Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Promise : Ep. 4


__ADS_3

Taman yang diterangi beberapa lampu sudah tidak ada penghuninya lagi. Pemuda yang duduk di pendopo tak jauh dari menara air yang paling tinggi, menatap pemandangan taman dengan wajah kosong. Malam semakin larut. Dia sudah meminta izin kepada penanggung jawab taman itu untuk bermalam di pendopo. Bahkan sepeda motornyapun sudah dimasukkan ke dalam lingkungan taman, berada di teras depan mess penanggung jawab tempat itu.


Dia tak tahu mengapa harus melakukan ini tapi hatinya terus menerus menekankan bahwa dia harus berada di taman malam ini. Dapi sudah menelepon ibunya dan memberitahukan kalau dia tidak pulang. Dia takut ibunya khawatir. Kesedihan akan kehilangan anak bungsunya beberapa minggu yang lalu saja sudah membuat hari - harinya seakan tak berarti, apalagi jika anak sulungnya yaitu Dapi akan hilang lagi. Karena itulah Dapi cepat memberikan kabar.


Awalnya Dapi berharap bisa menemukan jawaban dari mimpinya itu ketika berkunjung ke Taman ini, lalu dia bisa segera pulang. Tapi jam di handphone nya sudah menunjukkan pukul 23.47, sudah hampir mendekati tengah malam dan dia tidak menemukan apa yang dicarinya di tempat ini.


Tentu saja dia tak bisa tidur. Bukan karena dia takut, tapi dia berusaha untuk kembali memikirkan apa arti dari mimpinya itu.


Dapi berbaring di pendopo yang disediakan untuk para pengunjung. Di taman yang tak terlalu terang, hanya terdengar suara jangkrik dan kodok yang seakan meminta hujan. Kondisi malam hari di taman ini terlihat cukup indah karena banyak kunang - kunang yang berterbangan di sana sini. Anehnya, Taman yang luas dan penuh pepohonan dan terdapat banyak kolam berisi air, tidak ada nyamuk yang menggigitnya, mungkin karena banyak predator yang memakan nyamuk di taman ini.


Wuuush......


Wuuush.....


Tap.    Tap.    Tap.


Dua sosok berkelebat melompati patok batu - batu yang dilewati Dapi tadi sore. Mereka memakai pakaian serba hitam. Dia melihat kedua sosok itu dari pendopo. Jarak pendopo ke taman itu sekitar 100 meter. Dia langsung membangkitkan tubuh langsingnya. Duduk, terdiam di pendopo. Kedua sosok itu, melompat dengan cepat dan mendekatinya.


Dapi merasa takjub. Tak ada rasa takut sama sekali dari air mukanya. Dan tak berapa lama, satu sosok yang berbadan besar, berdiri 10 meter di hadapannya, diikuti seorang pemuda yang kurus dan tinggi berwajah putih, berdiri dibelakang pria itu.


Pria itu berumur sekitar 50 tahun. Badannya sangat besar. Bidang dadanya juga lebar. Tapi wajahnya masih kelihatan awet muda. Dia memakai baju kaos dan celana jeans hitam dengan topi baseball cap juga berwarna hitam. Begitu juga dengan pemuda yang mengikutinya dari belakang. Memakai serba hitam, sampai ke sepatunya juga berwarna sama tapi di punggung pemuda itu ada busur panah dan anak panah dengan wadahnya.


"Apa mereka enggak digigit nyamuk? " gumam Dapi dalam hati.


Pria paruh baya itu tersenyum kepada Dapi.


Dapi turun dari pendopo dan berdiri dengan wajah penasaran.


"Bli (abang), mau ketemu siapa?" tanya Dapi dengan sedikit membungkukkan kepalanya. Dia merasa harus berkata sopan dengan mereka Walaupun orang asing karena dia juga orang asing di tempat itu. "Mungkin saja mereka adalah pemilik taman ini," pikirnya.


Pria itu mendekati Dapi dengan berjalan perlahan, diikuti oleh pemuda yang tinggi badannya lebih tinggi daripada Dapi. Wajahnya sangat imut, walaupun dia tidak tersenyum.


Dapi terdiam.


"Silahkan duduk. Santai saja," nyata pria itu kepada Dapi. Kemudian dia duduk di pendopo itu. Pemuda yang mengikutinya, berdiri di sampingnya. Diam.


"Oh. Pria ini yang punya tempat ini ternyata," gumam Dapi dalam hati.


"Oke, Bli," seru Dapi. Lalu dia duduk kembali di pendopo.


"Panggil Om saja. Nama saya Bagas Wicaksana," nyatanya sembari tersenyum kepada Dapi yang duduk di sampingnya.


"Artha, kamu duduk di sini", perintah pria yang mengaku untuk dipanggil Om.


Pemuda yang berdiri di sampingnya, tanpa basi - basi menaikkan pantatnya ke pendopo, kemudian duduk dengan santai.


"Oh. Iya, Om. Nama saya Dapi", nyatanya dan dia menjulurkan tangan kanan ke arah pria itu.


Tentu saja pria itu menyambut tangan Dapi dan berjabat tangan dengan memasang senyum di wajah.


Kemudian tangan Dapi mengulur ke arah pemuda yang dipanggil dengan nama Artha oleh pria berbadan besar itu.


"Artha," ucapnya memperkenalkan diri dan tersenyum.


"Maaf Om. Saya mohon izin untuk bermalam di sini," jelas Dapi setelah menarik tangannya yang sudah selesai berjabat tangan dengan Dapi.


"Kenapa harus minta izin dengan saya?", tanyanya.


"Om yang punya tempat ini, khan?" tanya Dapi dengan wajah serius.


"Bukan."


"Loh."


"Kenapa?"


"Saya pikir Om yang punya tempat ini. Trus, Om mau ketemu siapa?" tanya Dapi penasaran.


"Ketemu kamu?"


"Saya."


"Ya."


Dapi terlihat heran. Wajahnya bingung.

__ADS_1


Pemuda yang bernama Artha hanya diam melihat percakapan dua orang di sampingnya yang saling sambut itu.


"Kamu menunggu siapa di sini?" tanya Om Bagas.


"Saya..... Eh saya.... Sedang menenangkan diri saja di sini, Om," nyata Dapi gugup. Dia tak tahu kalimat apa yang tepat untuk menjelaskan situasinya sekarang ini.


"Menenangkan diri?"


"Hmmmm."


"Menenangkan diri dari kehilangan adik kamu atau karena mimpi kamu?".


Om Bagas bertanya tegas dan menatap tajam ke arah Dapi.


Deg.


Dapi sedikit pucat.


"Om......"


"Ya."


"Om siapa?"


"Saya Bagas Wicaksana."


"Bukan, maksud aku... Eh, maksud saya siapa Om sebenarnya. Kok tau tentang adik saya?" tanya Dapi dengan wajah keheranan.


"Saya yang akan membantu kamu mewujudkan mimpimu, tapi saya tidak bisa berjanji untuk menemukan adikmu," nyatanya tegas.


"Saya tak mengerti, Om."


"Sebentar lagi kamu akan mengerti."


Om Bagas berdiri. "Artha, pinjam busur dan anak panah kamu."


Artha memberikan busur dan anak panah kepada pria itu.


Om Bagas beranjak ke depan beberapa langkah. Memasang anak panah ke busur lalu mengangkat anak panah itu ke arah atas. Merentangkan busur dengan perlahan dan melesatkan anak panah menuju langit.


1 detik.


3 detik.


Taak.


Terdengat suara jentikan jari kanannya yang sangat keras. Bunyi itu berasal dari gesekan jempol dan jari telunjuknya.


Tak berapa lama, ada sinar putih yang turun dari langit membentuk payung besar menutupi taman itu. Sinar putih itu berdiameter sekitar 1 km menyelubungi mereka. Setelah mencapai tanah, sinar putih itu menghilang. Kondisi di sekeliling seperti biasa, tidak ada hal aneh yang terjadi.


Dapi melongok.


Artha hanya terdiam. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Datar. Dia hanya melihat aksi pria itu.


Om Bagas kembali ke arah pendopo, mendekati Dapi dan Artha. Dia mengembalikan busur dan anak panah kepada Artha.


"Apa yang ada di dalam mimpimu selama 3 hari ini?" nyata pria itu.


"Eh..." Dapi berteriak kecil. Tentu saja dia terkejut. "Bagaimana dia bisa tahu kalau aku punya mimpi dan juga dia tahu kalau aku bermimpi dalam 3 hari ini," gumamnya.


"Kamu di sini untuk mencari jawaban dari mimpimu, khan?" Saya bantu untuk menemukan apa yang kamu cari, "jelas Om Bagas.


Dapi terdiam. Sepertinya dia masih berpikir dengan keras. Dia berusaha untuk tidak mudah mempercayai orang lain sejak kehilangan adiknya.


"Artha, coba tunjukkan kemampuanmu," perintah Om Bagas.


"Baik, Pa," jawab Artha cepat.


"Lah... Ini ayahnya," gumam Dapi lagi. Dia terkejut.


Artha bangkit dari duduknya. Maju beberapa langkah. Memasang anak panah pada busur. Mengangkat busur ke atas searah membentuk diagonal, lalu melesatkan anak panah itu. Kemudian dia menjentikkan jarinya setelah anak anak panah itu melesat, sama seperti yang dilakukan Om Bagas. Tapi, Artha menjentikkan jarinya 2 kali berjarak 2 detik antara satu jentikkan dan lainnya.


Di kejauhan, di depan mereka muncul api berwarna merah dan kuning. Api itu membentuk Burung Elang kecil yang terbang lurus di depan, lalu memutar berbalik menuju arah mereka.


Tentu saja Dapi sangat terkejut dengan kejadian itu. Mulutnya sedikit terbuka tanpa sadar.

__ADS_1


Api yang keluar dari anak panah berbentuk elang itu mendekati mereka. Sekitar 50 meter lagi akan mendekati pendopo.


Terdengar bunyi jentikkan jari kembali dari tangan Artha. Kali ini sedikit kuat.


Api yang berbentuk elang itu menghilang, hanya tinggal anak panah saja yang melesat dan dengan cepat ditangkap oleh Artha menggunakan tangan kanannya.


"Waaaaaah... Keren."


Sebenarnya kata itu yang akan diucapkan oleh Dapi dari mulutnya yang kecil tapi hal itu tertahan.


"Kamu juga bisa seperti itu," nyata Om Bagas.


"Saya, Om."


"Ya. Kamu. Siapa lagi?. Hanya kamu yang belum punya kekuatan di sini. Kita hanya bertiga."


"Aku. Punya kekuatan?" tanya Dapi heran.


"Ya. Wajar jika kamu tidak mengetahui hal itu karena memang tidak ada yang memberitahumu sebelumnya. Nah... Saya datang untuk membantu mendapatkan kekuatan itu."


Dapi melihat ke pria itu lekat - lekat seakan tak percaya. Di hadapannya ada dua orang asing yang mengatakan kalau dia mempunyai kekuatan." Seperti cerita di dongeng saja," pikirnya.


"Ayo. Ikut saya," tawar pria itu. Dia berdiri sambil membuka telapak tangan kanan.


Dapi keheranan. Dia memandang telapak tangan yang disodorkan pria yang di samping Dapi, lalu menoleh ke atas, melihat wajah pria itu.


Om Bagas tersenyum. Dia mengangguk. Kemudian dia menoleh ke samping kanan, ke arah Artha dan membuka telapak tangan kiri.


Artha menyambut tangan pria besar yang dipanggilnya Papa. Menggenggam tangan itu.


Melihat Artha menggenggam tangan pria itu, Dapi pun berusaha untuk meraih telapak tangan kanan dengan perlahan. Dia masih ragu, tapi memberanikan dirinya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Ketika Dapi telah menggenggam telapak tangan pria itu,


Wuuuush....


Mereka bertiga menghilang, tak terlihat di pendopo lagi.


Dapi terbatuk, perutnya mual, kepalanya terasa sedikit pusing. Dia melihat ke depan dan ke belakang. Ternyata dia tidak berada di pendopo lagi tapi berada di depan menara air yang ditatapnya tadi sore. Pendopo itu berada jauh di belakang mereka bertiga. Di samping kirinya ada Om Bagas dan Artha.


"Ini namanya teleportasi."


Dapi menatap pria yang sedang tersenyum melihatnya, kemudian pandangannya tertuju ke Artha yang berada di ujung. Pemuda itu biasa saja. Tidak ada raut kesakitan atau mual di wajah. Dia berdiri di depan menara air. Hanya terdiam.


"Pengalaman pertama kali berteleportasi akan seperti itu efek sampingnya, mual dan sedikit pusing. Selanjutnya akan terbiasa," nyata Om Bagas. Dia melepaskan genggaman dari Dapi dan Hakiki.


"Oke, sekarang giliran kamu. Kamu mau menemukan jawabanmu selama ini khan?" tanya Om Bagas.


"Hmm.... Saya bingung Om," nyata Dapi.


"Ya. Saya mengerti. Pertanyaan kamu selama ini dan kebingungan kamu akan terjawab malam ini juga."


"Oh. Apakah iya?"


"Ya."


"Caranya?"


"Kamu hanya perlu minum air dari menara ini."


Dapi mengerutkan keningnya.


"Ayo. Percayalah. Ada bagian dari mimpimu seperti ini khan? Karena itulah kamu datang ke sini?"


Dapi mengangguk.


"Ambil air ini dengan kedua tanganmu, lalu minum langsung air Tirta Gangga dari telapak tanganmu," nyata Om Bagas.


"Cuma itu saja, Om."


" Yeah, Just it. Setelah itu kamu akan menemukan semua jawaban dari pertanyaanmu."


Dapi memandangi pria itu. Dia selalu tersenyum ke arah Dapi. Lalu pandangan Dapi mengarah ke Artha yang berdiri tegak di depan menara air. Pemuda itu mengangguk dan tersenyum kepadanya.


Kedua tangan Dapi bergerak menuju wadah dari menara air yang berada di urutan ke 8 dari atas. Dia sedikit mengangkat kedua tangannya ke atas, sejajar dengan lehernya. Mencelupkan kedua tangan itu ke wadah yang berbentuk seperti kelopak bunga melingkari batang menara air. Menenggelamkan kedua tangannya yang sudah terbuka, telapak tangan ke arah atas. Lalu meraup air yang ada di wadah itu dan mengangkat kembali secara perlahan. Air yang ada di kedua telapak tangannya di arahkan pelan ke mulutnya agar tidak banyak yang jatuh ke bawah.

__ADS_1


Dapi menghirup air itu secara perlahan - lahan. Setelah air itu habis di telapak tangannya, dia merasa panas di sekujur tubuh. Dia merasakan energi yang mengalir ke seluruh badan mengikuti aliran darah. Energi itu belum pernah dirasakan selama hidupnya. Otot - ototnya seakan bergerak maju membentuk daging baru. Dia mengangkat kepala, menjerit, membuka mulut dengan lebar mengarah ke langit. Dari mulutnya keluar cahaya putih yang melesat ke atas langit. Lurus. Bersamaan dengan itu, air yang berada di seluruh kolam Taman Wisata Tirta Gangga mencelat ke atas secara bersamaan membuat suara yang berdentum memecah hening malam yang penuh bintang.


*******


__ADS_2