Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Lie : Ep. 28


__ADS_3

Di dalam gua berbatu yang lembab, pria bertopeng berdiri dengan wajah yang menggeram. Di depannya ada beberapa makhluk yang ketakutan, menundukkan kepala. Mereka adalah Calonarang dan kedua pasutri yaitu Ratna dan Dayu.


"Menghadapi seekor burung saja kalian tak becus!" bentak pria bertopeng yaitu Big Boss.


Calonarang berpaku pada tongkatnya yang terbuat dari kayu berwarna hitam pekat. Dia masih menundukkan kepala. Sedangkan Ratna dan Dayu berlutut di hadapan Big Boss.


" Aku sudah memperingatimu untuk tidak gagal, wanita tua!"


Sruuut.


Keluar dari tangan kanan Big Boss beberapa untai benda berbentuk tali berwarna hitam, menjerat leher Calonarang. Perlahan - lahan badan yang yang sudah ringkih itu terangkat ke atas. Tongkat hitamnya terjatuh. Kedua tangannya serta merta memegang leher yang sudah dibelit oleh untaian benda yang solid. Mata penyihir tua itu mendelik menahan sakit.


Ratna dan Dayu tak berani melihat aksi dari Big Boss, mereka tertunduk ketakutan.


"Sedangkal itukah ilmu kalian? Berarti aku salah memilihmu untuk menghabisi pemuda keparat itu!"


Suara Big Boss terdengar murka.


Calonarang berusaha untuk berbicara. Tapi cekikan benda di lehernya semakin mengetat. Kakinya mulai bergerak acak, bergoyang seakan - akan ingin menggapai lantai yang berada 2 jengkal di bawahnya.


Jleb.


Darah mengucur di lantai yang lembab. Tiba - tiba keluar dari tangan kiri Big Boss satu benda runcing dan tajam berbentuk seperti tombak panjang ke arah Dayu yang sedang berlutut ketakutan. Benda itu melesat dengan sangat cepat dan menusuk ke jantung menantu Calonarang.


Ratna menjerit histeris. Tubuhnya terkena cipratan darah suaminya.


Bruk.


Big Boss melepaskan tubuh Calonarang yang digantungnya tadi. Tubuh tua itu bertubrukan dengan lantai gua yang lembab. Penyihir tua itu mengerang kesakitan dan terbatuk beberapa kali. Dia berusaha meraih tongkat dan ingin berdiri secepatnya.

__ADS_1


Dari tangan kiri Big Boss, tombak yang menghunus dada Dayu, masuk kembali ke tangannya.


Di samping Ratna, tubuh suaminya terkulai tak bernyawa di lantai. Seluruh kulit di tubuh laki laki itu berubah menjadi berwarna hitam pekat.


Di samping penyihir tua, Ratna masih berlutut dan menahan tangis. Wajahnya sangat ketakutan, dia berpikir bisa saja selanjutnya adalah giliran dirinya yang menjadi sasaran dari senjata pria yang ada di hadapan mereka. Karena itulah dia tak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Apalagi mau menyentuh mayat suaminya.


"Kau dengar aku baik - baik Calonarang. Kali ini aku maafkan kau, tapi jika rencanamu gagal lagi maka anakmu yang akan ku bunuh. Camkan itu!"


Big Boss mengibaskan jubah hitam yang menutupi kakinya. Kedua tangannya merentang ke depan. Dia mengarahkan tangannya ke arah belakang kedua makhluk yang masih ketakutan. Di belakang mereka, mengambang dua tubuh yang diselimuti awan hitam pekat. Big Boss memfokuskan kekuatan di kedua tangan untuk menarik kedua tubuh yang mengambang.


Tubuh pertama adalah sesosok perempuan yang mengambang vertikal. Kepalanya mendongak ke atas. Kedua matanya tertutup. Rambutnya tergerai panjang. Kaki dan tangannya terjuntai di udara, tak berdaya. Gadis mungil yang masih terlihat kecantikannya, bergerak perlahan mendekati Big Boss dalam keadaan mengambang di udara.


Begitu juga dengan sosok yang kedua, Big Boss menariknya dengan kekuatan tak terlihat dari tangan kanan yaitu tubuh anak laki - laki yang mengambang secara horizontal. Anak laki - laki yang memakai adat Bali itu seakan tertidur pulas.


Kedua tubuh secara bersamaan mendekati Big Boss dengan perlahan, setelah berada 2 jengkal di hadapan pria yang memakai pakaian serba hitam, terdengar suara angin yang keras. Mereka bertiga lenyap dengan seketika, seolah ditekan bumi, hanya meninggalkan awan hitam.


"Selesaikan pekerjaanmu! Jika gagal lagi, anakmu akan menemani suaminya di neraka!"


Calonarang berusaha berdiri dengan tongkat yang sudah digapai. Wajah yang penuh keriput, memucat. Dengan bersusah payah dia berdiri dan tongkat itu sebagai tumpuan.


Di sampingnya, Ratna menangis terisak memeluk mayat suaminya yang tak berkutik lagi.


"Diam! Biarkan lelaki bodoh itu mati!"


Calonarang menarik tubuh anak perempuannya menjauh dari mayat laki - laki yaitu suaminya. Dia mengarahkan tongkat ke arah mayat itu lalu menembakkan api hitam. Api hitam membakar mayat di hadapan Ratna dan dalam hitungan detik, mayat Dayu sudah tidak ada lagi. Hanya asap hitam yang mengepul dan meninggalkan abu hitam yang  bergunduk di lantai gua.


Ratna menjerit sekali.


"Perempuan bodoh! Kalian berdua mengagalkan rencanaku! Dia pantas untuk mati! Sekarang pikirkan dirimu sendiri jika rencana selanjutnya gagal!"

__ADS_1


penyihir tua itu memarahi anak perempuannya dengan suara yang parau.


Ratna hanya menangis dan terpuruk di lantai gua.


Setelah penyerangan kepada makhluk setengah burung dan gagal, Ratna bercerita bahwa bukan Kinnara yang mengalahkan mereka, tapi tiba - tiba saja Bunga Kasna tertancap di leher mereka masing - masing, akibatnya kekuatan mistis mereka tak bekerja sama sekali. Calonarang berpikir seribu kali dan mencari - cari tahu siapa yang menyerang utusannya tapi dia tidak mendapatkan hasil sama sekali. Dia juga mencari dengan kekuatan mistis, namun juga tidak berhasil.


Apakah Dapi yang menyelamatkan makhluk setengah burung? Sempat terlintas pertanyaan itu, tapi dia memeriksa dengan kekuatannya bahwa pemuda yang menjadi titisan Raja Pertama  Karangasem itu berada di rumah. Tidak kemana - mana.


"Terpaksa aku harus menjalankan rencana selanjutnya," nyata Calonarang.


Penyihir tua itu berdiri tegak, mengibaskan tongkat hitam ke udara. Terdengar suara decitan yang sangat ramai. Gua itu menjadi riuh. Tak berapa lama, terdengar suara bergemuruh. Dari dalam gua melesat ratusan makhluk sebesar kelelawar menuju pintu keluar gua. Makhluk yang berdecit sama persis seperti kelelawar tapi memiliki kepala yang besar seperti kepala naga.


Di malam yang gelap, makhluk yang diperintahkan oleh Calonarang, berterbangan, mengepak sayap mereka keluar gua menuju Kota Amlapura. Suara decitan mereka sangat memekakkan telinga.


*******


Panca berlari secepat kilat. Dia baru mendapatkan penglihatan kalau Dapi dalam bahaya. Dia tak bisa membohongi dirinya bahwa pemuda yang baru dikenal sangat mencuri diperhatian. Karena pemuda yang menyelamatkan dirinya adalah kunci  yang akan menjadi petunjuk pertama untuk mengungkap teka - teki diri dan penglihatannya selama 5 tahun terakhir.


Panca mempunyai bakat dapat melihat ke masa lalu dan masa depan melalui mimpi dan akan ditorehkan melalui lukisan. Dan dia juga bisa bergerak secepat kilat sesuai dengan keinginannya tapi dia ingin mencari tahu jati diri sebenarnya, mengapa dia mempunyai bakat dan kekuatan? Mengapa hidupnya tidak normal seperti remaja lain?


Anak laki - laki yang memakai topi baseball cape berwarna hitam, berlari dengan secepat kilat. Dia berlari dari Mangupura ke Amlapura yang berjarak 70 km hanya dalam waktu 5 menit. Tapi sebelum menuju Amlapura, dia harus ke tempat lain terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu, setelah itu baru ke kota tempat Dapi berada.


Wajah anak laki - laki yang tampan itu, terlihat sangat cemas. Dia terus berlari dan berkelebat di malam yang gelap. Cahaya putih seperti kilat, membekas dan menghilang dengan cepat mengikuti geraknya.


*******


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2