
Dapi terbaring di gazebo yang berada di kawasan Taman Air Tirta Gangga. Dia berusaha bangun dari posisi telentang setelah matanya membuka dan tersadar pingsan.
"Tirta Gangga...?"
Dapi sadar dimana tenpat dia berada ketika menoleh ke samping. Dia melihat menara yang setinggi 10 meter dari gazebo. Gazebo itu berada tak jauh dari menara air.
"Aaaagh...."
Pemuda yang terlihat lebih putih, sedikit meringis menahan sakit di kepala. Dia memegangi kepalanya yang kecil.
Dapi berusaha untuk bangkit dari posisi duduknya saat ini. Tapi... sebelum niatnya terealisasi, dua sosok tubuh mendekat dengan cepat di depannya.
"Dapi...!"
"Yang Mulia!"
Artha memeluk Dapi dengan erat. Pemuda yang dipeluk hampir terjungkal ke lantai gazebo.
Kinnara berlutut sebentar, memberi hormat, lalu menangkap tubuh Artha yang hampir menindih Dapi.
"Yang Mulia tidak apa-apa?" tanya Kinnara.
"Aku... apa yang terjadi? Kenapa Kak Artha ada di Bali?"
Dapi membenarkan posisi duduknya dibantu Artha dengan menarik kedua tangannya. Sedangkan Kinnara yang sudah duduk di sampingnya, membantu menahan dan menegakkan punggung pemuda Titisan Raja Pertama Karangasem.
"Aku sudah 10 hari di sini...."
Artha memasang wajah yang serius ketika mengatakan kalimat itu. Dia berusaha berdiri tegak lurus setelah menindih Dapi. Kini... wajahnya ceria dan sumringah. Dia sangat senang bisa melihat Dapi kembali.
"10 hari? Mengapa Kak Artha tidak memberitahuku? Apakah ada urusan lain selain ketemu aku di Bali ini?"
Wajah Dapi juga terlihat serius menatap Artha.
"Apa kamu tidak ingat dengan apa yang telah terjadi?"
"Apa? Ah... Big Boss... lubang hitam...."
Dapi menatap Artha kembali seakan mencari pembenaran di wajah pemuda yang tampan itu. Matanya seakan memancarkan sesuatu pembenaran.
"Ya...."
Artha memegang bahu kanan pemuda di hadapannya.
"Tapi itu kejadian semalam, aku baru selesai bertempur dengan Big Boss, masuk ke lubang hitam dan berakhir di sini," nyata Dapi dengan sungguh-sungguh. Wajahnya yang terlihat putih masih sangat serius. Tatapan matanya kembali meminta pembenaran.
"Sekarang sudah Hari Raya Kuningan, Yang Mulia."
Kinnara yang duduk di samping, akhirnya berbicara.
"Apa...? bukankah semalam Hari Raya Galungan dan ini hari kedua?"
Dapi menoleh ke Kinnara.
Kinnara hanya mengeleng pelan.
"10 hari aku dan Kinnara mencari jalan agar bisa masuk ke lubang hitam dan menolongmu. Tapi tak ada petunjuk yang kami dapatkan. Aku belum pulang ke Jakarta selama 10 hari ini. Oh ya, Papa... aku harus menghubungi Papa. Sebentar...."
Artha bergerak beberapa langkah menjauh dari hadapan Dapi. Dia mengambil handphone dari saku celana dan berusaha menghubungi seseorang.
"Anda sudah pergi 10 hari meninggalkan kami, Yang Mulia."
Kinnara mengucapkan kalimat itu dengan pelan.
"10 hari...?"
Dapi terkejut. Dia tak percaya dengan yang dikatakan oleh Artha dan Kinnara.
"Oh, Firman dan Kinnari...! Apakah mereka sudah pulang?"
Dapi secara tiba-tiba memalingkan wajahnya ke arah Kinnara. Dia begitu bersemangat.
Makhluk Setengah Burung mengeleng pelan.
"Tapi... Big Boss berjanji untuk membebaskan mereka, jika aku bersedia masuk ke dalam lubang hitam."
"Tak akan semudah itu Big Boss menepati janji...."
Artha tiba-tiba menyahut dari kejauhan. Dia sudah selesai menelepon Ayahnya. Dia melangkah mendekati Dapi dan duduk di samping kiri pemuda yang terdiam menatapnya.
"Kita masih harus berjuang mencari mereka berdua. Big Boss punya rencana lain untuk mereka berdua."
"*******! Makhluk keparat itu mengingkari janji?"
Muka Dapi memerah karena sangat kesal.
"Ya Tu...han... kak... aku harus pulang menemui ibuku. Jika benar aku pergi selama 10 hari, dia pasti sangat khawatir denganku."
Dapi memasang wajah yang cemas ketika teringat akan ibunya.
"Ayo, kita ke rumahmu. Kita ngobrol panjang di sana."
Artha berkata dengan nada pelan.
Dapi bangkit dari duduknya disusul Artha.
"Come on, Rung...."
Artha menoleh ke Kinnara yang masih duduk di lantai gazebo.
Makhluk Setengah Burung tersenyum. Dia bangkit dan berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan kedua manusia berbentuk normal.
Ketika mereka akan melompat dengan ilmu meringankan tubuh, tiba-tiba...
"Tunggu sebentar. Mengapa kulit dan wajahmu terlihat sangat putih sekarang ini?"
Artha melontarkan pertanyaan itu dengan cepat dan menahan bahu Dapi dengan tangan kiri.
__ADS_1
Dapi menoleh ke arah Artha dan mengerutkan keningnya. Dia tak menjawab pertanyaan pemuda dari jakarta tapi hanya mengangkat dan melihat kedua punggung tangannya.
Kinnara memukul bahu Artha yang berada di samping kirinya, dipisahkan oleh Dapi.
"Ayo, Yang Mulia. Saatnya tidak tepat untuk menjawab pertanyaan, Kak Artha."
Kinnara membimbing Dapi untuk melompat dengan cepat.
Dapipun menurut ajakan Kinnara.
Artha ketinggalan di belakang.
"Emangnya salah jika aku pengen tau resep putih di kulitnya? Dulu kan dia sangat hitam pada saat aku melihatnya pertama sekali...."
Artha mendumel pelan dan menggoyangkan kepalanya beberapa kali berbarengan dengan kalimat yang dikeluarkan. Kemudian dia melompat sekali, menyusul kedua temannya.
*******
Di Bale Gede, duduk bersimpuh di lantai, seorang pemuda yang bertubuh ramping. Pakaian yang serba hitam, masih dipakai oleh pemuda yang merupakan titisan Raja Pertama Karangasem.
"Maafkan Dapi, Biyang... Aji... karena membuat khawatir."
Dapi sengaja menundukkan kepala ketika mengucapkan kalimat itu. Di hadapannya, duduk di atas kursi, ibu dan ayahnya.
"Kamu kemana saja, Nak? Biyang sangat frustrasi ketika kamu menghilang. Belum lagi Firman ditemukan, kamupun menghilang...."
Perempuan yang mengucapkan kalimat itu menangis.
Suami dari perempuan yang sedang menangis, hanya terdiam dan memandang lurus ke anaknya yang sedang bersimpuh di lantai.
"Maafkan Dapi, Biyang... sekali lagi... maafkan Dapi."
Dari perkataannya, Dapi terlihat sangat menyesal. Dia menundukkan kepalanya lebih rendah.
"Apa yang kamu lakukan selama 10 hari belakangan ini? Seharusnya di Hari Raya Galungan, kita berkumpul dengan keluarga, walaupun kita tidak merayakannya. Kamu... pulang dengan pakaian yang lusuh dan robek."
Perempuan yang merupakan ibu Dapi, sedang mengusap air matanya.
Memang... kondisi tubuh Dapi saat ini sudah bersih. Tidak ada bekas darah dan luka di wajahnya. Tapi di bagian perut, baju hitam itu terlihat robek dan bekas tusukan benda hitam berupa pedang yang menggores bagian perut, sedikit ke pinggang masih membekas. Tapi tidak terlihat jika Dapi masih memakai baju.
"Biyang... Aji... beberapa bulan ini Dapi banyak melalui hal - hal yang aneh. Tapi... jika Dapi menjelaskan semuanya, apakah Biyang dan Aji percaya dengan semua yang akan Dapi jelaskan?" jelas Dapi.
Dari nada suaranya, dia terdengar cemas jika orang tuanya tak percaya dengan yang dia katakan. Pemuda yang merupakan anak sulung dari kedua pasutri itu kembali menunduk.
"Jelaskan... Aji mau mendengarkan dari mulutmu sendiri."
Kali ini ayahnya yang berbicara dengan tegas dan lugas. Nada suara ayahnya sangat berat.
Terlihat tarikan nafas panjang dari tubuh Dapi sebelum dia memulai cerita kepada kedua orang tuanya. Dapi mengangkat kepalanya dan menatap kedua orang tuanya.
Awalnya, anak pertama kedua orang tua yang duduk di kursi berukiran khas Bali, menceritakan tentang mimpi yang didapat berulang kali. Setelah mimpi itu, dirinya digiring untuk berkunjung ke Taman Air Tirta Gangga.
Lalu Dapi menceritakan pertemuannya dengan Om Bagas dan Artha. Selanjutnya dia menceritakan pertemuannya dengan seekor Makhluk Setengah Burung dan berteman dengan seekor Makhluk Setengah Angsa.
Pemuda itu juga menceritakan mengenai pencariannya terhadap Firman dan akhirnya bertemu dengan Calonarang. Akhirnya bertemu dengan Big Boss dan masuk ke dalam lubang hitam. Akhirnya, dia menceritakan dirinya yang sudah tertidur di gazebo dalam kawasan Taman Air Tirta Gangga, setengah jam yang lalu. Dan ternyata sekarang sudah 10 hari dia meninggalkan rumah.
"Maafkan Dapi, Biyang... Aji... karena baru cerita dan jujur sekarang ini."
Dapi kembali menundukkan kepalanya setelah menjelaskan panjang lebar.
"Aji... gimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Anak kita mengapa seperti ini?"
Perempuan itu menangis. Menggoyang tangan kanan suaminya.
"Firman belum ditemukan, malah sekarang Dapi dikutuk seperti ini?"
"Ini bukan kutukan, Biyang... ini anugerah. Anugerah untuk keluarga kita."
Perempuan itu terdiam ketika suaminya berkata demikian.
Dapi mengangkat kepalanya dengan cepat. Wajahnya yang putih saat ini menatap ayahnya dengan rasa penasaran.
"Suruh temanmu keluar dari pelindung yang kalian ciptakan."
Pria yang memiliki kumis itu berkata dengan tenang.
Dapi semakin terkejut.
Perempuan yang duduk di samping suaminya, lebih terkejut daripada anak sulungnya.
"Keluarlah... lepaskan pelindung itu, saya ingin melihat kalian...."
Ayah Dapi menoleh ke halaman di depan Bale Gede dan berkata dengan sangat keras.
Dapi melihat ke belakang dan mengangguk.
Artha dan Kinnara yang berada di balik Invisible Circle melihat kode dari Dapi. Artha berjalan keluar melewati batas antara lingkaran invicible circle dan dunia nyata, disusul oleh Kinnara.
Kini, mereka berdua terlihat jelas, berdiri di halaman yang berjarak beberapa langkah dari ketiga orang empunya rumah. Artha berdiri dengan berpakaian hitam dan menyandang busur dan wadah anak panah di punggung. Sedangkan Kinnara berdiri selayaknya manusia biasa tapi memiliki tubuh setengah burung berwarna putih.
Ibu Dapi terperanjat. Dia membeliakkan matanya dan memegang erat lengan suaminya.
"Tidak apa-apa, Biyang. Mulai sekarang Biyang harus terbiasa dengan hal-hal aneh."
Suaminya memegang tangan istrinya yang merangkul lengannya dengan erat.
"Naiklah... tidak apa- apa."
Perintah Ayah Dapi dengan lembut kepada Artha dan Kinnara.
Artha berjalan perlahan menuju tangga Bale Gede. Sebelumnya dia menundukkan punggungnya, memberikan hormat kepada kedua orang tua yang duduk di kursi. Begitu juga dengan Kinnara.
Ketika mereka berdua sudah berada di samping Dapi, Artha dan Kinnara duduk bersila di hadapan kedua orang tua temannya.
"Apa kabar, Papamu? Sehatkah?" tanya Ayah Dapi.
Artha terkejut. Begitu juga Dapi, Mereka saling berpandangan.
__ADS_1
"Saya berteman dengan Papamu sejak lama dan saya tahu sejarah dirimu ketika kamu berusia 3 tahun."
Pria yang berkumis ini, berbicara dengan bijaksana dan lugas. Nada dari suaranya yang berat juga sangat tertata rapi. Tak salah jika dia dipilih sebagai Pemuka Adat di Kabupaten Karangasem.
Artha tercengang dengan wajah sedikit memucat. Dia menatap pria yang duduk di atas kursi.
"Dia tau aku dari kecil? Siapa dia sebenarnya? Kenapa papa tak pernah cerita?"
"Kinnara, sabarkan dirimu untuk bertemu dengan kembaranmu. Kami juga sabar menunggu anak kami pulang yang disandera bersama Kinnari."
Kali ini, ayah Dapi menoleh ke arah Kinnara.
"Aji...."
Dapi akhirnya berbicara. Dia tak sabar ingin mendengar semua cerita ayahnya, seakan tahu tentang semua yang telah terjadi.
Ibu Dapi sudah cukup terkejut dengan kejadian hari ini. Apalagi dia melihat sesosok makhluk yang aneh, duduk di lantai di hadapannya. Sesosok tubuh yang bagian bawah tubuhnya berwarna putih dan ditumbuhi bulu seperti burung. Kakinya memiliki cakar serti elang dan perempuan itu melihat sayap besar yang berlipat di punggungnya. Ketika suaminya berkata dia harus terbiasa dengan hal yang aneh saat ini, dia sedikit tenang, karena dia percaya dan yakin dengan suaminya.
"Aji dan Ayah Artha sudah lama berteman...."
Ayah Dapi menceritakan awal pertemanan dirinya dengan Om Bagas --Ayah Artha-- dengan pelan dan jelas. Ayah Artha datang dengan sengaja di kediaman yang dihuni sekarang ini, 16 tahun yang lalu, 3 bulan sebelum Dapi lahir.
Awalnya dia sangat terkejut ketika menerima tamu yang tak dikenal sama sekali. Tapi Om Bagas berusaha untuk memperkenalkan diri dan bercerita mengenai tujuannya datang ke Bali. Saat itu, Om Bagas datang bersama seorang anak kecil yang berumur 3 tahun yaitu Artha.
Pria yang berbadan besar dan gagah yang menjumpai ayah Dapi berusaha meyakinkan kalau anak pertama yang dikandung oleh istrinya saat itu adalah seorang yang istimewa. Seseorang yang akan menyelamatkan dunia bersama teman - temannya, termasuk anak yang dibawa oleh Om Bagas pada saat itu.
Ayah Dapi memang penasaran dengan mimpi yang berulang ketika kandungan istrinya menginjak 3 bulan. Mimpi tentang kakek buyutnya yang pertama sekali memimpin Kerajaan Karangasem. Padahal dia adalah generasi ke- 19 dari Raja yang pertama yaitu Gusti Nyoman Karang yang merupakan kakek buyutnya. Jadi dia tidak mengenal sama sekali kakek buyutnya itu. Di dalam mimpi dia disarankan untuk memberi nama anak pertamanya dengan nama Hikma Andapi. Di dalam mimpi juga dia melihat bahwa akan begitu banyak darah yang bersimbah di Bali mendekati tahun dengan angka kembar, perhitungan secara Masehi. Dari beberapa mimpi itu, akhirnya dia percaya dengan yang diceritakan oleh Om Bagas.
Sebagai keturunan Raja Karangasem, ayah Dapi sering mendengar cerita dari kakeknya tentang kekuatan dan sepak terang kakek buyutnya yang memerintah Kerajaan Karangasem pertama kali. Tapi... dia menganggap cerita itu semuanya dongeng belaka. Saat ketika dia sudah menikah dan menjadi pemangku adat, dia baru merasakan bahwa cerita kakeknya ternyata benar.
"Sewaktu kamu lahir, tubuhmu putih seperti salju," nyata pria yaang duduk dan memakai baju adat bali lengkap.
"Ya... seperti saat sekarang ini. Mengapa kulitmu lebih putih dari biasanya, Nak?"
Kali ini yang bertanya adalah ibunya. Perempuan itu baru menyadari jika kulit dan wajah anaknya terlihat lebih putih. Dia tak merasa tertekan lagi sekarang. Dia berusaha mencerna cerita suaminya.
"Benarkah?"
Dapi melihat ke lengannya dengan wajah penasaran.
Artha... tingkah lakunya sangat aneh. Dia memalingkan wajahnya ke arah Kinnara yang berada di sebelah kiri, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Makhluk Setengah Burung itu. Dia mengejek.
Makhluk Setengah Burung spontan menatap Artha. Kinnara terperanjat. Keningnya berkerut. Dia tak mengerti dengan aksi Artha.
"Kulitnya hitam karena dia suka main ke pantai. Dulu sebelum suka main ke pantai, kulit Dapi memang putih dan secerah seperti sekarang ini. Iya kan, Aji?" Ibunya berkata dengan penuh semangat dan tersenyum.
Suaminya mengangguk.
"Aji pengen ngeliat senjata yang diturunkan oleh kakek buyut kita, Nak. Aji hanya melihat sekilas di dalam mimpi."
"Senjata?"
Ibunya terdengar kaget ketika mendengar perkataan suaminya. Dia langsung menoleh ke arah anaknya
Dapi tak kaget lagi dengan permintaan ayahnya, karena dia yakin ayahnya lebih banyak tahu tentang dirinya saat ini. Pemuda yang bertubuh ramping itu berdiri dan mengambil sesuatu dari balik rambut yang berada belakang daun telinga. Dia meletakkan benda yang seukuran jarum di telapak tangan kiri, lalu menggeser telapak tangan kanan seakan menarik sesuatu.
Sruuut...
Tombak Sakti membesar dan sudah berada di tangan kanan Dapi. Bagian tengah dari tongkat Sakti, dibawah lingkaran ke sepuluh mata tombak, digenggam oleh pemuda itu. Tombak Sakti berdiri tegak di samping pemiliknya. Warna biru laut sangat terang terpancar dari senjata andalan Dapi.
"Ya... Tuhan. Dapi... apa - apaan ini?" jerit ibunya.
"Itu Tombak Sakti dari kakek buyut kami, Biyang... saat ini diturunkan ke Dapi."
Ayah Dapi yang menjawab pertanyaan istrinya dengan tenang.
Ibu dari pemuda itu, memang benar - benar kaget. Anaknya yang belum genap 16 tahun sudah memegang senjata tajam. Sebenarnya dia tak rela akan hal ini dan pasti akan menjadi pikirannya.
"Artha... apa kekuatanmu?" tanya ayah Dapi.
"Pengendali Api, Om," jawab Artha lugas.
"Kamu pemanah handal?"
"Iya, Om."
"Baiklah... jalan kalian masih panjang. Firman juga belum ditemukan sampai sekarang. Ayah sudah berusaha mencari sekuat mungkin melalui jalur hukum dan lewat hal gaib, tapi... memang belum takdirnya untuk kembali. Ketika takdirnya bertualang sudah habis, pasti akan kembali karena Tuhan mengizinkan. Dapi... Aji hanya bisa memberi kamu nasehat bahwa anugerah yang diberi ke kamu, harus kamu pergunakan sebaik mungkin."
"Iya, Aji."
"Dan kamu Artha, tolong jaga anak saya selayaknya adik kandung kamu sendiri."
"Iya, Om."
Artha mengangguk dalam posisi masih bersila di lantai.
"Untuk Kamu Kinnara, bersabarlah untuk bertemu dengan Kinnari, suatu saat kalian akan berkumpul kembali. Jagalah Pohon Kalpataru semampu kamu, karena suatu saat pohon itu akan menjadi perantara sebagai pertolongan Tuhan kepada manusia."
"Iya, Yang Mulia."
"Sekarang beristirahatlah. Jaga diri kalian dari pandangan orang biasa di sekitar rumah. Saya tak perlu mengajari, kalian tau sendiri caranya."
"Iya, Om."
"Baik, Yang Mulia."
"Lain kali kita bercerita lagi, Nak. Sekarang istirahat... kamu terlihat sangat letih. Jangan terlalu memikirkan adikmu, suatu saat ada jalan untuk kita menyelamatkan Firman."
Ayah Dapi berbicara dengan sangat tenang. Dia sangat bijaksana.
"Baik, Aji. Kami permisi."
Dapi mengecilkan Tombak Sakti dan menyelipkan kembali ke tempat semula.
"Satu hal lagi yang mau Aji sampaikan. Di dalam kekuatan besar yang kalian miliki, akan ada tanggung jawab besar pula yang harus dipikul. Ingat itu."
Mereka bertiga yaitu Dapi, Artha dan Kinnara yang telah berdiri di hadapan kedua orang tua Dapi, mengangguk dengan pelan. Kemudian mereka menundukkan setengah badan dan mohon izin untuk beristirahat di Bale Dauh. Kamar Dapi.
__ADS_1
*******