
Api berkobar di Temukus. Padang Bunga Kasna habis terbakar tak bersisa. Api yang menyala di malam hari, menerangi rumah penduduk di sekitar. Para penduduk berusaha untuk memadamkan api yang membakar Bunga Kasna yang telah ditanam beberapa bulan ini untuk menyambut Hari Raya Galungan 20 hari mendatang, disusul Hari Raya kuningan 10 hari setelah Hari Raya Galungan.
Para pria menyiramkan beberapa air di dalam ember yang diisi secara maraton. Sambil menunggu petugas pemadam kebakaran, mereka melakukan aksi bergotong-royong untuk memadamkan api.
Terlihat beberapa wanita menangis melihat sekumpulan tanaman Bunga Kasna yang terbakar. Di dalam pikiran mereka, musibah apa yang akan terjadi di kemudian hari? Bunga Kasna akan dipakai di Hari Raya Galungan dan Kuningan. Hal itu merupakan tradisi adat Bali. Tapi tahun ini, mereka merasa akan terjadi sesuatu bencana yang besar setelah melihat tanaman Bunga Kasna habis terbakar secara keseluruhan.
*******
Tukad Bangke.
Dapi merasakan tempat ini begitu kelam. Pemuda yang merupakan titisan Raja Pertama Karangasem berdiri waspada di persimpangan tiga jalan beraspal di malam yang gelap. Tak ada satu orang atau kendaraan yang lewat di lokasi ini. Jangankan tengah malam seperti ini, tapi jam 8 malam saja mungkin penduduk di sini hanya satu atau 2 orang yang lewat berkendara.
Dapi telah memasang Invisible Circle 10 menit sebelumnya. Intuisinya mengatakan bahwa akan ada serangan yang tertuju padanya malam ini.
Pemuda yang memakai baju kaos berlengan panjang berwarna hitam, berakhir di lokasi yang berjarak 8 km dari Amlapura karena dia mengikuti sosok yang datang ke rumahnya malam ini. Sosok itu menyerupai Firman, adik kandungnya yang telah lama menghilang. Ketika Dapi melihat sosok remaja berdiri di pekarangan rumah, dengan cepat sosok memakai baju adat Bali, melompat dengan ilmu meringankan tubuh seakan sudah sangat terlatih, menuju lokasi ini. Dia mengikuti sosok yang sama persis bentuk tubuh seperti Firman tapi aura hitam pekat menyelimuti tubuh anak laki - laki yang diikutinya.
Sepertinya, Dapi baru menyadari bahwa dia sengaja digiring ke lokasi yang berada di Kecamatan Abang. Lokasi ini masih berada di Kabupaten Karangasem.
Tukad Bangke adalah jalan lintas yang menghubungkan 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bangli. Lokasi yang ditumbuhi hutan dan berkesan angker itu, tak terlalu banyak dilewati masyarakat karena merupakan jalan lintas.
Dapi telah memegang Tombak Sakti Crystal Snow di tangan kanan. Posisi tubuhnya sekarang berdiri tegak dengan pangkal tombak yang berwarna biru laut menyentuh aspal jalan. Tubuhnya yang ramping berada di posisi jalan yang di depannya membentuk huruf T.
Suara berdecit telah tertangkap oleh kedua telinga. Dapi bersiap menghadapi makhluk yang pernah dilawan sebelumnya di atas rumah di Amlapura. Tapi, kali ini dia hanya sendiri tanpa Kinnara.
Muncul asap hitam pekat, bergulung berbentuk spiral di depan pemuda yang memakai topi baseball cape berwarna hitam. Dalam waktu beberapa detik, asap hitam pekat mulai memperlihatkan wujud makhluk yang berada di dalam. Seorang penyihir tua yang bertampang menyeramkan berdiri sedikit terbungkuk dengan tongkat kayu berwarna hitam. Aura mistis di lokasi itu semakin terasa mengerikan ketika penyihir tua itu muncul.
Dapi melihat sosok itu dengan tatapan tajam. Dirinya - sebagai seorang Dapi- sebelumnya hanya mendengar nama penyihir tua ini, tak pernah bertatap muka sebelumnya. Tapi, Raja Karangasem yang pertama yaitu Gusti Nyoman Karang, sangat mengenal penyihir yang bernama Calonarang. Calonarang adalah penyihir jahat yang terkenal sebagai penyihir yang suka meneluh penduduk Karangasem pada masa pemerintahannya. Dari memori Gusti Nyoman Karang, Dapi bisa mengingat tentang penyihir tua ini.
Calonarang sebagai penyihir jahat tak pernah bertanding dengan Gusti Nyoman Karang karena penyihir tua itu tahu sebasar apa kekuatan Raja Pertama Karang Asem. Tapi, di masa ini, dia berani untuk berhadapan dengan Dapi sebagai titisan dari Gusti Nyoman Karang karena ada Big Boss yang mendalangi semua ini dan mem-back up kekuatan penyihir tua yang umurnya sudah ratusan tahun.
Calonarang terkekeh di hadapan pemuda yang berdiri tegak, seperti mengejek. Dia segera menggerakkan tongkat hitam ke samping di atas kepala, suara berdecit semakin mendekat dan terdengar sangat riuh. Serangan akan ditujukan kepada pemuda yang berdiri dihadapkannya.
Pemuda yang telah bersiap dengan serangan apapun, menggerakkan jari telunjuk di tangan kiri dan membuat makhluk imajinasi dengan cepat. Dalam hitungan detik makhluk imajinasi dari bahan air terbentuk. Dia langsung menaiki punggung yang berbentuk burung elang seperti kepunyaam Artha, tapi bedanya makhluk ini terbuat dari bahan dasar air membentuk kristal padat.
Elang es kristal yang memiliki wujud sempurna berwarna bening. Wajahnya sebening es di Kutub Utara. Matanyda berwarna biru laut. Paruhnya yang panjang dan tajam bak dipahat dengan sempurna. Begitu juga dengan cakar yang berada di kedua ujung kakinya. Bulu - bulu yang berwarna putih dan lembut seperti salju, berjejer tapi menutupi tubuhnya yang besar. Makhluk imajinasi yang dibuat Dapi melebarkan sayapnya.
Elang es kristal menungkik ke atas setelah merasakan punggung yang berbulu seperti salju dinaiki oleh majikannya, sesuai perintah. Mengepakkan sayap beberapa kali, lalu berhenti di udara sekitar 10 meter dari aspal. Dia dan majikannya siap untuk bertempur. Majikannya langsung berdiri di atas punggung makhluk yang terus mengepakkan sayap agar bisa memgambang di udara dengan stabil.
Dapi, langsung mengangkat tombak dan mengeluarkan sinar biru laut yang pekat ke arah sekumpulan Rangda yang terbang mendekat dan berusaha menyerang. Rangda yang berbentuk dan berukuran seperti kelelawar normal terbang terhuyung ketika melihat sinar berwarna biru terang. Di kesempatan itu pula, Dapi memutar tombak mengarah ke depan dengan putaran yang cepat. Tombak Sakti Crystal Snow berputar seperti gasing seakan membentuk ratusan tombak yang melingkar di hadapan penggunanya. Dalam hitungan detik pula, tombak sakti mengeluarkan ratusan jarum kecil yang terbuat dari kristal es, menyerang sekumpulan Rangda dengan cepat. Makhluk yang merupakan peliharaan Calonarang jatuh bergelimpangan di aspal, setelah mengeluarkan jeritan pendek ketika jarum - jarum kristal menusuk jantung mereka.
Calonarang yang berdiri di posisi semula, tak bergerak sama sekali, menggeram. Penyihir tua yang memiliki rambut putih masih terus memerintahkan makhluk yang benama Rangda menyerang pemuda yang memiliki kekuatan Pengendali Air. Dia tak akan menyerah untuk membunuh lawannya. Serangan kedua, sekumpulan Rangda semakin banyak.
"Aku tetap akan membunuh makhluk menjijikkan ini walau berapa jutapun yang akan kau ke kirim."
Dapi tetap mengeluarkan jurusnya secara beruntun dengan wajah yang mengejek ke Calonarang. Kali ini, Batu Biru Laut mengeluarkan sinar yang pekat, bahkan lebih terang dari sebelumnya, sekaligus melesat jarum - jarum kristal dari tombak sakti. Tentu saja makhluk yang dikendalikan Calonarang, kembali berguguran seperti daun kering.
Sadar akan kalah jika tidak melakukan strategi serangan yang berbeda, Calonarang mengangkat tubuhnya perlahan ke atas. Dia bergerak secara vertikal, mengambang di udara. Asap pekat menyelubungi seluruh tubuh tua Kemana pun dia pergi. Penyihir itu lalu menggerakkan tongkat hitam yang berada di tangan kanan, mulutnya berkomat-kamit. Sepertinya dia merapal beberapa mantra.
Tak berapa lama, asap hitam pekat menyebar ke segala arah, lalu berkumpul dan mengambang di antara penyihir tua dan pemuda yang masih berdiri di atas elang air berbentuk kristal. Asap hitam yang berkumpul berukuran seekor gajah menarik bangkai - bangkai Rangda masuk ke dalam gumpalan hitam. Bangkai - bangkai itu tertarik dengan cepat. Dalam hitungan detik, terdengar suara mengerang seperti suara binatang yang mengamuk. Asap hitam yang diciptakan oleh penyihir tua, bergulung membentuk spiral tapi belum memperlihatkan makhluk yang mengerang di balik gumoalan asap hitam.
__ADS_1
Calonarang terus merapal beberapa mantra. Mulutnya berkomat-kamit dengan cepat. Dia menggerakkan tongkat di tangan kanan dan tangan kirinya seperti membentuk sesuatu di udara kosong.
Lawannya, yaitu Dapi, tetap berdiri di posisi semula. Dia telah menyiapkan dirinya untuk berhadapan dengan makhluk yang akan diciptakan oleh Calonarang. Dapi masih tetap berdiri di punggung elang es yang berbentuk kristal dengan memegang Tombak Sakti di tangan kanan.
Asap hitam mulai memudar, masih terdengar suara erangan yang semakin kuat. Dan... akhirnya, makhluk yang di dalam gulungan asap hitam yang mulai memudar, terlihat. Wujud yang terlihat adalah sosok makhluk besar seperti beruang. Tapi... makhluk itu sangat aneh, tidak seperti beruang pada umumnya. Bentuk tubuh dan ukuran seperti beruang tapi kepalanya berbentuk kepala naga dengan gigi - gigi tajam, keluar dari mulutnya yang besar. Lidah yang panjang terjulur keluar. Di bagian kaki, terlihat kaki yang berbentuk seperti beruang pada umumnya, namun telapak kaki menyerupai kaki elang yang memiliki cakar yang runcing. Makhluk yang berasal dari kumpulan bangkai Rangda mengambang di antara mereka, menghadap ke Dapi. Dia mengambang dibantu kepakan sayap berbentuk kelelawar di punggungnya. Sayap kelelawar yang mengepak, selembar milik elang es kristal yang ditunggangi Dapi.
"Monster Rangda."
Dapi mengenal makhluk yang menyeramkan diciptakan oleh Calonarang. Dia bersiaga dengan serangan lawan.
Makhluk yang dikenal Dapi dengan nama Monster Rangda langsung menyemburkan api berwarna merah ke lawan yang ada di hadapannya. Tanpa basi - basi lagi.
Melihat aksi Monster Rangda, Dapi langsung duduk ke punggung elang air kristal dan menarik tali kekang yang ada di atas leher elang es kristal, memerintahkan untuk mundur beberapa langkah menghindari semburan api dari lawan.
Tombak Sakti diarahkan ke depan oleh Dapi dan dia memerintahkan senjata pamungkasnya untuk mengeluarkan sinar Biru dari Batu Biru Laut.
Monster Rangda kembali menyemburkan api, tapi kali ini dia naik ke atas, berada di sudut 45 derajat di atas musuhnya dan menyemburkan api berwarna merah dengan kualitas semburan yang lebih besar.
Elang es kristal menungkik ke bawah, hampir mencecahkan jari - jari kakinya ke aspal, lalu memutar ke belakang, 180 derajat, untuk menghindar dari serangan lawan. Setelah berbalik dan terbang rendah beberapa meter, Dapi memerintahkan elang es kristal kembali naik ke atas dan mensejajarkan diri dan berhadapan kembali dengan lawan. Dengan cepat Dapi mengeluarkan ratusan jarum untuk menyerang Monster Rangda.
Calonarang yang merupakan penyihir berkekuatan hitam mengendalikan makhluk ciptaannya. Penyihir tua itu kembali merapal mantra. Dia masih di posisi semula, tak jauh di belakang Monster Rangda. Ketika ratusan jarum yang dikeluarkan oleh lawan menyerang binatang yang merupakan perpaduan dari beberapa hewan, Monster Rangda tidak menghindar tapi berubah menjadi asap hitam pekat yang tetap berwujud seperti semula. Jadi... ratusan jarum yang dikeluarkan oleh lawan, hanya melewati gumoalan asap hitam, menyerang udara kosong. Sekumpulan jarum kristal yang dikeluarkan lawannya hanya melewati wujud yang berupa asap hitam. Ratusan jarum itu hilang ditelan gelap malam.
Tanpa berbasa- basi lagi, setelah mengembalikan tubuh Monster Rangda kembali ke kondisi awal seperti makhluk padat biasanya, Calonarang memerintahkan makhluk mistis itu untuk menyerang lawan dengan cara melompat ke depan dan menyemburkan kembali api berwarna merah.
Dapi terperanjat. Dia langsung menarik tali kekang yang ada di atas leher elang es kristal untuk menghindar, lalu terbang ke atas menjauhi Monster Rangda.
Dengan cekatan Dapi menerbangkan makhluk imajinasi yang ditunggangi. Elang es kristal mengepakkan kedua sayap dengan sangat kuat dan terbang dengan kecepatan tinggi.
Monster Rangda juga tak mau kalah. Dia mengejar lawan dengan mengepakkan sayap kelelawar yang dimilikinya. Makhluk itu sangat agresif mengejar lawan sambil terus menyemburkan api.
Dapi berpikir keras untuk mencari cara melawan makhluk mistis yang dikendalikan oleh Calonarang. Saat ini dia berusaha untuk menghindar dari Monster Rangda. Terbang lebih ke atas, menguji kemampuan terbang dari lawannya.
Makhluk yang dikendalikan oleh Calonarang bergerak dengan gesit mengejar lawan dan terus menyemburkan api berwarna merah. Tak ada tanda-tanda kelelahan dari gerakannya. Penyihir tua yang jauh berada di posisi bawah dari dua makhluk yang saling kejar mengejar, tetap merapal mantra, dia tidak bergerak sama sekali.
Dapi menghentikan elang es kristal yang sudah terbang menjauh dari aspal jalan dan selanjutnya membelokkan makhluk imajinasi yang berwarna bening menghadap ke lawan. Dapi mengecikkan dan menyimpan Tombak Sakti Crystal Snow di sela - sela rambut. Dia berdiri di punggung elang es kristal, kemudian menggerakkan kedua tangan di dada dan fokus pada kekuatan mengendalikan air. Pemuda yang memakai topi hitam itu mengangkat air yang berada di sungai terdekat. Air yang dikendalikan Dapi berbentuk lembaran menyerang makhluk yang mengeluarkan api berwarna merah. Dapi berusaha memadamkan api yang dikeluarkan dengan air yang dikendalikannya.
Monster Rangda mengepak dengan cepat ketika lembaran air menyerang, dia berusaha mengelak dari serangan lawan. Beberapa lembaran air jatuh kembali menuju ke bumi, setelah tidak mengenai sasaran. Gerakan Monster Rangda selanjutnya, melesat terbang di atas Dapi dan berusaha menyembuhkan api dari atas, sasarannya adalah kepala pemuda yang sedang berdiri di punggung elang es kristal.
Sebelum hal itu terjadi, Dapi kembali membentuk air yang dikendalikan menjadi seutas tali solid. Dia mengarahkan ke kaki dan menjerat tali terbuat dari air yang fleksibel dan solid ke kaki kanan bagian depan Monster Rangda. Dengan cepat Dapi menarik makhluk yang terjerat di pergelangan kaki. Dia menghentakkan tali air yang fleksibel dengan seluruh kekuatan menuju ke bawah agar lawannya menghantam bumi sebelum dia berubah menjadi asap.
Makhluk mistis yang masih diselubungi asap hitam, tertarik ke bawah dalam hitungan detik membentuk aspal dengan keras.
Braaak...
Monster Rangda terbanting. Aspal di tanah pecah dan ada sebagian yang mencelat ke atas. Calonarang kaget. Kedua matanya mendelik, dia tidak menyangka aksi itu akan terjadi. Sebelumnya dia sudah mengelak dari lembaran - lembaran air yang dikirim oleh Dapi ke arah makhluk yang dikendalikannya.
Makhluk mistis yang bagian kepala terlebih dahulu menyentuh aspal, berusaha berdiri. Dia berusaha berdiri dengan susah payah. Masih terhuyung. Calonarang sedikit susah mengendalikan makhluk mistis yang sudah cedera di ke kepala dan kedua kaki. Tentu saja mulutnya juga terbentur ke aspal dan mengeluarkan darah akibat benturan yang sangat keras.
Penyihir tua berpikir dengan keras untuk memperbaiki kesalahannya karena tidak memperhatikan serangan dari lawan. Dia menggulung Monster Rangda dengan asap hitam dan merapalkan beberapa mantra.
__ADS_1
Melihat posisi lawan yang sedang tersudut, Dapi bertindak cepat, dia membuat seutas tombak biasa dengan cara menggerakkan tangan kanan memanjang. Tombak kristal yang lanjang dengan ujung yang runcing terbentuk. Lalu dengan cepat pemuda yang ramping melemparkan tombak berukuran 1 m ke arah Calonarang.
Penyihir tua yang sedang merapal mata, melihat serangan itu dengan ekor matanya. Dia berpindah dengan cara merubah wujudnya menjadi asap hitam dan kembali muncul dua langkah di samping tempat dia berdiri semula. Tombak yang di lempar lawan menancap di tanah. Calonarang menggeram karena lawannya sudah mengganggu konsentrasi. Mulutnya berkomat - kamit lebih cepat. Terdengar erangan makhluk yang berselimut asap hitam lebih keras dari sebelumnya.
Ternyata... tombak itu merupakan serangan pengalihan. Ketika Calonarang teralihkan dengan serangan dadakan, Dapi membentuk gumpalan air dari kedua telapak tangan yang sudah terangkat di dada. Kedua telapak tangan yang saling berhadapan membentuk gumapalan air seperti bola. Di detik selanjutnya dia bergerak dengan cepat, melemparkan segumpalan air yang awalnya berdiameter 30 sentimeter, tapi gumpalan air semakin membesar ketika dilemparkan menuju Monster Rangda. Monster Rangda terjebak dalam gumoalan air yang sekarang berukuran 1.5 meter ketika menyentuhnya. Makhluk mistis itu otomatis masuk ke dalam gumpalan air yang dibuat oleh Dapi. Gerakan selanjutnya, pemuda yang wajahnya telah memerah karena berusaha mengeluarkan seluruh tenaga, menggulung Monster Rangda. Gumpalan air mengelinding di aspal jalan raya. Tubuh Monster Rangda berputar ke sana kemari di dalam gumpalan air.
Calonarang merasa terdesak karena dia tak sempat menyembuhkan Monster Rangda dari luka. Awalnya dia berniat untuk menyembuhkan makhluk yang diciptakan dengan kembali merapal mantra. Kini, asap hitam yang menyelubungi Monster Rangda juga sudah lenyap terkena air yang dikendalikan Dapi. Penyihir tua yang berdiri dengan tumpuan tongkat hitam di tangan kanan, berusaha dengan keras melawan air yang dikendalikan oleh Dapi. Calonarang berusaha keras mencari cara agar bisa melepaskan Monster Rangda dari gumpalan air yang terus mengelinding ke sana kemari.
Kedua telapak tangan Dapi yang sudah merentang ke depan seperti menyetir mobil Dapi, berulang kali memerintahkan gumpalan air yang memerangkap Monster Rangda bergelinding ke sana kemari dengan cepat. Tentu saja binatang jadi - jadian itu tak akan bisa bernafas di dalam air. Hal itu akan mudah saja untuk membunuhnya, mungkin hanya butuh beberapa menit.
Dapi melirik ke arah Calonarang. Dia khawatir penyihir tua itu akan melakukan serangan yang berikutnya jika dia menunda waktu untuk menghabisi makhluk mistus yang berbadan aneh. Dapi menunggu saat yang tepat. Ketika Monster Rangda menjerit di dalam gumpalan air, karena sudah tak bisa menahan nafas ya lagi, pemuda Pengendali Air mempertahankan gumpalan yang berada di aspal dengan telapak tangan kiri dengan cara menekuk. Seolah - olah dia memegang bola di telapak tangan kirinya yang mungil. Di detik selanjutnya dengan cepat, pemuda itu melemparkan benda seukuran jarum yang diambil dari sela rambutnya.
Ketika Monster Rangda menjerit dan ternganga, benda seukuran jarum masuk ke dalam mulut. Dapi membuyarkan gumpalan air yang dibuatnya dengan cara melepaskan lejukan telapak tangan kiri di depan dada.
Calonarang terkejut, dia menyelidiki dengan apa yang dilakukan lawan. Mengapa lawannya menghancurkan gulungan air, padahal makhluk mistis yang diciptakannya masih hidup?
Pemuda yang terduduk di punggung elang es kristal, tak ingin memberikan kesempatan kepada musuh yang sepertinya akan membuat serangan baru. Dia menjentikkan kedua jari di tangan kanan, lalu membuat putaran di jari telunjuknya.
Crasssh...
Tubuh Monster Rangda terburai secara acak. Dari dalam tubuh itu keluar Tombak Sakti Crystal Snow yang penuh dengan darah hitam. Tombak itu mencelat ke atas menuju tangan kanan Dapi.
Iyyyuuuh...
Hueeksss...
Dapi merasa jijik ketika Tombak Sakti mendarat di genggaman tangan kanan. Bau amis yang menyengat menyerang hidungnya yang kecil.
Calonarang mendelik. Terlihat wajahnya memerah walaupun begitu banyak keriput di wajah tua Sang Penyihir.
Strategi serangan yang dilakukan Dapi adalah melemparkan Tombak Sakti Crystal Snow yang seukuran jarum jahit ke tubuh Monster Rangda. Setelah benda kecil masuk ke dalam tubuh makhluk mistis, Dapi membesarkan tombak sakti ke ukuran normal dan membabat habis daging makhluk yang dikendalikan oleh lawan, dari dalam.
Penyihir tua tak bisa berkata lagi. Dia terperanjat melihat isi bagian dalam tubuh makhluk yang berbentuk beruang, terburai di aspal dan... tentu saja tak bergerak lagi.
Tiba - tiba... Tombak Sakti yang berada di tangan Dapi terjerat suatu benda dan ditarik ke depan. Tombak Sakti terlepas dari tangan kanan dan terlempar ke samping. Pemuda itu hampir terjungkal. Belum lagi hilang rasa terkejutnya, leher elang es kristal putus dibabat oleh benda hitam seperti untaian tali yang solid. Tubuh elang es kristal pecah menjadi air, berantakan dan jatuh ke tanah. Dapi langsung menyeimbangkan tubuh kecilnya dan berusaha untuk menapakkan kedua kaki dengan mantap di aspal jalan. Setelah posisi tubuh dalam keadaan selamat berdiri aspal, Dapi berusaha mencari keberadaan Tombak Sakti, dia mencari dengan merentangkan tangan ke atas agar Tombak Sakti itu menghampirinya.
"Jangan coba - coba melakukan itu, jika kau tak ingin kehilangan mereka berdua."
Dapi melihat ke depan, dia berdiri tegak. Di depannya telah berdiri sesosok makhluk hitam yang memakai pakaian berwarna hitam di seluruh tubuhnya, termasuk topeng yang dikenakannya. Begitu juga dengan jubah yang mengantung dibelakang tubuh. Makhluk hitam yang berwujud manusia itu memakai topeng untuk menutupi luka di wajah.
Sesosok makhluk berbentuk pria yang berdiri di depan Dapi, muncul di samping Calonarang. Masing - masing di depan mereka, mencekik satu tubuh dari belakang. Calonarang mencekik makhluk setengah angsa yang memakai pakaian berjubah ditambah dengan topi. Seluruh yang dipakai berwarna hitam dan begitu banyak bulu - bulu yang menghiasi benda yang dia kenakan.
Sedangkan pria yang tak lain adalah Big Boss, mencekik seorang anak laki - laki yang memakai pakaian adat Bali di depan dadanya. Anak kecil itu menatap ke arah Dapi dengan wajah datar.
"Firman... Kinnari...." lirih Dapi. Dia berdiri. Gerakannya tersekat melihat 2 sosok yang dicarinya selama ini.
Tubuhnya langsung lemas melihat kedua orang yang dicintainya berada dalam dekapan musuh.
*******
__ADS_1