Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Let Me Know : Ep. 17


__ADS_3

Pada umumnya, rumah adat Bali berdasarkan filosofi daerah tersebut yaitu kedinamisan hidup dapat tercapai dengan adanya hubungan harmonis antara aspek Palemahan, Pawongan, dan Parahyangan. Atas dasar itu, rumah adat Bali dibangun dengan mementingkan aspek-aspek tersebut.


 


 


Ketiga aspek dalam filosofi Bali itu disebut dengan istilah Tri Hita Karana. Pawongan adalah penghuni rumah, sementara palemahan artinya hubungan yang baik antara penghuni dan lingkungan. Rumah adat suku Bali memang banyak memiliki keunikan dengan filosofi yang dibawakan.


 


 


Sebagai salah satu pemangku adat di Kabupaten Karangasem, ayah Dapi memiliki darah biru yaitu keturunan dari Raja Pertama Karangasem. Pastinya posisi itu membuat ayahnya memiliki perekonomian yang cukup lumayan. Kebanyakan rumah masyakarat Bali yang berada di ekonomi menengah ke atas akan terlengkapi dengan ketiga aspek tersebut.


 


 


Bangunan Rumah Adat Bali biasanya berbentuk persegi atau persegi panjang. Di bagian depan, bangunan itu sudah menyuguhkan Angkul-Angkul. Bagian ini merupakan pintu masuk utama rumah adat suku Bali. Bentuk bagian rumah adat suku Bali ini mirip seperti Gapura Candi Bentar, namun angkul-angkul memiliki atap yang menghubungkan kedua pilar.


 


 


Ketika kita memasuki rumah tersebut, maka kita akan mendapati sebuah bangunan seperti pendopo yang biasa disebut Aling-aling. Aling- aling adalah bagian rumah Bali yang fungsinya sebagai pembatas antara angkul-angkul dengan halaman yang menjadi tempat suci. Bangunan adat Bali ini diyakini akan memberi aura positif.


 


 


Di dalam bangunan yang tak berdinding sisi kiri dan kanan, duduk seorang wanita yang umurnya hampir setengah baya. Wanita itu memakai baju daster berwarna coklat muda. Dia duduk menyusun lembaran - lembaran daun pisang yang akan digunakan untuk acara adat beberapa hari lagi.


 


 


"Biyang..." Suara lembut itu berasal dari mulut Dapi yang berdiri di belakang.


 


 


Wanita yang berkulit kuning langsat itu menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum. Lalu melanjutkan pekerjaan.


 

__ADS_1


 


"Biyang, lagi ngapain?" tanya Dapi. Dia melangkahkan kaki, mendekat dan duduk di depan wanita itu.


 


 


"Beresin ini...," nyatanya sambil menunjukkan daun pisang yang berwarna hijau kepada anak muda dihadapannya.


 


 


"Khan bisa si mbok yang beresin loh, mengapa harus biyang?"


 


 


"Yang bisa dilakukan sendiri, kita lakukan sendiri, Nak. Kenapa harus mengharapkan orang lain," nyata wanita itu.


"Kamu mau kemana?" sambungnya sembari tersenyum lagi ke arah Dapi.


 


 


 


 


"Hati - hati di jalan. Oh ya, beberapa bulan lagi kamu Ujian Nasional, khan?"


 


 


"Iya, biyang."


 


 


"Jaga kesehatan kamu. Supaya pas jadwal ujian, kamu tetap sehat."

__ADS_1


Wanita itu tetap menyusun daun-daun pisang secara bertumpuk, tangannya yang mulai berkerut, bergerak perlahan, dia berusaha membersihkan sisa-sisa pelepah pisang yang lengket di daun itu.


"Apa kabar adikmu ya, Pi. Biyang kangen. Apa sangat besar dosa biyang sampai harus diberi cobaan seperti ini?"


Wanita itu memperlihatkan kesedihan yang sangat mendalam di raut wajah. Dia berusaha menahan air mata. Dapi tahu itu.


 


 


Dapi yang duduk berhadapan dengan ibunya, merasa hatinya tertusuk jika melihat wanita itu seperti ini.


" Maafkan Dapi, biyang. Belum bisa memenuhi janji untuk menemukan Adi Firman," lirih Dapi dengan suara pelan.


 


 


"Kamu masih kecil, kamu pasti tidak bisa bertindak. Polisi sudah berusaha mencari dan sudah ditanyakan juga ke orang pintar, sepertinya penglihatan mereka juga tertutupi dengan hal mistis," nyata perempuan itu. Nada suaranya tertahan. Kesedihan di dalam diri, berusaha untuk ditenangkan oleh pikirannya. Tangannya masih tetap bergerak mengumpulkan daun - daun pisang menjadi satu tumpukan.


Dapi hanya terdiam. Dia juga sudah berusaha untuk mencari adiknya itu.


"Tapi usaha pencarianmu melemah ketika sudah mengenal gadis itu,"


Terngiang suara itu di telinga Dapi.


Dapi mengerenyitkan kening. Sudah berapa minggu ini, suara - suara sumbang itu sering terngiang di telinganya. "Apakah intuisiku yang berbicara?" pikirnya.


"Sudah, pergi sana. Kamu khan mau ke sanggar. Nanti telat," ujar wanita itu. Dia berusaha mengulaskan senyum di bibir dan menunjukkan senyum itu kepada anak sulungnya.


"Baik, biyang."


Dapi menyalami ibunya, lalu dia bergerak cepat menuju pintu gerbang depan.


Rumah yang besar terdiri dari bangunan - bangunan mini dengan bagian - bagiannya, terlihat sepi. Selain wanita itu yang duduk di aling - aling, terlihat seorang lelaki yang sudah dewasa menyapu halaman di sekeliling bangunan.


Kesedihan di dalam hati wanita itu terus menyelimuti diri, terpancar dari raut wajah yang lesu dan layu.


 


 


*******


 

__ADS_1


 


__ADS_2