Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Serendipity : Ep. 12


__ADS_3

Bali terkenal dengan budayanya. Penduduk Bali dari kecil diperkenalkan budaya dan wajib melestarikan budaya nenek moyang sampai mereka meninggalkan dunia ini. Itu komitmen dari masyarakat Bali. Dengan komitmen itulah Bali menjadi besar dan dikenal oleh dunia internasional.


 


 


Banyak budaya Bali yang bisa disaksikan oleh wisatawan yang datang ke salah satu propinsi di Bagian Timur Indonesia itu. Seni tari adalah salah satu dari bagian kebudayaan itu.


 


 


Sejak tahun 2009, Dapi sudah mengikuti perkumpulan tari di Sanggar Seni Surya Candra. Tempat itu tak jauh dari rumahnya, hanya berjarak sekitar dua kilometer. Dia sangat mencintai seni tari. Dari kecil dia menyukai bidang ini.


 


 


Sewaktu masuk SMP, dia memiliki  dua keinginan untuk menjadi Koki atau Penari. Akhirnya, di kelas tiga SMP ini dia berusaha untuk memfokuskan diri di dunia tarian.


 


 


Pemuda yang berkulit coklat itu telah memasuki Sanggar Seni Surya Candra dan telah duduk di gazebo yang berukuran sekitar 10 x 8 meter yang berada di tengah kawasan sanggar seni. Pemuda itu duduk bergabung dengan teman-teman yang lain. Kebanyakan peserta yang ikut dalam sanggar seni di sore hari ini adalah para pelajar.


 


 


Dapi memakai kaos sederhana berlengan pendek berwarna biru muda, dipasang dengan bawahan celana olahraga berwarna hitam. Pandangannya tertuju ke arah pria setengah baya di depan mereka.


 


 


Konsentrasi Dapi buyar ketika ada seorang gadis berkulit putih, berbadan mungil memakai hoodie, masuk ke dalam gazebo (satu tempat seperti pendopo tapi berukuran lebih besar). Gadis itu memakai hoodie berwarna abu-abu dan bawahnya memakai skinny jeans. Sepertinya Dapi baru melihat anak gadis itu. Wajahnya sangat bersih dan putih tapi Dapi merasakan sesuatu aura yang sedikit kelam mengikutinya.


 


 


Dapi memandangi anak perempuan itu sampai dia masuk ke dalam kumpulan pelajar. Sepertinya gadis itu duduk di barisan paling belakang. Dapi tak melihatnya lagi.


 


 


"Siapa dia? Sepertinya dia siswa baru di sanggar ini?" gumam Dapi.


 


 

__ADS_1


Dapi kembali fokus dengan materi yang diberikan oleh pria setengah baya yang merupakan guru yang mengajar di sanggar itu.


 


 


*******


 


 


"Hai...." Seorang gadis menyapa kepada pemuda yang sedang memakai helm berwarna biru.


 


 


Pemuda itu menoleh ke sumber suara. Wajahnya datar beberapa detik ketika melihat yang menyapa, lalu dengan seketika dia mengulas senyum di bibirnya setelah mengetahui siapa yang menyapa dirinya. "Ya. Hai juga," balas pemuda itu. Senyumnya semakin mempesona.


 


 


"Aku Tania." Gadis itu memperkenalkan diri sekaligus menjulurkan ujung tangan kanannya ke arah pemuda di depannya.


 


 


"Aku Dapi."


 


 


"Kamu tinggal di sekitar kawasan ini?" tanya Tania setelah melepaskan jabatan tangan.


 


 


"Iya. Di Jalan Diponegoro, tak jauh dari sini, palingan hanya dua kilometer."


 


 


Dapi berusaha meneliti sesuatu dari gadis yang ada dihadapannya. Otaknya berpikir. Intuisinya berkerja. Kepalanya ini tertunduk, tak melihat ke arah gadis. Pikirannya berfokus ke intuisinya yang merasakan sesuatu.


 


 

__ADS_1


"Oh. Aku juga tinggal di sekitar Amlapura. Di jalan Ahmad Yani," nyata gadis itu. Dia berdiri pas di depan Dapi, tas ransel berbahan kain tersandang di lengan kanan.


 


 


"Oh." Dapi mengangkat kepalanya, melihat lawan bicara. Dapi merasakan lagi aura yang aneh pada gadis ini. Dia menjawab dengan singkat karena intuisinya telah merasakan sesuatu.


 


 


"Aku baru tinggal di Bali. Baru dua minggu ini. Aku dari Jakarta." Gadis bernama Tania mengeluarkan pernyataan sebagai perkenalan tanpa diminta.


 


 


"Oh." Dapi berusaha menyibukkan dirinya dengan meraba kantong seolah-olah mencari kunci sepeda motor tapi sebenarnya dia merasa dengan indra ke enamnya untuk mencari sesuatu yang aneh pada gadis itu.


 


 


"Oke. Salam kenal ya. Mungkin kamu lagi buru-buru. Sampai ketemu lagi," nyata Tania. Lalu dia melambaikan tangan dan pergi ke arah pintu gerbang Sanggar Seni Surya Candra. Berlari kecil. Penutup kepala hoodie yang tergantung di belakang leher, diangkat dan menutup kepalanya.


 


 


"Aura hitam pekat menyelubungi dirinya. Siapa dia sebenarnya?" gumam Dapi pelan. berdiri terpaku dengan menatap punggung gadis yang berjalan keluar bangunan sanggar seni.


 


 


Kini Dapi duduk di sepeda motor Vario birunya.Menghidupkan kendaraan itu dan mengegas dengan perlahan. Dia menuju ke pintu gerbang dari Sanggar Seni Surya Candra. Ketika sampai di pinggir aspal jalan utama, keluar dari pintu gerbang sanggar, dia tidak melihat gadis itu lagi, "Mungkin sudah dijemput oleh keluarganya," pikir Dapi.


 


 


Pemuda itupun mengambil arah kanan dari jalan utama dan melarikan sepeda motor keluaran Honda.


 


 


*******


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2