
Dapi menghidupkan handphone-nya. Dia berusaha melihat jam yang berada di layar benda elektronik yang saat ini sudah menjadi dewa bagi manusia. Tertera angka 03.15 Wita di layar yang memiliki wallpaper pemandangan laut.
Dia berusaha mempercepat lari kuda yang ditunggangi. Kuda itu berwarna bening dari bahan dasar air yang mengeras, diciptakan olehnya. Makhluk imajinasi itu berlari dengan gagah melewati hutan yang penuh pepohonan besar. Walaupun medan perjalanan yang dilalui menanjak, kuda itu seakan tak ingin berhenti, terus berlari sesuai keinginan tuannya.
Pemuda yang memakai baju serba hitam, bergerak dari rumah menuju Gunung Agung yang berjarak sekitar enam puluh kilometer dari kediaman di Amlapura. Dia sengaja keluar di tengah malam agar tidak terlihat oleh manusia biasa.
Sebelumnya, Dapi hanya berlari dan melompat dari rumahnya menuju hutan di pinggir kota Amlapura, setelah itu, dia memutuskan untuk membuat makhluk imajinasi yang ditungganginya sekarang ini.
Sudah seminggu, Artha kembali ke Jakarta. Dapi beberapa kali menelepon Artha untuk bercerita tentang penculikan adiknya. Artha memberikan informasi bahwa penculikan adiknya didalangi oleh kaki tangan Big Boss. Artha baru mengetahui hal itu ketika dia bercerita mengenai kejadian di dasar laut Pantai Tulamben kepada ayahnya. Dari situlah, Om Bagas memberi informasi siapa dalang dari penculikan adik Dapi.
Dapi mengikuti intuisinya bahwa di puncak Gunung Agung, dia akan menemukan petunjuk mengenai penculikan adik kandungnya ini. Artha tak bisa menemani karena anggota tim ke enam yang akan direkrut harus dalam pengawasannya saat ini. Jadi dia fokus kepada pemuda yang berada di Jakarta.
Dapi berusaha terus menjaga keseimbangan badan di atas makhluk imajinasi berbentuk kuda. Dia mengambil jalan penuh pepohonan yang lebat dan menanjak. Dia tak mungkin mengambil rute biasa yang dilewati para pendaki gunung. Rute yang diambil adalah rute lewat Pura Pasar Agung karena rute ini sudah jarang dilalui oleh pendaki. Puncak Gunung Agung yang harus dicapainya berkisar 3.142 meter dari permukaan laut. Tapi dia belum tahu apakah dia akan bertemu makhluk sesuai intuisinya, apakah berada di puncak paling tinggi atau di puncak kedua.
Pemuda itu mengikuti intuisinya, seperti pada malam dia mendapatkan kekuatannya kembali di Taman Wisata Tirta Gangga. Dia percaya ada sesuatu yang akan ditemukan di Puncak Gunung Agung.
Hutan yang lebat sudah dilalui, semakin menuju ke puncak, pepohonan di Gunung Agung mulai berkurang. Hanya terdapat pohon yang pendek dan rerumputan. Batu-batu besar dan kerikil kecil sudah menjadi alas dari tanah, bukan rumput lagi.
Sekarang Dapi berada di ketinggian 2.571 meter dari permukaan laut. Di ketinggian ini, ada pos ke lima untuk para pendaki. Dia menghentikan kuda air yang ditunggangi. Dia kembali melihat Handphone. Angka di alat elektronik itu tertera 04.25. "Sudah mendekati shubuh," gumamnya.
Dapi melihat ke sekeliling, semuanya masih tampak gelap, cahaya bulan menyinari awan yang sedang bergerak. Di sekitar tempat dia menghentikan kudanya, Dapi melihat Pura kecil yang berdiri kokoh. Dia berusaha memerintahkan kuda imajinasi itu untuk berlari ke atas menuju Pura kecil tempat orang Hindu bersembahyang. Mungkin dia akan menemukan sesuatu di situ, pikirnya.
Kuda air berwarna bening yang menyerupai kuda sungguhan, berjalan perlahan. Terdengar suara hentakan tapal kuda berbenturan dengan bebatuan yang berserakan di bawah. Jalur pendakian menuju puncak sangat terjal dan licin, Dapi berusaha untuk memfokuskan diri.
Dia berhenti di dekat Pura kecil. Terdiam sesaat. Dia menunduk, seakan berbicara dengan intuisinya. Dia tak merasa akan ada sesuatu yang terjadi di sini, lalu dia menggerakkan kembali kuda air itu menuju ke atas. Kuda yang ditunggangi tidak berlari kencang, hanya berlari kecil menuju ke atas melewati batu-baru kerikil. Di kanan dan kiri terdapat jurang yang dalam.
Kuda imajinasi itu kembali naik menapaki lereng gunung. Kali ini, Jalan yang dilalui berbatu dan berpasir, sudah tidak kelihatan lagi rumput di sekitar. Dapi memerintah kuda itu agar tetap berlari menuju puncak pertama, biasanya tempat itu disebut puncak satu oleh pendaki gunung. Saat ini dia berada di ketinggian 2.946 meter dari permukaan laut dan lereng ini berbatu dan licin.
Dia kembali berhenti. Mengamati ke sekeliling. Kali ini dia merasakan sesuatu. Intuisinya berkata untuk menetap di kawasan ini.
Terdengar suara kaki kuda imajinasi terbuat dari air menghentak-hentakkan tapalnya ke batu. Dapi turun dari punggung kuda itu. Dia merasakan sesuatu di puncak gunung ini. Bukan udara dingin di puncak gunung yang membuatnya turun dari kuda dan memantau sekeliling. Dia memasang mata dan telinganya dengan cermat.
"Keluarlah, aku tidak akan menyakitimu," nyata Dapi pelan. Sepertinya dia tahu keberadaan makhluk yang ada di kawasan itu dan dia juga sepertinya tahu akan kekuatan makhluk itu.
Dari balik awan, samar-samar terlihat bentuk sosok burung. Masih transparan. Makhluk itu masih berbentuk garis-garis yang berbentuk seekor burung. Tidak berapa lama terlihat jelas sesosok makhluk berwarna putih memiliki sayap yang lebar. Dia mengepakkan sayapnya beberapa kali di udara.
Makhluk itu terbang mendekati Dapi, kemudian menapakkan kedua kakinya yang ramping di batu-batu kerikil bercampur pasir. Tapi kakinya seperti kaki burung, memiliki jari yang memanjang dan memiliki kuku yang tajam.
__ADS_1
Dia seakan berlutut di hadapan Dapi. Posisinya setengah berjongkok. Bagian tubuh bawahnya berbulu layaknya seekor burung dari pinggang sampai ke telapak kaki. Posisi makhluk itu saat ini, lutut kirinya menyentuh tanah bersamaan dengan kaki kiri bagian bawah. Sedangkan telapak kaki kanan, kukunya mencengkram ke tanah dengan lutut dan paha menyentuh dada kanannya.
Dia menunduk seakan malu untuk mengangkat wajah. Sayapnya yang lebar telah berlipat di punggung. Sosok ini memakai celana putih pendek bercorak kotak-kotak dan kain selendang diikatkan di pinggang, juga berwarna putih, sesuai dengan warna di bulu-bulu yang berada di lutut hingga ke mata kaki, yang juga berwarna putih seperti kapas. Tapi bagian atasnya terbuka, tak memakai apapun. Kulitnya terlihat berwarna kuning langsat.
"Berdirilah," perintah Dapi pelan.
Makhluk itu kemudian berdiri tapi masih menundukkan kepalanya.
"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," tanya Dapi dengan bijaksana.
"Maaf Yang Mulia, nama saya Kinnara. Saya siluman burung yang ditugaskan untuk menjaga Pohon Kalpataru," nyata siluman burung yang mengaku dirinya dengan nama Kinnara. Siluman burung ini berjenis kelamin jantan. Bagian bawah tubuh, layaknya seperti seekor burung tapi bagian atas tubuhnya seperti layaknya manusia yang memiliki otot perut dan otot dada yang menonjol di kedua sisi.
Dapi tahu siapa makhluk ini sebenarnya. Memorinya sudah terisi dengan kisah makhluk ini. Dan Makhluk yang berbentuk setengah burung itu memanggil Dapi dengan sebutan Yang Mulia, berarti dia juga tahu siapa Dapi.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah tugasmu untuk menjaga Pohon Kalpataru seperti yang kamu katakan?" nyata Dapi.
Pemuda itu berdiri berhadapan dengan Siluman Burung.
"Saya tak bisa lagi menjaga Pohon Kalpataru, Yang Mulia, karena kembaran saya sudah diculik oleh makhluk yang sangat kejam," lirih Kinnara dengan nada sedih. Dia tertunduk, lalu mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
"Musuh kita sama, Yang Mulia. Yang menculik kembaran saya adalah orang yang sama, menculik adik Yang Mulia di kehidupan sekarang ini," jelas Kinnara. Dia masih menundukkan kepalanya.
Deg.
Dapi terdiam sesaat. Ternyata ini jawaban dari intuisinya. Bertemu dengan Kinnara dan mendapatkan informasi tentang penculikan adiknya.
"Dari mana kau tahu tentang itu?" tanya Dapi menyelidik.
"Kembaran saya sudah lama diculik oleh makhluk itu, Yang Mulia. Saya tak mampu melepaskan sihir yang melekat di pikiran kembaran saya. Sihir yang sengaja diikatkan kepada kembaran saya sangat kuat. Selama berbulan-bulan saya mengikuti pergerakan mereka tapi saya tak berdaya untuk melepaskan kembaran saya dari sihir makhluk itu. Dia sangat kuat. Karena mengikuti pergerakan merekalah saya jadi tahu bahwa adik Yang Mulia diculik beberapa minggu yang lalu."
Kinnara masih mengusap air matanya yang jatuh. Dia sangat sedih. Terlihat dari perilakunya.
Dapi juga ikut merasa sedih karena melihat Siluman Burung itu dan juga karena dia teringat dengan adiknya.
"Jadi, kamu tahu keberadaan adik saya sekarang ini?" tanya Dapi.
Sudah seminggu ini, mereka memindahkan kembaran saya dan adik Yang Mulia ke suatu tempat, tapi saya belum bisa menemukannya, Yang Mulia."
__ADS_1
Wajah Dapi sedikit kecewa. Dia sudah mencari adiknya setiap malam semenjak kekuatannya kembali. Tapi memang dia tidak mendapat petunjuk sama sekali. Tapi setidaknya, kali ini dia memang sudah yakin bahwa Big Boss adalah dalang dari kejadian ini dan dia percaya dari yang dikatakan oleh Kinnara.
Dapi mengajak Kinnara untuk duduk santai di tanah berbatu. Mereka melihat pemandangan Gunung Raung dan Gunung Rinjani dari atas puncak kedua Gunung Agung. Cahaya rembulan sudah hampir habis dikarenakan shubuh yang akan menjelang.
Dapi mendengarkan kisah Kinnara yang telah kehilangan kembarannya beberapa bulan yang lalu dan dia berusaha untuk mencari jalan keluar agar bisa menyelamatkan kembarannya tapi dia tak memiliki kekuatan untuk melawan komplotan yang dipimpin oleh Big Boss.
Di ufuk Timur, telah terlihat cahaya kuning kemerahan. Shubuh sudah terlewati setengah jam yang lalu. Dari atas Puncak Gunung Agung ini, kini terlihat jelas awan yang berada di bawah mereka. Juga terlihat jelas Puncak Gunung Raung dan Puncak Gunung Rinjani yang tertutup awan. Pemandangan Danau Batur yang indah juga menjadi nilai tambah dari pemandangan yang disaksikan Dapi pagi ini.
"Betapa indahnya alam yang Kau ciptakan ini Ya Tuhan, tapi mengapa masih ada manusia yang secara sadar ingin merusak ciptaanmu yang megah ini," gumam Dapi.
*******
Pohon Kalpataru terbesar di Indonesia sekarang ini berada di sebuah Pura yang bernama Pura Mangkunegaran, Solo. Pohon Kalpataru berdiri dan tumbuh dengan kokoh di belakang Pendopo Agung.
Pohon Kalpataru lebih dikenal sebagai pohon bodhi oleh masyarakat Indonesia, sementara dalam bahasa Inggris pohon Kalpataru disebut sebagai Wisdom Tree yang artinya pohon yang penuh kebijakan. Kalpataru berasal dari Bahasa Sangsekerta yang berarti pohon pengharapan yang relief bentuk pohonnya banyak ditemukan di dinding candi-candi seperti candi Borobudur, candi Pawon, candi Mendut dan candi-candi lainnya.
Pohon Kalpataru memiliki bentuk fisik dengan dahan yang rimbun sehingga menjadi tempat tinggal oleh berbagai macam hewan, seperti burung. Oleh sebab itu, pohon Kalpataru disebut sebagai pohon kehidupan karena menjadi tempat untuk bertahan hidup oleh beragam satwa. Hal tersebut juga digambarkan pada relief yang terdapat pada candi-candi.
Pohon Kalpataru digambarkan dengan berada di dalam vas atau jambangan yang di sekelilingnya terdapat beragam macam satwa yang melambangkan aspek kehidupan. Selain digambarkan pada relief candi, lambang pohon Kalpataru juga digunakan sebagai nama penghargaan di bidang lingkungan hidup yakni Penghargaan Kalpataru.
Pohon Kalpataru memiliki ketinggian yang dapat mencapai dua puluh meter dengan diameter batang satu setengah meter hingga dua meter. Kulit kayu pohon Kalpataru berwarna abu-abu dengan bintik kecoklatan dan memiliki tekstur halus. Pohon Kalpataru memiliki daun berbentuk alternate dengan permukaan yang mengkilap jika diraba. Daun-daun pohon Kalpataru berwarna merah muda ketika masih muda dan akan berwarna hijau tua jika daun-daun tersebut memasuki fase tua. Pohon Kalpataru memiliki bunga dan buah yang berukuran kecil. Bunga pohon Kalpataru berbentuk aksiliaris tak bertangkai dan memiliki warna merah ketika mekar.
Kinnara dan Kinnari adalah makhluk surgawi berwujud setengah manusia setengah burung dalam mitologi Hindu dan Budha. Mereka pandai memainkan alat-alat musik, seperti venna atau kecapi
Kinnara berjenis kelamin pria sedangkan yang berkelamin wanita disebut Kinnari. Kinnari berwujud wanita cantik dari kepala sampai pinggang, tetapi bagian tubuh ke bawah berwujud angsa. Mereka pandai bersyair, memainkan alat musik, dan menari. Mitologi tentang Kinnara banyak muncul di wilayah Asia Tenggara khususnya yang mendapat pengaruh Hindu dan Budha seperti Thailand, Kamboja, Myanmar dan Indonesia. Di candi Borobudur terdapat relief yang menggambarkan Kinnara dan Kinnari. Relief kedua makhluk itu juga dapat ditemukan di Candi Mendut, Pawon, Sewu, Sari dan Prambanan.
Kinnara dan Kinnari adalah lambang keabadian cinta. Lambang keharmonisan dan kesetiaan yang luar biasa yang digambarkan berupa dua pasang burung surgawi yang tidak terpisahkan, hidup berpasangan saling menjaga di bawah naungan pohon Kalpataru
*******
__ADS_1