
- 13 Maret 2011 -
Taman Wisata Tirta Gangga. Prasasti di depan gerbang tertulis 4 kata itu. Dapi memarkirkan sepeda motor Vario berwarna biru di depan bangunan bersejarah. Dia mengunci sepeda motor secara otomatis, kemudian mengarahkan gembok besar yang sudah diambil dari bagasi sepeda motor. Dia mengunci bagian depan dengan cara memasukkan batang gembok ke lubang disc brake yang berada di ban depan, lalu mengunci gembok tersebut. Agar waspada saja, masih ada juga orang - orang yang melakukan pencurian sepeda motor saat ini, padahal Bali terkenal dengan keamanannya.
Dapi melangkahkan kakinya yang ramping menuju pintu gerbang taman. Taman ini berjarak 5 km dari rumahnya di Almapura.
Pemuda yang tinggi, kurus tapi terlihat mungil karena tak memiliki bidang dada yang besar, saat ini mengenakan pakaian adat Bali. Di kepala, dia mengenakan udeng berwarna putih. Topi khas suku Bali yang terbuat dari kain lalu dililitkan di kepala dan ikatan akhirnya yaitu kedua ujung kain berfokus di area depan, pas di kening pemakai. Pria Bali sering memakai udeng, tidak hanya di acara adat, tapi juga di kegiatan sehari - hari mereka. Hari ini dia memakai baju adat Bali. Bagian tubuh atas dibalut dengan Baju Safari berwarna putih polos. Baju Safari yang dikenakannya sedikit longgar.
Bagian tubuh bawahnya dibalut dengan kamen dan saput. Kedua kain tipis ini seperti kain panjang. Kamen adalah kain tipis yang dipakai di bagian dalam, ukurannya lebih panjang daripada saput. Kamen itu berwarna kuning keemasan bercorak batik. Sedangkan bagian luar, memakai saput berwarna putih yang bahan kainnya sedikit mengkilat. Saput menimpa kamen yang berada di bagian dalam. Karena saput lebih pendek secara ukuran panjang dan lebarnya, maka di bagian bawah mendekati mata kaki, terlihat kamen yang berwarna kuning keemasan berukuran sejengkal. Di bagian depan dari perut ke bawah, juga terlihat kamen yang berlipat - lipat dan meruncing ke bawah. Perbedaan kamen yang berbentuk runcing ke bawah, dipergunakan untuk sembahyang sedangkan kamen yang bawahnya dilipat berbentuk mendatar, dipergunakan untuk acara adat atau pesta. Di bagian pinggang, Dapi mengenakan selendang yang diikat untuk memperketat kamen dan saput yang dikenakan. Selendang itu berwarna dominan biru bercampur putih. Tenunannya menggunakan benang mengkilat. Sedangkan bagian kakinya hanya beralaskan sendal jepit berwarna putih. Dia terlihat sangat imut menggunakan pakaian adat itu.
Ayah Dapi asli Suku Bali. Dibesarkan di Bali dan menua di Bali. Tapi ayahnya menjadi seorang muslim ketika menikah dengan ibunya yang berasal dari Jakarta. Walaupun muslim adalah minoritas di Bali, tapi ayahnya taat menjalankan ibadah sebagai seorang muslim dan ayahnya juga selalu menasehati untuk tetap melestarikan kebudayaan dan adat istiadat Bali.
3 malam ini, Dapi bermimpi dan isi mimpinya adalah hal yang sama yaitu menggiring dia untuk berkunjung ke Taman Wisata Tirta Gangga. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke tempat itu setelah izin dengan ibu dan ayahnya.
Dia sangat menghormati tempat leluhur itu, karena itulah dia memakai pakaian adat untuk berkunjung ke sana.
Matahari yang hampir tenggelam, masih menyinari tubuhnya yang ramping ketika masuk melalui gerbang utama Taman Wisata Tirta Gangga.
Pemuda itu masuk menuju gerbang utama. Patung-patung yang berbaris rapi layaknya prajurit seakan menyambut kedatangannya. Di hadapan pemuda itu sudah terlihat kolam berisi air dan jernih. Pertama melihat saja, tempat itu sudah memanjakan mata dengan kebersihan dan keindahannya. Takjub. Itu yang tergambar dari mata Dapi, padahal dia sudah beberapa kali ke tempat ini.
Di hadapan Dapi terdapat kolam dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar sekitar 6 meter. Ditengah kolam ada prasasti setinggi 1, 5 meter. Prasasti itu berada tepat di tengah kolam. Dari pangkal kolam terdapat batu - batu yang terpatok dan tersusun rapi menuju ujung kolam. Batu ini dipergunakan untuk orang - orang yang ingin menyebrangi kolam tersebut. Di samping masing - masing barisan batu, terdapat 4 patung berkarakter dewa kepercayaan Suku Bali dari pangkal menuju ujung kolam. Patung itu berada di kanan dan kiri patokan batu - batu yang dipergunakan untuk menyebrang dan di belakang patung itu masih ada juga patokan batu - batu untuk menyebrangi kolam tersebut dari sisi lain.
Dapi melangkah, menuruni anak tangga. Kemudian dia menapakkan kaki kanan ke batu yang pertama di pangkal kolam. Ukuran batu itu sekitar 1.5 meter persegi. Dia berhenti sebentar ketika kedua kakinya sudah menapaki batu itu dengan mantap. Di dalam kolam terlihat ikan yang berenang dengan gembira dan mendekati tempat dia berdiri. Ikan - ikan itu berharap diberi makan oleh para tamu. Dapi berdiri terdiam dan berpikir untuk mengambil arah kiri atau arah kanan karena iringan patokan batu yang berjejer itu, membagi kedua arah yaitu kiri dan kanan dengan bentuk dan jarak yang sama.
__ADS_1
Pemuda itu memutuskan untuk melangkahkan kaki kanannya ke arah kanan. Dia menapaki patokan batu - batu yang dibuat berukuran 60 cm per segi sebagai jembatan untuk menyebrangi kolam. Tangan kanannya memegang dan menaikkan sedikit kamen agar ujungnya tidak basah terkena air kolam. Perlahan demi perlahan dia melompati patokan batu - batu itu. Untuk menuju ujung kolam, dia harus melewati sekitar 16 patok batu agar sampai ke ujung kolam.
Dia melewati patokan batu, masih dengan berjalan perlahan. Di patokan batu ke 3, dia melihat patung berkarakter dewa Suku Bali yang berada di sebelah kanannya. Dia tak tahu dewa apa itu. Pemuda itu tersenyum kecil. Dia melangkahkan kaki kirinya menuju patok batu ke empat setelah dia berbelok ke kanan tadi. Ujung dari jari - jari kakinya sengaja disentuh sedikit agar merasakan dinginnya air tersebut sembari melangkah dan berharap ikan - ikan yang ada di kolam terkecoh dengan aksinya yang iseng. Pemuda itu kembali tertawa kecil. Dia sangat mudah mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri. Kedua kakinya terus melangkah perlahan.
Di langkah berikutnya menuju patok yang ke delapan, dia melihat ke kiri. Dia sudah berada di tengah kolam, di samping kirinya terdapat menara air 4 tingkat. Tinggi menara air itu sebatas lehernya. Dia kembali mencelupkan ujung kaki kirinya ke permukaan air sembari melangkah. Lalu berjalan perlahan kembali menapaki patok batu selanjutnya. Dia juga menoleh ke kanan terdapat patung dewa yang kedua.
Pemuda itu berhenti dan memandang ke permukaan air. Dia memandang dengan wajah serius ke permukaan air yang bergelombang. Asal gelombang itu berada di sebelah kirinya, di samping menara air. Matanya mencari - cari sesuatu.
Dapi bukan tipe manusia yang penakut. Dia hanya penasaran, "Apakah ikan itu yang melompat ke permukaan air?" pikirnya.
__ADS_1
Lalu dia berjalan kembali melewati patok berikutnya. Kali ini, ujung jari kaki kanannya yang menyentuh air sembari melangkah. Senyum masih menghiasi wajahnya. Dia bertingkah iseng lagi.
Ketika kaki kanannya sudah menapak di patok yang ke 10, permukaan air di sebelah kanan bergelombang kembali. Dia langsung menoleh. Dia tersenyum kecil. "Ternyata ikan - ikan itu lebih iseng dariku," gumamnya.
Beberapa langkah lagi dia akan menuju ujung kolam. Di depannya sudah terlihat taman yang di tengah terdapat menara air setinggi 10 meter. Menara air ini bentuknya berundak-undak seperti atap Pura. Kepercayaan dari penduduk setempat, air yang ada di kolam Tirta Gangga berasal dari sumber mata air di bawah menara air itu dan bahkan oleh masyarakat setempat dianggap suci dan digunakan untuk kegiatan upacara adat.
Hatinya memerintahkan dia untuk menuju ke menara yang paling tinggi di taman itu.
Dapi melompati ke enam sisa patok batu yang berada di kolam untuk mencapai pinggir kolam dengan cepat. Ketika dia sampai di patok terakhir dari rute yang di lalui, dia melompat ke kiri memijak patok yang berukuran sama seperti patok batu di pangkal kolam yaitu berukuran 1.5 m per segi. Dia mendaratkan kedua kakinya di patok itu, berdiam sebentar, menatap ke depan lalu melangkahkan kakinya menuju pinggir kolam. Dia berjalan menuju taman, pas di depannya sekitar 10 meter untuk mencapai menara air yang tinggi di tengah taman.
Dapi berjalan memutar, menyusuri rute jalan yang berumput pendek menuju taman. Indah, asri dan nyaman ketika melihat taman itu. Perawatan taman itu sangat terjaga sehingga enak dipandang mata. Dalam beberapa langkah dia sudah berada di depan menara air yang tinggi.
"Apa yang harus aku lakukan di sini?" lirihnya dalam hati. Dapi melangkah, mendekati menara air yang tinggi itu. Dia berdiam diri menatap ke atas. Matahari sore menyinari punggungnya. Pemuda itu memperhatikan semburan air yang keluar dari bagian paling atas dan jatuh ke bawah mengaliri undak - undak (bagian - bagian berbentuk mahkota) di seluruh menara itu. Ada 9 undak - undak dari atas ke bawah. Suara gemericik itu seakan berbicara dengannya untuk tetap tinggal lebih lama di Taman Wisata Tirta Gangga.
__ADS_1
*******