Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Zero O'clock : Ep. 36


__ADS_3

Tiga makhluk ciptaan Tuhan sedang berada di dalam kamar yang memiliki  pemandangan laut di langit - langit. Mereka bertiga termenung dengan pikiran masing-masing.


"Apa kamu tidak mengingat sama sekali berada dimana 10 hari ini, Pi?"


Suara Artha memecah kesunyian.


Dapi yang duduk di lantai, bersender di dinding, menoleh ke Artha. Dia hanya menggeleng beberapa kali. Sikap manjanya keluar.


"Jadi... Yang Mulia... bagaimana cara keluar dari lubang hitam?"


Giliran Kinnara yang mengeluarkan suara. Kinnara duduk di lantai, bersandarkan sisi tempat tidur.


Dapi kembali menggeleng. Dia secara tak sengaja mengeluarkan sikap manja ketika menggelengkan kepala.


"Kami mengejar cahaya putih seperti kilat yang jatuh dari langit. Karena itulah kami bisa bertemu denganmu, Pi."


Artha menjelaskan. Pemuda itu duduk dengan tenang di atas kursi.


"Cahaya putih?"


Kali ini Dapi mengeluarkan suara.


"Ya. Cahaya putih yang aku liat pada saat aku diserang oleh Ratna dan Dayu. Trus... seorang anak laki-laki yang muncul menolongku. Sepertinya cahaya putih itu berasal dari dia. Nah... cahaya putih itu juga yang kami liat jatuh dari langit."


Jelas Kinnara.


Dapi mengerenyitkan keningnya.


"Sepertinya banyak teka - teki yang harus kita pecahkan," Ujar Artha. Pemuda yang berwajah kecil ini duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.

__ADS_1


"Kita harus kembali ke tempat yang kita intai tadi malam, Kak," seru Kinnara. "Mungkin di sana kita akan mendapat petunjuk," sambungnya.


"Kalian mengintai siapa?" tanya Dapi. Wajah putihnya keheranan.


"Sepertinya Calonarang bersembunyi di tempat yang kami intai. Mungkin Firman dan Kinnari ada di sana."


Kinnara menjelaskan sambil melihat ke arah Dapi.


"Ayo, kita ke sana sekarang!"


Dapi menggerakkan tubuhnya untuk berdiri.


"Eh... boy... boy. Tunggu dulu. Sabar... kita harus mengatur strategi."


Bahasa gaul Artha keluar. Wajahnya juga sangat lucu ketika mengucapkan kata itu. Pemuda ini memang pintar membuat orang tertawa kecil ketika melihat mimik wajah yang tak terduga.


Dapi kembali memantapkan pantatnya di lantai.


"Siddik dan Yusuf?"


"Anggota yang akan direkrut...."


Artha tak perlu memanjangkan penjelasan tentang dua nama yang disebut. Dapi sudah mengerti.


Kinnara melihat ke arah Artha dan hanya terdiam. Dia... sepertinya memikirkan sesuatu.


"Apa yang kamu pikirkan, rung?"


Dapi tersenyum spontan ketika mendengar kata panggilan untuk Kinnara. Tenyata Artha masih memakai panggilan itu sampai sekarang. Terdengar lucu di telinga Dapi.

__ADS_1


"Sejarah yang aku tau. Untuk mengalahkan Calonarang, kita harus mengambil kitab sihirnya."


Kinnara berbicara dengan nada sungguh-sungguh. Matanya menatap ke arah Artha.


"Kitab Sihir?"


Artha mengerutkan dahinya.


"Ya, Kak."


Dapi menjawab. "Calonarang memiliki kitab sihir yang membuatnya kuat, tapi bagaimana kita bisa mencuri kitab sihir itu?" tanya Dapi.


Artha terdiam.


Kinnara berpikir untuk mencari jalan agar mendapatkan kitab sihir Calonarang.


Sedangkan Dapi terdiam memikirkan keadaan Firman dan Kinnari. Dia juga berusaha untuk mengingat dimana keberadaannya selama 10 hari yang lalu.


3 makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, berdiskusi mengenai beberapa hal. Cahaya putih. Big Boss dan memikirkan bagaimana masuk ke dalam persembunyian Calonarang yang sudah mereka intai.


*******


"Kitab sihir...."


Seorang anak laki-laki yang duduk di meja belajar di kamar tidur, tertegun. Kedua kakinya yang tak memakai alas, terentang di atas meja. Tungkai  kaki anak laki-laki ini terlihat panjang untuk anak seumuran dirinya. Tubuhnya bersender di punggung kursi. Dia telentang di atas kursi dengan kaki menjulur ke atas meja.


Kedua tangannya memutar-mutar pot bunga yang berada di atas perut. Pot bunga yang berukuran kecil, berisi tanah dan Bunga Kasna berwarna putih.


"Hmmm... seru nih. Banyak tugas yang harus aku lakukan. Aku akan menolongmu, bli. Tenang saja. Aku akan selalu berada di sampingmu sampai kapanpun."

__ADS_1


Anak laki-laki itu menyeringai. Kedua cuping dari hidungnya yang mancung tertarik ke belakang. Dia tertawa dan terlihat semua giginya yang tersusun rapi. Dia terlihat sangat manis.


*******


__ADS_2