
...Happy reading......
Aku mengangkat wajah Mira dan tersenyum manis. Aku mengusap wajah manis ini dengan lembut lalu mengecup keningnya dengan hangat.
Cup!
"Mira dengarkan aku. Mulai sekarang jangan pernah tundukkan kepala mu lagi dihadapan orang orang. Jika kamu terus melakukan itu, orang orang akan berpikir bahwa kamu adalah tipikal orang yang lemah. Dan seseorang yang lemah tentu saja adalah mangsa yang empuk bagi para pembully. Oleh karena itu, tengakkan kepalamu dan tatap mata orang yang berbicara denganmu. Dengan begitu tidak akan ada lagi orang yang berani mengganggu mu..."
Aku merasa sangat puas melihat ekspresi wajah itu.
"Kini kamu telah masuk ke dalam perangkapku, Mira..."
Amara: "Apakah kamu mengerti Mira?"
Almira: "Ya, aku mengerti Amara."
"Sepertinya sudah cukup sampai disini..."
Aku melihat ayah yang hanya diam melihat semua ini. Tapi baguslah ini sudah lebih dari cukup. Lagipula hasilnya tidak mungkin secepat itu, bukan?
Dan sekarang untuk penutup aku hanya perlu menyakinkan Mira lebih dalam lagi!
Dengan senyuman manis yang ku ukir di wajah ini dan tangan yang tanpa ragu menggenggam erat tangan Mira dengan hangat, maka....
Aku hanya perlu memberikan sedikit semangat untuknya!
Amara: Baguslah... dan mulai sekarang aku akan terus melindungi dirimu."
Almira: Amara..."
Amara: Karena kita berdua adalah saudara kembar!"
Mira tersenyum. "Hmm...tentu saja Amara..."
Dan kini aku memeluk tubuh Mira.
"Oh lugunya dia...oleh karena itu, mulai sekarang dengarkanlah aku, boneka manis ku...!"
Aku melepaskan pelukan ini dan melihat mereka berdua.
Amara: "Karena kesalahpahaman ini sudah berakhir, Amara mohon permisi untuk kembali ke kamar. Dan untukmu Mira ingat perkataan ku ini, mengerti?"
Almira: Hmm... Mira paham!" jawab Mira dengan tersenyum.
Aku berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Sesampainya di kamar aku langsung mengunci pintu dengan rapat. Tak akan kubiarkan seseorang masuk. Aku berjalan menuju cermin. Terlihat pantulan diriku disana.
"Pfttt....hahaha...lucu sekali...."
Aku tertawa puas mengingat wajah lugu itu. Bagaimana mungkin aku dulu pernah merasa tertekan oleh orang seperti itu.
Ah... andaikan aku tahu lebih awal, mungkin aku sudah berada ditahap akhir. Tapi tidak apa, karena sesuatu yang besar harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian.
Aku tersenyum melihat pantulan diriku. ku ambil sebuah foto keluarga yang harmonis yang terpajang rapi di sana. Tentu saja tanpa ada aku di foto itu.
"Oh... Mira...aku tidak sabar untuk menunggu saat dimana aku akan merebut semua itu dari dirimu dan akan aku pastikan kamu merasakan apa yang aku rasakan. Bukankah kita adalah saudara kembar dan sudah seharusnya kita saling berbagi penderitaan...."
Aku tahu apa yang aku lakukan adalah salah. Mira juga tidak tahu apa apa. Tapi aku tidak bisa menerima ketidakadilan ini.
Mira yang selalu mendapatkan apa yang aku inginkan sedangkan aku?
Aku tidak pernah merasakan semua itu sedikitpun. Lagipula bukankah ini adil?
Jika aku tidak bisa mendapatkan keadilan maka aku akan membuat keadilan itu sendiri!
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur. Ku pejamkan mata ini. Tapi sadarlah Amara!
Sekarang bukan saatnya merasa puas. Kamu harus ingat kamu juga kini memiliki tujuan lain.
Apalagi aku baru saja membuat kesepakatan dengan adik kelas yang misterius itu. Dan berbicara soal itu, sebenarnya apa yang dia maksud dengan misi.
Sudah dapat dipastikan bahwa dia bukan manusia. Tapi bukankah ini sedikit aneh?
Tidak, lebih tepatnya sangat aneh!
__ADS_1
Dia datang dengan tiba-tiba seolah pernah mengenal ku. Ah... sudahlah...aku harus beristirahat...
Aku berjalan pergi menuju kamar mandi tapi sepertinya niat itu harus ditunda saat melihat sebuah amplop tergeletak di atas mejaku.
"Siapa yang menaruh amplop disini?"
Tidak ada yang aneh kecuali tertera sebuah nama.
"Anamra Tamaka?"
"Siapa Anamra Tamaka?"
Jelas aku merasa bingung. Seingat ku aku tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Tama. Tapi bagaimana bisa orang ini mengirimkan surat dan yang lebih anehnya bagaimana mungkin dia bisa tahu kamarku!
Aku bergidik ngeri dan sontak saja aku langsung berkeliling untuk memastikan bahwa tidak ada kamera tersembunyi.
Setelah beberapa saat kemudian aku menghela napas lega. Tidak ada kamera tersembunyi di kamarku.
Dan kini pertanyaan nya siapa dan bagaimana bisa amplop ini berada di kamarku?!
Aku kembali melihat amplop tersebut dan memutuskan untuk membukanya. Barangkali ada petunjuk di dalamnya.
"Eh?"
Tidak ada apa apa selain sebuah kalimat singkat yang tertulis.
"Misi akan dimulai...?"
Tunggu dulu apa maksudnya?
Misi akan dimulai?
Ditengah kepanikan yang melanda aku baru menyadari bahwa sebuah gelang misterius tergeletak di atas meja.
Aku memperhatikan gelang itu. Tapi tidak ada yang aneh. Hanya sebuah gelang berhiaskan pernak pernik bunga dan ornamen lonceng.
Tapi jika dilihat lihat gelang ini sangat indah.
Ahh...
Karena rasa penasaran ku yang tinggi aku langsung memakai gelang itu di tanganku. Tanpa menyadari apa yang sedang menunggu...
"Selesai!"
"Eh?"
Tepat saat gelang itu sudah terpasang di tangan ku tiba tiba saja keluar sebuah cahaya yang terang mengelilingi diriku!
Cahaya yang begitu bersinar hingga membuat ku memejamkan mata. Dapat aku rasakan cahaya ini mengikat tubuhku!
Entah apa yang terjadi, aku merasakan tubuhku seolah melayang di udara. Terasa udara tipis menyentuh kulitku!
Dengan pikiran yang bercampur aduk, aku akhirnya pasrah. Berdiam diri menunggu apa yang tengah terjadi.
Aku memberanikan diri untuk membuka mata saat aku merasa tubuh ini sudah tidak lagi melayang.
Satu hal yang dapat aku pastikan. Bahwa saat ini aku sedang tidak berada dikamar ku.
Kini aku berada di tempat yang asing...
Biru dan gelap itulah kesan pertama yang aku dapatkan. Tapi walaupun begitu ini terlihat sangatlah indah dan bisa dikatakan seperti sesuatu yang mustahil untuk dilihat.
Tempat yang indah sekaligus asing...
"Ini benar benar menakjubkan...!"
Tapi tidak ada waktu untuk berdiam diri mengagumi semua keindahan yang tidak masuk akal ini.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi aku nyakin perpindahan transportasi yang terjadi pasti karena gelang ini.
__ADS_1
Tapi siapa Anamra Tamaka?
Ini benar benar membingungkan!
Aku terus berjalan menyusuri tempat asing ini. Jujur aku merasa takut tapi semua itu tertutupi oleh rasa kagum sekaligus penasaran.
Oleh karena itu mari menyusuri tempat ini!
"Astaga melelahkan sekali..."
Aku memutuskan untuk berhenti sejenak disaat dada ini terasa sesak karena rasa lelah yang melanda. Aku sudah berjalan untuk waktu yang lama tapi tidak ada yang bisa aku temukan.
Sepanjang perjalanan aku tidak melihat satu pun mahkluk hidup. Dan itu membuatku bertanya tanya apakah aku berada ditempat yang tidak dihuni oleh makhluk hidup.
Jujur saja sedari tadi aku terus memikirkan pernyataan ini. Apalah saat ini mungkin saja aku sedang berada di dasar laut!
Kenapa atau hanya perasaanku saja tempat ini dipenuhi oleh air!
Dan pertanyaan ku terjawab saat aku telah sampai di suatu tempat. Lebih tepatnya sebuah perpustakaan terbengkalai....

Dan aku rasa dugaan ku benar bahwa saat ini aku berada didasar laut. Tapi pertanyaan nya kini bagaimana bisa aku bernapas didalam air?!
"Itu karena kamu bukan manusia biasa, Amara..."
Aku terkesiap saat mendengar suara seseorang. Entah siapa tapi sepertinya dia mengetahui tentang diriku.
"Siapa kamu dan bagaimana bisa kamu mengetahui namaku?"
Kini aku dapat melihat sebuah bayangan hitam berjalan mendekat kearahku.
Tidak peduli apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Pertama-tama aku harus melindungi diriku.
Baiklah... aku tidak takut, siapapun dan makhluk apapun itu ayo maju hadapi aku!
Karena aku adalah Amara, seorang pemberani!
__ADS_1
Bersambung....