Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Filter : Ep. 26


__ADS_3

Anak laki-laki yang memakai baju serba hitam melihat pertempuran yang sangat tak seimbang di hadapannya. Dia bersembunyi di balik batu besar di kawasan lereng gunung. melihat Makhluk Setengah Burung mencelat ke udara terkena kibasan ekor ular sihir berbentuk awan hitam pekat. Kedua mata anak laki-laki yang bersembunyi di balik batu menatap dengan tajam. Mulutnya sedikit  terbuka ketika menyaksikan kejadian yang di depan mata. Otaknya berpikir. Dia bergegas mengambil benda yang berada di selipan pinggang yang sudah disiapkan. Kini... ada dua tangkai batang beserta bunga di tangan kanan.


 


 


Dia menoleh kembali ketika makhluk ular yang lain -sepertinya betina, karena lebih agresif- melibas Makhluk Setengah Burung. Kali ini, mata anak laki-laki itu terlihat sedih, walaupun dia masih menyaksikan kejadian itu dengan bola matanya yang besar.


 


 


"Kau mencium sesuatu?" tanya seorang wanita kepada pria di sampingnya. Sepertinya mereka pasangan suami istri terlihat dari corak baju yang mereka kenakan sangat serupa.


 


 


Pria yang ditanya tertegun. Dia tak berkata apa-apa tapi fokus kembali untuk menyerang lawan yang sudah tak berdaya.


 


 


Ketika kata terakhir diucapkan oleh wanita yang mengendalikan ular betina. Anak laki-laki itu berlari dengan sangat cepat. Menancapkan batangan bunga berwarna putih ke leher pasutri yang mengendalikan ular sihir. Kemudian berlari menangkap kecapi yang melayang di udara, meletakkan kecapi di atas batu besar dan menangkap Makhluk Setengah Burung yang sudah sangat menderita, tentu saja masih di udara. Lalu dia kembali ke tempat persembunyian awal. Semua itu dilakukannya hanya dalam waktu dua detik.


 


 


Detak jantung anak laki-laki itu sangat kencang. Baru kali ini dia melukai seseorang dengan menggunakan kekuatannya. Berusaha untuk menstabilkan jantung dan mengatur nafas. Dia melihat pasangan pasutri yang tersungkur, berlutut memegangi leher. Darah mengucur dari leher bagian samping. Sihir awan hitam yang berbentuk ular sudah tidak ada lagi. Lenyap.


 


 


Pria dari pasangan itu berusaha bangkit dan merangkul istrinya, setelah dia mencabut batang bunga berwarna putih yang tertancap di leher. Mengangkat tangan perempuan yang tersungkur agar melingkari badannya. Memaksa tubuh wanita itu agar terangkat dan berjalan masuk ke dalam hutan. Mereka tidak bisa mengandalkan ilmu hitam lagi, bahkan hanya untuk melompat dan pergi dengan ilmu meringankan tubuh pun tak bisa. Pasutri itu berjalan terseok-seok masuk ke dalam hutan.


 


 


Anak laki-laki yang memiliki bibir tipis di bagian atas dan tak terlalu tebal di bagian bawah, melihat ke arah Makhluk Setengah Burung. Burung jantan itu terduduk di atas batu besar.  Bengong. Mulutnya menganga. Matanya melihat gerakan kedua lawan yang terseok-seok berjalan menuju hutan.


 


 


"Apa yang telah terjadi?"


 

__ADS_1


 


Anak laki - laki yang bersembunyi di balik batu besar, masih mendengar Makhluk Setengah Burung mengatakan kalimat itu.


 


 


*******


 


 


HIKMA ANDAPI. PENGENDALI AIR. TITISAN RAJA PERTAMA KARANGASEM.


 


 


Kalimat itu ditulis oleh seorang anak laki-laki yang sedang duduk di meja belajar. Dia tersenyum kecil. Sepertinya dia merasa bahagia karena menemukan jawaban tentang apa yang dicari.


 


 


Anak laki-laki yang memiliki rambut hitam dan lurus menutupi kening, mengangkat kertas yang tertoreh wajah seseorang yang menyelamatkan dirinya di Pantai Kuta beberapa bulan yang lalu.


 


 


 


 


Kalimat itu terlintas dipikirannya sambil mengangkat kertas yang merupakan gambar potongan wajah Hikma Andapi, titisan Raja Pertama Karangasem. Dia mengangkat kertas itu tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Kepalanya menatap ke atas dan bersandar pada punggung kursi. Sekali lagi dirinya tersenyum.


 


 


Informasi tentang Hikma Andapi didapat dari Manusia Setengah Burung yang sudah diselamatkan dari aksi brutal pasutri yang memiliki kekuatan sihir.


 


 


Awalnya, dia susah untuk berkomunkasi dengan makhluk yang menurutnya aneh, karena makhluk itu sangat ketakutan, tapi ketika dia menjelaskan bahwa dialah yang menolong dirinya dari pasutri yang menyerang tadi, barulah Makhluk Setengah Burung bisa diajak berkomunikasi.


 

__ADS_1


 


Sebenarnya, dirinya juga tak pintar untuk berkomunikasi dengan makhkuk lain karena dia adalah seorang anak yang masuk dalam kategori pemalu dan pendiam. Tapi dirinya memberanikan diri untuk bertanya agar rasa penasaran dan teka-teki yang dicari terjawab.


 


 


Makhluk Setengah Burung yang diketahui bernama Kinnara setelah berkenalan, memberikan informasi yang diinginkan. Kinnara menjelaskan mengenai Hikma Andapi dan asal-usul pemuda yang dicari sesuai keinginan anak laki-laki yang memiliki hidung yang mancung dan berbatang tinggi. Tentu saja banyak informasi yang digali dari Kinnara mengenai seseorang yang bernama Hikma Andapi, termasuk ilmu dan kekuatan pemuda itu. Untuk memancing cerita Kinnara, anak laki-laki itu menjelaskan dengan jujur mengenai mimpinya selama beberapa tahun ini.


 


 


Kinnara mendengarkan dengan baik dan dia juga memberitahukan bawah pernah bertemu dengan Artha -pemuda yang berasal dari Jakarta- beberapa kali. Hal ini disampaikan Kinnara karena anak laki-laki itu menyinggung mengenai seorang pemuda Pengendali Api dan ahli dalam memanah dalam lukisanya. Dia tersenyum puas ketika mendengar informasi yang lebih dari Kinnara.


 


 


"Aku akan menemukan kalian semua, hanya waktu yang bisa menjawab teka-teki ini. Aku sudah cukup sabar menunggu selama lima tahun."


 


 


Anak laki-laki yang duduk bersandar di kursi berbicara sendiri dengan pelan. Meletakkan kertas yang bergambar kepala seseorang yang menyelamatkan dirinya di Pantai Kuta. Berdiri dan mematikan lampu di meja belajar. Tubuh yang kurus dan tinggi dibawa menuju tempat tidur, tak jauh dari meja belajar. Dia merebahkan badannya dengan posisi telungkup. Bantal itu berusaha menjadi pengganjal wajah dan dada agar tak bersentuhan langsung dengan tempat tidur.


 


 


"Hebat Panca. Aku yakin kamu bisa melalui ini semua."


 


 


Anak laki-laki itu berbisik kembali. Dia tersenyum. Kalimat itu diutarakan untuk diri sendiri.


 


 


*******


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2