Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Filter : Ep. 22


__ADS_3

 


 


Pemuda yang memiliki tubuh tinggi dan ramping tapi tak memiliki bidang dada yang besar, berjalan menyusuri lantai mall yang terletak di sekitaran Kota Amlapura. Dia berjalan sedikit tergesa - gesa. Langkah kaki seirama dengan gerakan tubuhnya. Walaupun dia melangkah dengan cepat, sangat terlihat irama gerakan tubuh yang indah. Dia seorang laki - laki yang terlihat berjalan indah tapi bukan seperti banci.


 


 


Dapi yang lahir tanggal 13 Oktober 1995 merupakan pemuda yang sangat kental karakternya dengan Bintang Libra. Penyabar, penyayang, pencinta seni dan kedamaian, bijaksana dalam mengambil keputusan dan indah secara penampilan. Bintang Libra merupakan rasi bintang yang mengabadikan cinta. Cinta dan kasih sayang adalah segalanya bagi mereka. Itulah karakter kental dari Bintang Libra.


 


 


Tapi, ada satu hal yang merupakan karakter buruk dari bintang yang berlogo timbangan yaitu terlalu mudah percaya dengan semua manusia. Menganggap semua manusia itu sama, berkarakter baik dan tak ingin menyimpang dari hal-hal yang negatif. Namun, manusia tentu saja tak semua sama. Rambut boleh sama hitam, tapi hati manusia tak semua sama. Kedalaman laut bisa diukur, tapi kedalaman hati manusia siapa yang tahu. Dia sering dimanfaatkan oleh orang lain karena kebaikan dan sifat penyayang yang dimiliki.


 


 


Disusurinya lantai marmer mall yang tak terlalu besar di Kota Amlapura. Dia mencari tempat yang dituju yaitu restoran bermerk internasional. Tempat itu terkenal dengan ayam goreng crispy. Banyak orang-orang yang makan di tempat tersebut.  Padahal harga makanan itu mahal dan rasanya sama seperti rasa ayam goreng crispy yang dijual oleh Mbok Darsi dari Surabaya, di pinggir jalan di Jalan Diponegoro, di sekitaran rumahnya. Manusia lebih sering ditipu dengan sifat gengsi dan berjiwa hedonis.


 


 


Terlihat restoram merk International dengan gambar orang tua berpakaian putih di logo gerai yang berada di atas pintu masuk. Dapi masuk ke dalam dan mencari seseorang yang telah berjanji untuk bertemu di restoran bermerk luar negri.


 


 


Restoran itu ternyata ramai di sore ini, padahal hari ini bukan akhir pekan. Dapi mencari - cari seseorang yang berjanji dengannya dan matanya tertuju ke sosok yang duduk di sebelah kanan, paling pojok. Orang itu menghadap ke pemandangan jalan yang hanya dibatasi kaca.


 


 


Dapi segera berjalan, mendekati sosok yang menunggu, ternyata sosok itu adalah seorang gadis.


 


 


"Hai...."


Dapi langsung mendekat dan duduk di depan gadis yang berambut panjang.


"Maaf, terlambat."


Dapi memasang senyum kecil di bibirnya yang sensual.


 


 


Gadis yang bermata kecil itu menoleh. Tania. Ya. Tentu saja gadis itu adalah Tania. Dia hanya tersenyum tipis ketika melihat Dapi. Kedua matanya mengikuti gerakan Dapi sampai duduk di depan. Tak ada kata yang keluar dari mulut Tania.


 


 


"Kamu sakit?"


 

__ADS_1


 


"Tidak. Kenapa?" tanya Tania.


 


 


"Kok muka kamu keliatan pucat?"


 


 


"Hah... apa iya?"


 


 


Dapi mengangguk. Memang wajah gadis itu terlihat pucat. Tidak seperti biasa.


 


 


"Mungkin aku kurang tidur," jawab Tania asal.


 


 


Dapi memperhatikan Tania tak seperti biasa.


"Dimana sikap cuek dan tomboy nya? Apa hari ini tak dibawa?"


"Kamu sudah pesan makanan?


 


 


"Belum."


 


 


"Oke. Aku pesankan ya?"


 


 


"Tapi... aku minum saja."


 


 


"Tidak mau makan?"


 


 


Tania menggeleng.

__ADS_1


 


 


Aneh. Dapi merasa aneh. Dia segera bangkit dan pergi menuju tempat pemesanan. Dapi ikut dalam antrian.


 


 


Semalam Dapi berpikir tentang ucapan Kinnara. Dia tak bisa tidur memikirkan tentang dugaan Artha dan Kinnara mengenai Tania. Akhirnya, di pagi hari ini, dia menelepon Tania dan mengatakan ingin bertemu. Gadis itu menyetujui permintaan Dapi.


 


 


Dapi sengaja melakukan hal ini karena dia benar-benar ingin meyakinkan intuisinya dan mencari tahu tentang kebenaran. Tapi, ketika dekat dengan Tania tadi, dia tidak merasakan aura hitam yang menyelubungi tubuhnya. Dia hanya melihat gadis yang berwajah pucat tapi tidak berkarakter seperti biasa.


 


 


Rencananya, dia akan mencari tahu tentang keluarga Tania dan bertanya langsung dengan gadis yang sudah beberapa bulan dikenal. Selama ini, Dapi tidak pernah bertanya tentang ayah dan ibu atau saudara kandung Tania. Dia juga tidak pernah bertanya alasan temannya itu pindah dari Jakarta ke Bali. Hal-hal pribadi tidak pernah ditanyakan oleh Dapi.


 


 


Sudah hampir tiga bulan, dirinya dekat dengan Tania dan merasakan tidak ada hal yang aneh dengan gadis yang tomboy ini kecuali pada pertemuan pertama. Disamping itu, dia sangat menyukai Tania.  Gadis yang katanya berasal dari Jakarta, memang tipe wanita yang diinginkan. Tomboy, kocak, cuek dan baik.


 


 


Sekitar 15 menit Dapi ikut dalam antrian dan larut dalam pikiran sendiri. Dia bergerak perlahan dua langkah setelah orang yang di depan kasir bergeser ke kiri setelah selesai memesan makanan. Dapi menyebutkan beberapa menu yang dipilih. Melihat kasir mengetikkan beberapa angka di mesin kasir. Menunggu. Memberikan uang kepada kasir ketika sudah tertera nominal yang harus dibayar. Dia mendengarkan beberapa ucapan yang dikeluarkan oleh kasir restoran, lalu dia bergeser ke kiri.


 


 


Dapi menunggu sekitar 10 menit. Baki berwarna coklat sudah dipegang dan diletakkan di atas meja pemesanan. Makanan dan minuman yang dipesan sudah selesai. Menunggu dengan sabar dan tak berapa lama dia sudah membawa makanan yang dipesan tadi ke arah tempat duduk, dimana Tania masih duduk dengan posisi yang sama seperti dia melihat sebelumnya.


 


 


Dapi duduk dan memberikan minuman kepada Tania. Dia masih melihat gadis yang duduk dihadapannya tidak ceria sama sekali. Hari ini Dapi akan menyelidiki keluarga dan kehidupan pribadi gadis yang dicurigai merupakan kembaran Kinnara. Itu rencana awal dan harus tetap dilaksanakan.


 


 


Kebenaran itu harus terungkap, walaupun dirinya harus tersakiti.


 


 


*******


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2