Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Let Me Know : Ep. 21


__ADS_3

"Siapa gadis yang sering bersamamu beberapa bulan terakhir ini?" tanya Artha kepada Dapi. Wajah mungilnya berusaha menyelidik. Kedua mata sedikit membesar.


"Gadis?"


"Ya. Gadis. Cewek. Manusia yang berwujud sesosok perempuan," jelas Artha. Tapi dia tidak menjelaskan kepada Dapi, dia menjelaskan kepada Kinnara yang duduk di samping kanannya, karena makhluk itulah yang bertanya, bukan Dapi. Artha menoleh ke samping kanan. Kinnara menatapnya.


Dapi yang berada di samping kiri Artha hanya terdiam tapi wajahnya terkejut. Dia berusaha menyembunyikan wajah itu dari Artha yang sudah beberapa bulan dikenal. Dia menggaruk batang hidungnya.


Sedangkan Kinnara sengaja memajukan kepala agar bisa melihat Dapi yang berada di sebelah kiri, tersekat oleh tubuh Artha.


"Ngaku. Jangan pura - pura deh loe."


Artha sekarang memalingkan wajahnya ke pemuda yang berada di samping kiri. Artha sedikit menggeram sembari menyentilkan jari ke kepala Dapi tapi dengan tekanan yang rendah.


Dapi tertawa. Lalu dia memperlihatkan wajah kuning langsatnya ke arah Dapi dan Kinnara. Mengangkat sedikit kepala dengan wajah yang salah tingkah.


"Kakak tau dari mana?"


"Papa yang bilang ke aku."


"Hebat sekali orang tua itu sampai tau urusan pribadiku," umpat Dapi dalam hati.


"Hanya temen kak. Teman satu sanggar."


Dapi menjelaskan kepada Artha. Mata Dapi juga menangkap tingkah laku Kinnara yang berada di samping Artha. Makhluk itu memasang wajah bengong. Kepalanya masih maju ke depan, di samping Artha. Sepertinya dia memang ingin melihat wajah Dapi dengan jelas yang terlindungi kepala Artha.


"Temen atau demen...."


Kinnara nyeletuk.


"******* nih burung. Gua goreng juga lu, biar jadi menu baru di Lesehan Ubud."


Lagi - lagi Dapi mengumpat.


"Temen... ah."


Dapi sedikit tertawa, walaupun di dalam hatinya dia merasa geram melihat makhluk setengah burung itu. Kata terakhir dilontarkan dengan senyum yang tertahan.


"Temen kok sering pergi berduaan?"


Artha bertanya dengan nada lirih.


"Loh... kakak kok tau aku sering berduaan dengannya?"


"Papa yang memberitahuku."


"Haduh... aku seperti tahanan luar, diawasi terus." nyata Dapi sedikit kesal. Dia menyisir rambutnya dengan jari - jari di tangan kanan, sekali gerus.


"Siapa gadis itu sebenarnya? Jawab jujur. Aku bertanya untuk kebaikanmu juga?" ujar Artha yang telah merasakan kalau pemuda di sampingnya mulai kesal dengan informasi yang diberikan.

__ADS_1


"Teman sanggar, kak... aku mengenalnya di sanggar."


Kini Dapi menjawab dengan suara pelan dan santai. Menoleh kepada dua orang yang berada di samping. Kedua matanya yang kecil berusaha meyakinkan mereka dengan tatapan manis.


"Kamu tau dimana dia tinggal atau tentang keluarganya?"


"Enggak. Aku tidak tau. Dia hanya bilang kalau tinggal di sekitar Amlapura di Jl. Ahmad Yani."


"Kamu pernah ke sana? Kenal dengan orang tuanya?"


Dapi mengerenyitkan kening. Dia menoleh ke Artha, lagi. Dan... lagi - lagi dia melihat makhluk setengah  burung itu menatap ke arahnya tapi kali ini wajah Kinnara serius melihat dirinya.


"Aku belum pernah ke rumahnya. Lagian, kenapa aku harus tau orang tuanya, kak... aku belum mau menikah."


Dapi menjawab dengan bernada manja.


"Papa curiga dengan gadis itu?"


"Curiga?"


Belum sempat Dapi mengeluarkan kata itu, ternyata sudah diucapkan oleh Kinnara. Makhluk setengah burung itu yang menyambut perkataan Artha dengan pertanyaan, bukan Dapi.


"Ya. Curiga."


Artha menoleh ke Kinnara.


"Ada yang beda dari gadis itu dan itu sangat mengganggu pikiran papa, untuk kebaikanmu juga."


"Awalnya, aku juga merasakan hal aneh ketika pertama bertemu Tania. Seperti ada awan hitam yang menyelimuti dirinya."


Dapi menjelaskan hal itu, pandangannya masih melihat ke arah 2 orang di samping kanan.


"Awan hitam?" Namanya Tania?"


Kinnara bertanya.


Dapi mengangguk. Mimik diwajahnya sangat serius.


"Ya. Awan hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Pada saat pertemuan pertama, aku merasakan itu tapi setelah bertemu beberapa hari kemudian, aura jahat yang aku rasakan pertama sekali sudah tidak ada lagi. Setelah itu aura yang terpancar layaknya seperti manusia biasa."


Artha mendengarkan penjelasan Dapi dengan baik.


Kinnara tertegun. Matanya tak melihat Dapi lagi. Dia melihat ke depan, melihat hamparan Bunga Kasna yang tumbuh tak hanya di depan tapi juga di sekeliling mereka. Mereka memang sedang duduk di hamparan Bunga Kasna yang berwarna putih di lereng Gunung Agung sore ini. Kinnara memikirkan sesuatu.


"Ada apa, rung?" tanya Artha.


Dia bertanya karena merasa ada sesuatu hal yang dipikirkan manusia setengah burung itu.


"Rung? Kakak manggil siapa?" tanya Dapi perlahan. Wajah imutnya semakin imut ketika mengajukan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Ya, Kinnara. Aku khan menoleh ke dia saat bertanya tadi?"


Artha menjelaskan dengan nada sedikit jengkel dan mengucapkan dengan cepat.


"Kok manggil Kinnara dengan sebutan 'rung'?


"Dia burung, khan?"


"Aish...."


Dapi langsung menundukkan kepala dan tertawa ketika mengerti alasan Artha memanggil Kinnara dengan kata itu.


"Bisa - bisanya nih anak bercanda di saat serius seperti ini."


Dapi mengusapkan telapak tangan kiri ke keningnya berulang - ulang. Mulutnya tak bisa menahan senyum di bibir yang melebar, tapi dia bisa menahan suara yang keluar dari mulut itu. Ketawa tertahan


Untung Kinnara tidak tersinggung dipanggil dengan sebutan itu. Dia masih terdiam, memandangi hamparan Bunga Kasna dengan tatapan kosong.


"Aku bertelepati dengan Kinnari beberapa hari yang lalu dan sesuai dengan cerita Dapi mengenai awan hitam, Kinnari juga diselimuti awan hitam pada saat dia berusaha untuk bertelepati denganku," jelas Kinnara.


Dapi langsung menghentikan tawanya. Ya. Dia langsung terdiam. Posisi masih menunduk, telapak tangan masih di kening tapi berhenti mengusap kening itu. Dia merinding setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Kinnara dan hal yang disampaikan Artha tadi tak lucu lagi baginya.


Artha juga melihat ke arah Dapi.


"Kamu punya intuisi yang kuat. Gimana pendapatmu, Pi?"


"Maksudnya? Aku tak mengerti kemana arah pembicaraan kita, kak."


"Mungkin gadis yang bersamamu adalah Kinnari," jelas Kinnara dengan lugas. Dia tak melihat Dapi ketika mengatakan hal itu, masih melihat hamparan Bunga Kasna yang indah di padang rumput tempat mereka bersantai.


Dapi semakin merinding. Kuduknya seakan - akan naik menuju kepala bagian belakang. Ada aliran darah yang berdesir ke daerah itu.


"Tak mungkin."


Kini Dapi yang melihat ke hamparan Bunga Kasna di depan mereka, mengikuti cara pandang Manusia Burung yang di samping Artha.


Saat ini mereka berada di hamparan padang rumput di lereng Gunung Agung. Padang rumput ini tidak seperti padang rumput biasa. Padang rumput ini di tumbuhi dengan Bunga Kasna berwarna putih. Bunga Kasna yang terkenal di seluruh dunia hanya ada di Temukus di Desa Besakih Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem Bali.


Bunga Kasna berwarna putih sering disebut dengan Bunga Edelweiss Bali. Bunga Kasna, menurut kepercayaan adalah bunga yang diberikan oleh Dewa kepada rakyat Temukus. Bunga ini tiba - tiba hidup dengan sendirinya. Akhirnya masyakarat di sekitar membudidayakan Bunga Kasna karena bunga ini akan dipanen setiap tahun menjelang Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan. Bunga Kasna akan dipakai pada Hari Besar itu.


Bunga Kasna yang pohonnya sebesar pohon Bunga Melati, sebatas lutut manusia, tumbuh segar di lereng Gunung Agung. Bunga dan daunnya berwarna putih. Jadi, Padang rumput ini hampir dominan berwarna putih jika dilihat dari atas seperti permadani bersalju. Keindahan padang rumput, tempat mereka duduk sekarang ini, semakin bertambah dengan adanya Bunga Marigold berwarna kuning yang sengaja di tanam mendampingi Bunga Kasna. Benar - benar indah.


Ketika duduk di sana, mereka juga merasakan udara sore yang segar. Apalagi wangi Bunga Kasna sangat semerbak. Bunga Kasna akan tetap wangi, walaupun diputik dan disimpan selama beberapa minggu.


Dapi, Artha dan Kinnara melihat keindahan padang rumput yang terhampar seperti permadani menutupi tanah Temukus. Mereka duduk berselonjor kaki ke depan menikmati keindahan alam di hadapan mereka. Ketiga makhluk Tuhan itu tenggelam dalam pikiran masing - masing. Dapi, sepertinya yang punya pikiran lebih keras daripada mereka berdua.


Kinnara memetik beberapa tangkai Bunga Kasna yang ada di samping, lalu menjulurkan tangan melewati tubuh Artha. Dia memberikan beberapa tangkai bunga beserta daun yang berwarna putih kepada Dapi. Dia mengangguk ke arah pemuda yang merupakan titisan dari Raja Pertama Karangasem.


Dapi mengangguk. Pemuda itu mengerti apa yang dimaksud oleh manusia setengah burung.

__ADS_1


Sedangkan Artha, tertegun melihat perlakuan Kinnara kepada Dapi.


*******


__ADS_2