
Dapi sudah sering bolak-balik Bali-Jakerta bersama Om Bagas bebrapa bulan ini. Kegiatan yang dilakukannya adalah membantu Artha mengintai anggota ke tujuh yang akan direkrut yang berada di jakarta. Om Bagas memberikan tugas itu karena dia ingin Dapi dekat dengan anggota ke tujuh yang akan direkrut karena umur mereka setara, hanya beda beberapa bulan. Diharapkan mereka akan menjadi teman dekat dan akan saling berbagi untuk misi ke depannya.
Dengan mempergunakan teleportasi, Om Bagas membantu Dapi bolak-balik Bali-Jakarta. Dapi juga mulai mengurus kepindahan sekolahnya yang telah direncanakan dari awal.
Om Bagas telah memilih rumah untuk tinggal dapi sebagai tempat kost-kostan sebelum nanti mereka bergabung secara keseluruhan di Basecamp mereka. Om Bagas juga telah mengurus Club Tari Modern yang ingin dimasuki oleh Dapi sebagai club ektrakurikuler yang dilakukannya setelah pulang sekolah, beberapa hari dalam seminggu.
Sekolah tingkat menengah atas juga dipilihkan Om Bagas untuk Dapi yaitu sekolah dimana anggota ke tujuh yang akan direkrut berada. Sehingga Dapi akan terus dekat dengan anggota ke tujuh yang belum muncul kekuatannya pada saat ini.
Dapi dengan senang hati menjalani semua ini, tapi ada beberapa hal yang membuatnya sedikit berat untuk pindah ke Jakarta. Yang pertama adalah meninggalkan orang tuanya, sedangkan yang kedua adalah perasaan yang harus dikuburnya dengan dalam agar misi penyelamatan adiknya terlaksana dengan baik.
*******
__ADS_1
Kemuning dan Dapi telah berteman baik beberapa bulan ini. Kemuning yang merupakan pribadi yang sangat ramah telah membuat Dapi nyaman setelah kepergian Kinnari. Dia sedikit melupakan kesedihannya tentang kasus yang menimpa Kinnari dan adik kandungnya. Namun, misi pencarian orang yang terdekat bagi dirinya harus dilanjutkan. Beberapa bulan ini, tak ada kabar sedikitpun mengenai Kinnari dan adiknya. Hampir enam bulan waktu sudah berlalu. Big Boss sangat pintar menyimpan Kinnari dan Adiknya dalam persembunyian.
Kemuning duduk di samping Dapi di pelataran beton di pinggir Pantai Jasri. Melihat lurus ke depan, menatap laut lepas yang menghembuskan angin laut ke arah mereka. Gadis yang memakai bendo berwarna merah menatap laut lepas dengan wajah yang sendu.
“Pergilah... semoga keinginanmu tercapai di Jakarta...,” lirih Kemuning dengan perlahan. Wajahnya masih tetap menatap lurus ke depan.
Dapi menoleh ke arah gadis yang duduk di sampingnya. Gadis yang telah berteman dengannya selama enam bulan terakhir ini. Gadis yang mengisi hari-harinya setelah dirinya kehilangan Kinnari. Gadis yang mungkin saja telah dicintainya secara diam-diam. Tak ada kata yang terucap dari mulut Dapi. Dia tak ingin menyakiti dirinya dan juga tak ingin menyakiti gadis yang masih terus membuatnya penasaran. Penasaran karena intuisinya terus mencari jawaban dari beberapa pertanyaan tentang gadis ini.
Enam bulan kedekatan mereka, bukan berarti mereka mengenal dengan baik satu dan lainnya. Dapi tidak pernah bercerita mengenai kekuatannya dan Dapi juga tidak pernah tahu jawaban dari intuisi yang selalu mengganggu dirinya tentang Kemuning. Intuisi yang mengatakan bahwa gadis ini akan mengambil andil yang besar dalam kehidupannya di masa yang akan datang.
Tentu saja, Kemuning sangat terkejut. Beberapa bulan mereka berteman, Dapi tidak pernah menyinggung sedikitpun mengenai hal ini dalam pembicaraan mereka, padahal hampir setiap hari mereka bertemu di sekolah, bahkan terkadang mereka pergi bersama untuk melepaskan penat sebagai seorang pelajar. Tapi... Kemuning tak mampu mencegah satu-satunya teman laki-laki yang dekat dengan dirinya. Dia juga bukan siapa-siapa bagi Dapi, kecuali teman. Dapi tak pernah mengungkapkan perasaan lebih kepadanya.
__ADS_1
“Ayo... kita pulang... kamu juga akan bersiap-siap untuk keberangkatanmu ke Jakarta, beberapa hari lagi,” ajak Kemuning dengan wajah yang memasang senyum getir di bibirnya. Senyum dari mulut seorang gadis berkulit sawo matang, terulas dengan sangat terpaksa. Tergurat kesedihan dari senyum itu. Gadis yang menggunakan bando berwarna merah berdiri, tak berani melihat ke arah Dapi yang masih terduduk di semen beton, di pinggir Pantai Jarsi.
Dapi sedikit mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat pergerakan Kemuning. Dia berusaha mencari-cari mata temannya yang bagi dirinya sangat mempesona tapi dia tak berhasil menemukan apa yang dicari. Dapi berdiri dengan perlahan, mendekati Kemuning yang telah berdiri membelakangi Pantai jarsi dan berkata, “Maafkan aku, Kemuning....”
Kemuning melihat ke arah pemuda yang berkulit putih. pemuda yang dikenalnya denkat dalam enam bulan terakhir ini. Tatapan mata yang sendu diarahkan kepada Dapi hanya sekian detik. Kemudian dia sedikit berjongkok untuk mengambil tas ransel berwarna merah dari bahan kain. Menyandangkan tas itu dengan perlahan ke pundaknya. “Ayo...,” ajak Kemuning sembari meraih tangan Dapi tap pandangannya menatap ke depan. Menatap pasir Pantai Jarsi yang menajdi saksi bisu kepedihan hatinya saat ini.
“Aku tidak apa-apa di sini... gapailah apa yang kamu inginkan... suatu saat kita pasti bertemu lagi... Mungkin tidak di sini, tapi di belahan Bumi yang lain,” nyatanya sambil melepaskan pegangan tangannya. Gadis itu berjalan perlahan menapaki pasir di Pantai Jarsi secara perlahan. Tapak kaki yang berasal dari sepatu yang mungil terpatri dengan jelas di pasir Pantai Jarsi.
Sedih.
Haru.
__ADS_1
Itu yang dirasakan Dapi saat ini, tapi dia harus tetap melaksanakan misinya untuk menyelamatkan Kinnari dan adik kandungnya, Firman. Ada beberapa hal dalam kehidupan ini yang harus dikorbankan agar tercapai suatu keinginan.
*******