
Calonarang menatap dengan nanar ke arah gadis yang terikat di depannya. Kedua tangan gadis itu ditarik ke atas, terikat dengan rantai kecil menuju kaitan dari besi di atas langit-langit gua. Kepala gadis itu tertunduk. Rambutnya yang panjang acak-acakan terurai basah. Kedua kakinya memijak lantai gua yang lembab. Kaki gadis itu berbentuk kaki angsa. Ada selaput di sela-sela jarinya. Bagian pinggang sampai ke ujung kaki berwarna hitam, ditutupi dengan bulu angsa yang basah.
Wanita penyihir yang bernama Calonarang meraih dagu gadis yang tak berdaya. Tangan kiri meremas dagu dan mengangkat kepala makhluk di hadapannya agar mata gadis itu dapat melihat ke depan.
"Kau mengacaukan segalanya. Aku akan membunuh kembaranmu."
"Jangaaan... tolong... jangan lakukan itu. Aku tidak memberitahunya sedikitpun. Aku tidak melakukan itu."
Gadis yang tak lain adalah Kinnari menangis tersedu. Air mata sudah membasahi kedua pipi yang lembut dari satu jam sebelumnya.
Penyihir itu tak perduli. Dia tak menggubris belas kasihan yang diucapkan oleh Kinnari. Dia tetap mencengkram dagu gadis yang tak berdaya, malah semakin kuat sehingga terlihat lekukan di bagian pipi mendekati mulut korban yang kecil.
"Aku sudah bersusah payah menutupi aura gelap yang menyelubungimu. Dari pertemuan awal, dia sudah membaca aura hitam tapi aku berusaha, mencari cara dengan bersusah payah untuk menutupi mata batinnya. Tapi kau menggagalkan rencana ini."
Penyihir yang memiliki rambut berwarna putih, berbicara dengan mulut yang sangat dekat dengan Kinnari. Dia menggeram dengan wajah yang seram.
Cengkraman tangan penyihir ke dagu Sang Gadis sudah sangat menyakiti karena sudut bibirnya terkena kuku tajam di jari. Ditambah lagi bau busuk yang keluar dari mulut penyihir tua, menambah penderitaan gadis yang bertubuh mungil.
Penyihir perempuan yang sedikit bongkok melepaskan cengkraman di dagu Kinnari. Lalu dia menarik rambut bagian belakang dengan tangan yang cepat berpindah dari dagu ke rambut. . Tarikan ke arah rambut bergerak dengan cepat. Tak ada belas kasihan dengan gadis yang berwujud makhluk setengah angsa.
"Ah...."
Kepala Kinnari tersentak ke belakang. Dia mendongak dengan terpaksa. Leher bagian depan terlihat dengan jelas. Kinnari menjerit panjang, dia kesakitan setelah desahan pertama. Air mata kini mengalir dari sudut mata ke arah samping menuju daun telinga. Mulutnya ternganga.
Di atas langit-langit gua, ternyata sudah berkumpul awan hitam pekat yang berisik bersahut-sahutan. Bisikan itu tak terdengar jelas, tapi terdengar suara berkepanjangan. Awan hitam yang berkumpul sepanjang tiga puluh inchi dan memiliki ketebalan sekitar lima inchi, berkeliling di atas kepala Kinnari, menunggu perintah.
__ADS_1
Penyihir tua mengangkat tongkat hitam ke atas, mengarahkan ke awan hitam pekat. Beberapa detik kemudian, menghentakkan tongkat ke bawah dengan cepat.
Gerakan tongkat hitam yang dipegang dengan tangan kanan, merupakan kode dari perintah Sang Penyihir. Dengan cepat awan hitam membentuk spiral, bergerak ke bawah, masuk ke dalam mulut Kinnari.
Tubuh gadis yang terikat itu menggeletar. Dia menjerit dengan sangat kuat dan panjang. Wajahnya masih menengadah ke atas. Matanya melotot. Dalam hitungan detik, kedua bola matanya berubah menjadi hitam.
Setelah semua awan hitam itu masuk ke tubuh gadis berwujud setengah angsa, jeritannya terhenti. Tubuhnya naik perlahan ke atas. Kedua kaki tidak lagi menginjak lantai gua yang lembab. Tapi... mengambang secara vertikal perlahan menuju ke atas. Rantai kecil yang mengikat kedua tangan terlepas.
Kaku. Gadis itu mengambang dengan kaku. Kini wajahnya tidak mendongak lagi, tapi sudah menunduk dan tertutup oleh rambut yang panjang dan acak-acakan. Tubuhnya sudah kembali normal seperti layaknya manusia biasa. Seperti penampilan Tania yang biasa. Tak ada lagi selaput di sela-sela jari kaki dan bagian bawah tubuh gadis itu normal seperti manusia biasa.
Penyihir tua yang memegang tongkat hitam di tangan kanan merentangkan tangan kiri, mengarahkan ke tas yang dipakai oleh Kinnari pada saat ini. Dia menarik tas kecil tanpa menyentuh hingga putus dan mencelat ke atas. Lalu menggerakkan tongkat di tangan kanan menuju ke arah tas yang terbang di udara, di depan gadis yang mengambang. Tiba-tiba api hitam pekat keluar dari tongkat dan menyambar tas kain kecil berwarna hitam. Dalam sekejap tas itu terbakar, hangus tak bersisa.
Calonarang sudah menyadari keberadaan Bunga Kasna diselipkan di buku kecil di dalam tas. Dia sangat membenci Bunga berwarna putih dari Temukus.
"Panggil Ratna dan Dayu. Aku akan mengirim mereka untuk membunuh kembarannya," perintah Calonarang kepada manusia besar yang berdiri tak jauh darinya. Manusia besar itu terlihat normal kecuali gigi di bagian mulut yang mencuat keluar.
*******
Terdengar dentingan musik bernuansa sadis dengan petikan yang sangat cepat. Dentingan alat musik yang tergolong ke dalam alat musik kordofon (alat musik yang mengeluarkan suara dari dawai atau senar) itu, menyayat telinga.
Kinnara duduk bersila di atas batu di lereng Gunung Agung. Kedua kaki burungnya bersila. Punggungnya tegak lurus. Kedua mata yang tajam menatap ke depan dengan wajah serius. Tapi kedua tangan memetik alat musik kecapi dengan cepat. Dari alat musik petik, keluar cahaya putih seperti dawai kecapi yang menyerupai tali. Panjangnya sekitar setengah meter.
Cahaya putih yang berbentuk dawai kecapi itu melesat ke depan, ada puluhan jumlahnya dan menyerang awan hitam yang bergulung membentuk ular dengan ukuran besar. Dawai-dawai itu berusaha melibas tubuh ular yang terbentuk dari awan hitam pekat yang berdiri dengan kepala tegak lurus.
Awan hitam berbentuk ular itu tidak hanya seekor, tapi dua ekor sudah siap mematuk Kinnara yang duduk bersila. Di belakang awan hitam, ada dua orang pengendali hewan mistis yaitu Ratna dan Dayu. Anak dan menantu dari Calonarang.
__ADS_1
Calonarang sengaja mengirim anak dan menantu untuk menghabisi saudara kembar Kinnari, karena dia sangat geram ketika makhluk setengah angsa itu menggagalkan rencananya untuk melukai Dapi.
Calonarang telah lama menculik Kinnari. Makhluk itu dipersiapkan untuk melukai Dapi dengan cara membuat Dapi jatuh cinta kepadanya. Serangan secara mistis oleh penyihir itu tidak akan mempan untuk seorang titisan Raja Pertama Karangasem. Apalagi tombak sakti dan Batu Biru Laut yang dimiliki oleh pemuda itu sangat membantu kekuatan pemuda yang menjadi Pengendali Air.
Calonarang menyadari hal itu. Akhirnya dia menculik Kinnari yang cantik dan akan menggoda hati Dapi. Awalnya berhasil, tapi entah mengapa pemuda itu bisa mengetahui wujud asli dari Tania yaitu makhluk setengah angsa yang tak lain adalah kembaran Kinnara.
Padahal, penyihir itu sudah mencari cara agar aura sihirnya tidak terbaca oleh Dapi. Dia tahu kalau pemuda itu sangat kuat dalam hal supranatural karena bantuan dari Batu Biru Laut. Karena itulah dia terus mengawal, mengawasi dan mengantar Kinnari ketika bertemu dengan Dapi, kemanapun dia pergi. Penyihir itu menjelma menjadi seorang wanita setengah baya yang diakui sebagai ibu Tania.
Penyihir tua murka ketika merasakan bahwa ada aroma Bunga Kasna yang memperlemah sihirnya. Dia merasakan ketika Tania bertemu untuk terakhir kali dengan Dapi di Taman Budaya Candra Buana. Tabir hitam pekat yang menyelubungi Tania terbuka lebar. Dapi melihat sosok asli Kinnari yang selama ini telah menyamar menjadi Tania.
Awan hitam pekat yang menyelubungi Kinnari juga terlihat dengan jelas. Awan hitam itu sengaja dibuat oleh Calonarang untuk menipu Dapi agar tak melihat wujud asli dan agar Dapi semakin suka dengan gadis yang di sihirnya. Dapi seakan tergiring dalam mabuknya cinta dan mengabaikan intuisi yang terus ingin memberitahu Pemuda Pengendali Air selama dekat dengan Kinnari yang disihir menjadi Tania.
Akhirnya Calonarang berniat membunuh Kinnara karena merasa sangat murka dengan kembaran yang menggagalkan rencana yang disusunnya secara apik. Sebenarnya dia juga merasa takut di balik kemurkaan itu, jika nanti berhadapan dengan Big Boss dan tahu rencananya telah gagal. Oleh karena itulah penyihir tua bernama Calonarang mengirim Ratna dan Dayu untuk membunuh Kinnara.
Serangan dawai yang bercahaya tajam itu menyerang ular besar yang berdiri tegak di hadapan Kinnara. Dawai-dawai itu melesat dan membabat tubuh awan hitam yang berbentuk ular, tapi... ibarat seperti menebas di dalam asap, wujud ular yang terbentuk dari asap hitam pekat kembali lagi ke wujud semula.
Kini, kedua pasang ular besar mematuk dirinya secara bergantian. Kinnara langsung melompat, meraih kecapi dari kayu yang merupakan senjata andalan, lalu memetikkan kembali alat musik itu dengan kekuatan ganda. Posisi Tubuhnya saat ini, mengambang di udara. Sayap putihnya melebar dengan gagah di angkasa. Tapi... kedua makhluk sihir itu bukan tandingan Kinnara. Satu makhluk saja, dirinya mungkin tidak sanggup menghadapi, apalagi dua ekor makhluk sekaligus.
Dari samping kirinya, mengibas ekor ular yang dikendalikan oleh Dayu. Kinnara terlempar ke kanan. Belum lagi dia bisa menyeimbangkan diri dari serangan ular yang dikendalikan Dayu, lalu dari sebelah kanan, ekor ular yang dikendalikan oleh Ratna telah membalas pentalan tubuhnya karena libasan pertama. Kibasan ekor ular yang dikendalikan Ratna melibas tubuh makhluk setengah burung. Kinnara seperti bola ping pong yang dimainkan oleh kedua makhluk laknat yang dikendalikan oleh utusan Calonarang. Tubuh makhluk yang kurus, terombang-ambing ke udara. Kecapinya terpental.
Kinnara tak bisa lagi mengendalikan sayapnya untuk terbang. Belum lagi dia sadar dengan apa yang telah terjadi, ekor ular yang dikendalikan oleh Dayu, mendekati dirinya yang tak terkendali untuk melibas kembali. Dia pasrah pada saat ini.
Wush....
Makhluk sihir yang berbentuk ular lenyap, tak hanya satu tapi keduanya. Asap hitam pekat yang berwujud ular, lenyap seakan menguap. Kinnara yang sedang mengambang di udara mendengar dua suara jeritan pendek. Dalam waktu yang sama, dirinya merasa ditangkap oleh satu makhluk, lalu didudukkan di atas batu besar. Yang membuat dirinya bertambah aneh adalah alat musik kecapi yang dijadikan sebagai senjata telah terletak rapi di sampingnya tanpa lecet sedikitpun.
__ADS_1
Di depan Kinnara, sekitar sepuluh meter tempat dirinya duduk, dilihatnya Ratna dan Dayu yang memegangi leher mereka masing-masing. Tertancap sebatang Bunga Kasna beserta beberapa potong daun di leher lawan. Darah mengucur di bagian samping leher. Mereka berusaha mencabut Bunga Kasna beserta batang. Mereka masih hidup tapi kekuatan sihir mereka telah hilang.
*******