
Dapi tersentak. Indra ke enam membangunkan dirinya yang sedang tertidur lelap. Intuisinya berkata bahwa ada bahaya yang akan menyerang. Dia melihat jam di dinding kamar. Jarum jam itu menunjukkan pukul 02.47 Wita. Dia bergegas mengganti baju piyama yang dikenakan.
Pemuda itu berlari menuju lemari pakaian dan mengganti pakaian dengan cepat. Dia berusaha memasangkan celana dan baju hitam berlengan panjang ke tubuhnya. Lalu dia menuju pintu kamar dan bergerak keluar dari Bale Dauh. Tubuhnya yang ramping segera melompat ke atas atap Bale Dauh dengan cepat. Pemuda itu meraba rambut di ujung belakang telinganya dan mengambil sesuatu benda. Setelah dia mendapatkan benda kecil yang dicari, dengan seketika benda itu membesar di tangan kanan. Tongkat Sakti Crystal Snow berada di posisi tangan kanan dalam ukuran normal.
Tongkat Sakti di arahkan ke atas dan menembakkan cahaya putih lurus ke langit dan membentuk payung berdiameter 4 km. Dapi membuat Invisible Circle. Ilmu itu dipelajarinya dengan cepat dari Om Bagas.
Pemuda itu sengaja menembakkan cahaya ke langit, membuat Invisible Circle yang besar karena intuisinya berkata bahwa akan ada serangan cukup besar malam ini.
Dapi berdiri di atas Bale Dauh. Dia menengadah ke atas dan bersiul panjang. Dia berusaha memanggil Kinnara. Dalam hitungan menit Kinnara, Makhluk Setengah Burung, terlihat di atas langit. Makhluk itu terbang berkeliling lalu berusaha mendarat di samping Dapi, di atas atap Bale Dauh.
Tak berapa lama, Kinnara menginjakkan kaki di atas atap, berada di samping pemuda yang memakai baju hitam berlengan panjang. Sayapnya menutup dengan cepat di punggung.
"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Kinnara. Dia berusaha mengatur nafas.
"Intuisiku berkata akan ada serangan dari musuh malam ini."
Dapi melihat sekeliling dan benar - benar dalam kondisi waspada.
Tak berapa lama, terdengar suara decitan yang memekakkan telinga dari kejauhan. Kinnara mendongak ke atas, lalu dia segera melompat dan mengepakkan sayap beberapa kali, terbang di atas Dapi.
"Yang Mulia... ratusan Rangda terbang ke arah kita! Ternyata selama ini musuh kita adalah Calonarang! Dia akan akan mengirim kutukan ke seluruh penduduk Amlapura!" teriak Kinnara dari atas.
"Calonarang...," lirih Dapi.
"Ternyata... Calonarang adalah sekutu Big Boss untuk melawan Yang Mulia!"
Lagi - lagi Kinnara berteriak.
__ADS_1
Suara decitan makhluk malam semakin mendekat. Kinnara terbang melesat ke depan dengan cepat. Dia menungkik ke atas dan mengambang di udara. Makhluk Setengah Burung mengepakkan kedua sayap dan berdiri secara vertikal, lalu dia memetikkan dawai dikecapinya secara cepat. Entah darimana dia mengambil alat musik yang menjadi senjatanya. Tiba-tiba sudah ada di tangan. Kilatan cahaya berbentuk dawai berjumlah puluhan, melesat dari kecapi menyerang makhluk malam yang disebut Rangda oleh Kinnara tadi.
Dengan cepat Dapi melukis dengan menggunakan jari telunjuk kiri di udara, lalu terbentuk hewan imajinasi yaitu seekor angsa berwarna biru laut. Dapi melompat ke atas hewan imajinasi itu, memerintahkan untuk bergerak ke atas, mensejajarkan diri dengan Kinnara. Dia melukis di udara kosong dengan jari Dia melesatkan jarum - jarum kecil berbentuk kristal dari tangan kiri, menyerang ratusan Rangda yang datang dari arah utara. Jarum - jarum kristal itu menembus tubuh makhluk sebesar kelelawar.
Begitu juga dengan cahaya putih berbentuk dawai yang dikeluarkan oleh Kinnara, cahaya itu membelah tubuh Rangda menjadi dua.
Tapi, Rangda yang menyerang mereka tidak berkurang sama sekali, malah semakin banyak berterbangan. Makhluk yang berdecit secara bersamaan itu semakin menggila. Suara mereka seakan memecahkan gendang telinga manusia biasa jika mendengarkan suara itu.
Dapi memutar tombak yang dipegang lalu mengeluarkan ribuan jarum dari putaran senjata ampuhnya. Serangan dari Dapi tentu saja banyak mengenai Rangda yang terbang acak di depan mereka. Makhluk itu berdecit dengan suara yang berbeda karena kesakitan.
Kinnara masih tetap memetikkan kecapi dan melepas cahaya putih berbentuk dawai. Kali ini petikan lebih cepat dua kali lipat dari semula.
Rangda banyak yang berguguran jatuh ke lantai, tapi masih banyak lagi yang datang, ditandai dengan suara decitan yang sangat riuh di kejauhan. Mereka berusaha keras untuk melawan makhluk malam yang dikendalikan oleh Calonarang dari jarak jauh.
Kali ini Dapi mengangkat tombak ke atas, mengarahkan ke depan dan sinar berwarna biru laut yang cerah keluar dari Batu Biru Laut yang berada di tengah tombak. Sinar biru pekat menyilaukan mata Rangda, makhluk itu terbang tak tentu arah, tapi tidak mati. Mereka terbang berputar saling bertabrakan. Sinar biru dikeluarkan Dapi hanya beberapa menit untuk mengacaukan pergerakan sekumpulan Rangda.
Selanjutnya Dapi ingin membuat serangan baru karena posisi sekumpulan Rangda yang terhuyung. Tapi... dari tempat Dapi mengambang, dia melihat kilat putih yang bergerak sangat cepat mengelilingi ratusan Rangda. Cahaya putih bergerak dengan kecepatan hanya satu kali kedipan mata, tak sampai hitungan detik.
Kinnara memantau ke depan, matanya dipicingkan, dia tak melihat apapun.
Dapi tak menunggu jawaban dari Kinnara yang berada di samping. Belum lagi dia mendapat jawaban dari apa yang dicari, pemandangan selanjutnya yang terjadi dihadapan mereka adalah jatuhnya ratusan Rangda ke tanah secara serentak. Wajah Dapi penuh dengan rasa keheranan, begitu juga dengan Kinnara. Ratusan makhluk malam yang dikrim Calonarang sudah berserakan di tanah.
Dapi memerintahkan hewan imajinasi yang ditungganginya terbang beberapa jengkal ke depan. Kinnara mengikuti dari belakang. Pemuda itu melihat ke bawah tanah yang berjarak 10 meter dari mereka, sekumpulan Rangda sudah bergelimpangan tak bernyawa. Tak berapa lama makhluk malam berbentuk kelelawar berubah menjadi asap hitam dan menguap.
"Wangi ini...." Kinnara mengenduskan hidungnya.
"Bunga Kasna...," lirih Dapi. Dia melihat sekeliling mencari dan ingin merasakan sesuatu dengan indra ke enam. Tapi dia tidak menemukan yang dia cari.
__ADS_1
*******
"Anak kecil, Yang Mulia, tapi dia memiliki tinggi yang hampir sama dengan Yang Mulia. Mungkin beda umurnya sekitar 2 tahun dengan Yang Mulia," jelas Kinnara kepada Dapi.
Pemuda itu memperlihatkan wajah serius saat ini. Dia berpikir keras dengan orang yang diceritakan oleh Kinnara.
Kinnara baru bercerita kepada Dapi mengenai pertempuran dengan utusan Calonarang. Kinnara sebenarnya sudah tahu kalau lawan mereka adalah Calonarang karena dia mengenali Ratna ketika menyerang dirinya. Tapi, Makhluk Setengah Burung baru mengatakan hal ini kepada Dapi, padahal kejadian itu sudah 3 hari yang lalu. Dia juga bercerita bahwa ada seorang anak laki - laki yang menolongnya dengan cara menancapkan Bunga Kasna ke leher lawan. Tapi dia tak tahu bagaimana cara anak laki - laki yang menolongnya melalukan hal itu. Dan Kinnara juga bercerita bahwa anak laki - laki yang tak terlalu banyak bicara pada saat itu, ingin mengetahui tentang Dapi dan menanyakan banyak hal tentang pemuda yang menjadi titisan Raja Pertama Karangasem. Tentu saja dia memberitahukan banyak hal tentang Dapi sebagai imbalan atas pertolongan anak laki - laki kepadanya.
Dapi berpikir sangat keras, siapa anak laki - laki itu dan mengapa dia sangat ingin mengetahui tentang dirinya?. Indra ke enam tidak dapat membaca pergerakan dari satu makhlukpun dan intuisinya juga tidak memberitahu apapun. Dia hanya melihat cahaya putih secepat kilat yang berkeliling di seputaran kumpulan Rangda di hadapan mereka pada saat pertempuran tadi. Itupun hanya dalam hitungan detik, setelah itu dia tak melihat lagi. Mereka hanya melihat sekumpulan Rangda yang mati dan menguap meninggalkan jejak hitam di lantai. Tapi, anehnya banyak Bunga Kasna yang bertebaran di tanah di area pertempuran. Yang membuat aneh, bukan keberadaan Bunga Kasna, tapi siapa yang membawa Bunga Kasna yang terkenal bisa melenyaokan aura misris. Makhluk ini pasti berasal dari Bali. Tebak Dapi karena dia tahu kemampuan Bunga Kasna.
"Aneh. Sungguh aneh," gumam Dapi.
Malam penuh bintang yang hampir mendekati shubuh, ditatap oleh Dapi dan Kinnara. Mereka duduk bersila di atas Bale Dauh di kawasan rumahnya. Malam ini mereka telah menggagalkan rencana Calonarang yang ingin meneluh seluruh penduduk Amlapura. Tidak... bukan berkat mereka saja, tapi ada bantuan dari makhluk yang sangat misterius.
*******
__ADS_1