
Tubuh Dapi lemas karena melihat kedua sosok yang dicari selama ini terutama adiknya yaitu Firman, berada didekapan kedua musuh di hadapannya. Dia berdiri kaku dan menatap dengan wajah yang sendu ke arah musuh.
"Lakukan hal yang ingin kau lakukan untuk melawan kami, tapi kedua orang ini akan mati sebelum kau menyerang!"
Big Boss berkata dengan nada lantang. Tangannya masih tetap mencekik anak laki - laki di dalam dekapannya.
"Apa maumu sebenarnya?" tanya Dapi menggeram.
"Aku ingin nyawamu!"
Big Boss meludah.
"Tapi sekarang ini nyawamu tak berharga dibandingkan dengan kedua orang ini."
Dapi dengan cepat mengangkat tangan kanan untuk mencari Tombak Sakti. Terdengar suara yang berdesing. Senjata pamungkas melayang ke arahnya. Tapi... sebelum benda berwarna biru laut sampai ke genggaman tangan, suatu benda seperti tali berwarna hitam menangkap Tombak Sakti dan menarik benda yang merupakan senjata Dapi dengan cepat. Kini... Tombak Sakti sudah berada di tangan kiri Big Boss.
"Kau menantangku!"
Big Boss membentak dengan suara yang keras dan menggelegar, sepertinya dia sangat marah. Big Boss sangat marah karena aksi yang dilakukan lawan.
Penyihir tua yang berada di samping, terkejut dan terlihat wajahnya yang memucat.
Tapi tidak dengan Dapi, dia berusaha memasang wajah datar.
Big Boss mendorong tubuh anak laki - laki di depannya lalu mengarahkan tangan kanan ke punggung. Anak laki - laki bergerak ke atas secara vertikal dan perlahan. Tubuh kecil berhenti, mengambang, ketika berada 6 jengkal di atas aspal. Kepalanya yang kecil tertunduk. Kaki dan tangan terjuntai. Tubuhnya lemas.
Big Boss menggerakkan jari kanan, merenggangkan jari - jari itu. Tubuh anak laki - laki mengambang, berbentuk bintang. Kedua tangan terentang ke samping dan kakinya mengangkang.
"Apa yang kau lakukan, *******!"
Dapi memaki dengan sangat keras.
"Lihat saja..."
Big Boss terkekeh mengejek.
Firman yang melayang dengan tubuh terentang, akhirnya mengeluarkan suara jeritan yang panjang. Kepalanya kali ini mendongak ke atas. Kedua kaki dan tangannya seolah ditarik dan serasa ingin dipisahkan dari bagian tubuhnya yang kecil. Awan hitam pekat menyelubungi tubuh kecilnya.
Dapi merentangkan telapak tangan kanan ke depan dan mengeluarkan es kristal berbentuk tombak dari tangannya yang beku.
Big Boss mengelak hanya dengan memiringkan badan. Dia membalas serangan lawan dengan mengeluarkan untaian tali berwarna hitam. Sebuah benda solid namun fleksibel, berkelebat dan mencambuk telapak tangan lawan.
Aaaargggh...
Dapi menjerit dan menurunkan tangan kanannya. Telapak tangan kanan berbirat dan mengeluarkan darah. Dia seperti tersayat pisau yang sangat tajam. Pemuda itu memegangi pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri. Dia meringis. Wajahnya memerah.
"Mungkin belum cukup untuk membunuh satu orang agar kau menyerah!"
Big Boss mengarahkan tangan kanan ke arah Kinnari yang berada di depan penyihir yang merupakan sekutunya. Mengangkat tubuh gadis setengah angsa ke atas seperti layaknya mengangkat tubuh Firman. Big Boss mensejajarkan tubuh Kinnari pas berada di samping tubuh adik kandung musuhnya dengan posisi sama.
Terdengar suara jeritan dua sosok yang mengambang di udara. Jeritan yang panjang dari kedua orang yang dia kenal, membuat hati Dapi teriris. Dia tak tega melihat penyiksaan yang dilakukan Big Boss.
"Hentikan...!"
__ADS_1
Dapi menjerit sekuat tenaga. Wajahnya sangat marah tapi dia tak bisa melakukan hal lebih untuk melawan saat ini.
"Apa maumu? Lakukan sekarang! Jangan sakiti mereka! Bebaskan mereka berdua!"
"Kau benar mau melakukan apa yang aku perintahkan untuk menyelamatkan mereka?"
Dapi tertunduk. Dia mengangguk.
"Enyah dari dunia ini! Jangan bergabung dengan Bagas Wicaksana!"
"Lepaskan mereka berdua dan aku akan mengabulkan permintaanmu..."
Dapi masih menunduk. Ucapannya pelan. Kedua tangan yang berada di samping, menggenggam bergemeretak, menahan amarah. Dia terus berpikir dan merencanakan sesuatu. Darah mengucur dari telapak tangan kanan. Kini... tak dirasakannya lagi sakit di telapak tangan itu.
Big Boss menurunkan kedua sosok yang melayang di udara. Dia mengarahkan kedua tubuh yang tak berdaya ke arah Calonarang. Calonarang yang dari tadi hanya diam berdiri di samping bosnya, menyambut kedua sandera.
"Kau harus menghilang dari dunia ini dengan cara masuk ke lubang hitam yang aku ciptakan untukmu. Bagas Wicaksana tak akan bisa menemukanmu dan anggota yang akan direkrut berkurang."
Big Boss merencanakan hal ini karena dia ingin melenyapkan dua makhluk sekaligus, yaitu Dapi dan roh Raja Karangasem yang pertama yaitu Gusti Nyoman Karang. Jika dia membunuh Dapi, maka roh itu masih akan berenkarnasi ke tubuh yang lain. Itu pemikiran dari musuh bebuyutan Bagas Wicaksana.
Dapi mengangkat dagu, setelah dia melihat kedua orang yang disayang tidak mengambang lagi tapi masih berada dalam sandera Calonarang, maka dia menggerakkan tangan kanan dengan cepat mengarah ke Tombak Sakti yang berada di tangan kiri Big Boss. Dia berusaha merebut kembali senjata pamungkasnya dengan cara memerintahkan Tombak Sakti mengecil dan terlepas dari tangan lawan. Melesat ke arahnya.
Wajah Big Boss datar. Tidak terkejut dengan aksi lawan. Dia tersenyum mengejek. Dia melihat tombak yang berukuran kecil - setengah dari ukuran normal tombak--melesat ke arah lawan dengan konsentrasi penuh.
Tap.
Tombak Sakti Crystal Snow tertahan di udara. Wajah Dapi terheran. Pemuda itu melihat ke arah Big Boss. Wajahnya berubah menjadi pucat ketika melihat mata lawan. Kedua mata itu mengeluarkan sinar berwarna merah, menatap ke arah Dapi. Tombak Sakti tertahan di udara, dikendalikan oleh lawan dengan kekuatan gaib. Sungguh luar biasa kekuatan lawannya, dia bisa mengendalikan sesuatu dengan pikirannya. Pantas saja dia dipanggil Big Boss dan pantas saja penyihir tua yang berumur ratusan tahun bisa takut dan tunduk dengan pria yang menjadi musuhnya saat ini.
Big Boss menggeram dengan pelan. Kedua matanya merah bersinar, menatap dengan tajam ke arah lawan. Pria yang berjubah hitam dan diselubungi awan hitam pekat disekujur tubuh, merentangkan tangan kiri. Lima untaian benda seperti tali keluar dari jarinya dengan sangat cepat. Awalnya, mencambuk tubuh Dapi yang kecil. Setelah mencambuk, Big Boss mengayunkan kembali tangan kiri dan kelima untaian benda itu menjerat bagian perut, leher dan kedua tangan. Satunya lagi membelit kedua kaki. Dapi terjerat. Untaian kelima benda hitam melilit tubuhnya semakin erat, dia berusaha untuk melawan tapi tak bisa bergerak sama sekali.
Big Boss menarik kelima untaian benda hitam dengan cepat, seperti menarik gasing, tubuh lawan berputar mendatar seperti gasing yang sudah ditarik. Melayang di udara. Serangan selanjutnya, Big Boss mengeluarkan sebilah pedang dari ujung untaian benda hitam yang memilih berbentuk pedang panjang. Benda itu menyerang ke arah lawan dengan hunusan yang cepat pula. Serangan benda hitam yang tajam, mengenai bagian perut lawan. Padahal kondisi lawan saat ini, masih berputar dan melayang di udara. Tak hanya sampai di situ, kelima untaian itu berkumpul menjadi satu - setelah berbentuk pedang dan menghunus lawan- membentuk tinju yang mengepal dan mendarat di wajah lawan.
Bruk...
Dapi terjerembab. Tubuhnya terlempar 3 meter ke belakang. Dia merasakan kesakitan yang luar biasa di seluruh tubuh. Tentu saja sangat sakit, karena serangan yang bertubi - tubi dari musuh. Rasa sakit yang sangat parah dirasakan di muka dan bagian perut, telapak tangan kanan juga terasa sakit karena serangan pertama tadi. Tubuh pemuda itu telungkup di aspal jalan.
Kondisi Dapi saat ini, dia merasakan perutnya terasa perih, begitu juga dengan telapak tangan, dia merasakan ada darah yang keluar dari bagian tangannya. Dapi juga merasakan wajahnya seakan terbentur benda yang sangat keras. Panas. Dirasakannya darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibir. Serangan dari lawan yang bertubi - tubi membuatnya tak berdaya.
Di malam yang gelap. Pekat. Hitam mencekam. Dapi tergeletak di aspal jalan di kawasan Tukad Bangke. Samar - samar dia mendengar suara gagak berderak.
Pemuda yang menjadi titisan Raja Karangasem Pertama berusaha untuk mengumpulkan kekuatan. Dapi berusaha bangkit dengan sangat susah payah. Dia berusaha bangkit dengan cara menggunakan telapak tangan kanan sebagai tumpuan. Tapi, dirasakannya telapak tangan kanan sangat sakit, dia mengganti tumpuan tubuhnya untuk berdiri dengan menggunakan tangan kiri. Pemuda itu mengangkat tubuhnya, lalu kedua lutut menjadi penyanggah tubuh. Dia berhenti sampai di situ. Mengatur nafas. Tetesan darah keluar dari mulut dan hidung, begitu juga dari perut dan telapak tangan. Akhirnya dengan susah payah, pemuda yang sudah babak belur, bisa duduk di atas aspal.
Dapi terdiam sejenak. Dia melihat Big Boss dari kejauhan menyeringai sedikit mengejek ke arahnya. Dia juga melihat Tombak Sakti masih mengambang dan berputar di udara. Big Boss masih mengendalikan senjata pamungkas miliknya.
Sebenarnya, dari senyum Big Boss yang seakan mengejek, dia merasa salut dengan pemuda yang masih berusia 16 tahun ini. Salut akan semangat dan kekuatan untuk bertahan dari serangan yang dilancarkan secara bertubi - tubi. Big Boss membiarkan lawannya untuk mengatur nafas sebelum menyerang kembali.
Pemuda yang sudah terlihat babak belur di wajah, berusaha untuk berdiri. Tangan kanannya kini berusaha untuk menjadi tumpuan tubuhnya yang sekarat. Ketika dia ingin berdiri, dirasakan ada nyeri yang amat sangat di bagian pinggang, mendekati perut. Dia menahan luka di daerah tengah tubuh dengan tangan kiri. Dari balik baju kaos hitam berlengan panjang, terlihat noda darah keluar dari pinggang kanan. Dia kembali meringis, kesakitan tapi berusaha bangkit.
Perlahan-lahan dia berusaha berdiri. Kedua kaki yang lemah, berusaha untuk dikeraskan, seluruh kekuatan tubuh disalurkan menuju kedua kaki. Akhirnya dia bisa berdiri tegak namun sedikit sempoyongan.
Dapi berdiri terdiam. Kaku. Melihat lurus ke depan. Menatap tajam makhluk hitam yang ada di depan. Dia melihat dengan jelas Aura musuh yang sangat pekat. Asap hitam menyelubungi seluruh tubuh lawan. Wajah pria yang berubah hitam tidak terlihat jelas, hanya matanya saja yang bersinar berwarna merah. Makhluk itu hanya tersenyum sinis.
Dapi kembali menaikkan dan merentangkan tangan kanan lurus ke depan dengan susah payah, berusaha membuka telapak tangan. Darah masih mengucur dari balik telapak tangan. Dia berusaha menyalurkan kekuatan seluruh tubuh ke telapak tangan kanan. Tangan itu mengeluarkan uap es. Terdengar suara berderak. Telapak tangan kanan tak berapa lama membeku, lalu Dapi menembakkan beberapa ruas es kristal, berbentuk ujung tombak yang tajam dari telapak tangan kanan yang berdarah. Dia meringis kesakitan. Darah keluar dari sudut bibir.
__ADS_1
Big Boss yang berdiri tegak di hadapan musuh -hanya bergaya santai- menangkis serangan lawan beberapa kali dengan cepat. Tangkisan yang dilakukan hanya menatap serangan lawan dengan mata merahnya. Bahkan dia tidak menggerakkan tubuh sedikitpun untuk melawan serangan pemuda yang berdiri sekitar 4 meter dari dirinya. Benda es kristal tak satupun menyentuh tubuh Big Boss.
Big Boss dengan cepat membalas kembali serangan lawan dengan cara menggerakkan tangan kiri dari bawah, mengibas ke tengah dada. Terdengar suara berdesing. Dari tangan kiri keluar untaian benda padat. Senjata yang dikeluarkannya berkali - kali untuk menyerang lawan. 3 untaian benda padat melesat mendekati tubuh pemuda yang sudah melemah. Menjerat dan langsung mencengkram tubuh langsing itu.
Dapi berdiri tak berkutik. Seakan dia dililit oleh ular. Matanya tajam, terlihat geram melihat makhluk hitam dihadapannya. Gelap. Mencekam. Malam yang hitam membuat aura makhluk itu semakin mengerikan.
"Aku hanya menggunakan tangan kiri untuk membunuhmu. Kekuatanmu tak sebanding denganku".
Suara yang berat, membuat orang berkidik mendengarnya. Setelah menyelesaikan kalimat itu, Big Boss mengibaskan tangan kiri dengan hentakan yang kuat membuat gerakan mengayun ke atas.
Tubuh Dapi berputar beberapa kali di udara seperti gasing yang terlempar karena hentakan dari tangan musuh, tak berapa lama tubuhnya kembali jatuh ke tanah, terjerembab.
Bruuuk...
"Aaaggh..." Dapi meringis kesakitan, tak bisa berkutik.
"Kau tak bisa menghalangi aku untuk menjalankan misiku. Tidak kau, tidak juga dengan yang lain. Satu per satu kalian akan aku habisi. Jika kau ingin menyelamatkan mereka berdua. Kau cukup masuk ke lubang hitam yang aku ciptakan."
Big Boss kembali menyerang tubuh pemuda yang tak berdaya itu dengan untaian 3 benda padat keluar dari tangan kiri. Benda solid dan fleksibel berwarna hitam kembali melesat ke tubuh langsing yang memakai pakaian hitam, lalu kembali mencengkram.
Kali ini, Dapi terangkat dengan posisi telentang ke arah langit. Lehernya tercekik dengan satu untaian benda. Terpaksa kepalanya mendongak ke atas, menahan jeratan benda hitam dari tangan Big Boss. Kedua untaian yang lain membelit tengah tubuh dan kedua kaki. Kedua tangan Dapi terjulur ke bawah dalam kondisi lemas. Tangan kanan Big Boss bergerak memutar dan mengeluarkan asap hitam pekat yang menuju ke Dapi. Asap hitam pekat bergerak dengan cepat dan menyelubungi tubuh pemuda itu.
Asap hitam pekat yang sudah sering dilihat Dapi bebeberapa bulan terakhir, saat ini menyelubungi tubuh dan di atas tubuhnya terbuka satu lubang hitam yang terbentuk dari asap hitam yang berkekuatan mistis.
Big Boss melempar tubuh lawannya ke atas, masuk ke dalam lubang hitam yang diciptakan. Lubang hitam yang berdiameter 1.5 meter, melebar lebih besar seakan menerima dengan senang hati, korban yang dipersembahkan untuknya.
Tombak Sakti Crystal Snow yang mengambang tiba - tiba melesat ke arah lubang hitam dibarengi dengan cahaya putih secepat kilat. Masuk ke dalam lubang hitam mengikuti Dapi lalu lubang itu tertutup dengan cepat.
Zzzeep.
Big Boss dan Calonarang terkesiap.
"Apa yang terjadi? Kemana Tombak Sakti itu?"
Big Boss dan Calonarang tertegun melihat kejadian yang hanya sekilas. Big Boss tak tahu siapa yang menggerakkan Tombak Sakti milik lawan. Dia tidak bisa menguraikan dengan otaknya, bentuk cahaya putih yang melesat secepat kilat dan kekuatan mistisnya juga tidak bisa melihat wujud apa yang melesat dengan cepat menuju lubang hitam membawa Tombak Sakti.
Sembari berpikir, Big Boss memerintahkan kedua sandera yang dipegang oleh Calonarang untuk bergerak dan mengikutinya.
"Kau tak akan bisa menandingiku, kecuali kalian telah berkumpul dengan yang lain. Dan itu tidak akan pernah terjadi. Jika satu per satu melawanku, kalian hanya seperti lalat yang terperangkap di dalam kebaikan".
Makhluk yang bersosok tinggi besar, berwajah tak jelas, tertawa menggelegar. Dari tawa, dia kelihatan bengis dan beringas seakan siap melahap lawannya. Lalu menghilang dalam sekejap hanya meninggalkan suara berdesing di gelap malam diikuti oleh seorang perempuan berbaju hitam dan seorang anak laki - laki yang berada di depannya.
Kini, Calonarang berdiri sendiri di tengah pertigaan jalan beraspal. Dia juga masih berpikir tentang cahaya seperti kilat yang masuk ke dalam lubang hitam. Sedetik kemudian, penyihir tua itu juga menghilang dan meninggalkan asap hitam pekat beberapa di detik di Tukad Bangke.
*******
__ADS_1