
Ketiga makhluk yang diciptakan Tuhan sedang duduk di gazebo yang berada di tengah Taman Air Tirta Gangga. Mereka bertiga duduk di pinggir gazebo. Sekitar 10 langkah dari tempat mereka duduk, menara air di taman bersejarah, terlihat tak berhenti memuntahkan air yang jatuh dari atas menuju ke bawah. Air suci mengalir dari satu wadah yang berbentuk piringan seperti kelopak bunga yang melingkar di batang menara.
Artha berada di tengah, sedangkan Dapi berada di sebelah kanan Artha. Kinnara di sisi lain pemuda Pengendali Api. Mereka duduk bersantai di gazebo. Tapi otak mereka melanglang buana dengan pikiran masing-masing.
Cahaya matahari di sore ini yang mulai redup, menyinari bagian belakang gazebo tapi tidak mengenai punggung ketiga makhluk Tuhan itu.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Pi?"
Artha membuka pembicaraan setelah sekian lama mereka bertiga terdiam.
"Aku tak tau kak. Kita harus mencari Firman dan Kinnari."
Dapi duduk bersender di tiang sebelah kanan gazebo. Salah satu kakinya berlipat secara horizontal. Telapak kaki bertapak di lantai gazebo. Sedangkan kaki kirinya menjuntai ke bawah.
"Papa mengatakan bahwa kemungkinan Kinnara dan adikmu di bawa ke Jakarta oleh Big Boss. Atau mungkin ke tempat yang lain. Belum jelas keberadaan mereka. Tapi yang pasti, mereka tidak berada di Bali saat ini," jelas Artha.
"Benarkah?"
Kinnara yang bertanya, berusaha meyakinkan dirinya. Makhluk Setengah Burung menoleh ke Artha.
Artha mengangguk. Dia sedikit menggoyangkan kedua kakinya yang menjuntai ke tanah. Tapi tak sampai menyentuh tanah.
Dapi hanya terdiam. Dia memang sudah merasakan dengan intuisinya, bahwa Firman dan Artha tidak berada di Bali, saat ini.
"Jadi... apa yang harus kita lakukan, Kak?" tanya Kinnara. Makhluk yang berumur ratusan tahun tetap memanggil Artha dengan panggilan sopan. Dia meniru panggilan ke Artha seperti Dapi memanggil pemuda yang bertubuh kurus dan tinggi ini.
"Kita menunggu instruksi papaku. Mungkin... malam ini papa ke Bali. Kita akan ngobrol banyak dengan papaku."
Kinnara merebahkan tubuhnya di lantai gazebo secara perlahan. Kaki burungnya menjuntai ke bawah. Sejajar dengan kaki Artha. Kedua tangannya berlipat ke atas. Kedua telapak tangan bertumpuk dan tertindih oleh kepalanya. Telapak tangan dijadikan sebagai bantal. Kedua matanya menatap langit-langit gazebo yang terbuat dari ijuk.
"Sudah cukup lama aku tak bertemu dengan Kinnari. Sudah hampir 6 bulan semenjak mereka menculiknya. Entah apa kabarnya?" tanya Kinnara. Entah dengan siapa pertanyaan itu ditujukan.
"Secara fisik Kinnari baik-baik saja. Tapi secara mental, dia pasti tertekan. Kinnari dan adikku berada di bawah sihir Big Boss."
Kali ini Dapi berujar. Kedua tangannya menahan kaki yang menapak di lantai gazebo, membentuk lingkaran. Jari jemari saling mengait. Kedua tangan itu melingkar di bagian lutut.
Kinnara dengan cepat bangkit dari posisinya."Trus... apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Yang Mulia?" tanya Kinnara. Dia menoleh Dapi yang berada di sebelah Artha. Posisi pemuda yang dipanggil Yang Mulia oleh Kinnara, menghadap ke Artha. Pemuda itu duduk menyamping jika dilihat dari depan gazebo. Dia menyandarkan punggungnya di tiang.
"Kita tunggu Om Bagas memberikan instruksi."
Dapi berbicara tanpa menoleh Kinnara. Dia memandangi menara air yang berdiri dengan kokoh di tengah taman. Pandangan ke Menara Air, membuat kepalanya lurus ke sudut 45 derajat, sedangkan tubuhnya tetap menghadap Artha.
"Baru kali ini aku merasa kehilangan orang yang aku sayang. Baru sekali terjadi pada diriku selama ratusan tahun. Ternyata seperri ini sakit yang dirasakan oleh manusia." Kinnara berkata sambil membaringkan kembali tubuhnya. "Bertahun-tahun aku dan Kinnari bersama menjaga Pohon Kalpataru dan baru kali ini kami berpisah. Rasanya hidupku ada yang kurang. Seperti ada satu bagian yang hilang."
"Kau baru mengalami kehilangan satu orang yang kau sayang. Aku kehilangan orang yang sangat disayang sekaligus 3 dalam satu malam."
Benak Artha menjerit. Dia seakan ingin benar-benar mengatakan hal itu dengan jelas kepada Kinnara. Tapi dia hanya bisa menahan. Artha tertunduk.
Dapi hanya terdiam. Dia masih memalingkan kepalanya ke kanan, melihat menara air. Dia juga merasakan kehilangan Kinnari dan Firman. Kinnari sebagai cinta pertamanya. Firman sebagai adik yang sudah hidup dengannya sejak kecil.
"Karena itulah aku mengerti ketika Kak Artha menangis di pinggir Pantai Jarsi," celetuk Kinnara yang masih berbaring di lantai gazebo.
Artha menoleh dan langsung memukul paha Kinnara yang ada di samping kirinya.
Kinnara tersentak. Tubuhnya terangkat karena terkejut.
Dapi langsung menoleh. Dia melihat Artha memukul paha Kinnara.
"Menangis?"
"Ya."
Kinnara bangkit dari pembaringan. Gerakannya cepat.
Wajah Artha membelakangi Dapi. Artha menoleh ke arah Kinnara saat ini. Dia memberi kode dengan matanya kepada Kinnara. Sepertinya kode agar Kinnara tak bicara lagi. Dia sedikit memicingkan mata dan menggerakkan sedikit sudut bibirnya, ketika melihat Kinnara. Keningnya sengaja dikerutkan.
"Mengapa?" tanya Dapi keheranan.
Artha masih memberikan kode ke arah Kinnara. Matanya berkedip berulang kali.
Tapi sepertinya, Kinnara tak perduli dengan kode itu.
"Kak Artha menangis karena merasa akan kehilangan Yang Mulia selamanya ketika masuk ke dalam lubang hitam." Kinnara berbicara dengan wajah serius. Dia tidak meperdulikan wajah Artha yang menghadap ke mukanya.
Artha langsung tertunduk malu ketika Makhluk Setengah Burung melontarkan kalimat itu.
"Benarkah?"
Dapi langsung merubah posisi duduknya. Dia menggeser pantatnya mendekati Artha. Kali ini kedua kakinya berjuntai ke bawah. Posisinya berada di samping Artha. Sangat dekat. Bahkan sisi tubuh mereka bersentuhan. Dapi tersenyum dengan manja.
"Kampret Si Burung Tua ini."
Artha tersenyum getir. Dia masih tertunduk malu saat ini. Tak melihat lagi ke arah Kinnara.
"Kak... benarkah?"
Dapi bersikap manja. Dia sedikit menggoyangkan badannya ketika mengucapkan kalimat itu. Dia menoleh ke Artha. Mencari-cari muka Artha yang tertunduk.
Artha menepuk jidatnya sekali. Sedangkan tangan kirinya memukul kembali paha Kinnara dan meremas paha yang berbulu itu.
"Auh... apa salahku, Kak?" jerit Kinnara. Dia langsung bergeser menjauhi Artha. Syukur saja, bulu di kakinya tidak terlepas dan sangkut di tangan Artha.
Dapi tersenyum manja. Dia masih menatap lekat pemuda Pengendali Api dari samping. Dengan jelas, dia bisa melihat pemuda yang berbeda usia 2 tahun dengannya, salah tingkah.
Dapi merasa bangga ketika dia mengetahui kondisi Artha dari Kinnara. Ternyata pemuda yang baru dikenal, sangat perduli dengan dirinya. Dia bisa melihat telinga kiri Artha yang memerah karena malu. Senyum Dapi seakan tak ingin lepas dari bibirnya.
*******
"Keputusan ada di tanganmu, Dapi. Kamu sudah besar sekarang. Aji hanya memberikan nasehat dan menuntun kamu ke arah yang benar jika kamu salah."
Pria berkumis yang duduk di kursi kayu berujar dengan wajah yang serius. Dia juga mengucapkan kalimat itu dengan tegas.
Dapi terdiam. Pemuda yang sedang duduk di depan ayahnya, berpikir keras dengan keputusan yang akan diambil.
Di teras Bale Dauh. Di depan kamar Dapi, berkumpul 6 orang. 3 orang duduk di atas kursi. Sedangkan 3 orang lagi duduk bersila di lantai Bale Dauh.
__ADS_1
Ayah Dapi berada di tengah. Sedangkan ibunya berada di samping kiri. Sebelah kanan, duduk Om Bagas. Mereka bertiga sedang berhadapan ke arah 3 orang yang duduk di lantai. Salah satu dari orang itu adalah Makhluk Setengah Burung yaitu Kinnara. Saat ini, ketiga orang dewasa yang duduk di atas kursi sedang menunggu jawaban dari Dapi.
Artha, saat ini berada di tengah. Dapi di sebelah kanan Artha dan Kinnara berada di sisi lain dari Artha, di sebelah kiri. Mereka bertiga duduk bersila. Duduk dengan rapi dan menegakkan punggung mereka dengan gagah.
Baru setengah jam yang lalu, Om Bagas berteleportasi dari Jakarta. Kondisi di malam hari --baru saja lepas maghrib-- Om Bagas menapakkan kakinya di halaman depan Bale Dauh yang ber-icon Block. Ketika kedatangan Om Bagas yang memang sudah ditunggu oleh mereka bertiga yaitu Dapi, Artha dan Kinnara, dengan segera Dapi memanggil Ayah dan Ibunya. Om Bagas memang berencana untuk bertemu dengan ayah dan Ibu Pemuda Pengendali Air.
Sudah setengah jam mereka bercengkrama. Om Bagas menjelaskan kepada orang tua Dapi bahwa anak mereka yaitu Firman belom tahu keberadaannya sampai saat ini. Tapi yang pasti Firman sudah tidak berada di Bali lagi.
Om Bagas dan anggota perkumpulannya akan terus mencari Firman. Mereka akan berusaha sekuat mungkin.
Ayah Dapi menanggapi hal ini dengan tenang. Tapi, Ibu Dapi menangis ketika mendengar penjelasan dari pria yang bertubuh tegap.
Setelah menjelaskan strategi mengenai pencarian Firman dan Kinnara, Om Bagas menjelaskan lagi kepada Ayah dan Ibu Dapi bahwa dia ingin membawa Dapi ke Jakarta. Dapi akan bersekolah di sana dan berkumpul dengan para anggota yang akan direkrut. Sampai saat ini, termasuk Dapi dan Artha, sudah ada 5 orang yang telah menemukan kekuatannya. Satu orang yang berada di Jakarta masih dalam pengawasan mereka. Kekuatan pemuda ke enam, akan segera muncul.
Tentu saja, Ibu Dapi menangis kembali setelah mendengar permintaan pria yang bertubuh tegap itu. Dia merasa sedih akan kehilangan kedua anaknya. Tak akan bertemu lagi dengan mereka setiap hari. Dia berpikir, keberadaan anak bungsunya yang menghilang tak tahu dimana rimbanya, hal itu saja belum terpecahkan. Kini, anak sulungnya akan pergi meninggalkan mereka. Hal ini, tentu saja membuat hatinya terasa berat dan sedih. Anak sulungnya akan dibawa ke Jakarta. Pikirannya akan semakin kacau.
Namun, Ayah Dapi menjelaskan semuanya dengan bijaksana. Bahwa takdir anak mereka harus tetap dijalani. Semua manusia memiliki takdir masing-masing. Suatu saat, walapun anak kandung atau keluarga sendiri akan berpisah. Semua memiliki jalan masing-masing. Setidaknya, anak kandung mereka masih hidup dan suatu saat pasti akan kembali berkumpul bersama.
Dapi merasa sedih ketika melihat Ibunya menangis. Dia juga berat untuk meninggalkan Ibunya. Tapi, intuisinya berkata bahwa dia harus pergi ke Jakarta. Dia akan menemukan jati dirinya di sana dan juga menemukan Firman di dalam perjalanan hidup yang akan dilaluinya bersama ke tujuh pemuda yang akan direkrut.
Setelah lama berpikir, Dapi berkata, "Dapi sudah mendaftar di SMA di Amlapura. Jadi jika Dapi pindah ke Jakarta, maka tak bisa secepat itu. Mungkin semester depan Dapi baru bisa mengurus kepindahan sekolah ke Jakarta."
Dia mengangkat wajahnya dan berbicara dengan sopan dan sungguh-sungguh.
Ayah Dapi hanya terdiam.
Om Bagas yang berbicara.
"Ya. Tidak apa-apa. Yang penting kamu bisa pindah dan berkumpul dengan pemuda yang lain. Saat ini juga kami masih mengawasi salah satu anggota yang akan direkrut yang ada di Bali, jadi masih ada waktu untuk menunggu kepindahan Dapi ke Jakarta."
Om Bagas menjelaskan dengan perlahan tapi jelas.
"Di Bali? Seorang pemuda juga? Dimana?" tanya Ayah Dapi penasaran. Dia melihat ke arah pria di samping kanannya. Ibu Dapi juga melongok ke arah pria yang memakai baju serba hitam.
Ketiga orang yang duduk bersila di lantai hanya terdiam. Dapi sudah pernah mendengar soal ini. Anggota ke tujuh yang akan direkrut berada di Mangupura. Dapi mendengar cerita ini dari Artha.
Tapi, Kinnara baru tahu akan hal ini. Keningnya berkerut. Ada sesuatu yang terlintas di dalam pikirannya.
"Mangupura. Kabupaten Badung."
Om Bagas menjawab dengan sopan.
"Apa kekuatannya?" tanya Ayah Dapi dengan nada penasaran.
"Kami belum menemukan kekuatannya. Sepertinya juga dia belum ada tanda-tanda akan menemukan kekuatan. Saat ini usianya masih 14 tahun," jelas Om Bagas.
"Masih kecil? Sebaya Firman?" potong Ibu Dapi. Dia sedikit memajukan badannya.
Kinnara lagi-lagi mengerutkan keningnya. Wajahnya mencerminkan rasa penasaran yang sangat besar.
"Ya. Masih duduk di bangku SMP," jawab Om Bagas.
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau dia akan menjadi anggota ke tujuh?" tanya Ayah Dapi.
"Ketika dia lahir, 14 tahun yang lalu, saya mendapatkan sepotong bayangan tentang masa depan anak itu. Memori yang akan terjadi di masa depan, seperti ada yang sengaja mengirimkan ke saya, Bli. Beda ketika saya menemukan Dapi. Titisan Raja Karangasem menemui saya di dalam mimpi."
Kinnara dengan cepat mengeluarkan pertanyaan dari mulutnya," Seperti apa potongan memori itu, Om?"
"Mereka bertujuh berdiri di satu tempat yang luas dan penuh darah. Awalnya saya tidak mengenali mereka satu per satu. Hanya Artha yang saya kenal. Tapi setelah berjalan waktu dan berganti hari, akhirnya saya menemukan mereka satu per satu. Dan waktu yang memberitahu saya, siapa ke enam anak yang lain. Petunjuk-petunjuk untuk mendapatkan para pemuda ini, perlahan - perlahan terlihat dengan jelas. Termasuk anak laki-laki yang akan direkrut menjadi anggota ke tujuh."
Om Bagas menjelaskan hal itu tak tak hanya kepada Kinnara, tapi juga menjelaskan kepada Ayah dan Ibu Dapi.
"Om Bagas tau kekuatan anak itu?"
"Tidak...."
"Di dalam potongan memori, apakah terlihat kekuatan anak itu?" tanya Kinnara lagi penasaran.
"Tidak... ada apa?"
Om Bagas penasaran dengan serangan pertanyan Makhluk Setengah Burung.
Artha dan Dapi melihat ke arah Kinnara. Mereka menangkap sesuatu yang tidak beres dilihat dari gelagat teman seperjuangan mereka.
"Ah... tidak apa? Saya hanya bertanya."
Kinnara menangkis pertanyaan pria bertubuh besar dengan sopan. Dia tak mau menyatakan sesuatu yang belum pasti. Mungkin hanya teorinya saja.
Artha sebenarnya tak tahan ingin bertanya kepada Makhluk Setengah Burung tapi dia menahan aksi itu. Dia merasa segan dan merasa tidak sopan jika bertanya kepada Kinnara di depan ke tiga orang dewasa yang duduk di atas kursi.
"Dapi juga bisa mengambil sekolah yang disukainya di sana, Bli. Dapi akan saya arahkan sesuai dengan hobinya. Ada club tari modern yang sangat bagus di Jakarta. Mudah-mudahan dia berkembang di sana," nyata Om Bagas.
Ayah Dapi hanya mengangguk.
"Gimana, Pi? Keputusanmu sudah bulat?" tanya wanita yang duduk di sebelah kiri dari pria berkumis.
"Mudah-mudahan sudah, Biyang. Tapi Dapi akan mengurus seluruh berkas perpindahan setelah bersekolah satu semester di SMA Amlapura.
"Ya sudah, jika memang itu keputusan kamu."
Ibu Dapi mengucapkan kata itu dengan penuh keikhlasan. Dia harus mendukung keputusan anaknya.
Dapi mengangguk.
"Dan satu lagi, Bli. Sebelum pindah secara permanen, mungkin sesekali saya akan membawa Dapi ke Jakarta. Dan saya berjanji tidak akan menganggu sekolahnya. Maksudnya, agar dia bisa bersosialisasi dengan lingkungan di Jakarta dan dengan tim kami di Jakarta. Boleh kan, Bli?" pinta Om Bagas dengan sopan.
"Ya. Tidak apa-apa."
Ayah Dapi menyetujui hal itu. Dia juga memberi jawaban dari pertanyaan Om Bagas dengan sopan.
Ke enam orang yang berada di teras Bale Dauh bercengkrama dengan penuh keseriusan. Ketiga orang tua berusaha memberikan contoh yang baik dari perkataan dan perilaku kepada anak-anak mereka. Sedangkan Artha dan Dapi mendengarkan cerita orang tua mereka dengan penuh perhatian. Kinnara yang sudah berumur ratusan tahun sedang termenung, menatap ketiga orang tua yang jauh umurnya dibandingkan dirinya. Tapi dia tetap berlaku sopan. Karena takdir dirinya dan Kinnari akan menjadi pemuda dan selamanya. Abadi menjadi seorang anak muda.
Artha melirik Makhluk Setengah Burung. Dia merasa penasaran dengan isi yang ada di otak makhluk yang bernama Kinnara saat ini.
*******
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, Rung?"
Artha akhirnya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ditahan nya.
Dapi menoleh dan mendekat ke Artha dan Kinnara yang sedang berdiri di halaman rumah di depan Bale Dauh. Mereka sengaja menjauh dari ketiga orang dewasa yang sedang bercengkrama di teras Bale Dauh.
"Kak, aku merasa anak kecil yang menolongku pada saat bertempur dengan Ratna dan Dayu adalah anggota ke tujuh yang akan direkrut oleh papamu."
Kinnara berusaha menjelaskan dengan Artha secara perlahan. Dia tak ingin Om Bagas mendengar pembicaraan mereka.
Dapi mendekat. Berusaha menyimak pembicaraan mereka berdua.
"Ah... tidak mungkin. Papa bilang anak kecil yang masih SMP itu belum memiliki kekuatan. Apalagi ketika aku mendengar dari ceritamu, bro... kekuatan makhluk yang menolong kamu dan menolong Dapi keluar dari lubang hitam, itu sangat dahsyat. Hanya orang dewasa yang bisa melakukan itu. Ilmu makhluk itu selevel papa atau Big Boss."
Jelas Artha dengan penuh semangat. Dia meracau dengan cepat.
Dapi hanya terdiam.
"Tapi Kak Artha... pada saat pertarungan dengan Ratna dan Dayu, hanya dia yang berada di tempat itu. Walaupun aku tak tahu bagaimana dia melukai mereka berdua? Dan apa yang dilakukannya terhadap mereka? Tapi aku yakin bahwa anak itulah yang mengalahkan Ratna dan Dayu. Apalagi anak kecil itu bertanya kepadaku tentang Dapi. Dia mengorek informasi tentang Dapi lebih dalam. Aku semakin menduga bahwa dia adalah member ke tujuh."
Kinnara berusaha meyakinkan Artha.
Artha terdiam. Dia tidak bisa menyangkal Kinnara karena dia yang mengalami kejadian itu. Tapi... Artha melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika diajak oleh papanya melihat anak laki-laki itu setahun yang lalu. Mereka mengawasi anak laki-laki itu dari jauh dan memang dia belum memiliki kekuatan sama sekali. Papanya juga memiliki indra ke enam yang sangat tajam.
"Masa sih papa tidak bisa membaca kekuatan anak laki-laki itu jika memang ada," gumam Artha.
Dapi hanya terdiam. Dia hanya mendengarkan mereka berbicara. Dapi juga penasaran dengan anak laki-laki yang mengirek informasi tentang dirinya dari Kinnara.
"Aku akan mencari tahu tentang anak laki-laki itu. Semampuku, Kak."
Kinnara melontarkan kalimat penawaran. Kalimat itu sengaja dilontarkan Kinnara karena sudah melihat Om Bagas bergerak turun dari teras Bale Dauh.
Artha mengangguk.
"Ayo, Artha. Kamu sudah siap untuk pulang. Adikmu merindukanmu. Sudah hampir sebulan kamu di Bali. Syukur saja kuliahmu libur saat ini," nyata Om Bagas setelah mendekati mereka bertiga.
Ayah Dapi mengikuti pria bertubuh tegap dari belakang. Sedangkan Ibu Dapi berdiri di teras Bale Dauh.
Artha mengangguk.
"Pi, nanti kita saling memberi kabar ya? Bulan depan sepertinya kamu bakal ke Jakarta. Aku mau menunjukkan sesuatu ke kamu di Jakarta nanti."
Artha tersenyum ketika mengatakan itu.
Dapi mengangguk.
"Kinnara... kamu kembali menjaga Pohon Kalpataru semampu kamu. Kami terus mencari informasi kembaranmu. Kami pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti."
Om Bagas menyatakan kalimat itu untuk Makhluk Setengah Burung.
Kinnara mengangguk. Dia mengeluarkan senyum yang getir. Dia masih mengingat kembarannya yang belum ditemukan.
"Oke. Bli, kami kembali ke Jakarta. Jaga kesehatan, Bli."
Om Bagas berkata kepada Ayah Dapi yang berada di belakangnya.
"Ya. Terima kasih. Papa Artha juga jaga kesehatan," balas Ayah dapi.
"Dapi, kamu jaga kesehatan dan keeping touch ya dengan Artha."
"Iya, Om."
Dapi memberikan senyum terbaik. "Hati - hati, Om. Hati-hati, Kak."
Pemuda itu menundukkan kepalanya beberapa kali.
Artha tersenyum.
Om Bagas mengangguk. Wajahnya sangat berwibawa.
Artha melihat ke arah ayahnya yang telah berada di samping. Pemuda Pengendali Api itu mengangguk. Dia kemudian menggenggam tangan ayahnya dengan erat. Tangan kanannya melambai ke arah Dapi dan Kinnara.
Wuuush...
Mereka berdua hilang dari hadapan Dapi, Kinnara dan Ayah Dapi. Hanya meninggalkan angin yang sedikit menyibak baju mereka bertiga. Hening.
"Saya pamit juga, Yang Mulia."
Kinnara membungkukkan badannya ke arah Ayah Dapi.
"Yang Mulia."
Kemudian membungkuk sekali lagi ke arah Dapi.
Dapi memukul lengan Kinnara sambil tersenyum.
"Sampai jumpa lagi."
Dapi sedikit tertawa ketika mengucapkan kalimat itu.
Kinnara tersenyum.
"Yang Mulia tahu bagaimana cara memanggilku."
Dia berbicara sedikit tidak formal dengan Dapi karena sudah merasa dekat.
Dapi mengangguk.
"Sekali lagi, saya mohon izin, Yang Mulia."
Kinnara kembali membungkuk ke arah pria yang berkumis.
Kinnara melompat ke atas. Sekali. Setelah mengambang, terdengar suara benda terkepak di ruang kosong. Kinnara mengembangkan sayap putihnya. Mengepakkan beberapa kali dan mengambang sebentar di udara. Tak berapa lama, wujud Makhluk Setengah Burung memudar dan berkamuflase dengan lingkungan sekitar.
Kasat mata hanya bisa melihat langit yang penuh bintang di atas sana. Tapi Dapi tahu jika Kinnara masih berada di atas dan mengambang, bersiap untuk terbang dan melesat. Kepakan kedua sayapnya meninggalkan angin yang menyapu udara. Dapi merasakan itu. Pemuda Pengendali Air tersenyum. Temannya telah pergi, walaupun misi mereka belum selesai. Suatu saat mereka akan bertemu kembali.
__ADS_1
*******