
Malam sepi yang dipenuhi bintang di Taman Tirta Gangga, tiba - tiba mendadak riuh dengan suara air yang menggelegar. Air - air dari semua kolam yang ada di taman itu mencelat ke atas setinggi 10 meter, lalu kembali turun karena tak sanggup melawan gravitasi bumi.
Dapi yang melayang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah, menengadahkan kepalanya ke arah langit malam, mengeluarkan cahaya putih dari tubuhnya. Cahaya putih itu keluar lurus menuju langit yang berbintang.
5 menit dia berada di posisi seperti itu. Alam bawah sadar menimbulkan kembali memori beberapa ratus tahun yang lalu, mengingatkan akan siapa dirinya sebenarnya.
Terlintas di alam bawah sadar yang menjalar ke otaknya, lembaran - lembaran kilas balik seseorang yang sedang memerintah kerajaan dengan berpakaian adat kerajaan zaman dahulu. Rakyat yang patuh dan sangat menyeganinya, juga terpapar dari kilas balik zaman dahulu yang seakan pernah dialami olehnya. Lalu pertempuran demi pertempuran untuk menyelamatkan kerajaan kecil yang dipimpin. Semua terlintas seperti gambar di LCD Proyektor yang lagi ditonton.
Sekarang, Dapi sadar siapa dirinya. Dia akhirnya mengerti tentang mimpi selama 3 hari ini yang berhubungan dengan Kerajaan Karangasem.
Cahaya putih yang keluar dari mulut, habis tak tersisa. Kepalanya masih menengadah ke atas. Tubuhnya mulai turun secara perlahan ke bawah menyentuh permukaan tanah.
Artha yang berada tak jauh dari Dapi, langsung berlari menuju ke punggung pemuda yang baru dikenal, lalu menahan punggung kecil itu dengan kedua tangan. Pemuda itu tertahan di pelukan Artha tapi masih dalam kondisi berdiri.
Dapi sadar akan apa yang telah terjadi saat itu. Alam bawah sadarnya muncul dan mengingatkan akan memori yang lama disimpan di dalam diri.
Kedua kaki mungil menyentuh tanah. Dia merasakan punggungnya ditahan oleh tangan Artha. Kepalanya kembali ke posisi normal, lurus ke depan. Matanya memerah. Ada air mata yang jatuh dari sudut mata, membuat jalur membekas ke telinga.
"Om....?" Dapi singkat mengeluarkan satu kata yang penuh arti. Dia melihat ke arah Om Bagas.
"Kamu sudah mengetahui siapa diri kamu sekarang, khan?" tanya Om Bagas.
"Ya," jawabnya singkat.
Artha masih dibelakang Dapi. Kali ini tangan kanannya memegang pundak Dapi dan sedikit mengurut pundak pemuda yang berbadan kecil tapi tinggi itu.
Dapi melihat ke samping, memandangi Artha yang tersenyum kepadanya. Wajah Dapi masih ada sedikit rasa bingung.
"Kamu adalah titisan Raja Karangasem yang pertama, Raja Gusti Nyoman Karang. Sesuai janjinya, dia akan kembali untuk menyelamatkan dunia ini," jelas Om Bagas.
Dapi terdiam.
Om Bagas menghadap ke arah tubuh Dapi. Sangat terlihat perbedaan tubuh mereka. Dapi memiliki tinggi 173 cm, berbadan kurus dan kecil. Tak terlihat bidang dadanya. Sedangkan Om Bagas lebih tinggi dari Dapi, mungkin tingginya sekitar 180 cm dan memiliki postur badan yang besar dan tegap. Bidang dadanya juga sangat lebar. Gagah. Begitulah kesan pertama ketika orang melihat.
Ketika Om Bagas telah berhadapan dengan pemuda yang memakai baju adat Bali, dia memegang kedua pundak pemuda itu dan berkata, "Kamu adalah Pengendali Air. Itu kekuatan level pertamamu. Malam ini, saya akan melatih kekuatanmu agar tak kaku lagi. Pada dasarnya kekuatan itu sudah melekat di tubuhmu, ibarat seperti kita sudah pintar menyetir mobil, setelah berapa tahun tidak menyetir pasti tetap akan bisa mengendarai mobil selamanya, tapi di awal akan terasa kaku dan gugup."
Dapi hanya terdiam. Dia menatap lekat mata pria yang bertubuh besar di depannya.
Artha mendengarkan penjelasan papanya kepada Dapi.
"Kamu sudah siap untuk melatih kembali kekuatanmu?"
"Dimana Om?" tanya Dapi.
"Di sini."
"Di sini? Bukankah kita akan membangunkan orang di sekitar jika aku berlatih di sini?" tanya pemuda itu.
"Seharusnya penduduk di sini sudah heboh dengan apa yang kamu lakukan tadi. Mereka akan berlari kemari jika mereka melihat cahaya putih yang keluar dari mulutmu. Dan orang - orang yang tinggal di sini akan terbangun dari tidurnya jika mendengar suara dentuman dari air - air di taman ini," jelas Om Bagas.
Dapi mengernyitkan keningnya.
Om Bagas mengelus rambut bagian depan pemuda yang ada di hadapannya. Pemuda ini seumuran dengan anak perempuannya.
"Panah yang saya lepaskan pertama kali ke langit adalah untuk melindungi kita dari dunia luar. Saat ini kita berada di dalam labirin. Nyata tapi tidak terlihat bagi orang - orang yang berada di luar dari labirin ini. Jadi, apapun kegiatan yang terjadi di dalam labirin, tak akan diketahui oleh orang yang berada di luar," jelas Om Bagas.
Dapi mengerti maksud dari penjelasan pria itu. Dia tak bertanya lagi.
" Ayo. Kita kembali ke pendopo. Sebelum kamu berlatih, ada beberapa hal yang harus dijelaskan terlebih dahulu."
Wuush
Tiba - tiba pria itu menghilang dan sudah berada di pinggir pendopo yang berjarak cukup jauh dari Artha dan Dapi.
Dapi terperanjat. Dia melihat pemuda yang berada di sampingnya sudah berpindah ke pendopo dengan sekejap mata, bahkan dia tak sempat untuk bertanya.
"Sekarang kamu bisa melompat menuju pendopo." Tiba - tiba Artha berbicara kepada Dapi.
"Ya. Kamu sudah punya ilmu meringankan tubuh. Tapi mungkin masih kaku, awali saja dengan berlari kecil lalu melompat. Lihat aku."
__ADS_1
Artha lalu melompat dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menuju pendopo. Jarak yang cukup jauh itu dilalui hanya dengan 4 kali lompatan. Sekarang tubuhnya sudah berada di samping ayahnya.
Dapi lagi - lagi terperanjat dengan kejadian itu.
"Berlari kecil, lalu melompat semampumu!" teriak Artha dari kejauhan.
Dapi mengangguk, lalu dia melakukan apa yang diperintahkan Artha. Dia berlari beberapa langkah lalu dia melompat.
"Woooooooow."
Suaranya keluar secara spontan ketika tubuhnya melayang setinggi 5 meter dari tanah. Kedua kakinya mengayuh di udara.
Tap.
Dapi menapakkan kedua kaki ke tanah yang berjarak 10 langkah dari tempat tadi. Tubuhnya bergoyang dan dia berusaha untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh.
"Ayo, coba lagi. Lompat dan terus lompat. Jangan berhenti menolakkan kakimu sebelum sampai kemari!"
Lagi - lagi pemuda yang ada di pendopo, berteriak kepadanya.
Om Bagas hanya tersenyum melihat kejadian itu. Kedua tangannya melipat di dada. Gaya pria itu sangat gagah.
Kedua kaki Dapi berlari kecil kembali, lalu dia menggenjotkan kaki itu seperti pegas dan dia berhasil melompat.
Tap.
Menggenjotkan lagi
Tap.
Lagi.
Tap.
Lagi.
Tap.
Tap.
Dan lagi.
Tap.
"Wow."
Pendaratan terakhir, di depan Artha, dia hampir terjatuh.
Artha dengan cepat menangkap tangan Dapi. Dia tertawa spontan.
Dapi juga tertawa.
"Ah. Aku berhasil," kata Dapi.
"Dia kakakmu. Panggil dia dengan sebutan kakak untuk ke depannya."
Tiba - Tiba Om Bagas membuat pernyataan itu sembari melihat ke arah Artha.
"Maksudnya, Om?" Dapi bertanya keheranan. Mengapa pria itu langsung membuat pernyataan demikian, padahal dia tidak memanggil Artha dengan sebutan nama atau berlaku tidak sopan.
"Artha lebih tua darimu dan kamu akan jadi adik ketika kamu bergabung dengan tim kami nantinya."
"Bergabung? Tim?"
"Nanti akan dijelaskan Artha. Sekarang kita fokus untuk melatih kekuatanmu agar tubuhmu tak kaku lagi."
Dapi mengangguk.
Malam ini, Dapi mendengarkan penjelasan Om Bagas dengan seksama. Dia mendapatkan beberapa pengetahuan mengenai kekuatannya. Dia adalah Pengendali Air. Dia bisa menggerakkan dan memerintahkan air kemana saja sesuai keinginan. Air yang terlihat seperti tidak memiliki kemampuan untuk melawan, ternyata punya kekuatan yang sangat dahsyat jika di tangan Dapi. Apalagi air yang dikendalikannya bisa berubah menjadi uap air, uap es dan kristal - kristal sesuai keinginannya. Dia terpana ketika diberitahu oleh Om Bagas akan hal itu.
__ADS_1
"Oke. Tahap awal kamu bisa melatih kemampuanmu dengan air yang ada di kolam. Fokuskan pikiran untuk memerintah air itu dengan gerakan tangan dan mengendalikan dengan pikiran."
"Baik, Om."
Kemudian Dapi berdiri di depan pendopo. Dia menghadap ke kanan. Di samping pendopo ada kolam yang dipergunakan untuk berenang dikhususkan untuk anak - anak.
Pemuda itu berdiri tak jauh dari pinggir kolam. Dia memejamkan mata. Menarik nafas panjang, lalu menggerakkan tangan kanan dari bawah ke atas dengan telapak tangan terbuka ke bawah. Sebagian air terangkat dari kolam. Air itu berbentuk memanjang seperti batang pohon yang keluar dari kolam. Lalu Dapi menurunkan tangan dengan cepat seperti melepaskan sesuatu. Air yang naik ke atas tadi, pecah dan kembali turun bersatu dengan air yang lain.
Dapi memalingkan kepalanya ke samping menuju pendopo. Dia melihat Artha dan Om Bagas yang sedang duduk di pendopo. Dia tersenyum lebar. Matanya sedikit mengecil karena senyum itu. Ada perasaan bangga di hatinya.
Atha tersenyum. Dia melihat seorang pemuda yang sangat imut dan berkepribadian ramah.
Begitu juga dengan Om Bagas, tersenyum lebar sehingga memperlihatkan giginya yang rapi.
"Lanjut. Gunakan imanijasimu," nyata pria itu.
Dapi lalu kembali fokus ke arah kolam. Dia mengangkat kedua tangan. Pikirannya memerintahkan sesuatu. Tangan kanan dan kirinya bergerak secara bersamaan. Air yang di dalam kolam terangkat menjadi 2 bagian. Sebesar batang kayu kecil.
Setelah air itu naik sekitar 1 meter, dengan cepat Dapi menggerakkan kedua tangannya bersilang ke depan membentuk huruf X.
Air yang di depan bergerak, menyatu, membelit satu sama lain. Naik ke atas. Berputar membentuk seperti kepang kuda pada ikatan rambut perempuan.
Dapi tersenyum lebar.
Kemudian dia memerintahkan air itu dengan pikirannya dan gerakan tangan. Kedua bagian air yang berbentuk seperti kayu itu, memisah dan terlepas dari bentuk kepangan rambut dengan cepat dan kembali menyatukan dengan air yang berada di dalam kolam.
Om Bagas terus memberikan arahan kepada Dapi untuk melatih dan memperlancar kekuatannya. Dia memerintahkan kepada Dapi untuk berimajinasi agar dapat membentuk air itu sesuai keinginan.
Dapi masih membentuk air dengan bentuk dasar seperti batangan, atau spiral atau lingkaran atau hanya sekedar menggerakkan air ke sana kemari. Dia belum bisa melatih tangan dan pikirannya seperti Artha yang membentuk burung elang dari api yang bisa dikendalikan.
Dapi mencoba sesuatu hal yang awalnya di dalam pikirannya tak mungkin terjadi. Lalu dia bertanya kepada Om Bagas apakah dia dapat melakukan hal yang dipikirkannya itu. Pria itu berkata", Silahkan dicoba. Konsentrasi. Itu yang terpenting."
Pemuda itu menggerakkan tangan, memerintahkan air untuk membuat lempengan setebal 2 inchi. Kemudian air itu mendekatinya menuju ke kakinya yang kecil. Lalu Dapi naik ke atas lempengan air itu, tapi di percobaan pertama, lempengan air itu pecah.
"Konsentrasi. Perintahkan air itu untuk mengeras," saran Om Bagas.
Dapi mencoba kembali. Dia mengayunkan tangannya, membentuk papan. Kemudian memerintahkan air itu mendekatinya. Dia juga memerintahkan air itu mengeras menjadi es sesuai keinginannya. Lalu dia menaiki potongan air yang sudah berubah menjadi lempengan es dan menggerakkan benda itu dengan pikirannya.
Lempengan itu bergerak perlahan, kemudian melesat dengan cepat.
"Artha awasi dia. Dia belum terlalu mahir," nyata pria yang duduk di samping Artha.
Dan ternyata benar, baru beberapa meter Dapi terbang dengan lempengan benda itu, dia tergelincir dan jatuh.
Artha melompat dengan gesit. Pemuda itu menangkap dan merangkul Dapi dalam pelukannya.
Dapi terkejut ketika tubuhnya lepas dari lempengan itu dan lebih terkejut lagi ketika ada seseorang yang menangkap bagian pinggangnya dan menggiring tubuhnya untuk turun ke tanah dengan perlahan.
Setelah kakinya menapakkan ke tanah, dia tersenyum kepada Artha.
"Terima kasih, kak."
"Hati - hati. Konsentrasi, itu yang terpenting," nyata Artha.
Dapi mencoba hal yang serupa. Dia kembali melakukan beberapa gerakan seperti semula. Dia berusaha untuk lebih fokus dan berkonsentrasi. Dengan perlahan, pemuda itu memerintahkan lempengan es untuk bergerak dan mengangkat dirinya yang sudah berada di atas. Tapi kali ini, dia membuat satu benda dari air yang mengkristal dan mengikat kakinya, seperti ikat pinggang yang mengikat kedua kaki di lempengan itu.
Dia berusaha untuk fokus dan berkonsentrasi. Lempengan es yang berbentuk seperti papan seluncur bergerak ke atas. Dia menambah sedikit kecepatan dari benda itu. Badannya sedikit bergoyang tapi dia kembali memantapkan posisi kedua kaki. Dia kembali menambah kecepatan dari pergerakan lempengan es dan sedikit menundukkan tubuh agar bisa menjaga keseimbangan.
Kini, lempengan es seperti papan seluncur itu telah bergerak dengan cepat, melesat ke udara setinggi 30 cm, bahkan lebih. Dia memerintahkan benda itu untuk memutar dan melesat dengan cepat. Pemuda itu menjerit dan tertawa dengan penuh rasa bangga dan senang.
Om Bagas tersenyum ketika melihat aksi Dapi. "Dia memang periang. Itu yang akan membuatnya menjadi superhero yang hebat suatu saat nanti," bisiknya.
Artha yang sedang berdiri melihat aksi pemuda itu, tersenyum lebar. Dia baru melihat seseorang yang sangat periang dan ramah seperti Dapi semasa hidupnya ini.
Malam yang penuh bintang akan berakhir. Dapi berusaha melatih kekuatannya dengan lebih keras. Ketika Shubuh akan berkumandang, sesuai instruksi Om Bagas, dia menyudahi latihan itu. Lalu bergegas untuk pulang ke rumahnya.
Om Bagas mengatakan bahwa dia akan pulang ke Jakarta sekarang sedangkan Artha akan berada di Bali selama 3 hari untuk menemani Dapi.
Saat itu, Dapi baru tahu kalau mereka berasal dari Jakarta.
__ADS_1
*******