
Sore ini, di Sanggar Seni Surya Candra, para pelajar sudah menyelesaikan sesi latihan tari tradisional Bali yaitu Tari Pendet. Dapi dan teman-temannya bergegas untuk pulang ke rumah. Dapi mengambil tas ransel dominan berwarna hitam dengan tali tas berwarna biru, di sudut gazebo yang mereka pakai sebagai tempat latihan sore ini.
"Dapi...."
Dapi menoleh. Di sampingnya telah berdiri seorang gadis yang tinggi, hampir melampauinya. Dapi melihat gadis itu sesaat dengan wajah terkejut dan polos. Kemudian dia tersenyum kecil.
"Hai."
"Kamu orangnya ulet ya, selama latihan tak mau berbicara dan bercanda dengan teman yang lain," nyata gadis itu. Dia memang berusaha untuk mendekati Dapi dan bercerita selama sesi latihan tapi pemuda yang diperhatikannya selalu serius dan fokus dengan latihan yang diberikan oleh senior mereka.
"Ah. Maaf, aku memang seperti itu." Dapi mengambil tas ransel dan memasang benda itu di punggung.
"Aku baru di Amlapura, jadi belum banyak tahu tentang kota ini. Kamu mau dong jalan sama aku untuk melihat-lihat tempat wisata di sekitar sini." Gadis itu menyatakan keinginannya dengan wajah sedikit manja.
"Hmmmm.... Bisa saja sih. Tapi tidak hari ini." Dapi berdiri di depan gadis itu. Otak dan indra ke enamnya bereaksi. Dia berusaha mencari sesuatu dan meyakinkan intuisinya.
"Ouh... iya. Tidak apa - apa," jawab gadis itu sembari mengulaskan senyum kecil. Kini dia berkata dengan sikap cuek.
Deg.
"Senyumnya cukup manis dan menggoda," gumam Dapi dalam hati.
"Oh ya. Aku boleh minta nomor telpon kamu?"
"Hmmm.... Boleh." Dapi menyebutkan sebelas angka. Dia memperhatikan gadis yang di depannya, mengetik angka-angka yang diberikan.
Gadis berpakaian casual dengan celana jeans ketat sebagai bawahan mengetuk beberapa menu. Dia menyimpan nomor yang diberikan pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Oke. Ntar aku chat ya. Aku duluan deh. Bye." Gadis itu berlari kecil menuju tangga gazebo.
Dapi terdiam. Aura yang dirasakannya pertama kali bertemu dengan gadis itu, ternyata tak ada lagi. Biasa saja. Tak ada aura hitam yang mengelilingi gadis yang mengenalkan diri kepadanya dengan nama Tania, tiga hari yang lalu. Malah sekarang dia terlihat imut dengan gaya tomboynya di mata Dapi.
*******
Burung Elang Api berwarna kuning melesat di udara. Kali ini makhluk itu menungkik dan menembus awan Stratocumulus berbentuk bola dan lapisan tipisnya yang menutupi langit.
Dapi tertawa lepas. Kedua tangannya merentang ke atas penuh kegirangan. Sifat kekanak-kanakan dan manjanya muncul tanpa sadar. Kedua kakinya melingkar di pinggang Elang Api itu.
Di depan pemuda yang sedang tertawa, Artha duduk, memegang tali kekang terbuat dari api yang tersambung ke paruh Burung Elang hasil ciptaan dari imajinasinya.
Ya. Artha..., dia ada di Bali saat ini. Dapi meneleponnya untuk mampir ke Bali dan menyelidiki kegiatan kaki tangan Big Boss.
Untuk mendapatkan informasi itu, mereka akan bertemu dengan Kinnara yang menunggu di Pura Lempuyang di Puncak Gunung Lempuyang.
__ADS_1
Awalnya, melalui telepon, mereka telah merencanakan hal ini. Mereka akan ke Puncak Lempuyang menggunakan sepeda motor dan melompat beberapa kali, tentu saja akan sampai di Puncak Lempuyang, hal itu sangat gampang untuk dilakukan tapi keadaan sore hari akan banyak terlihat oleh manusia biasa, jadi Artha mengurungkan niat itu.
Selanjutnya Dapi memberi ide agar menggunakan Elang Api untuk menuju Puncak Lempuyang.
Artha menyetujui saran Dapi. Dia akan menciptakan Elang Api dan Dapi akan menciptakan makhluk yang bisa terbang dari air sesuai imajinasinya.
Tapi Dapi tidak ingin seperti itu, dia ingin menunggangi Elang Api bersama Artha.
Tentu saja Artha menolak, dia tak ingin melukai pemuda itu karena menunggangi makhluk imajinasi buatannya.
Dapi, pemuda yang memiliki daya pesona bujuk rayu yang berada di level tinggi, akhirnya menang. Artha menyetujui permintaannya. Dan akhirnya Artha harus membawa pakaian dari Jakarta berbahan dasar Nomex (pakaian yang dibuat untuk petugas pemadam kebakaran agar tahan dari api) yang selalu disimpan di rumah. Dia memang sengaja menyimpan pakaian berbahan Nomex agar orang-orang yang memiliki kekuatan lain bisa menunggangi Elang Api tanpa tersakiti. Jika dalam kondisi terdesak. Tapi, kondisi sekarang bukanlah saat yang mendesak. Saat ini adalah kondisi yang memang direncanakan. Namun, Artha tak bisa menolak permintaan Dapi. Dia mengabulkan permintaan pemuda yang sangat menggemaskan itu ketika dia menginginkan sesuatu.
Ketika sampai di Bali, diantar oleh ayahnya dengan cara yang "normal" menurut mereka, Artha langsung menyambut Dapi dengan omelan yang panjang karena pakaian berbahan Nomex ini, tapi Dapi hanya tertawa menanggapinya.
Dan melihat kebahagiaan pemuda yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri, saat ini yang sedang duduk di belakangnya, diapun merasa bahagia dan memajangkan senyum yang panjang di bibirnya yang kecil.
Dapi kembali berteriak kegirangan. Dia sangat menikmati perjalanan kali ini. Terbang dengan Elang Api menembus awan yang menutupi langit. Pakaian berbahan Nomex yang dipergunakan menutupi seluruh tubuhnya, termasuk kepala, telapak kaki dan telapak tangan. Hanya wajahnya saja yang terlihat, pemuda itu seperti memakai hijab.
Dalam kondisi tertentu, seperti sekarang ini, ketika harus berinteraksi dengan anggota yang lain dan terhalang dengan kekuatan masing - masing, Artha memikirkan sesuatu hal. Dia memikirkan agar ada alat yang diciptakan supaya tidak menghalangi interaksi mereka ketika tergabung menjadi satu tim nantinya. Atau alat yang diciptakan agar tidak perlu repot mengandalkan invisible circle yang jangkauannya terbatas dan alat itu bisa digunakan setiap saat agar tak terlihat oleh manusia biasa. Dia mengutarakan hal ini kepada ayahnya dan Om Bagas mengatakan bahwa dari tim mereka, setelah bergabung nanti, akan ada satu orang yang bisa menciptakan alat sesuai keinginan anggota lain.
Elang Api mengitari Gunung Lempuyang yang sudah berada di bawah, makhluk itu masih berada di kawasan awan Stratocumulus.
Mereka menembus awan Stratocumulus, menungkik ke bawah, lalu menembus awan Nimbostratus. Artha merasakan butiran air hujan ketika menembus awan itu. Selanjutnya menembus awan yang paling bawah yaitu awan stratus.
Dapi tertawa kegirangan. Kali ini dia memeluk pinggang Artha yang berada di depannya.
"Kereeeeeen," teriaknya dengan kencang. Aksinya bukan seperti seorang titisan raja, namun seperti anak kecil yang bermain di Dunia Fantasi.
Tak berapa lama, mereka sudah berada di atas Pura Lempuyang. Sekitar tiga ratus meter di atas bangunan yang sudah terlihat jelas bentuk fisiknya. Elang Api masih terbang berkeliling di atas kawasan Pura yang bersejarah itu.
Bangunan Pura yang terletak 1.175 meter dari permukaan laut sudah terlihat jelas dari atas. Pura yang dibangun memanjang dan terdiri dari tiga bagian itu dikelilingi pohon yang lebat di Puncak Gunung Lempuyang. Bagian pertama adalah Lempuyang Sor, naik ke atas di bagian tengah dinamakan Lempuyang Madya dan bagian paling atas dinamakan Lempuyang Luhur. Dari langit sangat jelas terlihat gerbang Pura yang berundak-undak khas Bali dan sangat jelas terlihat tiga deretan tangga dengan banyak anak tangga, menuju bagian Lempuyang Luhur yaitu bagian paling atas.
Elang Api berputar di atas Puncak Gunung Lempuyang beberapa kali, menunggu perintah dari majikannya. Artha melihat keadaan di sekeliling terlebih dahulu. Banyak wisatawan yang terlihat dari atas. Tentu saja dia bisa melihat manusia biasa itu tapi sebaliknya mereka tidak bisa melihat pergerakan Artha dan Dapi karena Invisible Circle yang sudah dibuat.
Artha berusaha mendaratkan Elang Api di Lempuyang Luhur, bagian paling atas. Dia memilih tempat mendarat secara berhati-hati walaupun tidak terlihat oleh mata manusia biasa, dia hanya menjaga jika ada makhluk kasat mata lain yang mengikuti dan melihat aksi mereka.
Bagian atas yaitu Lempuyang luhur terlihat sepi. Karena tidak sembarangan orang bisa naik dan masuk ke bagian ini. Artha mengarahkan Elang Api ke lantai Pura Lempuyang Luhur. Ada beberapa orang yang sedang sembahyang di situ. Udara dari kepakan sayap Elang Api mengibaskan beberapa dedaunan kering yang ada di lantai.
Belum sempat kedua kaki Elang Api mendarat di lantai bangunan paling atas, Artha menjentikkan jari kanannya dengan keras. Elang Api meredup dan menghilang. Tiga anak panah yang masih berada di udara dengan cepat ditangkap oleh Artha dan dimasukkan ke dalam wadah yang berada di punggungnya.
Artha dan Dapi telah memijakan kaki mereka di lantai bangunan Pura. Mereka melihat sekeliling. Dapi membuka penutup kepala berwarna hitam dari bahan Nomex yang dipakai. Penutup kepala itu menggantung di leher belakang sekarang ini. Dia seperti memakai baju wetsuits ketika mau menyelam di Pantai Tulamben beberapa minggu yang lalu bersama Artha.
__ADS_1
"Dimana makhluk setengah burung itu, Pi?" tanya Artha ke arah Dapi.
"Mungkin dia masih bersembunyi, Kak. Sebentar aku panggil," nyata Dapi lirih. Pemuda itu melihat ke atas. Menempelkan jari tengah dan telunjuk yang ujung-ujungnya bersatu ke bibir. Terdengar suara siulan panjang dari mulut Dapi. Wajahnya yang cerah masih melihat ke atas dan berputar. Dalam beberapa detik, Dapi mengulas senyum kecil di bibir.
"Dia datang," seru Dapi.
Artha melihat ke atas. Dia tidak melihat wujud makhluk itu secara nyata, tapi masih bayangan yang transparan di atas langit menuju ke tempat mereka berdiri. Keindahan langit masih terlihat dari bayangan transparan yang berbentuk seekor burung. Bayangan transparan itu memutar di udara dan melebarkan sayapnya, mengambil ancang-ancang untuk mendarat.
Setelah beberapa detik, makhluk itu mulai mendekat, terlihat jelas sayap yang lebar dikepakkan oleh makhluk setengah burung. Bulunya putih seperti kapas. Bagian atas tubuhnya berotot dan berbentuk manusia, sedangkan bagian kakinya berbentuk burung. Ada cakar di ujung jari-jari kaki seperti burung elang.
Makhluk itu berusaha mendarat di depan mereka. Makhluk Setengah Burung yang bernama Kinnara mengepakkan sayap sekali dan melipat sayap putih itu ketika kakinya sudah mendarat di lantai bangunan pura. Posisinya setengah berjongkok, menunduk. Lalu tak berapa lama dia berdiri tegak dan tersenyum.
"Yang Mulia. Selamat sore," sapanya kepada Dapi. Wajahnya sedikit berkerut ketika melihat Dapi yang memakai baju hitam yang berbahan tebal membalut tubuhnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya mengisyaratkan keanehan.
"Ya. Apa kabar, Kinnara?"
"Baik Yang Mulia," balas Kinnara sedikit mengangguk.
"Ah... Ceritanya panjang. Jangan terlalu fokus kepada baju yang aku pakai," nyata Dapi. Dia sudah bisa membaca pikiran makhluk setengah burung itu.
"Ouh ya... Ini Kak Artha. Dia teman aku dari Jakarta."
Dapi menoleh ke Artha dan memperkenalkan pemuda itu kepada Kinnara.
"Tuan.... Salam...." Kinnara sedikit membungkuk.
Artha tersenyum.
"Mari kita duduk di pendopo yang di sebelah sana. Sudah sore begini, mudah-mudahan tidak terlalu ramai orang yang bersembahyang."
Dapi mengarahkan mereka ke bangunan yang terbuat dari kayu seperti pendopo yang tidak memiliki dinding. Hanya lantai papan yang beratap dan disanggah oleh empat tiang di sudut-sudutnya. Dapi seolah-olah seperti pemilik tempat itu. Dia berjalan layaknya anak kecil yang mengantarkan tamu, wibawanya hilang, mungkin karena pakaian yang dipakainya.
Mereka bertiga duduk di pendopo yang berukuran 4 x 5 cm. Duduk bersila dengan santai. Dapi memulai pembicaraan ringan kepada Kinnara. Setelah itu mereka membahas mengenai rencana Big Boss yang dilaksanakan di Pulau Bali. Fokus utama mereka adalah untuk membunuh Dapi. Informasi itu yang baru didapat oleh makhluk setengah burung. Tapi sampai saat ini, dia belum mendapatkan informasi kemana mereka membuat markas yang baru. Markas lama, yang biasa dikuntit oleh Kinnara telah sepi. Sepertinya mereka tahu jika ada yang menguntit kegiatan mereka.
Artha, Dapi dan Kinnara saling bertukar informasi mengenai komplotan Big Boss yang ada di Pulau Bali. Mereka juga mencari informasi dimana keberadaan adik kembar Kinnara dan adik kandung Dapi.
Artha juga memberi informasi kepada Dapi bahwa anggota ke tujuh yang akan masuk ke dalam tim mereka sedang dijaga ketat oleh orang suruhan Om Bagas. Mereka juga mengincar anak laki-laki yang akan menjadi anggota ke tujuh di dalam tim mereka.
Pulau Bali dengan julukan Pulau Dewata mempunyai segudang misteri yang harus dipecahkan oleh Dapi. Dia harus menyelesaikan masalah ini dan menemukan adiknya dengan cepat, agar Ayah dan Ibunya tenang di rumah.
*******
__ADS_1