Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Let Me Know : Ep. 19


__ADS_3

Nada dering keluar dari handphone dengan casing berwarna kuning. Lagu "We Don't Talk Anymore" dikulik oleh  Jimin dan Jungkook BTS terdengar mendayu dengan merdu.


Anak laki - laki yang sedang duduk di kursi meja belajar, terbuat dari kayu mahoni, di dalam kamar tidur, langsung menyambar barang eletronik yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia seakan memang sedang menunggu panggilan dari orang lain.


"Hallo...."


"Kamu lagi dimana?"


Terdengar suara di balik handphone dengan sedikit keras.


"Di rumah...."


"Aku tak bisa menemukan orang yang menyelamatkanmu sewaktu di Pantai Kuta. Sepertinya dia tidak tinggal di Denpasar, tapi aku yakin dia orang Bali."


"Hmmm...."


Ada sedikit wajah kesal di raut muka anak laki - laki yang memiliki hidung yang mancung.


"Oke ya. Aku tak bisa membantu kali ini."


"Terima kasih."


Anak laki - laki itu memencet salah satu menu dan melemparkan barang elektronik yang berukuran 5 inchi ke tempat tidur. Dia kembali ke kursi yang berada di depan meja belajar. Duduk. Kedua tangan diangkat lurus ke atas. Ujung telapak tangan bersatu dan mengepal. Menggeliat dan mendesah.


"Siapa kau sebenarnya, bli? Beri aku petunjuk Tuhan. Siapa mereka yang terus masuk ke dalam mimpiku 5 tahun ini dan siapa aku sebenarnya?"

__ADS_1


Kemudian, secara perlahan anak laki - laki itu menurunkan kedua tangan. Mengambil pinsil berwarna hijau yang ujungnya masih panjang. Dia menorehkan bahan grafit dari ujung pinsil secara perlahan. Menyempurnakan gambar yang telah terbentuk wajah seseorang di atas kertas. Wajah itu adalah wajah pemuda yang menolongnya di Pantai Kuta seminggu lalu. Gambar yang menampilkan gurat - gurat sempurna dari wajah pemuda yang selalu ada di mimpi.


Kamar yang di dekorasi dengan warna berdominan kuning, berukuran 8 x 6 meter itu terlihat aneh. Di dinding kamar tidur milik anak laki - laki itu banyak gambar - gambar wajah yaitu 6 orang pemuda berbentuk kepala sebatas leher, termasuk gambar orang yang menolong dirinya di Pantai Kuta.


Tak hanya gambar kepala 6 orang pemuda tapi ada juga gambar yang menampilkan perkelahian beberapa orang. Gambar seorang pemuda memanah, ada semburan api berasal dari anak panah yang dikeluarkan. Kemudian sepotong gambar dari salah satu pemuda yang mengeluarkan gelombang suara dari mulutnya yang sedang melawan musuh. Lalu, ada gambar lain yaitu seorang pemuda yang berkaca mata, sedang berdiri tegak, banyak barang - barang yang terlempar di depan posisi dirinya berdiri. Selanjutnya di sisi kiri tempat tidur terlihat gambar seorang anak kecil, terduduk dengan tangan dan kaki terikat, menangis menatap Bulan Sabit. Di 2 gambar terakhir adalah gambar 2 pemuda yang memegang benda di tangan kanan masing - masing. Salah satu gambar, terlihat pemuda memegang tongkat yang dihempaskan ke bumi, tersembur tanah itu ke atas, melawan gravitasi bumi. Sedangkan gambar pemuda yang sedang memegang senjata adalah pemuda yang sama persis dengan yang digambarnya pada saat ini. Pemuda itu melayang ke atas, menengadahkan kepalanya. Senjata yang dipegang, di tangan kanan merupakan tombak yang terbuat dari kristal es. Bagian tengah tombak itu tersusun 10 mata tombak berkeliling membentuk lingkaran. Ada permata berwarna biru laut di tombak itu.


*******


Dapi duduk di pinggir tangga dari bangunan Bale Dauh. Bale Dauh dipergunakan oleh masyarakat Bali sebagai ruang tamu, tapi ruangan dalamnya dipergunakan untuk kamar anak laki - laki.


Bale Dauh adalah salah satu bangunan dari beberapa bangunan mini di kawasan rumah Dapi. Bale Dauh yang memiliki patung dewa di kanan kiri sebelum menaiki bangunan itu, didirikan di sebelah barat dari kawasan rumahnya. Bangunan ini dibuat lebih rendah dari Bale Manten. Bale Manten didirikan di sebelah utara kawasan rumah. Bale Manten sengaja dibuat untuk ruangan Kepala Keluarga atau anak gadis jika keluarga itu memiliki anak gadis.


Pemuda itu memegangi handphone yang menempel di telinga. Dia berbicara dengan sikap manja.  Sesekali dia tertawa. Tubuh ramping itu terkadang tertunduk atau terkadang telentang di lantai bangunan Bale Dauh. Dia menahan tawa dengan melakukan beberapa gerakan di tubuhnya.


Hampir 2 jam Dapi berbicara di telepon. Tak ada pembicaraan yang penting. Hanya hal - hal kecil. Tapi orang yang dibalik handphone itu adalah orang yang membuat dia mabuk kepayang saat ini. Ya. Tania. Pemuda itu sedang berbicara dengan Tania. Padahal baru beberapa jam mereka berpisah setelah pergi bersama.


Saat ini, intuisi Dapi kalah kuat dengan rasa cintanya kepada Tania.


*******


"Kamu jangan mengacaukan rencanaku!"


Seorang wanita tua berkata dengan tegas. Wajah wanita yang tak memasang senyum itu menghadap ke Tania.


Tania terduduk, terpaku di balik meja makan. Dia menunduk ketika bertemu padang dengan mata wanita dihadapannya.

__ADS_1


Raut wajah wanita berumur sekitar  60 tahun itu sangat dingin. Matanya yang cekung menambah kesan seram pada dirinya.


"Jika rencana ini gagal, maka kakakmu akan siap menanggung akibatnya!"


Wanita itu berdiri. Tatapannya tetap tertahan ke arah Tania.


Tania mengusap air mata yang tiba - tiba jatuh di pipi. Masih tertunduk. Rambut pirang menutup pipi dan wajahnya.


"Tengah malam, bawa dia kembali ke pemujaan. Pikirannya akan dibersihkan kembali. Sebelum dia mengagalkan rencanaku!" perintah wanita itu.


Kali ini dia menatap tajam ke arah lelaki yang berada di samping. Lelaki separuh baya itu memiliki badan besar. Berotot. Yang menarik dari penampilan lelaki itu adalah terdapat gigi taring yang panjang di bagian bawah. Gigi taring itu mencuat keluar berukuran 3 inchi. Karena hal itu, dia menjadi susah untuk menutup mulut dengan rapat.


Lelaki itu dengan cepat mengangguk. Dia seakan ketakutan dengan wanita tua bertubuh kurus yang berdiri mendelik di hadapannya.


"Bawa dia ke kamar. Tengah malam aku tunggu di pemujaan!"


"Baik Nyonya."


Lelaki yang berbadan besar itu segera menarik tangan Tania dan memaksa gadis itu untuk beranjak dari ruang makan.


Tania melangkahkan kaki dengan perlahan tapi dengan keras didorong oleh lelaki berbadan besar, agar langkahnya dipercepat.


Wanita tua itu menatap kedua makhluk yang telah bergerak menuju kamar tidur dengan mata yang sangat seram. Mata itu seakan ingin memakan gadis itu hidup - hidup.


Ruangan tempat keberadaan wanita tua itu ternyata bukan ruangan yang biasa. Ruangan yang dipergunakan untuk makan para penghuni, terlihat sangat angker. Meja makan yang terbuat dari batu persegi panjang, dipasangkan dengan kursi makan yang terbuat dari kayu bambu beralaskan batu sebagai tempat duduknya, terletak di tengah. Di dapur kecil yang berada di sudut ruangan itu terlihat makhluk yang aneh tergantung di langit - langit. Bentuknya seperti kelelawar jika dilihat sepintas, tapi kepalanya lebih besar daripada ukuran badan dan gigi yang memenuhi mulutnya berbentuk taring secara keseluruhan. Hanya bagian kepalanya yang bukan seperti kelelawar biasa, lebih mirip kepala naga.

__ADS_1


Terkadang makhluk itu berdecit, merasa terganggu dengan tidurnya. Makhluk itu menggantungkan diri dengan posisi kepala di bawah. Sebentar lagi malam akan menyapa, maka makhluk - makhluk kecil yang terlihat menyeramkan itu akan keluar dari sarangnya mencari mangsa. Dia memang diciptakan untuk menyerang musuh di malam hari.


*******


__ADS_2