
Wuush...
Artha langsung berlari ketika mengijakkan kaki pertama kali di aspal Tukad Bangke. Gelagatnya mencari - cari sesuatu dengan perasaan cemas. Dia melihat ke sekeliling, berlari kecil ke sana kemari dan berputar.
"Kita terlambat...."
Yang berkata adalah seorang pria bertubuh besar, berdiri tegak di posisi pertigaan jalan di Tukad Bangke.
"Tidak... jangan berkata seperti itu, Pa... jangan...."
Artha berbicara pelan menjawab pernyataan dari pria yang berdiri tak jauh darinya. Dia masih berlari kecil ke sana kemari, mencari sesuatu dan berharap menemukan yang dicari.
"Artha... maafkan papa. Papa tak menyadari semua ini bisa terjadi. Selama ini Dapi bisa menyelesaikan masalah sendiri dan dia selalu cerita denganmu tentang masalahnya. Jadi Papa tak fokus kepadanya. Sekali lagi maafkan papa. Kita sudah terlambat, Nak."
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh pria yang bertubuh besar tak lain adalah papanya yaitu Bagas Wicaksana, pemuda yang berbadan kurus menjatuhkan setengah tubuh ke aspal dengan pelan. Dia berlutut di aspal jalan di Tukad Bangke. Tubuhnya yang sekarang setengah berdiri, tertunduk menatap aspal jalan.
Pemuda yang menyandang anak dan wadah anak panah di punggung, memasang wajah yang murung. Dia tertunduk beberapa lama. Kedua tangan terjurai lemas, menyesali yang telah terjadi dengan Dapi.
Beberapa jam yang lalu, Artha mendapatkan suatu pemberitahuan yang masuk ke dalam pikiran seperti telepati dari seseorang yang tak dikenal. Pada saat kejadian, dia sedang mengintai anggota ke enam yang akan direkrut, di Jakarta. Ketika dia sedang mengintai di sebuah pohon besar, tiba - tiba ada bayangan yang masuk ke dalam otak, memperlihatkan potongan - potongan pertempuran Dapi dengan Big Boss.
__ADS_1
Awalnya dia merasa potongan bayangan dari pikirannya hanya sekedar halusinasi, karena dia baru mengalami hal seperti itu pertama sekali. Tapi... bayangan yang menampilkan pertempuran di otaknya yaitu pemuda yang berada di Bali, terpojok berulang kali dibuat oleh musuh, masuk ke dalam pikiran berkali - kali.
Dia bergegas menghubungi ayahnya yang lagi di New Zealand dan meminta untuk mengantarkannya ke Bali menemui Dapi.
Pada saat Artha menghubungi ayahnya, di New Zealand sudah pagi, Om Bagas Wicaksana meminta waktu setengah jam untuk bersiap - siap. Karena pria itu berpikir permintaan Artha untuk bertemu dengan Dapi, bukan hal yang mendesak maka dia dalam kondisi santai pada saat itu. Setelah selesai mempersiapkan diri dari rutinitas pagi hari, dia berteleportasi ke Jakarta -- masih pukul 02.00 Wib di Jakarta, karena ada perbedaan waktu 5 jam mundur dari New Zealand ke Jakarta-- selanjutnya akan mengantar Artha ke Bali, tentu saja dengan berteleportasi juga. Pria yang memiliki ilmu teleportasi yang sangat lihai, berpikir bahwa pertemuan Artha dan Dapi hanya sekedar pertemuan seperti biasa, mungkin hanya ingin berdiskusi mengenai masalah penculikan adiknya.
Ketika ayahnya bertemu dengan Artha di pohon besar di depan rumah anggota ke enam yang akan direkrut dan menceritakan mengenai bayangan yang masuk ke pemikirannya saat ini, pria yang berbadan besar itu langsung berteleportasi bersama Artha ke Bali tanpa basa - basi. Ayahnya merasakan hawa mistis yang besar ketika membaca pikiran Artha. Ternyata, bayangan Artha mengenai Dapi adalah hal yang sedang berlangsung saat ini. Mereka berdua berteleportasi ke lokasi yang ada di dalam bayangan Artha.
Sekarang, mereka berdiri di Tukad Bangke tapi mereka tak menemui apapun. Hanya gelap malam yang pekat di Pulau Bali, tersisa hawa mistis yang baru saja pergi dari tempat yang masih bisa dirasakan oleh Om Bagas.
Kini, Artha menitikkan air mata. Butiran bening mengalir di pipi, lalu jatuh ke aspal jalan di tempat dia berlutut. Dia mengingat potongan bayangan yang terakhir masuk ke pikirannya --Dapi sedang berjuang di depan lubang hitam, berada di atas tubuhnya yang melayang secara mendatar. Tubuh pemuda yang sudah tak berdaya dengan begitu banyak luka, akan dimasukkan ke dalam lubang hitam yang menganga lebar-- terlintas kembali.
Pemuda yang sangat sedih terlihat dari wajahnya yang sembab, mengambil anak panah yang berada di punggung. Di memasang anak panah ke busur, lalu merentangkan busur lurus ke langit. Dia melesatkan anak panah dengan sekuat tenaga. Ketika anak panah melesat ke langit, pemuda yang memiliki rambut lurus dan menutupi kening, menjerit panjang sekuatnya. Kepalanya menegadah ke atas. Dia melampiaskan kekesalan melalui anak panah yang melesat cepat ke langit. Air mata jatuh dari sudut mata menuju telinga. Rasa sedih di hatinya tak tertahan.
Dari ujung anak panah yang melesat, keluar wujud naga api yang sangat besar. Wujud naga api berwarna merah menembus gelap malam, melesat dengan kecepatan tinggi dan hilang di angkasa. Langit yang menampilkan Bulan Sabit dan penuh bintang malam ini menjadi saksi akan kekesalan yang dirasakan karena terlambat menolong Dapi yaitu seorang pemuda yang sering membuatnya tertawa, baru dikenal beberapa bulan terakhir, namun sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri.
Om Bagas Wicaksana hanya berdiri, diam tak berkutik dari tempat semula. Dia membiarkan anak laki - laki yang dirawat dari umur 3 tahun, melampiaskan emosi di jiwa. Dia juga sangat menyesal dengan kehilangan seorang anggota yang akan direkrut untuk melawan Big Boss di kemudian hari.
*******
__ADS_1
- 06 Juli 2011 -
Kinnara tertegun memandang Pantai Jarsi di pagi hari ini. Dia menatap matahari yang keluar dari persembunyian, jauh di laut lepas dari Pantai Jarsi.
Makhluk Setengah Burung telah mendengar penjelasan Artha tentang pertempuran Dapi dan Big Boss tadi malam. Dia juga tak tahu tentang hal itu. Biasanya dia selalu dipanggil oleh Dapi jika ada hal yang sangat mendesak. Tapi... tadi malam Dapi tak ada memanggilnya.
Kinnara menoleh ke arah Artha yang duduk di samping kiri. Dia melihat wajah pemuda dari Jakarta yang sembab. Sepertinya dia menangis terus tadi malam karena merasa bersalah kehilangan teman mereka.
"Maafkan aku, Kak Artha, aku tak bisa menjaga yang mulia dengan baik."
Kinnara mengucapkan kalimat itu dengan sungguh - sungguh. Dia juga merasa kehilangan Dapi.
Kinnara masih memandang Artha yang berada di samping. Pemuda yang berkulit putih tak beraksi sama sekali. Dia hanya memandang matahari pagi yang perlahan - lahan naik di ujung laut lepas.
Kinnara kembali memalingkan wajah ke depan. Dia telah berjanji kepada Artha untuk menemani pemuda itu selama berada di Bali. Rencananya, Artha akan mencari cara untuk mengeluarkan Dapi dari lubang hitam yang diciptakan oleh Big Boss.
Makhluk Setengah Burung tak ingin mengganggu pemuda yang duduk di sampingnya. Dia ikut tenggelam dalam suasana sedih yang tercipta di pagi hari ini.
"Tuhan... belum lagi aku selesai mencari kembaranku, mengapa kami ditimpa lagi dengan masalah kehilangan Yang Mulia. Beri kami petunjuk, Tuhan."
__ADS_1
Pagi ini, di Pantai Jarsi terlihat sepi pengunjung karena masyarakat Bali sedang sibuk beribadah dan berkumpul dengan keluarga karena hari ini adalah Hari Raya Galungan yang dirayakan 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali.
*******