat kejadian yang sangat pahit ketika dia berumur 3 tahun.
"Kak, besok kakak masih di Bali, khan?" tanya Dapi tiba - tiba.
"Ya," jawab Artha singkat. Pertanyaan itu membuyarkan lamunannya.
"Besok kita ke Pantai Tulamben kak, bisa snorkling dan diving di sana. Aku mau menjajal ilmu dan kekuatanku di dasar laut. Gimana kak?" tanya Dapi ke Artha dengan penuh semangat.
"Boleh juga," nyata Artha dengan serius.
"Oke. Nanti aku cari kenalan ayah agar kita bisa mendapat penginapan gratis di sana."
"Ya. Pasti seru. Bali memang indah. Wajar saja jika Bali ini disebut Pulau Dewata. Banyak hal dan misteri di Pulau Bali ini."
"Ya. Aku juga bersyukur dilahirkan di Bali. Pantes saja di masa kecil aku memiliki memori seperti De Javu, ternyata ini jawaban dari semuanya. Setelah terbuka alam bawah sadarku, semua tampak jelas."
"Ya. Dan tinggal menjalani kehidupan di depan mata kita, setelah kita berkumpul dan direkrut, mungkin banyak perjuangan yang lebih panjang yang akan kita lalui."
"Ya."
"Ouh ya, aku baru ingat, ada satu anak lagi yang dalam pengawasan kami di Bali. Tapi dia masih berumur 13 tahun sekarang. Belum ada tanda - tanda kekuatan dari dirinya, tapi papa sudah tau pasti dan dia terpilih dan akan menjadi orang ke - 7 di tim kita," nyata Artha.
"Ouh ya, Bali bagian mana kak?" tanya Dapi terkejut. Wajahnya sangat penasaran.
"Mangupura."
"Mangupura Kabupaten Badung?"
"Entahlah, aku cuma tau Kota Mangupura. Aku pernah sekali diajak papa ke sana melihat anak itu dari kejauhan. Dia masih berumur 10 tahun waktu itu."
"Hmm..... Ternyata ada yang dari Bali selain aku ya?"
"Ya."
Semilir angin dari laut di malam itu terasa sangat dingin. Mereka berdua menunggu malam lebih larut untuk memulai rencana mereka.
Artha telah membawa ransel besar dan panjang berwarna hitam. Tas itu seperti tas golf. Di dalamnya terdapat busur dan panah. Dia bersiap untuk melaksanakan aksinya.
Di Charly's Chocolate Factory, terlihat lampu - lampu yang bersinar temaram di depan rumah - rumah di kawasan itu. Sedangkan bagian - bagian lain lebih banyak terlihat gelap seperti di tempat mereka berayun santai.
Suara jangkrik dan kodok terdengar berirama. Suara angin yang menggerakkan daun - daun pohon kelapa juga menambah nada berirama pada malam itu menunjukkan keaslian alam tanpa polusi suara dari kegiatan manusia seperti di Kota Besar.
__ADS_1
Malam itu dingin. Sepi. Tapi sangat nikmat untuk bersantai.
Artha mengambil busur panah di tas hitam, mengeluarkan perlahan dan disusul mengambil anak panah beserta wadahnya. Kemudian dia berdiri tak jauh dari ayunan yang ada di depan bibir pantai. Dia memasang anak panah ke busur, lalu meregangkan tali busur sejajar dadanya. Selanjutnya perlahan - lahan mengarahkan panah ke atas dan melesatkan anak panah itu dengan kekuatan penuh.
Swing.
Anak panah melesat dalam hitungan detik dan dalam waktu sekejap turun cahaya putih membentuk payung besar secara perlahan menuju ke tanah dan permukaan laut. Cahaya putih itu berdiameter sekitar 500 meter mengelilingi mereka berdua membuat invisible circle (Lingkaran tak terlihat)
Dapi, sedari tadi duduk di atas ayunan. Dia melihat aksi Artha tanpa berkata sedikitpun dan saat ini dia mendongakkan kepalanya melihat cahaya putih yang turun perlahan - lahan dari langit. Wajahnya memperlihatkan ketakjuban akan hal itu.
"Apa yang kamu lakukan untuk malam ini?" tanya Artha.
"Kakak bisa membuat Elang Api. Aku ingin membuat seperti itu dari air. Bukan elang sih, tapi mungkin pinguin atau lumba - lumba."
Dapi tersenyum ketika mengatakan kalimat terakhir. Entah apa yang dipikirkan hingga membuat dia tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum?"
"Aku merasa lucu, kak. Karena kakak bisa membuat Elang Api dan itu sangat keren. Sedangkan aku berpikir pinguin atau lumba - lumba dan itu sangat imut. Aneh khan? Enggak ada keren - kerennya sedikitpun," jelasnya, tubuhnya bergoyang manja.
"Dimana anehnya?"
"Enggak keren, kak," jelasnya manja dengan suara yang khas dan mimik wajah yang imut.
Artha tertawa kecil melihat tingkah pemuda yang ada di depannya. Sehari ini, sudah berapa kali pemuda itu mengeluarkan tingkah imut secara spontan. Bukan disengaja olehnya tapi memang karakternya yang seperti itu. Pemuda itu adalah manusia yang bisa bahagia walaupun dengan hal - hal kecil.
"Ayo, berdiri. Fokuskan pikiranmu dan tingkatkan imajinasimu," perintah Artha.
Pemuda bertubuh kurus dan tinggi, berkulit coklat itu, memejamkan mata. Menggerakkan jari tangan yang sudah berada di depan dada. Dari tangan kanannya hanya menjulur kedua jari, yaitu jari tengah dan telunjuk yang merapat sedangkan sisa jari yang lain tertekuk, menyatu di telapak tangan. Dia seakan melukis sesuatu.
Air laut di depannya beriak dan naik ke atas, perlahan air itu membentuk binatang yaitu ikan lumba - lumba dengan ukuran normal. Binatang yang terbuat dari air, 100 persen berbahan dasar air yang berwarna biru melompat naik dan turun ke permukaan air. Sangat ceria. Sepertinya wujud imajinasi Dapi sesuai dengan karakternya, binatang itu sungguh ceria.
Artha melihat hal itu, lalu tanpa sadar dia tertawa kecil.
Dapi menoleh ke arah Artha yang berada di samping kiri.
"Kaaaaak," jerit Dapi manja. Maksudnya adalah jangan menertawakan dia dengan kode panggilan itu.
Artha merubah raut wajahnya menjadi mode serius. Otomatis wajah itu berubah dalam hitungan detik agar Dapi bisa berkonsentrasi dengan baik.
Kali ini malah Dapi yang tertawa melihat wajah Artha. Kedua matanya menyipit karena tawa yang dikeluarkan.
"Ada apa?" tanya Artha.
"Tetap saja aku tidak bisa fokus dengan wajah seperti itu," nyata Dapi. Nada suaranya memang terdengar manja.
"Ya sudah, aku tak akan mengejekmu. Tetap fokus. FIGHTING."
Dapi kembali menghadap ke depan. Dia memfokuskan diri dengan imajinasinya. Lumba - lumba air itu berenang ke sana kemari di lautan lepas. Dapi melompat ke depan dengan sekali lompatan. Dia sudah berdiri di pantai dan kakinya sudah terendam air laut sebatas betis.
Dia mendekati lumba - lumba air yang saat ini berenang dengan tenang, mengepak - kepakkan siripnya. Lalu berbalik ke arah lepas pantai sesuai perintah Dapi dan dia naik ke atas punggung binatang yang dibuat sesuai dengan imajinasinya. Kemudian binatang itu melesat ke depan, berenang di atas permukaan air. Dapi tertawa. Dia memerintahkan Lumba - lumba air untuk membawanya berkeliling di laut lepas tapi masih dalam invisible cicle.
__ADS_1
Pemuda yang sedang menunggangi binatang itu, kemudian berhenti. Menggerakkan tangannya seperti melukis di atas kanvas. Selanjutnya, satu Lumba - lumba air terbentuk di depan. Wujud imajinasi itu berenang dan melompat berulang kali.
"Kak, ayo. Aku mau mengetes fokusku untuk mengendalikan 2 ekor lumba - lumba sekaligus."
Dapi menyuruh Artha untuk naik ke punggung lumba - lumba yang baru diciptakan. Dia ingin melatih kemampuan imajinasi dan fokusnya agar bisa tetap mempertahankan kedua lumba - lumba air itu sesuai perintahnya.
Artha sedikit ragu." Apakah itu akan baik - baik saja?" gumamnya dalam hati. Tapi karena pemuda yang berada di laut lepas memanggilnya berulang kali, diapun melompat dengan sekali lompatan mendekat ke Dapi.
Dapi memerintahkan Lumba - Lumba air untuk mendekati Artha.
Lumba - lumba air mendekat lalu membalikkan badan, mengarahkan punggungnya mendekati Artha.
Artha sangat ragu untuk naik ke binatang yang dibuat sesuai imajinasi Dapi, tapi dia berusaha untuk menepiskan keraguan itu.
Awalnya pemuda itu meraba binatang imajinasi itu dan mengelusnya. Seperti sungguhan, pikirnya. Berdaging dan keras. Lalu dia menaikkan badan bagian bawah dan duduk di lumba - lumba air.
Crasssh....
Gumpalan yang membentuk lumba - lumba air itu pecah ketika dia mendudukinya. Tubuhnya jatuh, masuk ke dalam genangan air laut. Celana dan bajunya basah.
Dapi tertawa dengan aksi itu. Matanya semakin menyipit tetapi seperti tersenyum manis karena tawa itu. Dia sengaja melakukan itu untuk menggoda Artha. Bukan karena dia tidak fokus, tapi memang sudah direncanakan.
"Maaf kak," nyata Dapi sambil tertawa terkekeh.
"Awas kamu ya," ujar Artha.
"Ya udah. Aku buatkan lagi, kali ini serius, beneran, aku janji," nyatanya sungguh - sungguh.
Tangannya kembali melukis di udara dan binatang sesuai imajinasinya kembali muncul.
Artha tidak marah dengan apa yang dilakukan Dapi, dia juga ikut tertawa dengan kekonyolan itu. Setelah Lumba - lumba air itu menyodorkan punggungnya, Artha naik kembali dengan berhati - hati. Mungkin saja Dapi akan mengerjai dia lagi, pikirnya. Sekarang dia sudah naik di punggung Lumba - lumba air dan berusaha untuk menyeimbangkan badan. Kemudian binatang imajinasi itu bergerak mendekati Dapi.
"Siap?" tanya Dapi.
"Kamu harus fokus. Jangan sampai aku terlempar ke tengah laut karena fokusmu buyar. Awas kamu jika itu terjadi," ancam Artha.
"Doakan aku ya kak."
Artha terkejut mendengar jawaban Dapi. Keningnya berkerut. Dia ingin mengeluarkan suatu jawaban dari mulut karena mendengar kalimat terakhir yang dikeluarkan Dapi. Namun, sebelum itu terjadi, Lumba - lumba air sudah melesat dengan cepat, berenang di permukaan air laut.
"Waaaaaaaah."
Dapi tertawa terpingkal - pingkal. Matanya semakin tertutup dan seakan tersenyum ketika dia berperilaku seperti itu. Dia sangat senang melihat ekspresi yang dikeluarkan Artha. Lalu dia meringankan lumba - lumba dia tunggangi untuk mengejar Artha.
Dapi berusaha tetap fokus untuk mengendalikan kedua binatang imajinasi. Dia menambahkan tali yang terbuat dari air, seolah - olah sebagai tali kekang untuk berpegangan dan mengarahkan Lumba - lumba air, di tempat Artha, agar dia tidak terjatuh. Tali yang terbuat dari air terlilit di leher binatang imajinasi yang diciptakannya.
Sudah berapa kali Dapi dan Artha tertawa dengan tingkah konyol yang mereka lakukan malam ini. Tubuh mereka sekarang sudah seluruhnya basah terkena air laut yang asin, tapi mereka sangat senang melakukan hal ini, layaknya seperti bermain air di dunia fantasi di dalam kehidupan normal. Artha tak pernah melalukan hal ini di kehidupannya.
*******
__ADS_1