
Cahaya berkelebat secepat kilat bergerak ke sana kemari seperti bola ping pong yang menghantam ruangan tertutup. Bola ping pong yang seolah seperti terpental setelah menabrak dinding dan membentur dinding di sisi lain dan terpental kembali, seperti itulah perumpamaan cahaya yang bergerak kesana kemari saat ini.
Cahaya berkelebat sangat cepat, secepat kilat, tak bisa dilihat dengan mata manusia. Cahaya itu bergerak dengan gerakan acak pada skalanya. Setelah jutaan kali bergerak acak, akhirnya membentuk pola yang pasti. Cahaya yang mencari sesuatu, saat ini sepertinya sudah menemukan sedikit petunjuk.
Panca yang berwujud cahaya, berlari kesana kemari, berusaha mencari jalan keluar di tempat yang asing baginya. Awalnya, Panca yang ingin menolong Dapi, ikut tersedot ke dalam lubang hitam. Ketika masuk ke dalam dimensi lain, melalui lubang cacing yang dibuka oleh Big Boss, Panca menggendong Dapi yang pingsan. Tubuh pemuda yang digendong di pundak anak laki-laki itu, mungkin tidak tahan dengan kecepatan yang dirasakan ketika memasuki lubang cacing. Setelah terlempar ke dimensi seperti Bumi, Panca segera meletakkan Dapi agar bisa berbaring di pasir putih. Mereka terjatuh di kawasan pantai.
Panca sudah mengecek nadi pemuda Pengendali Air dan pemuda itu hanya sekedar pingsan. Karena melihat keadaan Dapi yang masih sehat, Panca meninggalkan pemuda yang memakai baju kaos hitam berlengan panjang. Anak laki - laki yang juga memakai kaos berwarna hitam berlengan pendek, berusaha mencari jalan keluar dari dimensi itu. Dia berkelebat dengan cepat.
Panca menyadari bahwa dirinya dan Dapi berada di dimensi yang berbeda dengan bumi. Dia sudah mengelilingi kawasan ini dan mereka terjebak di dalamnya. Mereka berada di dimensi ruang dan waktu yang sangat berbeda dengan bumi. Dia terus berusaha mencari jalan keluar dan membaca segala kemungkinan yang terjadi berulang - ulang. Anak laki-laki itu berusaha mencari pola sehingga tahu pergerakan dari dimensi dimana mereka terjebak sekarang. Pola yang sudah ditemukannya akan menuntun untuk keluar dari dimensi ini.
Dimensi tempat mereka berada sekarang ini, memiliki atmosfer seperti bumi. Tapi di sekeliling ujung angkasa dan di sekeliling laut lepas terdapat lubang-lubang kecil yang membuka dan menutupi dalam hitungan menit. Lubang-lubang kecil itu berjumlah ribuan.
Panca pernah membaca teori lubang hitam yang dikenal dengan Radiation Hawking yang dijelaskan oleh Stephen Hawking. Fisikawan dan ahli kosmologi kenamaan itu mengatakan bahwa lubang hitam tidak berwarna hitam dan pasti ada jalan keluar dari lubang hitam. Panca mengingat teori itu dan atas dasar itulah dia mencari jalan keluar dari dimensi yang menjebak mereka saat ini.
Di dimensi yang pemandangan alamnya seperti pantai JarsiĀ --sembari berlari-- Panca mengawasi terus kegiatan yang dilakukan Dapi. Dia bersama Dapi di dimensi ini tapi pemuda yang baru sadar dari pingsannya, tak mengetahui keberadaan Panca. Hanya Panca yang bisa melihat kegiatan pemuda yang sedang bingung saat ini. Panca tetap mencari jalan keluar dari dimensi, berlari ke sana kemari tapi tetap mengawasi kegiatan Dapi.
Anak laki - laki itu terus mencari kemungkinan jalan keluar dari tempat yang aneh. Dia telah menemukan keanehan di tempat ini. Tempat yang berdiameter ribuan kilometer, berbentuk datar dan memiliki pinggiran. Karena sudah menjelajahi seluk beluk tempat ini berulang kali, atas dasar itulah dia tahu bahwa tempat ini berbentuk datar dan memiliki pinggiran seperti piring. Tapi, ketika dia menyentuh pinggiran, gaya gravitasi di dimensi ini menarik dirinya kembali menuju ke tengah. Padahal di seluruh pinggiran dari dimensi inilah terdpat banyak lubang cacing. Panca berusaha masuk dan keluar dengan cepat, mengecek setiap lubang cacing yang khusus menuju ke bumi. Panca harus mencari pintu yang benar - benar menuju bumi. Setelah yakin akan lubang cacing yang benar, dia baru akan membawa Dapi bersamanya.
Sudah 44 juta sekian perjalanan yang dilakukannya, bolak-balik menuju dimensi baru ke dimensi yang tempat mereka berada sekarang ini. Try and error, itulah metode yang dipakainya sekarang. Dengan kekuatannya secepat cahaya, dia bisa masuk dan keluar dimensi sesuka hati tanpa terluka sedikitpun tapi dia belum menemukan pola dari lubang cacing yang menuju ke Bumi.
Beberapa menit yang lalu, dia sudah menemukan lubang cacing yang menuju ke Bumi. Panca mengecek lubang cacing itu dengan berlari dan keluar lagi dari lubang cacing yang sama. Tapi ketika dia mengecek untuk kedua kali, lubang cacing itu tidak menuju ke bumi lagi. Tapi menuju ke dimensi lain. Oleh karena itulah dia mengecek satu lubang cacing dengan berulang - ulang.
Jam tangan yang dipakai dengan waktu normal di bumi menunjukkan mereka sudah 10 hari berada di dimensi ini. Tapi Panca merasakan dengan perhitungan kecepatan berlari yang dilakukannya untuk mencari jalan keluar, baru setengah jam yang lalu mereka masuk ke dalam dimensi yang aneh. Begitu besar perbedaan waktu antara bumi dan dimensi yang menjebak mereka saat ini.
__ADS_1
Akhirnya, setelah melakukan pencarian 44.101.980 kali, dia menemukan jalan keluar. Panca fokus dengan satu lubang cacing yang berada di laut lepas. Pola yang dilakukan berulang - ulang oleh lubang cacing itu, akhirnya menunjukkan satu kesempatan untuk kembali menuju Bumi. Dia sudah membaca pola yang dibuat oleh lubang cacing itu dengan alogaritma. Satu lubang cacing yang sudah diamati dan ditelusuri dengan baik akan terbuka hanya dalam 1 menit dan akan segera menutup kembali. Panca harus cepat dan tepat waktu, jika tidak, dia akan menunggu setengah jam lagi berdasarkan perhitungan alogaritma dan membentuk pola lubang cacing yang terbuka kembali menuju Bumi.
Panca melihat Dapi dalam keadaan berlari. Pemuda itu sedang membersihkan diri di menara air. Dengan cepat dia bergerak. Anak laki-laki itu menyambar Tombak Sakti terlebih dahulu, lalu meraih pinggang Dapi dan menggendongnya di atas pundak. Berlari dengan kecepatan tinggi menuju lubang cacing yang akan menutup.
Jleb.
Mereka berdua keluar dari dimensi yang aneh itu.
*******
Di lereng Gunung Agung, Artha dan Kinnara bersembunyi di balik pohon besar yang menyeramkan. Mereka mengintip dan mengendap-endap di kawasan yang penuh dengan tanaman liar. Pandangan mereka tertuju ke satu bukit. Mereka melihat ada yang aneh di balik dinding bukit yang lembab. Air terjun kecil jatuh sedikit demi sedikit di bukit yang mereka awasi. Karena itulah dinding itu menjadi lembab. Di sekeliling bukit terdapat tumbuhan aneh yang belum pernah dilihat Artha sekalipun.
"Apakah memang di sini tempatnya?"
"Sepertinya iya kak, aku juga sudah beberapa bulan mengawasi tempat ini, tapi... aku tak berhasil mencari pintu masuk ke dalam bukit. Aku yakin ada gua di balik bukit ini."
Kinnara yang berada di belakang Artha membalas dengan bisikan juga.
"Apa memang ada gua di dalam bukit ini?"
Artha melihat ke atas bukit dan mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.
Pemuda Pengendali Api, memang merasakan sesuatu yang aneh di bukit yang sedang mereka awasi. Awan hitam pekat sesekali tertangkap di mata Artha, lalu menghilang.
__ADS_1
"Sepertinya mereka memasang pelindung untuk melindungi kawasan ini dari mata bathin yang memiliki ilmu gaib," jelas Artha.
"Ya...."
Bisik Kinnara.
Tiba-tiba... Kinnara melihat ke atas langit. Berkelebat cahaya putih yang pernah dilihatnya. Cahaya putih turun dari langit seperti kilat yang menyambar. Cahaya itu jatuh, jauh dari lereng Gunung Agung.
"Kak, lihat...!"
Kinnara menarik pundak Artha ke samping kanan, lalu tangannya menunjuk ke atas. Cahaya seperti kilat menyambar ke Bumi terlihat jelas di malam ini.
"Kilat? Sepertinya akan turun hujan?"
Artha menatap kilat yang sudah menghilang saat ini dengan tatapan bengong. Setengah mulutnya terbuka.
"Bukan... itu cahaya yang pernah aku lihat ketika seorang anak laki-laki menyelamatkanku sewaktu bertempur dengan Ratna dan Dayu," jelas Kinnara dengan cepat. Wajahnya sangat serius.
"Benarkah? Amlapura...! Sepertinya cahaya itu jatuh di sana...!"
Artha langsung menyadari sesuatu hal.
Tanpa berpikir panjang lagi, Artha dan Kinnara langsung melompat menjauhi bukit, keluar dari hutan yang menyeramkan. Ilmu meringankan tubuh mereka sangat handal. Mereka berkelebat dengan sangat cepat.
__ADS_1
*******