
...Happy reading......
"Mati aku!"
Aku terdiam mematung. Kakiku terasa begitu berat untuk melangkah. Dan napas yang ku tahan mulai terasa sesak.
Untung saja tidak lama kemudian dia pergi. Meninggalkan ku yang kini duduk terkulai lemas.
Tapi walaupun begitu aku tetap bisa melihat mahluk tersebut. Berjalan kesana-kemari, menghampiri orang yang berlalu lalang.
Tapi ada yang aneh.
Entah kenapa atau hanya perasaanku saja semua orang seolah tidak melihatnya!
"Apa yang terjadi?"
Aku kembali melihat mahkluk itu terus menghampiri orang lain tapi reaksi yang sama terus terjadi. Kurasa orang lain tidak bisa melihat mereka!
Aku berdiri dan berlari pergi menjauh.
"Tidak mungkin, hanya aku yang bisa melihatnya!"
...~~...
Akhirnya aku sampai dirumah. Aku bergegas masuk sebelum melihat para mahkluk menyeramkan lagi.
"Wuh... akhirnya bisa sampe juga. Mati gue dari tadi ngeliat tu makhluk sialan mulu"
Tapi sepertinya dugaan ku sangatlah salah. Karena yang terjadi, mereka ada dimana mana didalam rumahku!
Aku menutup mulut tidak percaya, bahkan beberapa diantaranya ada yang melayang di depan mataku sendiri!
"Astaga, mati gue!"
Aku yang panik kemudian berlari menuju kamarku. Tapi, kakiku berhenti melangkah tepat saat kulihat sebuah keluarga tampak bahagia.
Yang sayangnya tanpa kehadiranku...
"Ah, sudahlah, lagi pula bukan urusan gue"
Tapi sayangnya hal yang paling di hindari malah datang menghampiri.
Ya, dia adalah saudara kembarku. Tapi walaupun begitu, dia tidak mirip sama sekali denganku.
"Kamu udah pulang" ujarnya menyapa.
Aku menoleh dan memandang dirinya. "Ya, gue baru pulang dari rumah sakit"
Aku menghela napas, merasa jengah dengan kehadiran. Entah apa alasannya, kudengar dia akan kembali bersekolah di Indonesia dan berhenti dengan pendidikan yang dia tempuh di London.
"Yaudah yuk, ikut makan bareng" ajaknya.
Aku melirik kedua orang tuaku yang hanya diam. Aku mengerti, mereka tidak ingin aku makan bersama. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menolak ajakannya.
"Enggak dulu deh, mending Lo sama mereka aja. Gue masih kenyang"
Setelah mengatakan itu, Ia terdiam. "Oke deh!" Jawabnya sambil tersenyum manis.
Aku menggenggam tanganku ketika melihat Ia pergi ke arah mereka.
Terlihat dari sini, betapa bahagianya. Dan aku? hanya memandang dengan harapan suatu hari nanti bisa ikut juga merasakannya.
__ADS_1
Sudahlah, aku hanya membuang waktu dengan melihat sesuatu yang membuat hatiku sakit.
Aku berjalan pergi menuju kamarku dan menutup pintu dengan rapat.
Ku lemparkan jaket yang kukenakan ke segala tempat, begitu pula dengan tasku.
Dan menghempaskan tubuhku yang lelah di kasur yang empuk.
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam bantal saat kurasa aku masih dapat mendengar tawa mereka yang hangat dari atas sini yang gelap.
Jika boleh jujur, aku ingin bertukar kehidupan dengan anak itu.
Kurasa akan sangat seru bila terjadi. Mendapatkan kasih sayang dari mereka dan selalu menjadi pusat perhatian. Selalu dibanggakan dan dianggap sebagai anak emas.
Tapi itu semua hanya khayalan yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata yang misterius ini.
Atau mungkin saja dapat terjadi?
Ah, kurasa khayalan ku sudah berada ditahap tingkat tertinggi.
Tapi mungkin saja!
Aku terbangun dan beranjak mengambil laptop ku. Entah perasaan gila apa yang merasuki pikiran ini. Tapi aku begitu bersemangat untuk mencari hal yang sudah jelas jawabannya.
Ini gila!
Aku berhenti sejenak untuk berpikir secara logis.
Oh ayolah, ada apa dengan diriku. Ini pasti hanya akan berakhir sama seperti eksperimen ku yang sebelumnya telah gagal.
Semua itu hanya omong kosong!
Membayangkan bahwa tiba tiba saja ke esokan harinya kamu terbangun di tubuh orang lain hanyalah sebuah fantasi yang gila!
Dan pada akhirnya aku berakhir pasrah dengan segala khayalan yang terus bergentayangan di dalam benakku.
Aku kembali membaringkan diri ke dalam kasur dan memeluk gulingku.
Ah, andaikan ini hanya dunia Fiktif kurasa hidupku akan sempurna.
Tapi itu bukanlah sesuatu yang mustahil, bukan?
"Aaaa.... sialan!"
Khayalan gila ini tetap saja ingin berbicara denganku!
Beberapa kali aku terbangun dan berbaring hanya karena pikiran gila ini terus menyeruak masuk keluar.
Dan tanpa kusadari malam sudah semakin larut. Untung saja otakku tetap berfungsi mengirimkan sinyal untuk tidur, sehingga aku tidak terus terjebak dalam khayalan yang gila.
Jika tidak, bisa kubayangkan bagaimana penampakan diriku yang sudah seperti zombie jika tidak tidur selama semalaman.
Ah, sudahlah, aku terlalu lelah. Selamat malam untuk berakhirnya hariku yang aneh...
"Good night!"
...~~...
Suara yang bising dan cahaya yang masuk menyilaukan mataku membuat diriku akhirnya terbangun.
Aku mengerjapkan mata dan menutup mulut yang menguap sebelum udara terasa bau dengan bau mulutku.
__ADS_1
"Ah...ibu, biarkan aku tidur. Lebih baik engkau bangunkan Mira saja" ujarku kemudian kembali meringkuk tidur.
Bukanlah itu yang seharusnya terjadi. Memprioritaskan Mira adalah hal yang sudah biasa terjadi dibandingkan memperhatikan diriku.
Saudara kembarku itu pasti sedang menunggu perhatian ini. Dan karena itu biarkan saja diriku ini mengurus hidupku sendiri!
"Apa yang kamu maksud Mira?" Tanya ibu.
Aku langsung membuka mata begitu mendengar ibu memanggil diriku dengan nama itu.
"Apa? Mira, apa aku tidak salah dengar" batinku.
Dan entah kenapa tiba-tiba saja perasaan senang ini begitu memuncak apalagi saat mengingat khayalan gila semalam.
Aku diam mematung, bingung harus bereaksi seperti apa. Saat kulihat pantulan cermin itu.
"Ini seriusan?"
Ini benar benar hal tergila yang terjadi sepanjang hidupku yang suram. Entah bagaimana menjelaskan nya dengan logis. Tapi kini dapat ku asumsikan bahwa pendapat orang orang gila itu nyata!
Aku terbangun di tubuh saudara kembarku. Ya, benar!
Aku benar benar terbangun di tubuh Almira Raisla Maharani. Bukan di tubuh Amara Airi Melasti!
Astaga ini diluar nalar. Aku berjalan menghampiri ibuku yang kini hanya diam. Mungkin memikirkan anak emasnya yang bertingkah aneh. Hingga akhirnya pertanyaan ia lontarkan.
"Kamu baik baik saja Mira?"
Aku tersenyum. "Mmm...Mira baik baik saja Bu"
Oh, ya ampun. Aku gugup sekali saat menjawab. Aku merasa takut jika ibu menyadari bahwa aku bukanlah Mira melainkan Amara.
Tapi sepertinya itu hanya ketakutan tidak beralasan ku saja. Karena tidak lama ibu tersenyum ke arahku.
Entah perasaan apa ini tapi ini membuatku senang.
Sepanjang hidupku, ibu tidak pernah sekalipun tersenyum saat di depanku.
Aku memandang ibu sembari memainkan jari. Ibu yang melihat tingkahku akhirnya bertanya.
"Kamu kenapa?"
Aku menunduk.
Mungkinkah ini saat yang tepat meminta sesuatu yang selama ini kuinginkan?
Ya, mungkin ini saat yang tepat!
"Aku ingin memeluk ibu, apakah boleh?"
Astaga, jantungku berpacu tidak terkendali!
Ibu yang mendengar permintaan aneh ku malah tertawa. "Baiklah, kesini anakku..." Dan dengan lembut ia merangkul tubuhku masuk ke dalam pelukannya yang hangat.
Aku terdiam menikmati. Sepertinya air mata ini sudah tumpah. Akhirnya aku bisa merasakan pelukan yang hangat ini.
Dan membiarkan suasana ini memengaruhi hati kecilku untuk terus menikmati nya.
"Aku ingin seperti ini selamanya..."
Bersambung....
__ADS_1