
Di depan, terlihat bukit yang ditutupi oleh air terjun yang deras.
"Sepertinya...bukit ini... belum seperti ini ketika aku melihatnya kemarin. Mengapa banyak sekali air yang jatuh menutupi bukit ini sekarang?"
Panca bergumam di dalam hati. Kedua matanya yang besar melihat ke arah bukit dengan rasa penasaran.
Dengan cepat dia bergerak mempergunakan kekuatannya. Dia berkelebat sepersekian detik ke sana kemari mencari sesuatu.
"Huh... kau tak akan bisa mengelabuiku penyihir tua."
Panca tersenyum sinis. Hanya dalam waktu dua detik, anak laki-laki itu berkelebat dengan kecepatan cahaya mencari sesuatu, seperti bola ping pong yang memantul ke sana kemari. Akhirnya dia mendapat petunjuk.
Tuk.
Kaki kirinya menginjak batu yang mencuat di pinggir pohon besar. Batu kecil tapi sedikit mencuat itu sepertinya sengaja di sembunyikan.
Kreeeeek.
Syuuur.
Ternyata ini yang dicari Panca sehingga dia berkelebat ke sana kemari dengan cepat. Kunci untuk membuka pintu bukit.
Terbuka satu pintu yang terdapat di balik air terjun. Segumpalan air tumpah ke depan ketika pintu itu terbuka. Setelah itu, hanya sisa air yang menetes di atas pintu yang terbuka. Tak ada lagi air turun yang sangat deras seperti tadi.
Panca tak menunggu pintu di balik bukit terbuka dengan lebar. Dia melesat masuk ke dalam melalui celah pintu yang masih terbuka seperdelapan dan keluar kembali dalam hitungan detik. Memijak kembali batu yang dipergunakan sebagai kunci. Pintu di balik bukit yang menghubungkan ke gua, tertutup. Pintu dari batu yang lembab tak sempat terbuka lebar, bahkan tak sempat terbuka setengahnya. Air terjun kembali jatuh membasahi dinding bukit.
Anak laki-laki itu berdiri sebentar di depan bukit, memasukkan sesuatu di balik baju hitamnya, kemudian Panca langsung melesat berlari menuju tempat selanjutnya yaitu tempat yang sudah direncanakan untuk dituju.
__ADS_1
*******
Sebelum shubuh, ketiga makhluk yang diciptakan oleh Tuhan akan bergerak ke lereng Gunung Agung untuk mengintai kembali tempat yang dicurigai. Tempat yang diduga sebagai persembunyian Calonarang. Mereka tidur hanya beberapa jam, lalu berencana akan pergi ke lereng Gunubg Agung sebelum shubuh. Karena pada saat itu, ilmu sihir akan melemah.
Dapi sudah mengganti baju dan bersiap untuk pergi. Artha dan Kinnara sudah menunggu di depan pintu Bale Dauh.
Ketika akan melangkah keluar, langkah Dapi tersekat dengan benda yang terletak di atas meja belajar yang ada di kamar tidurnya. Dengan rasa penasaran, dia mendekati meja yang terbuat dari kayu Mahoni.
Terlihat buku usang berwarna coklat dengan tulisan sangsekerta berada di meja yang berada di samping tempat tidur. Dan ada secarik kertas, terletak di sampingnya. Pemuda yang saat ini terlihat semakin putih, mengambil secarik kertas dan membaca perlahan setelah berdiri di depan meja.
"Kak Artha..."
Dapi menoleh ke arah pintu.
Artha yang sedang berdiri di samping Kinnara, melihat ke Dapi dan menggerakkan ke atas kepalanya dengan sekali gerakan seakan mengatakan ' Ada apa?'
Dapi juga tidak menjawab tapi mengangkat kertas putih yang ada di tangan kanannya. Menunjukkan ke arah Artha.
Kinnara yang berada di samping Artha, terlebih dahulu masuk kembali ke kamar, diikuti oleh pemuda yang menyandang busur panah di punggungnya.
Kinnara penasaran dengan kertas yang ditunjukkan oleh Dapi ke mereka. Mata Kinnara tertuju ke benda yang berbentuk buku di atas meja belajar, setelah mendekati tubuh Dapi. Sedangkan Artha mengambil secarik kertas putih dari tangan Artha.
"Kitab sihir?" seru Kinnara.
"Apa...?"
Artha kaget ketika Kinnara menyebutkan kalimat itu. Matanya beralih ke buku yang terlihat usang di atas meja belajar.
__ADS_1
Dapi terdiam. Dia sudah mengetahui buku apa yang terletak di atas meja belajar. Tapi bukan itu yang dipikirkannya, dia lebih memikirkan isi pesan dari secarik kertas putih yang masih dipegang Artha.
"Kitab sihir kepunyaan Calonarang?"
Artha kembali meyakinkan dirinya tentang buku usang yang terletak di atas meja.
"Ya."
Kinnara memalingkan wajah ke Artha yang berdiri di belakangnya.
"Kenapa bisa ada di sini?" tanya Artha.
Kinnara menggelengkan kepala.
Dapi segera mengambil kitab sihir dan memasukkan ke dalam baju. Dia menyelipkan buku yang berwarna coklat di perut bagian kanan.
"Tak ada waktu untuk berdebat, kita harus berada di sana sebelum shubuh. Aku akan mencari tau tentang isi surat ini dengan intuisiku."
Dapi mengambil potongan kertas putih dari tangan Artha. Pemuda Pengendali Air segera keluar dan memberi kode kepada kedua temannya untuk segera bergerak.
Mereka segera melompat ke atap ketika sudah keluar dari Bale Dauh. Dengan ilmu meringankan tubuh, mereka melompat beberapa kali dan menghilang dari gelap malam.
"Kitab sihir Calonarang sudah ada di tanganmu, bli. Pergunakan untuk mengalahkannya. Jangan pikirkan aku... kita akan bertemu ketika takdir sudah harus mengumpulkan kita."
Siapa sebenarnya yang selalu mengintai dia selama ini? Apakah pemuda yang menolong Calonarang? Apakah pemuda itu juga yang menolong dirinya di dalam lubang hitam? Jika memang anak laki-laki itu, betapa hebat kekuatan yang dimiliki?
Dapi berpikir dengan keras dan mencari tahu sesosok makhluk dengan intuisinya, tapi dia tidak bisa menemukan jawaban. Dia melompat dengan cepat mengikuti lompatan Artha dan Kinnara yang berada di depan.
__ADS_1
*******