Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Promise : Ep. 9


__ADS_3

Sesuai yang direncanakan, mereka berdua yaitu Dapi dan Artha pergi ke Pantai Tulamben.


Dari kawasan Charly's Chocolate Factory, mereka bergerak ke Pantai Tulamben yang berjarak 26 km. Jam 6 pagi, mereka berdua sudah keluar dari tempat semula menuju ke Pantai Tulamben. Padahal tadi malam, sekitar jam 3 shubuh mereka baru selesai dengan kegiatan mereka. Kegiatan yang melatih ilmu dan kekuatan Dapi sekaligus bersenang - senang.


Dapi sengaja mengejar tujuan ke Pantai Tulamben di pagi hari ini karena untuk melakukan kegiatan snorkeling atau diving harus di pagi hari. Matahari yang menyinari bawah laut yang ada di Pantai Tulamben akan lebih cerah menembus dasar laut untuk mendapatkan pemandangan yang terbaik, batas maksimalnya sampai jam 11 siang. Setelah itu, maka pandangan di dasar laut akan terbatas dan cuaca yang panas akan membuat penyelam merasa tak nyaman.


Dapi melarikan sepeda motor birunya dengan kencang. Mereka menembus jalan aspal yang masih terlihat banyak hutan dan pohon - pohon kelapa. Dapi memilih jalan belakang dari Pantai Jasri menuju Pantai Tulamben.


Artha yang berada di belakang, berusaha untuk menahan kantuknya karena jam 3 shubuh mereka baru selesai melakukan kegiatan tadi malam tapi dia tidak bisa langsung tertidur. Ada yang dipikirkannya.


Kawasan Pantai Tulamben terletak di Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem. Pantai Tulamben sudah sangat terkenal di dunia internasional, jadi akan banyak hotel - hotel berkelas di sekitaran pantai dan tentu saja banyak turis mancanegara yang berkunjung di kawasan itu.


Dapi berusaha menghubungi teman ayahnya yang berada di sekitar kawasan Pantai Tulamben, dia berusaha untuk merayu teman ayahnya agar dapat meminjamkan mereka kamar  dari Losmen yang sederhana untuk menginap di sana. Dan hal itu disetujui oleh teman ayahnya itu.


Jam 07.15 Wita, mereka telah sampai di depan Losmen teman ayah Dapi. Dia memasukkan sepeda motor ke dalam pekarangan losmen, lalu memarkirkan kendaraan berwarna biru. Areal itu berbentuk persegi panjang yang di segala sisi terdapat kamar - kamar sederhana. Kebanyakan yang menginap di sini adalah turis asing backpacker atau turis lokal yang memiliki dana minim. Tapi, losmen itu bagus dan bersih. Semuanya terlihat nyaman dan rapi.


Dapi masuk ke rumah utama. Helmnya masih tetap menempel di kepala.


Sedangkan Artha menunggu di sepeda motor. Dia masih duduk di bangku belakang sepeda motor dengan wajah setengah mengantuk. Artha melihat Dapi sudah berbicara dengan pria setengah baya. Sepertinya pria itulah yang memiliki losmen ini. Dia memperhatikan gerak gerik Dapi yang sangat ramah. Dari wajahnya yang selalu tersenyum dan gerak - gerik dia yang seakan menyihir orang lain untuk menyukainya. Dari bibirnya, tak pernah lepas senyum kecil dan kadang tertawa. Pada saat dia tertawa, maka matanya akan sedikit menyipit, hal itu juga yang membuat dia terlihat lebih manis.


Tak berapa lama, Dapi kembali mendekati Artha yang sedang duduk di sepeda motor.


"Ayo kak," nyata Dapi.


Dia mendorong sepeda motor ke kiri dan memarkirkan di depan rumah utama. Lalu bergegas melangkah ke depan, mendekati pria setengah baya itu.


Artha mengikutinya dari belakang dengan membawa helm dan tas hitam yang besar dan panjang.


Kedua pemuda itu sudah memakai  baju wetsuits pada saat keluar dari penginapan di Pantai Jarsi, jadi tidak perlu repot lagi untuk mengganti pakaian.


Mereka berjalan di pinggir teras kamar - kamar yang berjejer. Bangunan rumah ini seperti rumah di Bali pada umumnya, memiliki pagar tembok yang tinggi, menutupi sekeliling rumah dan di tengah bagian dalam terdapat taman kecil yang sengaja dibuat. Sedangkan kamar - kamar itu berjejer  berbentuk bangun ruang persegi panjang.


Pria setengah baya itu berhenti di kamar paling ujung yang berada di sudut pertama. Kamar itu bernomor 8. Dia membuka pintu kamar, lalu mempersilahkan Dapi masuk.


"Silahkan. Cuma ini yang bisa Pekak (Om) beri." Pria itu berujar kepada Dapi dan Artha. Nada suaranya sangat kental dengan logat Bali walaupun dia berbicara Bahasa Indonesia.


"Terima kasih, Kak (singkatan dari Pekak). Ini sudah lebih dari cukup," jawab Dapi.


Artha membungkukkan sedikit punggungnya. "Terima kasih, Om," nyatanya.


"Silahkan beristirahat," nyata pria setengah baya itu lagi. Kemudian dia pergi menuju rumah utama.


Ayah Dapi adalah keturunan yang memiliki kasta tinggi di Bali. Oleh karena itulah masyarakat di sekitar Kabupaten Karangasem sangat menghormati Ayahnya. Jadi jika dia meminta tolong dengan orang menggunakan nama ayahnya, maka orang - orang itu tak berani menolak.


Dapi memasuki kamar yang berukuran 8 x 6 meter. Di dalamnya terdapat 1 tempat tidur untuk 2 orang yang berbahan dasar kayu meranti. Desain tempat tidur itu sangat klasik. Lalu di samping kanan tempat tidur ada lemari kecil yang dipergunakan untuk pengunjung. Di ruangan yang berkeramik putih itu, terdapat 2 kursi tamu dan 1 meja.


Artha mengikuti Dapi. Dia langsung duduk di pinggir tempat tidur dan meletakkan tas yang dari tadi dibawa. Dia merebahkan dirinya yang kurus di tempat tidur itu.


"Kak Artha mau istirahat sebentar ya?" tanya Dapi.


"Ah, tidak. Kita langsung saja pergi ke Pantai. Ntar terlalu siang, malah jadi enggak nyaman karena panas matahari yang terik."


"Kalau mau istirahat ya enggak papa. Setengah jam atau 1 jam juga bisa. Sekarang masih setengah 8 pagi."


"Enggak deh. Sekarang aja kita pergi. Ayo."


Dengan cepat Artha mengangkat tubuhnya dari rebahan dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Yakin, kak?"


"Ntar ngantuknya juga hilang pada saat kita menyelam. Khan kena air tuh," nyatanya.


Dapi tertawa kecil. Dia melihat lekat ke arah pemuda yang lebih tua 3 tahun darinya.


"Ayo. Kita jalan dari belakang losmen ini, di belakang losmen langsung menuju pantai." Dapi segera keluar menuju pintu kamar dan menunggu Artha di luar depan kamar itu.


Artha bergegas mengikutinya.


Setelah Artha keluar dari kamar, Dapi menutup kamar bernomor 8 itu dan mereka berjalan menuju lurus ke sisi berikutnya melewati kamar nomor 9 sampai 11. Di sebelah kamar nomor 11 ada gang kecil menurun yang akan mengarahkan mereka ke pantai.


Mereka berdua menuruni beberapa anak tangga. Di dalam gang yang hanya cukup untuk 2 orang berjalan beriringan, sudah mulai terasa angin dingin dari laut lepas.


Artha berada di belakang Dapi. Dia berusaha untuk mencapai anak tangga dengan perlahan. Kantuknya mulai hilang, pikirannya sekarang berfokus pada angin dingin yang menerpa wajah. Saat ini dia memakai wetsuits berlengan panjang, berwarna hitam. Wetsuits yang pas membentuk lekukan badan, memperlihatkan bidang dadanya yang lumayan besar untuk pemuda seusianya. Dia hanya memakai sendal jepit untuk alas kaki.


Sedangkan pemuda yang berjalan menurun anak tangga di depan Artha,  memakai wetsuits berwarna dominan hitam tapi ada sedikit warna biru di bagian tulang rusuk kiri dan kanan. Wetsuits itu juga mengepas di tubuh Dapi. Badannya yang kurus dan ramping dengan bidang dada yang biasa saja, menambah kesan imut pada dirinya. Dia juga hanya memakai alas sendal jepit bertali biru.


Dapi melangkahkan kaki dari anak tangga terakhir. Pandangan awal yang dilihat adalah laut lepas yang di depan mata. Kakinya sudah berpijak di semen beton yang dibuat mendatar sepanjang 1 meter dan berlebar 80 cm. Di kiri kanan mereka sudah terdapat rerumputan dan pepohonan kecil serta pohon kelapa di pinggir pantai.


"Indah khan kak?"


"Ya. It's beautiful. Susah mencari tempat seperti ini di Jakarta."

__ADS_1


Dapi berjalan menyusuri semen beton untuk kembali turun ke bawah. Tentu saja Artha mengikutinya. Semen beton ini seperti layaknya panggung yang menghadap ke laut lepas. Mereka sudah melihat beberapa turis dan pemandu wisata di pinggir pantai yang siap untuk melakukan diving atau snorkling.


Lalu mereka menuruni anak tangga dari bangunan beton yang tingginya sekitar 3 meter dari pantai. Bangunan beton dan anak tangga itu sudah ditumbuhi beberapa rumput kecil yang menempel di sisi - sisi beton. Bangunan ini sudah sangat lama didirikan tapi masih kokoh.


Dapi memijakkan kakinya di tanah yang berbatu koral berukuran sedang. Pantai Talumben, bukanlah Pantai yang memiliki pasir putih seperti Pantai Jarsi atau Pantai Kuta. Pantai ini tersebar batu - batu vulkaniak di tanah. Jadi pantai ini bukan diperuntukkan untuk berjemur dan menikmati pasir putih, tapi memang untuk wisata bawah laut yang indah.


"Kita ambil posisi yang sepi kak untuk mulai berenang masuk ke laut, karena di sisi kanan itu sudah terlalu banyak orang. Kita akan terlihat aneh jika menyelam tanpa alat apapun."


"Mengapa di tempat itu lebih ramai?"


"Di bawah laut di daerah itu, sudah ada objek wisata yang akan mereka kunjungi pada saat menyelam nanti. Bangkai kapal USAT LIBERTY yang tenggelam ada di daerah itu. Bangkai kapal itu lah menjadi tujuan mereka."


Artha hanya mengangguk mendengar penjelasan Dapi.


"Kita ke kiri aja kak. Di sana sepi. Tapi kita harus lebih jauh menyelam nantinya untuk mencapai bangkai kapal," jelas Dapi. Dia berjalan mengambil arah kiri, menjauh dari para turis yang ingin menyelam.


Artha mengikuti Dapi.


Memang mereka akan terlihat aneh ketika menyelam tanpa alat apapun. Para Petugas Pantai juga akan melarang mereka.


Mereka berdua berjalan di pantai yang dipenuhi batu - batu vulkanis. Batu - batu kecil yang terhampar di tanah, bukan batu - batu yang tajam tapi berbentuk pipih dan halus. Ukuran batu - batu vulkanis itu tidak semuanya kecil, ada yang sedang, sedikit besar dan bahkan ada yang sangat besar untuk pengunjung yang ingin duduk dan beristirahat di pinggir pantai.


Pantai Tulamben tidak terasa panas karena begitu banyak pohon yang rindang, tumbuh di sekitar pantai, terutama pohon kelapa yang tumbuh di pinggir pantai.


Setelah berjalan beberapa meter, mereka berhenti di pohon besar yang berdaun lebat. Dapi tak tahu nama pohon itu, tapi pohon itu berdaun lebat dan rindang, sehingga daunnya bisa menuju ke bawah sebatas kepala manusia, itupun karena dirapikan oleh para petugas kebersihan, kalau tidak mungkin pohon itu akan tumbuh lebih rimbun ke bawah.


"Di sini saja kak. Tak terlihat oleh manusia lain. Pohon ini juga melindungi aksi kita nantinya."


Artha mengangguk.


"Jadi, setelah kita menyelam, kita ambil arah kanan menuju bangkai kapal itu kak."


"Oke."


Mereka tak menggunakan Invisible Cicle karena Artha akan susah membawa busur dan anak panah ketika menyelam nanti. Jadi mereka sudah merencanakan ini dari awal bahwa mereka akan mencari tempat sepi untuk masuk ke dalam laut. Dapi akan membuat gelembung udara di sekitar kepala agar bisa dipergunakan sebagai alat pernapasan mereka di dalam laut. Dia akan memanfaatkan ilmu dan kekuatannya untuk memisahkan antara air dan oksigen ketika menyelam.


"Siap kak? Beberapa menit setelah di dalam laut aku akan buat gelembung udara untuk kita masing - masing," terang Dapi.


Artha kembali mengangguk.


Mereka berdua berdiri sejajar di pinggir pantai, masih dibawah pohon.


"Setelah aba - aba, kita lari dan lompat. Oke," nyata Artha. Dia memalingkan wajahnya ke arah Dapi yang berada di sebelah kanannya.


"Oke."


Mereka berdua berlari beberapa  langkah, keluar dari naungan pohon rindang, lalu Artha mengkode dengan anggukan kepala ke arah Dapi. Tubuh kedua pemuda itu melompat sekali, kaki mereka menolak tubuh mereka ka dengan kuat. Ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki, membantu tubuh mereka tertolak jauh ke permukaan lau beberapa meter. Mereka bergerak dengan cepat dan langsung menungkik ke dalam laut.


Suara benturan tubuh mereka dengan air tak terdengar sama sekali karena deburan ombak yang sangat keras.


Dapi dan Artha sudah berada di bawah laut. Dapi berdiri dan mengambang di atas air. Rambutnya yang panjang mengembang dengan indah di dalam air. Dia menunggu Artha.


Artha yang berada di bawahnya, berenang dan berusaha mensejajarkan diri dengan pemuda yang memiliki kekuatan mengendalikan air. Secara perlahan dia berenang ke atas menuju sisi kiri Dapi.


Jari Dapi mulai melukiskan sesuatu. Bentuk lingkaran, lebih besar dari ukuran kepala, terbentuk melingkar dengan udara di dalamnya seperti balon yang terbuat dari sabun. Dia melemparkan gelembung itu ke arah kepala Artha yang ada di sampingnya.


Gelembung udara yang dibuat Dapi bergerak perlahan dan mendekati kepala Artha. Dalam hitungan detik sudah menempel di wajah dan menyatu dengan kepala pemuda itu. Dapi sangat berkonsetrasi melakukan hal ini agar tak ada air yang masuk sedikitpun ketika gelembung itu menyatu dengan kepala Artha.


Gelembung yang sudah sempurna menutupi seluruh kepala Artha sebatas leher, telah membantu pemuda itu untuk bernafas dengan normal.


Artha menekan - nekan gelembung itu dengan jari. Dia berusaha untuk menguji coba daya tahan gelembung udara. Gelembung udara itu berwarna bening, jadi pandangan ke depan sangat jelas untuk dilihat.


Awalnya, ketika akan bersatu dan masuk dengan sempurna melindungi kepala, gelembung ini sangat lembut seperti gelembung sabun. Tapi sekarang gelembung ini keras tapi fleksibel, ketika Artha menekan jari telunjuk ke arah gelembung udara yang ada di kepalanya, jari telunjuknya masuk ke dalam, mengikuti tekanan yang dibuat Artha, tapi tidak pecah seperti balon yang ditekan dan gelembung ini sepertinya berasal dari bahan yang solid.


Dapi telah berhasil membuat gelembung udara untuk Artha, selanjutnya dia membuat untuk dirinya sendiri. Perlahan gelembung udara yang sudah terbentuk dan berada di depan dadanya, naik ke atas dan menyatu dengan kepala. Membungkus kepala pemuda yang berwajah ceria.


"20 menit," nyata Dapi. Dia berbicara di dalam gelembung udara itu kepada Artha.


Artha tak mendengar. Keningnya berkerut, berusaha untuk mencerna kalimat yang disampaikan oleh Dapi.


Dapi memberikan kode dengan cara mengangkat kedua jari telunjuk dan manis di tangan kanan membentuk huruf V dan jari telunjuk menyatu ke jempol di tangan kiri membentuk angka 0 atau huruf O. Lalu tangan kirinya menunjukkan ke arah gelembung udara.


Artha mengerti maksud dari Dapi. Dia mengangguk.


Mereka sudah membicarakan itu sebelumnya bahwa gelembung udara tidak akan bertahan selamanya. Jadi Dapi mau memberitahu bahwa setiap 20 menit sekali dia akan mengganti gelembung udara yang telah dibuat.


Dapi lalu menunjuk ke arah kanan, memberi aba - aba kepada Artha untuk bergerak ke sana. Mereka berdua berusaha untuk meluruskan badan secara horizontal di dalam air. Tak berapa lama, setelah badan mereka lurus ke depan, di daerah kaki seperti ada daya dorong yang menimbulkan buih. Mereka seperti melompat dan mendorong tubuh mereka dengan cepat.


Kedua pemuda itu meluruskan badan mereka yang ramping secara horizontal. Daya dorong  yang telah dikeluarkan, membuat mereka melesat dengan cepat menuju kawasan bangkai kapal. Mereka menyelam di kedalaman 200 meter dari permukaan laut.


Para turis dan Pemandu Wisata, biasanya paling maksimal menyelam di kedalaman 40 meter. Bangkai kapal  USAT LIBERTY milik Amerika itu tenggelam di dasar laut, pangkalnya berada di 5 meter, sedangkan ujungnya berada di 120 meter dari permukaan laut. Jadi kedua pemuda itu menyelam jauh dibawah dari manusia rata - rata. Mereka menghindari dari penglihatan manusia karena tak memakai invisible circle saat sekarang ini.

__ADS_1


Setelah berenang beberapa menit melewati terumbu karang yang indah dan beberapa hewan laut seperti ikan pari dan penyu, mereka melihat pangkal bangkai kapal dari kejauhan. Mereka masih berada di kawasan sunlight zone laut. Itu artinya masih ada cahaya matahari yang menembus air laut masuk ke dalam dan masih banyak terumbu karang dan binatang laut yang bentuknya terlihat normal atau sering dilihat manusia di laut lepas ini.


Mereka berusaha mendekati ujung bangkai kapal yang tersangkut secara diagonal di pinggir permukaan. Bangkai kapal itu berada di atas mereka sekitar 100 meter. Mereka bisa melihat binatang laut yang berenang di atas mereka dan juga bisa melihat manusia yang sedang menikmati objek wisata bawah laut tapi seperti ikan kecil yang berenang karena jaraknya yang jauh dari kedua pemuda itu.


Dapi menoleh ke arah Artha. Pemuda yang di belakangnya sudah berapa kali terkejut dengan binatang laut yang melintas di depan atau di belakangnya. Kehidupan laut ini bukan habitatnya, jadi dia merasa aneh akan hal itu. Beda dengan Dapi yang sudah menemukan jati diri. Kawasan ini memang habitat dan kekuatannya menguasai air.


Dapi memberi kode kepada Artha untuk naik ke atas, mendekati pangkal bangkai kapal. Mereka bergerak perlahan.


Tapi..... tiba - tiba melesat 2 buah tombak berkekuatan tinggi dari arah kiri mereka. Sasaran kedua tombak itu adalah gelembung udara yang mereka pakai di kepala.


Dapi menyadari akan benda yang panjang sekitar satu meter, menyerang mereka. Dia mengelak dengan cepat. Memutar badan rampingnya seperti gasing agar terhindar dari serangan itu.


Tapi tidak dengan Artha. Dia menyadari ada benda yang melesat ke arahnya, lalu dia menunduk. Tombak yang berwarna biru laut sepanjang 2 meter mengenai gelembung udara di bagian atas kepalanya.


Taaaas.


Gelembung udara itu pecah karena tersentuh oleh tajamnya ujung tombak. Artha segera memejamkan mata dan menahan nafas ketika menyadari air sudah menyentuh wajahnya.


Dapi melihat kondisi Artha saat itu. Dia berpaling ke arah sumber benda yang dilemparkan, tapi dia tidak bisa melihat manusia atau makhluk yang mencurigakan. Dia dengan cepat menoleh ke Artha dan membuat gelembung udara baru untuk pemuda yang sedang menahan nafas, 7 jengkal berada di sampingnya. Dia segera melemparkan gelembung udara yang sudah terbentuk ke arah kepala Artha. Dengan cepat pula Dapi mencari sesuatu di sekelilingnya. Dia mencari makhluk yang berusaha menyerang mereka.


Artha yang telah kembali mendapatkan gelembung udara di kepala dan telah terpasang, segera bersiaga. Dia juga melihat ke sekeliling untuk mendeteksi musuh yang melemparkan tombak.


Srrut....


Srrut...


Dua tombak kembali melesat dari samping kiri mereka. Kini sasarannya adalah dada kedua pemuda itu.


Artha menjentikkan jari. Terdengar suara jentikan jari berbarengan di dalam air. Dari ujung kedua jari telunjuknya, keluar api berwarna biru. Api itu sebesar kepalan tangan. Posisi tangannya saat ini mengarah ke depan. Dia bersiaga dengan kekuatannya. Api berwarna biru, tetap menyala di ujung jari telunjuk walaupun berada di dalam air. Api itu pasti sangat panas.


Artha mengelak ke samping untuk menghindari tombak yang menyerang dadanya.


Dapi melihat ke arah tombak yang melesat, lalu dia membuat gelombang dari air laut. Gelombang yang besar yang menggulung kedua tombak yang menyerang mereka.


Kedua tombak itu tergulung menjauh dari hadapan mereka berdua.


Srrut...


Srrut...


Srrut...


Srrut...


Srrut...


Kembali melesat 5 tombak yang berwarna biru laut ke arah mereka. Dapi kembali membuat gelombang dari air yang akan menggulung tombak - tombak itu. Sedangkan Artha masih mengambang. Satu kakinya setengah tertekuk seolah - olah memasang kuda - kuda di dalam air. Dia tetap waspada, api biru tetap menyala di kedua ujung jari telunjuknya. Matanya mencari makhluk yang melempar tombak - tombak itu tapi dia tak menemukannya.


Dapi berpikir keras untuk menjaga Artha, laut bukan habitatnya, walaupun dia yakin Artha bisa melawan dengan ilmunya tapi busur dan anak panah tak ada disamping dia, pasti kekuatannya sedikit berkurang.


Dapi menyesalkan akan hal ini. Dia berpikir, melakukan semua ini untuk melatih ilmu serta kekuatannya dan sedikit bersenang - senang seperti tadi malam. Dia tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Kalau dia tahu akan ada hal seperti ini, maka dia menyuruh Artha untuk membawa busur dan panahnya.


Pusaran air kembali menggulung ke lima tombak yang menyerang mereka. Sangat gampang untuk menangkis serangan yang dilakukan oleh entah siapa. Sampai sekarang Dapi dan Artha tak mengetahui makhluk yang menyerang mereka.


Tiba - tiba terdengar suara air menderu yang melesat dari dasar laut berbentuk spiral. Air itu berbuih akibat gesekan gelombang yang besar. Gerakan itu sangat cepat dan berhenti pas di depan kedua pemuda itu.


Dapi dan Artha melihat ke depan dengan wajah serius. Mereka memasang kuda - kuda agar tetap waspada. Tubuh mereka, diam, mengambang di dalam air. Satu kaki setengah menekuk. Hanya rambut mereka yang bergerak mengikuti gelombang air yang berada di kawasan itu.


Mereka berdua mengerenyitkan kening dan saling bertatapan satu dan yang lain. Gelombang yang melesat dari dasar laut dan berhenti di depan mereka tak memperlihatkan apapun. Hal itu lah yang membuat mereka aneh. Apa yang sedang terjadi? Makhluk apa yang bergerak tadi? Itu yang ada di dalam pikiran mereka.


Tak berapa lama, di depan kedua pemuda itu muncul satu makhluk yang bersinar secara perlahan. Awalnya wujud itu hanya terlihat tipis seperti kabut, menimbulkan beberapa garis berbentuk tubuh, lalu semakin jelas sedikit dan akhirnya memperlihatkan wujud aslinya secara menyeluruh. Makhluk itu seolah - olah seperti memiliki cahaya dan menghidupkan cahaya itu di seluruh badannya.


Dapi melongok.


Artha mendelikkan matanya.


Makhluk yang berdiri, mengambang di hadapan mereka adalah makhluk yang berbentuk wujud manusia, tapi bagian bawahnya membentuk ekor seperti tubuh ikan. Ya. Makhluk itu bertubuh manusia, gagah, berotot tapi separuh ikan pada bagian bawahnya. Ada ekor dan bersirip dari bagian pinggang ke bawah. Dia tak memakai baju. Hanya bagian bawah yang tertutup dengan seluruh sirip berwarna hijau keemasan.


Tubuh makhluk di bagian atas berwarna kuning langsat, sedangkan tangannya mencapai siku terlihat ditutupi sirip dan bagian atasnya berwarna kulit seperti warna tubuhnya. Dia memegang tombak yang berwarna perak. Rambutnya berwarna pirang panjang dan dia memakai mahkota berwarna perak. Wajahnya sangat manusia. Memiliki tulang rahang yang sempurna, hidung yang kecil dan mancung, matanya berwarna hijau bercampur abu - abu. Dia berdiri, mengambang dan menatap kedua pemuda yang ada di depannya dengan wajah yang tegas. Tak ada senyum menghiasi wajahnya.


Sekarang, Dapi terlihat tenang. Bibirnya sedikit mengulas senyum. Sepertinya dia mengingat sesuatu.


Tapi beda dengan Artha, wajahnya terlihat sangat terkejut. Dia baru melihat makhluk seperti ini seumur hidupnya. Belum sempat dia menstabilkan rasa terkejutnya, Artha melihat makhluk yang lain di belakang makhluk yang bermahkota tadi. Makhluk yang lain itu muncul satu per satu seperti lampu yang dihidupkan secara bergilliran. Akhirnya ada puluhan makhluk dengan bentuk yang sama berdiri di belakang makhluk bermahkota. Bentuk mereka hampir seluruhnya serupa, tapi bedanya makhluk yang lain tak bermahkota dan memegang tombak sederhana yang berwarna biru laut.


Di ke dalam laut itu berdiri sepasukan makhluk setengah ikan di depan Dapi dan Artha. Merekalah yang melempar tombak berwarna biru laut tadi.


Dapi menatap pasukan yang berjumlah puluhan di depannya yang siap menyerang. Dia memikirkan sesuatu, hal itu terlihat dari raut wajahnya.


*******


 

__ADS_1


 


__ADS_2