
Sepeda motor Vario Biru dilarikan dengan kecepatan standart. Pemuda yang mengendarai sepeda motor itu memasang senyum yang manis di bibir yang sensual.
Di belakangnya, duduk seorang wanita mengenakan hoodie berwarna hijau toska dengan bawahan celana jeans belel. Sesekali dia memegangi helm yang dikenakan, takut terlepas dari kepalanya.
Dapi dan Tania baru pulang dari Sanggar Seni Surya Candra. Mereka baru menyelesaikan latihan sebelum maghrib dan mereka berencana untuk ke salah satu mall yang ada di Kota Amlapura.
Tania mengajak Dapi untuk berjalan di mall dan menikmati es krim yang ada di pusat perbelanjaan sekitar Amlapura. Dapi mengiyakan ajakan gadis itu.
*******
Tania menghempaskan pantatnya ke kursi yang beralas busa berwarna coklat. Meletakkan tas ransel yang sedari tadi disandang olehnya.
Dapi mengikuti gadis yang memakai hoodie berwarna merah muda. "Perasaan baju anak ini model hoodie melulu," gumam Dapi.
Dia duduk menghadap Tania. Meja berukuran 50 x 50 cm berwarna coklat muda memisahkan kedua insan itu.
Tak berapa lama, pelayan wanita menghampiri mereka, pelayan itu memakai baju hitam putih dengan celemek berwarna coklat, terpasang di bagian depan tubuh.
"Silahkan...."
Pelayan wanita itu masih remaja. Mungkin umurnya 20 tahun. Dia meletakkan 2 menu di meja, berdiri diam, bersiap untuk mencatat pesanan tamu yang sedang dilayani.
"Kamu mau pilih yang mana?"
Dapi bertanya kepada Tania sembari membolak - balikan menu yang penuh dengan berbagai macam es krim.
"Kamu yang pilih deh."
Tania tersenyum cuek. Dia meletakkan menu yang sudah dipegang sebelumnya.
Pelayan wanita itu hanya terdiam. Ada senyum getir di bibir yang bergincu.
"Berry Ice cream, 1 porsi, sama waffle ice cream yang ukuran sedang, 1 porsi mba. Sudah itu saja."
Dapi tersenyum kecil memandang gadis yang menjadi pelayan.
Gadis itu membaca ulang menu pesanan mereka.
Dapi mengangguk.
Tania sibuk merapikan rambut. Tetap cuek. Tidak ada bentuk feminim sama sekali dari makhluk wanita ini.
Pelayan yang berpenampilan rapi dan menarik, mengambil menu yang terletak di meja. Mengucapkan kalimat, 'Ditunggu ya,' lalu pergi menuju meja pemesanan.
"Cuek amat."
"Maksudnya?"
"Kamu, kok cuek amat. Enggak suka sama tempat ini?"
"Suka. Khan aku yang pilih."
"Trus...."
"Trus? Aku emang seperti ini bentuknya," jelas Tania dengan wajah serius.
"Oh."
__ADS_1
"Respon apa itu?"
"Ya, respon mengerti."
"Singkat banget."
"Aku memang seperti ini bentuknya," jawab Dapi dengan senyum kecil menghiasi wajah.
Tania hanya memasang wajah datar. Dia masih membereskan rambutnya yang berantakan. Sepertinya dari tadi, rambut itu tidak kelihatan beres, malah tambah acak-acakan.
"Kamu sudah punya pacar?"
"Pacar? Belum."
"Oh."
Dapi menyatukan kedua tangan dan mengepalkan bagian tubuh itu di meja.
"Kampret. Gimana ngomongnya ya?"
Tania masih bertikai dengan rambutnya yang sedikit pirang. Sekarang telapak kaki kirinya naik ke atas kursi di tempat dia duduk. Kelakuannya seperti bapak - bapak yang lagi menikmati kopi di warung.
"Nih anak enggak ada feminim sedikitpun, tapi kenapa aku bisa suka. Bangsa!" maki Dapi dalam hati.
"Sepertinya aku mencium bau terbakar." Dapi memdenguskan hidungnya. Cuping hidung itu naik turun beberapa kali.
Tania menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia juga mengenduskan hidung sekali. Dia berhenti berurusan dengan rambutnya.
"Apa iya? Enggak ada deh kayaknya."
"Oh. Ternyata hatiku yang sedang terbakar."
"Oooooooooh...."
Tania hanya mengangkat sudut bibir kirinya sedikit saja. Selanjutnya menjulurkan lidah kecilnya ke arah Dapi. Mengejek.
Dapi melihat perbuatan gadis itu setelah menunduk malu untuk pertama kali. Dan... Dapi tertawa kecil. Menunduk kembali. Kali ini dia mengusap mukanya dengan tangan kanan. Rasa malu itu semakin menjadi - jadi.
Pemuda itu terdiam sebentar. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi masih ada rasa malu dan dia menahan aksi selanjutnya.
"Belajar darimana?" tanya Tania.
Dia menatap lurus ke arah Dapi.
"Belajar?"
"Ya. Gombalan itu belajar darimana?"
Dapi tertawa.
"Dari youtube."
"Sudah aku duga."
Tania menurunkan sebelah kaki yang sebelumnya berada di kursi tempat dia duduk.
"Ehem."
__ADS_1
Dapi memegang jakunnya.
Tania yang duduk berhadapan dengannya, mendelik. Detik berikutnya dia mengangkat tangan dan melihat ke arah meja pemesanan.
"Mba, tolong air putih dipercepat ya!"
"Aish...."
Dapi tertawa dan menahan malu. Dia menundukkan kepala. Dia tak menyangka respon Tania seperti itu.
Tania kembali melihat lurus ke depan. Berusaha menatap mata pemuda di hadapannya.
"Ada lagi yang ingin diungkapkan?" pancing Tania.
Dapi melihat gadis tomboy di hadapannya. Gaya gadis ini sangat tomboy, tapi wajahnya sangat cantik dan berkharisma. Pipinya yang berdaging, wajahnya yang bersih dan putih, serta matanya yang besar, tak sesuai dengan karakter tomboy yang dimiliki.
"Hmm... anu...."
Dapi menggaruk batang hidungnya, padahal tidak gatal.
"Kamu mau jadi pacar aku?"
"Mau dong. Siapa yang enggak mau jadi pacar kamu?"
Dapi mendelik. Secepatnya itu gadis di depannya menjawab pertanyaan yang dia lontarkan, tanpa ada keraguan sama sekali.
"Ada apa dengan mata itu?"
Cuek Tania.
"Beneran?"
"Lah... Iya, jadi kamu pikir aku boong?"
Tania mengangkat kursi yang didudukinya, sedikit bangkit dari tempat duduk, setelah itu berjalan dengan cara mengangkat pegangan tangan kursi. Pantatnya hanya diangkat sedikit dari kursi. Kemudian gadis itu meletakkan kursi di sisi lain. Di samping kanan Dapi tapi tidak pas bersebelahan dengan pemuda itu.
"Aku mau jadi pacar kamu..., " bisik Tania lembut. Kepalanya yang berambut masih sedikit acak - acakan, dimajukan sedikit sehingga mendekati telinga pemuda yang duduk searah pukul 9 dari posisinya.
Dapi tertawa. Tertunduk malu dan memberikan cubitan di pipi Tania.
"Maaf mengganggu mas dan mba. Ini pesanannya. Ice Cream Berry dan Ice Cream Waffle. Silahkan dinikmati."
Pelayan wanita yang tadi kembali dengan senyum yang ramah. Tiba - tiba dia sudah berada di samping mereka berdua.
"Mba...," panggil Tania.
"Ya?"
"Kami pacaran loh," jelas Tania cuek. Dia melihat pelayan itu dengan membesarkan kedua matanya.
Pelayan itu sepertinya mengangkat bibirnya dengan sangat terpaksa.
"Aish...."
Dapi mengusap keningnya. Lagi - lagi dia tertunduk malu.
__ADS_1
*******