
Calonarang mengibas tongkat hitam terbuat dari kayu beberapa kali. Ratusan Rangda keluar dari sarang dan menyerang ketiga penyusup ke dalam kediamannya.
Di tengah gua yang memiliki ruang besar seperti gedung serbaguna, mereka bertempur. Gua yang terdapat stalagtit di atas langit-langitnya, terlihat angker. Ditambah lagi suasana gelap di dalam gua.
Calonarang bersama anaknya yaitu Ratna sangat terkejut ketika 2 pemuda dan satu Makhluk Setengah Burung masuk ke dalam gua. Penyihir tua itu lebih terkejut lagi karena pemuda titisan Raja Karangasem telah berada di sini. Setahu dia, tidak akan ada yang bisa keluar setelah masuk ke lubang hitam.
Penyihir tua tidak menyangka sama sekali akan hal ini. Dan... penyihir tua itu tidak dapat membaca gerakan mereka dengan kekuatan sihirnya. Dia merasa heran akan hal yang telah terjadi.
Artha melesatkan ketiga anak panah dan menciptakan api yang berbentuk elang dari anak panah. Elang Api telah terwujud dan berdiri secara vertikal, mengambang di atap gua yang tak terlalu tinggi, melebarkan sayapnya dan mengibaskan ke arah Rangda yang datang. Elang apa memgambang berdiri dan mengibaskan kedua sayapnya ke depan. Angin dari elang api sudah terasa panas menyerang ke depan. Apalagi jika bersentuhan langsung dengan kedua sayap yang lebar. Tentu saja sekumpulan Rangda hangus terbakar meninggalkan asap hitam setelah menyentuh sayap elang Api berwarna merah.
Sedangkan Dapi langsung mengeluarkan sinar biru pekat berasal dari Tombak Sakti Crystal Snow. Aksi itu membuat Rangda sempoyongan dan tugas Kinnara untuk menyebat Rangda yang sempoyongan dengan cahaya dawai dari kecapi, senjata andalannya. Dawai yang terlempar dari kecapi ketika dipetik, membentuk tali berukuran sejengkal bercahaya putih, menyabet dan membelah tubuh Rangda. Kinnara sengaja menyetel cahaya dawai berukuran sejengkal agar lebih banyak berkelebat dan menyerang Rangda.
Hanya dalam waktu 15 menit, ratusan Rangda itu lenyap dan meninggalkan awan hitam pekat yang telah menguap.
Calonarang memang memprediksikan, sekumpulan Rangda tak akan bisa menahan gerakan lawan. Dia memerintahkan kepada Ratna untuk mengeluarkan siluman miliknya. Sedangkan penyihir tua itu bersiap mengeluarkan monster Rangda.
"Aku tak ingin berlama-lama meladeni perempuan tua keparat ini, Kak."
Dapi menggeram. Dia melihat ke arah Artha yang ada di sampingnya. Sedangkan Kinnara berada di atas mereka, mengambang di udara. 5 langkah di depan Kinnara, Elang Api juga bersiaga. Makhluk imajinasi yang diciptakan siap bertempur kembali.
Dengan cepat Dapi merogoh ke dalam baju yang dikenakan di bagian pinggang. Dia mengambil sesuatu dan mengangkat tangan kiri ke atas.
"Calonarang!
Dapi berteriak seperti kesurupan. Dia menggeram. Suaranya bergetar. Tangan kiri mengangkat ke atas. Di dalam genggaman terdapat satu benda. Mata kirinya memberi kode kepada Calonarang ke arah benda yang diangkat, ketika penyihir tua itu fokus kepadanya. Kepalanya bergerak ke atas. Hanya sekali dengan cepat.
Calonarang terhentak. Rapalan dari mulut yang akan mengeluarkan Monster Rangda terhenti. Matanya seakan ingin mencelat ketika melihat benda yang telah berada di tangan kiri Sang Pengendali Air.
"Keparat, darimana kau mendapatkan itu!"
Bentak nenek tua dengan suara parau. Sepertinya dia marah besar dan terselip rasa takut dari kemarahan itu.
Ratna yang berada di samping juga terkejut. Berdiri kaku. Siluman ular yang berada di depannya, perlahan pudar, menghilang. Asap hitam pekat menguap. Anak Calonarang merasakan kekalahan di sisi mereka.
"Aku akan bernegosiasi denganmu. Lepaskan Kinnari dan adikku. Kitab sihir ini aku kembalikan kepadamu."
Dapi berbicara lantang. Tangan kiri tetap mengangkat benda yaitu Kitab Sihir yang ditemukan di meja belajar, terletak secara misterius.
"Keparat! Kau tak ada hak untuk mengambil kitab itu!"
"Kau juga tidak ada hak menculik kembaran Kinnara dan adikku."
Calonarang sangat marah. Dia mengangkat tongkatnya dan berusaha merebut Kitab Sihir yang berada tak jauh di atas kepala lawan. Dapi menangkis daya magnet yang dikeluarkan oleh Calonarang dari tongkat hitam untuk menarik benda berbentuk buku. Dapi menangkis serangan itu dengan cara menaikkan Tombak Sakti Crystal Snow sekali. Hanya sekali saja dan serangan Calonarang dapat dipatahkannya.
__ADS_1
Calonarang tersentak mundur. Kini dia mengerti mengapa dia tak bisa mendeteksi kedatangan ketiga penyusup ini ke dalam gua. Awalnya dia berpikir karena mereka datang di saat kekuatan sihirnya melemah yaitu waktu menjelang shubuh. Pada saat ini, yaitu waktu menjelang shubuh dan setelah shubuh ketika fajar akan menyingsing, semua kekuatan sihir dimanapun akan melemah, karena rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa sangat besar, turun ke bumi. Dan kekuatannya semakin melemah karena Kitab Sihirnya sudah keluar dari tempat pemujaan.
"Kinnari dan adikmu... tidak ada di sini. Mereka di bawa oleh Big Boss."
Penyihir tua itu menjawab dengan ragu-ragu. Mungkin rasa takutnya mulai bertambah.
Ratna masih diam terpaku disamping ibunya. Dia tak tahu harus berbuat apa.
"Big Boss telah mengingkari janji, aku sudah bersedia mengorbankan diriku untuk kebebasan adikku dan Kinnari. Tapi dia melanggar janji itu."
Lagi-lagi Dapi menggeram ketika membalas ucapan Calonarang.
"Jadi, itu alasan kamu kalah dengan mereka dan masuk ke dalam lubang hitam?"
Artha menoleh ke arah Dapi. Dari suaranya yang pelan menanyakan hal itu, terlihat wajah yang puas karena rasa penasarannya hilang. Selama ini dia bertanya mengapa Dapi bisa kalah dengan kekuatannya yang sangat besar. Pemuda Pengendali Air ini, bisa saja lepas dari jeratan senjata Big Boss dan mengelak untuk masuk ke lubang hitam, jika dia berusaha keras untuk melakukan perlawanan.
Dapi mengangguk. Menanggapi pertanyan Artha.
"Kalau kau memang masih ingin hidup, beri kami lokasi dimana Big Boss membawa Kinnari dan adikku."
Dapi percaya dengan kata-kata Calonarang bahwa kedua orang yang dicarinya tidak berada di lokasi sekitar gua saat ini. Dia memang sudah berusaha meradakan aura keduanya ketika masuk ke dalam gua tadi. Dan tidak menemukan Kinnari dan Firman dengan intuisinya.
"Aku tidak tau!" bentak penyihir tua yang berdiri dengan tongkat sebagai penyanggah.
Dapi sedikit berbisik ketika mengatakan kalimat itu. Dia mengkode Artha dengan cara melihat ke Kitab Sihir yang berada di atas, kemudian mengangguk.
Artha mengerti akan kode yang baru diberikan Dapi.
Tanpa basa-basi lagi, Dapi melempar Kitab Sihir milik Calonarang ke atas. Matanya menatap lurus ke arah Calonarang dengan tatapan sinis.
"Tidaak...!" jerit Calonarang.
Ketika Kitab Sihir akan dilempar oleh Dapi, Artha sudah bersiap memasang anak panah di busur. Kitab Sihir yang sudah melayang dipanah oleh Artha. Lalu dia menjentikkan jarinya dan api biru keluar dari anak panah.
Mulut Calonarang terkatup. Tubuh rentanya yang masih tertumpu pada tongkat hitam di tangan kanan, terpaku. Tak bisa bergerak sama sekali. Terdengar erangan pendek dari penyihir tua. Dalam hitungan detik, perlahan-lahan kulitnya mengelupas dan melayang ke udara.
"Biyang... "
Ratna menangis dan memegang ibunya. Tapi pegangannya ke tubuh tua renta itu hanya dalam hitungan detik. Detik berikutnya dia seakan memegang ruang kosong.
Penyihir tua yang berumur ratusan tahun, mengeriput dengan perlahan dan kulitnya terus mengelupas terbang ke udara. Kini setengah wajahnya sudah tidak ada lagi, berlanjut ke bagian kepala dan rambut perlahan-lahan terbang dan menghilang. Penyihir tua itu mengerang pendek, kemudian suaranya menghilang. Lidahnya menjulur keluar dan habis menjadi debu sampai ke bagian kaki.
Anaknya menangis tersedu. Perempuan yang sekarang berlutut di lantai gua telah melihat cara kematian ibunya yang sangat menggemaskan. Hanya tersisa sedikit asap hitam pekat mengiringi debu yang terbang ke udara. Tapi hanya sebentar saja. Kini... habis, menguap.
__ADS_1
Dapi melangkah perlahan. Dia mendekati Ratna yang sudah duduk tersungkur. Menangis.
"Aku ingin bertanya kepadamu, dimana Big Boss membawa Kinnari dan adikku?"
Pemuda itu bertanya dengan sungguh-sungguh. Suaranya pelan tapi tegas dalam mengucapkan kalimat itu.
"Aku tidak tau, Anjing! Aku tidak tau!"
Kesal Ratna. Dia menggemeretukkan giginya. Wajahnya tertunduk.
Dapi langsung berbalik. Tak ingin bertanya lagi kepada janda yang belum sebulan umurnya. Sia-sia mengeluarkan tenaga untuk berbicara kepada perempuan ini. Itu pikirnya.
Ketika Dapi berbalik. Ratna dengan cepat mengambil tongkat hitam pekat kepunyaan ibunya yang tergeletak di lantai gua. Dia berdiri dengan cepat dan mengarahkan benda dari kayu padat itu ke kepala Pemuda Pengendali Air.
"Awas!"
Artha dan Kinnara teriak bersamaan.
Dapi yang sedang menghadap Artha dan Kinnara, --membelakangi Ratna-- mensejajarkan secara horizontal Tombak Sakti Crystal Snow yang berada di tangan kanan. Tombak Sakti dalam kondisi mendatar itu, setengah ujungnya berada di belakang dan mengarah ke perut Ratna. Ketika Tombak Sakti telah sejajar mendatar dengan benar sesuai keinginan, Pemuda Pengendali Air memerintahkan bagian pangkal tombak untuk memanjang dengan kekuatan pikirannya.
Jleb.
Ugh.
Belum sempat Ratna membenturkan tongkat hitam ke kepala Dapi, perutnya sudah tertusuk benda tajam dari ujung tombak milik pemuda yang membelakanginya. Darah segar keluar dari mulut. Dia menahan serangan yang tak terduga. Tangan kirinya memegangi perut.
Dapi kembali memerintahkan ujung Tombak Sakti kembali ke posisi semula. Dengan cepat tombak itu memendek ke ukuran normal. Dapi mendengar suara tubuh yang jatuh ke lantai dan suara tongkat kayu yang juga membentur lantai. Dia berjalan pelan. Tak melihat sedikitpun ke belakang. Aksinya seperti pembunuh berdarah dingin. Senyum menyeringai di bibir. Sudut bibirnya sedikit naik.
"Kinnara, ambil tongkat hitam itu dan kita segera pergi dari gua keparat ini!" perintah Dapi kepada Makhluk Setengah Burung yang masih mengambang di udara.
Artha yang berada di depan, sangat jelas melihat wajah Dapi. Dia berkidik melihat wajah pemuda itu pada saat ini. Pemuda itu mengeluarkan aura kebengisan dari sisi lain di dalam dirinya. Baru kali ini Artha melihat aura itu di wajah Dapi. Dia bisa merasakan begitu kesalnya Dapi karena Big Boss mengingkari janjinya.
Kinnara mengambil tongkat di lantai yang tergeletak tak jauh dari tubuh Ratna yang mulai menguap. Tubuh itu mengeluarkan asap hitam pekat. Asap hitam pekat membumbung ke atas dan perlahan menghilang.
"Ayo kak. Kita pulang."
Dapi menoleh ke arah Artha yang berdiri berlawanan arah dengannya.
Artha mengangguk. Dia menjetikkan jari. Elang api menghilang. Dengan cepat tangan kokoh menangkap 3 anak panah yang kembali ke arahnya. Kemudian Artha berbalik dan mengikuti Dapi.
Mereka berdua melompat keluar dari gua yang gelap. Kinnara terbang mengikuti kedua manusia yang diberi anugerah oleh kekuatan Yang Maha Kuasa.
Mereka bertiga meninggalkan sesosok makhluk yang bersembunyi ketakutan di balik lorong gua yang berada di sudut Utara. Makhluk itu sangat ketakutan. Dia mengeluarkan keringat dingin sebesar jagung. Nafasnya tersengal. Dia berusaha mengatur nafasnya dengan baik saat ini. Menarik udara dari hidung secara perlahan, lalu mengeluarkan dari mulut. Di mulut bagian bawah terdapat beberapa taring gigi yang mencuat ke atas. Makhluk yang bertubuh besar bergerak perlahan. Punggungnya yang menyender di dinding, turun... bergesekan perlahan dengan dinding gua. Dia terduduk di sudut gua yang gelap dan lembab.
__ADS_1
*******