Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Promise : Ep. 7


__ADS_3

Sepeda motor berwarna biru melesat dengan kecepatan 60 km/jam. Dapi mengendarai sepeda motor itu dan dibelakangnya ada Artha yang dibonceng.


Mereka dalam perjalanan menuju tempat wisata Charly's Chocolate Factory. Tempat itu berada di pinggiran Pantai Jasri, 6 km dari Amlapura, kediaman Dapi.


Sekitar jam 4 sore, Dapi menjemput Artha di penginapannya yang berada di sekitar Amlapura. Dia belum pulang ke Jakarta, tapi papanya sudah di Jakarta dengan sekejap mata berteleportasi.


Sekitar jam 5 shubuh tadi pagi, Dapi pulang ke rumahnya. Setelah sholat shubuh dia mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat letih karena latihan pertama yang di dapatnya dari Om Bagas. Siang hari dia bangun dan bergegas untuk pergi kembali dan menjemput Artha. Mereka akan pergi ke Pantai Jasri setelah Ashar nanti. Itulah yang direncanakan dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat itu.


Artha akan mengajari Dapi untuk melatih ilmu dan kekuatannya, jadi Artha menyarankan kepada Dapi untuk mengunjungi tempat di pinggir Pantai Jasri agar bisa melatih ilmu mengendalikan air yang dimiliki. Oleh karena itu, Dapi memilih Pantai Jasri sebagai tempat latihan nanti malam. Ya. Mereka berencana untuk menginap di daerah Pantai Jasri dan Charly's Chocolate Factory menjadi tempat pilihan Dapi.


Sekitar 15 menit perjalanan dari Amlapura menggunakan sepeda motor, untuk mencapai daerah tujuan, mereka memasuki kawasan yang ditanami pohon - pohon kelapa di sekeliling. Sekitar 2 km dari jalan beraspal, mereka masuk ke jalan tanah yang di kiri kanan hanya terdapat pohon - pohon kelapa dan rerumputan. Daerah itu sangat jauh dan terpencil dari jalan utama. Mereka menelusuri jalan yang belum beraspal, menuju pinggir dari Bali Bagian Timur yaitu menuju Pantai Jasri.


Mereka sampai di tempat yang dituju. Tak ada bangunan atau monumen yang berciri khas Bali di sini seperti patung atau stupa atau yang lainnya. Tempat ini sangat natural. Banyak pohon kelapa dan rerumputan. Ada  beberapa rumah unik terbuat dari bambu.


Mereka masuk ke kawasan Charly's Chocolate Factory. Mereka memarkirkan sepeda motor di sekitar kawasan itu. Tempat itu tidak terlalu luas, mungkin sekitar 4 rante. Ada beberapa tempat yang menarik di kawasan itu.


Pertama adalah rumah yang terbuat dari bambu. Ada 4 rumah unik yang sengaja dibuat oleh pemilik, bahan utamanya dari bambu. Bangunan itu berbentuk rumah yang unik. Dimana bentuk atapnya mengerucut ke atas setinggi 6 meter, semuanya terbuat dari bambu. Tinggi rumah itu sekitar 10 meter. Lalu di depannya dibuat pintu masuk yang engsel pintu itu berada di tengah, jadi daun pintu ketika terbuka berada di tengah. Pengunjung yang masuk ke dalam atau keluar, otomatis bisa terpisah oleh pintu tersebut. Bagian kiri sebagai pintu masuk, sedangkan bagian kanan sebagai pintu keluar. Dan uniknya, pintu itu berbentuk setengah lingkaran seperti rumah hobit. Lorong yang terbentuk karena daun pintu terbuka di tengah, hanya bisa dilewati oleh satu orang saja. Tidak bisa masuk secara bersamaan. Tapi lubang satunya lagi bisa digunakan untuk pengunjung yang ingin keluar.


Ada juga beberapa rumah terbuat dari bambu dan beratap ijuk. Desain rumah ini juga unik, tapi bentuknya seperti rumah biasa berbentuk kotak. Sepertinya, rumah itu dipakai oleh pemilik tempat ini.


Kedua adalah rumah yang terbuat dari kayu yang berbentuk kapal. Rumah ini sengaja dibuat di bibir pantai. Rumah yang 100 persen terbuat dari kayu dan memang benar - benar seperti kapal, dibuat 2 tingkat dan ada satu tingkat kecil di ujung kepala kapal seperti anjungan kapal. Jadi para pengunjung bisa melihat keindahan laut lepas di atas rumah yang seperti kapal sedang berlabuh di sini.


Ketiga adalah ayunan tradisional yang dibuat untuk pengunjung. Ada 3 ayunan yang tali - talinya diikatkan ke pohon kelapa kanan dan kiri. Memang kawasan ini sangat banyak pohon kelapa, keasriannya masih tetap terjaga. Ayunan itu dipakai oleh pengunjung untuk bersantai dan menatap laut lepas.


Dapi meletakkan helm berwarna biru yang dipakai ke dalam bagasi sepeda motor. Lalu dia meminta helm yang dipakai Artha supaya bisa disangkutkan helm tersebut di stang sepeda motor Vario birunya. Lalu dia juga meminta kepada Artha tas hitam besar dan panjang yang dibawanya dari penginapan.


Dapi memakai celana pendek berwarna hitam dengan atasan baju kaos berwarna putih. Baju kaos itu dilapisi kemeja berwarna biru muda. Di kepalanya dia memakai topi baseball cap berwarna biru, sedikit tua dari warna bajunya. Alas kakinya hanya memakai sendal. Sederhana tapi dia kelihatan seperti anak - anak yang ingin bermain ke pantai. Sangat imut.


Sedangkan Artha hanya memakai celana pendek berwarna coklat dan baju kaos lengan pendek berwarna krim. Dia juga memakai topi baseball cap di kepalanya, tapi berwarna hitam. Kakinya hanya memakai sendal bertali biru muda.


Matahari sore sudah terlihat menjauh di balik pepohonan kelapa. Hanya tersirat sedikit sinarnya menerpa rumah - rumah yang ada di situ.


Sore ini mereka ingin berkeliling di kawasan Charly's Chocolate Factory. Pemilik tempat ini berkebangsaan Amerika. Dia memutuskan untuk menyewa lahan ini dan berinvestasi di sini.

__ADS_1


Sore ini lumayan banyak pengunjung, tapi sepertinya sudah banyak yang akan pulang. Dapi dan Artha masuk ke satu rumah yang terbuat dari bambu lalu mereka melihat ke dalam. Di dalam ada elatase yang menampilkan beberapa macam produk yang terbuat dari coklat. Jadi, ruangan ini seperti galeri coklat yang bisa dikunjungi oleh pengunjung. Di salah satu bangunan terbuat dari bambu itu, biasanya ada pembicara yang memperkenalkan produk yang bernuansa coklat kepada pengunjung. Tapi sekarang ini tidak ada lagi, mungkin dia berdemo hanya di siang hari. Jadi Dapi dan Artha hanya melihat - lihat etalase yang berjejer di dalam bangunan itu.


Lalu mereka berpindah ke rumah terbuat dari bambu dengan bentuk sama, yang berada di samping rumah  tadi. Ternyata rumah dari bambu yang lebih kecil dari yang satunya merupakan bar untuk pembuatan minuman. Tempat ini menyediakan minuman yang bernuansa coklat. Sedangkan 2 rumah yang terbuat dari bambu dan berbentuk kerucut itu, berjarak 10 meter dari rumah yang mereka kunjungi sekarang, merupakan tempat pembuatan coklat. Tapi Dapi dan Artha tak ingin melihat ke sana.


Mereka hanya berkeliling sebentar, masuk ke beberapa rumah, lalu duduk di kursi di depan rumah bambu itu. Tempat duduk yang cukup unik, terbuat dari batangan kayu tanpa ada sandaran. Batang kayu itu dipernis dengan baik sehingga warna coklat yang mengkilat membuat kesan bangku itu mewah. Begitu juga dengan mejanya.


Mereka bisa memesan makanan dan minuman yang bernuansa coklat di tempat ini.


"Kak Artha mau pesan apa?" tanya Dapi.


"Sepertinya, aku pengen minum coklat panas," nyata Artha yang duduk di samping Dapi.


"Coklat panas?"


"Ya."


"Makan apa kak?"


"Oke. Aku antar pesanannya ya. Wait."


Dapi berjalan menuju rumah bambu yang dijadikan bar dan tak berapa lama diapun keluar dan kembali duduk di kursi semula.


"Kapan kakak balik ke Jakarta?"


"Mungkin lusa. Papa yang akan menjemput. Kalau ada papa aku tak harus naik pesawat pulang ke Jakarta."


Dapi mengerti maksud dari ucapan Artha.


"Kakak belum bisa berteleportasi?"


"Belum. Itu hal yang paling sulit untuk dilakukan, apalagi berteleportasi seperti papa, ribuan kilometer bahkan ratus ribuan."


"Hmmm..... Gampang ya kak, kalau sudah punya ilmu seperti Om Bagas," nyata Dapi.

__ADS_1


"Semuanya butuh proses."


"Ya."


"Nanti malam kita nginap dimana?" tanya Artha.


"Di sebelah lingkungan ini, ada teman ayahku kak. Jadi setelah maghrib nanti kita ke sana."


"Oh. Ntar malam aku yang mengamankan tempat membuat Invisible Cicle."


"Ya. Itu harus."


Dapi melihat ke sekeliling tempat itu. "Kita memang tak boleh diketahui orang khan?" Zaman ini tidak seperti zaman di kehidupanku yang dulu. Zaman sekarang, orang - orang yang memiliki kekuatan harus bersembunyi agar bisa bertahan hidup."


Pandangan Dapi sekarang menuju laut lepas di depan mereka.


"Benar. Jika ketauan, teknologi akan membasmi kita dan keluarga," sambung Artha.


"Banyak orang yang hidup dengan ego, keserakahan dan kemunafikan di zaman ini, karena itulah dunia semakin ringkih dan hancur."


"Mengapa kita berbicara seperti orang tua, kak. Padahal usia kita belum 20 tahun," celetuk Dapi. Dia tertawa lebar. Matanya menyipit.


"Umur kamu sudah 400 tahun," nyata Artha dengan wajah polos. Dia tersenyum lalu mengambil gelas berisi coklat panas yang sudah di antar oleh pelayan.


Dapi tertawa. Dia mengerti maksud Artha dengan ucapan itu, karena dia adalah titisan dari Raja Karangasem yang pertama.


Sore ini, mereka duduk santai di pinggir pantai, di kursi yang unik di depan rumah bambu. Dapi bercerita banyak tentang masa kecil dan juga bercerita tentang penculikan adiknya. Dia berusaha untuk mencari adiknya yang hilang beberapa minggu lalu. Dia juga bercerita tentang kondisi ibu dan ayahnya setelah musibah itu terjadi. Dia berusaha untuk mencari adiknya tapi pihak kepolisian belum bisa memecahkan kasus itu. Dia tak tahu lagi cara apa yang harus ditempuh, tapi dengan adanya kekuatan ini, maka dia bisa bergerak sendiri.


Artha mendengarkan pemuda yang baru dikenalnya semalam dengan baik, tapi sebenarnya selama ini Om Bagas sudah sering membahas tentang keberadaan Dapi dan perekrutan yang akan dilakukan oleh mereka terhadap Dapi. Dapi adalah orang kelima yang akan bergabung dengan tim mereka termasuk Artha berada di dalam tim itu.


Semilir angin sore di daerah Pantai Jasri, menghembuskan udara segar dari laut lepas yang ada di depan mereka. Angin itu menyejukkan dua manusia yang akan menjadi orang hebat nanti. Mereka akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memulihkan dunia dari segala macam kejahatan yang merajalela.


******

__ADS_1


__ADS_2