Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Lie : Ep. 27


__ADS_3

16 tahun yang lalu.


Berdiri tegak seorang pemuda di tengah derasnya hujan di depan sebuah rumah yang besar. Rumah itu adalah rumah salah satu Pemangku Adat yang ada di Kabupaten Karangasem Bali. Jabatan pemilik rumah terlihat dari bentuk rumah yang bernuansa adat Bali. Biasanya dengan bentuk rumah yang besar dan desain yang menawan, hanya ditempati oleh orang penting.


Pemuda yang memakai baju serba hitam yang memegang tongkat di tangan kanan, berdiri terpaku, tak bergerak. Tak perduli derasnya hujan yang tercurah malam ini. Malam yang gelap, hanya disinari beberapa lampu jalan, membuat penampilan pemuda itu semakin misterius.


Dia menghadap angkul - angkul yang memiliki ukiran yang indah bernuansa adat Bali. Kepalanya tertunduk dan matanya terpejam. Ada yang ditunggu, tapi entah apa. Apakah seseorang atau sesuatu.


Di balik rumah itu, di sebuah kamar, pemuda itu berusaha untuk merasakan dengan indra ke enam, kejadian yang terjadi di dalam ruangan yang memiliki desain khas Bali. Terlihat dalam bayangannya seorang perempuan yang tergeletak di tempat tidur menjerit kesakitan. Di bawah kaki perempuan yang sedang mengangkang, ada seorang wanita tua yang berusaha memberi semangat kepada perempuan yang terlihat masih muda dari paras wajahnya. Wanita tua itu terus mengatakan beberapa kata untuk menyemangati perempuan yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


Di sampingnya, terduduk seorang lelaki yang menggenggam tangan kanan perempuan yang merasa kesakitan. Terlihat wajahnya yang cemas, dia hanya melihat ke arah wajah perempuan yang mengerang di hadapannya, tak berani melihat ke bawah, ke arah wanita tua yang menunggu sesuatu. Lelaki itu pasti suami dari istri yang akan melahirkan anak pertama mereka.


Perempuan muda itu mengerang dengan sangat keras. Tangan kanan menggenggam tangan suaminya sedangkan tangan kiri memegang erat kayu yang ada di pinggir tempat tidur.


"Kepala sudah keluar.... atur lagi nafas dengan baik dan dorong lagi...," bisik wanita tua yang memakai baju adat Bali.


Suaminya berusaha mengelap butiran keringat sebesar biji jagung yang ada di wajah istrinya. Dia tak berkata sepatah katapun.


Perempuan itu mengedan dengan keras. Memberi dorongan dari otot panggul dan mengerang panjang. Tak berapa lama terdengar suara tangisan bayi. Perempuan itu terkulai lemas di tempat tidur. Dia masih sadar dan tersenyum kepada lelaki yang duduk di samping dan masih menggenggam tangan pasangannya.


"Kamu hebat. Kamu baik - baik saja, kan?" tanya suaminya.

__ADS_1


Perempuan itu hanya mengangguk beberapa kali dengan gerakan yang lemah.


Wanita tua segera membungkus bayi yang sudah lahir dengan kain yang telah disediakan di samping. Lalu dengan cepat mendekati kepada ibunya. Dia memberi aba - aba kepada perempuan muda itu untuk mencium bayi yang baru lahir.


"Selamat ya, bayinya laki - laki," nyata  wanita tua itu. Dia memandang sekali kepada lelaki yang masih berada di samping istrinya.


Perempuan muda yang telah terlihat keceriaan di wajah, mencium kepala bayi yang terbungkus kain dan masih berdarah. Setelah itu, wanita tua yang menangani persalinan dari awal, memberikan bayi kepada seorang asistennya yang masuk ke dalam kamar setelah mendengar suara tangisan bayi. Asistennya menerima bayi, menggendong dan masih berada di dekat wanita tua.


Di menit berikutnya, wanita tua memotong tali pusat bayi dan melakukan fase 3 persalinan yaitu mengeluarkan ari - ari atau plasenta. Kembali wanita tua memberi semangat kepada perempuan muda yang telah melahirkan bayinya dengan selamat.


Sedangkan asisten wanita tua sedang membersihkan bayi yang baru lahir dengan kain basah setelah tali pusatnya dipotong oleh atasannya. Dia mengambil posisi di sudut kamar. Lelaki yang menemani istrinya tadi, ikut serta melihat bayi yang baru lahir.


Asisten wanita tua yang berumur sekitar 30 tahun dengan cermat membersihkan tubuh bayi dengan kain basah. Dia sangat kagum dengan kulit bayi yang putih cemerlang. Seakan ada sinar berkilau yang terlihat ketika dia mengusapkan kain setengah basah ke tubuhnya yang mungil. Bayi itupun menggeliat dan tersenyum kecil. Makhluk tak berdosa itu masih memejamkan mata.


Asisten itu tertegun sejenak. Ayah bayi memperhatikan reaksi asisten wanita tua tadi.


"Ada apa?" tanya lelaki yang merupakan ayah dari bayi.


Wanita yang merupakan asisten wanita tua tadi menoleh ke arah lelaki yang merupakan ayah Sang Bayi.


"Lihat.... ada tahi lalat kecil di belakang tubuhnya. Bukan hanya satu, tapi ada lima. Biasanya anak bayi baru lahir belum memiliki tahi lalat," jelas asisten itu. Tangannya menunjukkan beberapa tahi lalat yang ada di bagian belakang tubuh bayi yang mungil. Kulitnya terlihat putih dan halus.

__ADS_1


Lelaki yang berbadan kurus dan tinggi, memperhatikan dengan cermat ke arah punggung bayi. Terlihat ada 5 tahi lalat. 1 di bagian belakang leher, pas di tengkuk, 2 dan 3 berada di kiri dan kanan pundak. Bagian kanan lebih rendah dibandingkan bagian kiri. Titik tahi lalat itu lebih sedikit ke bawah dibandingkan bagian kiri, jika ditarik garis akan membentuk sudut 50 derajat. Sedangkan tahi lalat ke - 4 dan ke - 5, berada lebih ke bawah lagi dari titik ke - 2 dan ke - 3, terletak di punggung bayi. Jika kelima titik itu ditarik garis, maka titik pertama sampai ketiga akan membentuk segitiga dan ujung runcing segitiga bagian atas, berada di leher. Sedangkan titik ke - 4 dan ke - 5 akan menjadi ekor. Titik ke - 4 jika ditarik garis dan disambung dari titik ke - 2 akan menjadi ekor sudut segi tiga sebelah kiri dan titik ke - 5 jika ditarik garis maka akan menjadi ekor dari sudut segi tiga sebelah kanan yaitu titik ke - 3. Sepertinya gambar itu menunjukkan suatu gambar rasi bintang.


Lelaki itu tertegun. Dia sepertinya pernah melihat ke - 5 titik itu, tapi entah dimana, dia lupa.


"Sudah ada namanya, bli?" tanya asisten itu. Tangan kirinya masih membersihkan punggung dan bagian kaki dari bayi mungil.


"Sudah."


"Kalau boleh tau, siapa nama bayi yang indah ini, bli," tanya asisten wanita tua lagi sambil tersenyum kecil.


"Hikma Andapi. Hikma dari Bahasa Arab yang berarti kebijaksanaan. Sedangkan Andapi dari Bahasa Bali yang berarti Langit." jelas lelaki yang berparas hitam manis. Tatapan matanya masih tertuju ke arah 5 titik yang ada di tubuh bayi laki - lakinya.


"Kebijaksanaan Langit... nama yang indah," seru wanita yang merupakan asisten wanita tua yang berada di tempat tidur, sepertinya sudah hampir selesai mengurus ibu dari bayi kecil dan mungil.


Ayah bayi itu sudah mendapatkan nama anak pertamanya ketika usia kandungan istrinya memasuki 7 bulan. Di dalam mimpi dia bertemu dengan pria tua yang memegang tombak bercahaya putih. Pria tua itu mengatakan bahwa anaknya akan menjadi orang yang hebat suatu saat nanti. Dan pria tua itu juga yang memberi nama untuk bayi ini. Dia berharap bayi ini akan melahirkan keputusan yang bijaksana dalam mengarungi kehidupan. Terhindar dari sifat kebohongan dan keserakahan.


Pemuda yang berdiri lama di tengah jalan beraspal di depan rumah Dapi, membuka kedua mata.


"Akhirnya, satu pemuda lagi telah lahir untuk menegakkan keadilan. Semoga sifatnya sesuai dengan nama yang telah diberikan."


Pemuda itu lalu melompat dan menghilang di kegelapan malam yang masih dalam kondisi hujan deras.

__ADS_1


*******


__ADS_2