Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Friends : Ep. 42


__ADS_3

-01 Agustus 2011-


Pagi hari yang begitu cerah menyinari Amlapura. Sudah seminggu Dapi bersekolah di SMA Negri 2 Kota Amlapura tapi belum terlalu aktif belajar. Hari ini, di Hari Senin kedua Tahun Pelajaran 2011, siswa kelas 10 akan mengikuti upacara bergabung dengan senior mereka. Minggu kemarin siswa baru masih disibukkan  dengan program pengenalan lingkungan sekolah.


Dapi memarkirkan sepeda motor Vario birunya di lapangan parkir. Lapangan parkir yang beratap rangka baja dan sudah hampir setengah terisi oleh sepeda motor siswa lain, terlihat lengang. Hanya beberapa siswa yang berada di lapangan parkir, sebagian pemilik sepeda motor yang lain mungkin sudah berada di dalam kelas.


"Masih pukul tujuh," lirih Dapi. Pemuda yang memakai seragam putih abu-abu melihat ke arah jam yang dipakai di tangan kiri. Kemudian dia berjalan menelusuri parkiran menuju gerbang utama salah satu sekolah favorit di Amlapura.


Setelah keluar dari lapangan parkir, Dapi melewati beberapa taman kecil untuk masuk dari gerbang utama. Lapangan parkir sekolah yang berada di sebelah kanan bagian depan, sedikit jauh untuk menuju gerbang utama. Jadi, seluruh siswa yang parkir di area itu harus melewati beberapa taman bagian depan.


Beberapa siswa terlihat melakukan aktifitas mereka masing-masing pagi ini. Ada siswa yang baru datang mengendarai sepeda motor dan langsung menuju ke lapang parkir. Ada beberapa. Siswa yang menunggu temannya di lapangan parkir dan berjalan bersama untuk ke kelas mereka. Ada juga siswa yang masuk ke dalam areal sekolah dengan berjalan kaki. Mereka mungkin memarkirkan kendaraan mereka di areal luar sekolah. Karena tak ingin ketika pulang mengantri panjang, jika keluar dari lapangan parkir sekolah. Memang, ketika jam pulang, harus sabar menunggu giliran untuk keluar dari area sekolah jika parkir di dalam. Jika tidak ingin terjebak antrian yang cukup lama, maka alternatif lain adalah memarkirkan kendaraan di luar lingkungan sekolah. Ada beberapa rumah penduduk yang menyediakan tempat parkir berbayar. Dapi belum pernah melakukan itu. Dia masih sabar untuk mengantri keluar dari sekolah ketika jam pulang, walaupun hal itu memakan waktu setengah jam. Tapi, rumahnya juga dekat dari sekolah tempatnya belajar sekarang. Hanya makan waktu 5 menit dengan mengendarai sepeda motor.


Pemuda yang berambut hitam dan lurus akan memasuki lorong gerbang utama. Dia melihat seorang gadis yang berdiri dengan mengapit buku di dadanya. Ada dua buku tebal yang terapit di sana. Gadis itu berdiri dengan wajah cemas, menghadap ke pagar utama. Pagar pintu masuk utama tempat semua orang masuk ke areal sekolah.


Dapi tak mengenal gadis ini. Dia segera memalingkan wajahnya dan berusaha melewati gadis ini dengan cepat.


Sriiing.


Langkah kaki Dapi tertahan. Sengatan kecil yang masuk ke kepala berasal dari intuisinya ketika berpas-pasan dengan gadis yang berdiri di depan gerbang utama. Dapi tak menghentikan langkahnya seketika tapi melangkah dengan pelan. Dia berusaha mencari tahu, informasi apa yang akan diberikan oleh alarm yang dibunyikan oleh intuisinya di kepala.


Perlahan pemuda ini, melangkahkan kaki selanjutnya sebelum melewati gerbang utama dan masuk ke dalam lorong. Dapi sengaja melakukan itu. Mungkin ada penjelasan dari sengatan kecil yang tak terlihat oleh mata tapi dirasakan oleh Dapi. Tak ada hal aneh lagi terjadi. Sengatan kecil itu hilang. Sengatan yang sengaja ditimbulkan oleh intuisinya seperti alarm peringatan. Dapi membalikkan badannya perlahan. Melihat ke arah gadis itu. Kini dia berjarak 4 langkah di depan gadis yang berdiri membelakanginya.


Sesaat Dapi tertegun. Tak ada lagi alarm peringatan dari intuisinya berbunyi. Dia mengerutkan keningnya. Perlahan kembali berbalik dan meneruskan langkahnya. Dapi melangkahkan kaki kanan masih dengan perlahan, berharap ada penjelasan dari intuisinya. Ternyata sudah tidak ada lagi. Normal seperti biasa. Dengan cepat Dapi melalui gerbang utama dan masuk ke dalam lorong. Setelah melangkah sekitar sepuluh langkah menelusuri lorong, pemuda itu berbelok ke kanan. Dia menuju kelas yang berada di sebelah kanan gedung sekolah.


*******


"Selamat pagi anak-anak."


Seorang guru perempuan berbadan gempal masuk ke dalam kelas.


"Selamat pagi, Bu Guru...."


Semua siswa yang berada di kelas itu menjawab dengan serempak dan berirama.


Guru perempuan berjalan ke tengah ruangan. Lalu berkata, "Sebelum kita memulai pelajaran pagi ini, Ibu akan memperkenalkan siswi baru yang akan bergabung bersama kalian di kelas ini."


Semua siswa terdiam. Ada sekitar tiga puluh satu siswa dan siswi yang berada di kelas itu.


"Silahkan masuk, Nak," seru Guru perempuan yang berdiri di tengah kelas. Dia mencari seseorang yang seharusnya mengikuti dia masuk ke dalam ruangan. Tapi seseorang itu malah berhenti, di depan pintu kelas.


Seorang siswi masuk ke dalam kelas. Dia melangkah perlahan. Ada dua buku yang diapit di dadanya.


Dapi yang duduk di shaf kedua barisan ke empat, terbelalak. Dia mengenal gadis itu. Gadis yang beberapa jam lalu dilewatinya di pintu gerbang utama. Intuisinya kembali membunyikan alarm.

__ADS_1


"Ada apa, Dap?" tanya seorang teman yang berada di samping Dapi.


"Eh... enggak apa-apa kok, Ndra,"


Dapi sedikit terbata ketika gelagatnya diketahui oleh teman sebangku yang bernama Indra. Temannya ini baru dikenal ketika masuk di SMA 2 Amlapura.


"Lumayan cantik tuh cewek," celetuk Indra.


Dapi menoleh sekali ke temannya yang berambut ikal. Setelah itu Dapi menoleh ke depan. Melihat kembali ke gadis yang sekarang sudah berdiri di samping guru perempuan yang bertubuh gempal. Pemuda Pengendali Air berusaha menyelidiki gadis ini dengan intuisinya.


"Ayo, silahkan perkenalkan diri kamu...," perintah guru perempuan itu dengan lembut.


Gadis yang memakai bendo berwarna biru di kepalanya menoleh ke guru di sampingnya. Mengangguk dan kembali menatap ke depan. Dia tak kaku dan sangat percaya diri. Tak ada gerak-gerik yang menandakan dia malu berhadapan dengan tiga puluh satu siswa dan siswi yang berada di kelas itu.


"Hai... selamat pagi."


"Pagi...."


Semua menjawab kecuali Dapi.


"Perkenalkan, Nama saya Kemuning. Saya baru pindah dari Solo. Maaf, saya tidak mengikuti kegiatan program pengenalan sekolah seperti kalian minggu lalu, karena saya baru saja sampai di Bali kemarin. Terima kasih."


Gadis itu begitu pintar menata bahasanya. Dia berbicara dengan lugas dan jelas. Dia sedikit menundukkan kepalanya. Memberikan rasa hormat kepada teman-temannya. Buku tetap diapitnya di dada.


"Boleh juga tuh cewek...!"


Indra kembali menyeletuk.


Dapi seakan ingin menjitak kepala Indra jika sudah berteman lama. Tapi, gadis ini memang memiliki penampilan yang menarik. Tubuhnya yang mungil. Rambutnya yang tergerai panjang. Sebagian rambutnya sengaja diletakkan di pundak dan tergerai ke depan. Wajahnya juga terlihat cantik. Bisa dibilang adem ketika melihatnya.


"Oke. Kalian sudah mengenal Kemuning, kan?" tanya guru yang berdiri di depan gelas. "Sekarang Kemuning, silahkan duduk di samping Siska. Karena hanya bangku itu yang kosong.


Kemuning mengangguk, dia berjalan perlahan. Melangkah ke arah kanan dari sisinya menuju bangku shaft pertama di barisan pertama. Ada seorang siswi berkaca mata duduk di bangku itu. Dia tersenyum kepada siswi yang berkaca mata setelah mendekatinya. Siswi itu bangkit, mempersilahkan gadis yang masih mengapit buku di dada untuk masuk ke dalam. Kemuning duduk di bangku yang sampingnya bersandarkan  dengan tembok.


Dapi yang duduk jauh di sebrang, di shaf ke dua barisan ke empat yang bersandar di tembok sisi kanan ruangan, memperhatikan gerik-gerik gadis yang bernama Kemuning. Intuisinya tak bergeming lagi. Kini hanya dia yang berpikir. Siapa gadis itu sebenarnya? Mengapa intuisinya membunyikan alarm untuk kedua kali ketika melihat gadis itu?


*******


Sudah setengah jam Dapi menunggu di lapangan parkir sekolah. Dan sudah berkurang siswa di lapangan parkir yang termasuk lumayan luas. Pemuda yang mengenakan tas ransel berwarna biru, men-starter sepeda motor. Menjalankan perlahan keluar dari lapangan parkir yang beratap rangka baja. Perlahan dia melalui beberapa blok lapangan parkir. Dia melihat tak banyak lagi siswa yang berada di lapangan parkir dan sekolah. Mengendarai sepeda motornya dengan perlahan dan menuju pagar utama. Dia sesekali mengklakson dan tersenyum ketika bertemu dengan orang yang dikenal. Dengan perlahan melewati polisi tidur yang terpasang di lintasan pagar utama sekolah. Dia membelokkan sepeda motornya ke arah kanan. Di luar juga sudah terlihat sepi.


Beberapa meter Dapi menjalankan sepeda motor birunya keluar dari pintu pagar utama sekolah, kedua matanya menangkap seseorang yang berdiri di perempatan jalan kecil. Sepertinya dia mengenal orang itu. Gadis yang mengapit bukunya di dada.


Kemuning. Gadis yang memperkenalkan dirinya tadi pagi di depan kelas.

__ADS_1


"Apa yang dilakukannya di sini? Apakah dia menunggu seseorang?"


Dapi berusaha untuk memperlambat kecepatan sepeda motornya. Dia masih bertarung dengan hatinya. Apakah dia akan menegur atau mengabaikan gadis ini? Intuisinya juga tidak membunyikan alarm.


Sepeda motor yang dikendarainya semakin mendekati gadis yang sedang berdiri di perempatan jalan kecil. Hatinya berdegup kencang. Tiba-tiba tanpa disadari stang sepeda motor bergerak dan mendekati gadis yang sedang berdiri di perempatan.


Dapi mendelik. Dia kaget dengan aksinya sendiri.


Gadis yang berdiri sendirian di perempatan, menoleh ke arah sepeda motor yang mendekat.


"Ah... sudah kepalang tanggung." 


"Hai... Kemuning, kan? Aku Dapi. Teman sekelas kamu."


Dapi tiba-tiba berbicara dengan percaya diri ketika sepeda motornya berhenti pas di depan Kemuning.


Gadis yang masih terlihat fresh walaupun sudah pulang sekolah, hanya tersenyum kecil.


"Kamu nunggu siapa?" tanya Dapi dengan sopan. Dia ragu pertanyaannya akan dijawab karena melihat sikap gadis itu.


"Aku menunggu kakakku," jawab Kemuning santai.


"Oh... sudah dihubungi kakakmu? Apa dia emang benar-benar menjemput?" tanya Dapi asal.


"Iya. Baru saja aku hubungi, katanya sebentar lagi."


"Oh... kalau begitu, aku duluan ya...," tawar Dapi.


Kemuning mengangguk.


Dapi mengegas sepeda motor yang mesinnya masih menyala.


"Bye."


"Bye." Balas Kemuning.


Dapi menjalankan sepeda motor itu dengan perlahan dan membelokkan ke kiri. Dia sudah sedikit menjauh dari Kemuning yang masih berdiri di perempatan. Dapi bisa melihat dari kaca spion sepeda motornya.


Apa yang mau diberitahu oleh intuisiku tentang gadis itu?


Mengapa intuisiku membunyikan alarm ketika berpas-pasan dengannya tadi pagi? Pertanyaan itu masuk ke dalam pikirannya dan berusaha untuk dicerna. Tapi, rasa lapar di perut membuat dia tak konsentrasi. Dapi mengegas sepeda motornya dengan kencang agar bisa sampai di rumah dengan cepat.


*******

__ADS_1


__ADS_2