Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi

Peta 7 Jiwa : Hikma Andapi
Let Me Know : Ep. 20


__ADS_3

"Kak, jangan cari aku lagi. Selamatkan dirimu."


"Aku harus mencarimu, dunia membutuhkan kita. Kita ditakdirkan bersama untuk menjaga Pohon Kalpataru. Tidak ada kau, berarti tidak ada aku. Aku adalah kau, kau adalah aku."


"Tapi... aku tak bisa lepas dari wanita itu, dia sangat kuat. Apalagi makhluk celaka itu menjadi pemimpin mereka. Wanita itu menjadi semakin kuat karenanya."


"Tidak. Bagaimanapun aku akan menyelamatkanmu."


"Selamatkan pemuda yang menjadi titisan Raja Karang Asem. Dia lebih penting daripadaku."


Gadis yang berbicara itu terlihat tergesa - gesa mengucapkan kalimat terakhir. Seketika awan hitam menyelubungi gadis yang berambut panjang. Di balik awan hitam itu, terdengar teriakan panjang melengking keras.


Kinnara membuka kedua matanya. Bulir bening mengalir di sudut mata secara perlahan. Dia merasakan penderitaan adik kembarnya. Tapi sampai saat ini dia belum bisa menemukan kembali di mana mereka menyembunyikan adiknya.


Kinnara berdiri di atas bukit yang dipijak, dia melemparkan tubuhnya ke balik awan yang berada di bawah bukit. Terjun dengan kepala lurus ke bawah. Tak sampai 10 detik, dia membuka sayap putihnya yang lebar, dan mengepakkan beberapa kali. Makhluk itu hilang di balik awan sore.


*******


Gua yang gelap dan sangat terasa hawa mistis di dalamnya, terletak di sekitaran Kabupaten Karangasem. Gua itu berada di balik pegunungan, Gunung Agung. Tempat yang tak terjamah oleh manusia membuat gua itu terlihat lebih angker dan bermistis. Pohon - pohon liar yang aneh dan hanya tumbuh di sekitaran gua menambah kesan angker. Kawasan yang berbatu dan lembab itu tak terdeteksi oleh mata manusia atau kekuatan ghaib lain, karena ada hawa hitam yang menyelubungi. Hawa hitam itu sebagai pelindung dan tameng agar tak terlihat oleh makhluk lain. Mereka, sepertinya sengaja bersembunyi di gua, di balik Gunung Agung.


Akar - akar pohon yang besar,  berjuntai menutupi pintu masuk ke gua. Secara kasat mata, tidak akan terlihat bahwa ada pintu untuk masuk ke dalam. Tentu saja akar - akar itu dibiarkan belukar. Semakin semak dan belukar akan semakin baik, menurut penghuninya.


Di dalam gua, terdengar suara 2 makhluk yang sedang berdiskusi. Mereka berbicara pelan tapi jelas terdengar antar satu dan lainnya.


1 makhluk duduk di kursi batu yang punggung kursi itu memanjang ke atas seperti batu nisan besar. Ujung punggung kursi masih tersisa 20 cm di atas kepala makhluk yang duduk di situ. Di atas punggung kursi yang berwarna hitam pekat, berbentuk kerucut berundak - undak, bertengger seekor burung gagak hitam. Hanya ada satu kursi di ruangan itu.


Makhluk itu berwujud pria, memakai jubah hitam. Jubah hitam yang dikenakan, saat ini menutupi kedua kakinya yang bersilang. Seluruh pakaian yang dikenakan juga berwarna hitam. Topeng yang menghiasi wajah berwarna sama. Sepertinya topeng itu sengaja dipakai untuk menutupi luka di daerah kiri wajah. Masih terlihat sedikit luka bakar di bagian pipi bawah mendekati rahang. Pekat. Semua terlihat gelap termasuk rambutnya yang hitam, menjuntai sebahu tapi lurus dan klimis.


Satu makhluk lagi adalah seorang wanita tua yang berwujud lebih mengerikan dari pria tadi. Makhluk berwujud wanita tua berambut putih, berdiri sekitar 6 jengkal di hadapan pria tadi. Rambutnya keriting semak, panjang sampai ke punggung. Rambut perempuan tua itu tak terurus dengan baik. Tersemat di kepalanya, bandana berwarna hitam. Bandana itu menahan rambutnya yang keriting semak agar tak mengenai kedua mata. Yang lebih menakutkan lagi adalah kedua pupil matanya yang berwarna putih bersinar.

__ADS_1


"Apakah dia buta?"


Mungkin itu pertanyaan seseorang ketika melihat wanita ini dan pastinya manusia yang normal tak akan ingin berlama - lama melihat wajah wanita tua  yang sekarang berdiri di hadapan pria berjubah hitam. Wajahnya yang keriput menambah kesan seram pada dirinya. Terlihat jelas, wanita tua ini adalah seorang penyihir.


Mereka berdua berada di ruangan yang gelap. Ruangan yang sengaja dipasang obor dengan api kecil dan hanya beberapa obor yang terpasang di ruangan itu. Mungkin, mereka sengaja membuat suasana ruangan tidak terlalu terang. Alasan pertama karena sumber kekuatan mereka adalah kegelapan dan alasan kedua, mungkin mereka tidak terlalu ingin memperlihatkan wajah mereka yang menyeramkan.


Sesekali terdengar tetesan air yang jatuh dari langit - langit gua menyentuh dasar lantai di sudut ruangan. Terdapat banyak stalagtit di langit - langit gua yang gelap. Bunyi percikan air itu sangat jelas terdengar ketika dua makhluk itu berhenti berbicara.


Ada hal yang menarik di sudut ruangan itu, selain stalagtit yang begitu banyak di langit - langit yaitu satu tubuh kecil mengambang di udara. Tubuh itu mengambang secara horizontal. Kakinya merapat. Kedua tangannya juga merapat di samping tubuhnya. Wajah dari tubuh itu menghadap ke langit - langit gua, tapi dalam kondisi terpejam. Tubuh itu adalah sosok anak laki - laki yang mungkin masih berumur 12 tahun. Anak laki - laki itu memakai baju adat Bali lengkap. Baju safari berwarna putih melekat di tubuhnya. Kamen dan saput yang digunakan, ada sebagian yang terjuntai ke bawah. Tubuh yang mengambang 1.5 meter dari lantai gua, tak bergerak sama sekali. Anak laki - laki itu dikelilingi awan hitam di seluruh tubuh.


"Aku akan memanfaatkan anak laki - laki itu sebagai senjata terakhir jika bonekamu gagal menjalankan misinya."


Pria itu berbicara sambil mengetuk - ngetukkan jari telunjuk dan jari manis di lengan kursi secara perlahan dan bergantian. Kedua jari itu seakan menari dan membentuk irama 2 ketukan yang beriring. Dia terlihat santai. Wajahnya memandang lurus ke depan.


"Baik Tuan. Saya percaya dengan rencana anda," jawab wanita tua yang berdiri di hadapannya.


"Bagaimana perkembangan dari misi gadis itu? Apakah ada kemajuan?"


"Tentu saja ada, Tuan tapi...."


"Tapi apa?" tanya pria itu tegas.


Kedua jari masih mengetuk - ngetuk tangan kursi yang terbuat dari batu gunung yang padat.


"Tapi, semalam baru saya cuci kembali pikirannya karena sepertinya dia jatuh cinta dengan pemuda itu."


Pria itu mendengus cepat.


"Percuma kau punya kekuatan sihir yang hebat, Calonarang. Semua orang di Pulau Bali ini berkidik ketika mendengar namamu. Masa' kamu tak bisa menanggulangi hal ini. Kerahkan kemampuan terbaikmu untuk menyihir gadis itu."

__ADS_1


Pria itu membentak keras. Dia tak perduli berapa umur wanita tua itu. Dia sedikit murka.


"Baik, Tuan," balas perempuan tua yang dipanggil dengan nama Calonarang dengan cepat dan pelan. Suara serak yang dikeluarkan membuat manusia biasa yang mendengar pasti berkidik, tapi tidak bagi pria yang duduk di kursi batu. Wanita tua itu kembali membungkukkan kepalanya.


Tiba - tiba pria itu berdiri. Terlihat badannya yang besar dan tegap. Tangan kanannya diangkat ke samping, searah jam 3 dari tempat dia berdiri. Jari telunjuk dan jari manis yang dipergunakannya untuk mengetuk lengan kursi batu tadi, mengacung ke samping, menunjuk tubuh anak laki - laki yang mengambang. Kedua jari itu bersatu dengan rapat. Sedangkan ketiga jari lain di tangan kanan tertekuk. Kemudian tangan kanan dengan kedua jari yang mengacung, bergerak perlahan dari samping menuju hadapannya, seolah - olah jarum jam bergerak mundur dari angka 3 ke angka 12.


Calonarang melihat apa yang dilakukan oleh pria itu dengan wajah datar.


Tangan kanan pria berbadan besar itu, ternyata menggerakkan tubuh manusia yang ditunjuknya tadi. Tubuh yang kaku, bergerak perlahan. Mengambang datar tapi bergerak mengikuti perintah tangan pria berubah hitam. Awan hitam yang menyelubungi tubuh anak laki - laki itu bersuara. Suara itu seperti suara bisikan yang sahut menyahut.


Tubuh anak laki - laki yang pucat, terlihat dari wajahnya, kini berada di hadapan pria yang berdiri tak jauh dari kursi batu. Masih tetap mengambang secara horizontal. Kain yang dipakainya di bagian bawah tubuhnya sedikit berkibar ketika bergerak menuju hadapan pria yang merupakan pemimpin dari calonarang.


"Kau akan menjadi anak kesayanganku. Aku tak akan membunuhmu tapi tugas utamamu hanya sebagai pancingan untuk melumpuhkan kakakmu dan bergabung dengan kita."


Pria itu tersenyum kecil. Senyum itu terlihat angker. Wajahnya pasti sangat menyeramkan jika topeng itu dibuka.


Pria itu tertawa menggelegar. Gaung dari suara tawanya di gua, membuat suara baru yang berdecit ramai. Suara yang berdecit ramai itu berasal dari ruangan gua yang lebih dalam.


Wuuuush....


Pria berpakaian serba hitam menghilang dengan cepat, hanya meninggalkan segumpal awan hitam di tempat dia berdiri semula. Sedetik...


Dua detik...


Tiga detik...


Awan hitam itupun hilang.


*******

__ADS_1


__ADS_2