Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
22:


__ADS_3

...Happy reading.........


Sapuan sihir mengelilingi tubuhku seketika membuat tubuh ini melayang. Kini ditangan ini mengeluarkan sebuah cahaya mana. Sihir yang berwarna putih biru menerangi tempat ini.


Aku memfokuskan seluruh mana ini ke raga Tama. Dan dalam sekejap luka ditubuhnya menghilang.


Fiuh....


Aku mengelap keringat yang bercucuran memenuhi wajah ini. Walaupun hanya sesaat tapi cukup memakan banyak tenaga.


Puk...puk...puk...


"Bagus sekali, walaupun kamu baru belajar tapi sudah tahu cara mengeluarkan mana. Tapi meski begitu kamu masih jauh dari kata menguasai." ujar peri sambil bertepuk tangan.


Aku yang mendengar pujian sekaligus ejekan itu pun bangkit. "Ya, terima kasih atas pujiannya yang mulia. Tapi maaf saya tidak menginginkan hal tersebut."


Setelah mengatakan itu aku berbalik berjalan ke arah Tama. Mengabaikan dia yang sedang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.


"Kamu baik baik saja, Tama?"


"Ya, kini aku baik baik saja." jawabnya.


Aku merasa lega saat melihat Tama yang sudah mampu untuk berdiri. Tapi sekarang....


"Awww!"


Aku menjewer telinga Tama hingga membuat nya berteriak kesakitan. "Rasakan ini! bagaimana mungkin kamu membuat kegaduhan seperti tadi. Apa kamu gila, sebenarnya apa yang kamu pikirkan, hah!"


"Awww! hentikan, baik, baik akan aku jelaskan!"


Mendengar ucapan itu aku pun berhenti menjewer telinga nya.


Amara: "Baiklah, sekarang jelaskan padaku!"


Hah, lihatlah, Telinga nya yang sudah memerah itu!


Tama: "Tidak jadi."


Apa!!!


Bukannya menjawab pertanyaan ku, Tama justru pergi menemui peri. Sungguh menyebalkan!


Eh, tapi tunggu dulu!


Karena saat ini Tama justru terlihat sedang membungkuk hormat kepada sang peri.


Dan tidak lama kemudian dia berjalan ke arahku. "Jadi apa yang baru saja kamu katakan kepadanya." jelas tanyaku.


Tama: "Aku mengucapkan salam perpisahan karena kita harus pergi saat ini juga."


Astaga, aku baru ingat. Kita berdua ternyata sudah cukup lama berada di tempat ini. Alvero si sialan itu pasti sudah menunggu.


"Tentu saja, ayo!"


Meskipun begitu aku merasa telah melupakan sesuatu. Ah benar aku berbalik berjalan ke arah peri.

__ADS_1


Peri: "Ini, ambillah..." ujar peri sambil menyerahkan sebuah....pulpen?


Amara: "Apa ini?"


Peri: "Itu adalah hadiah dariku. Bukankah kamu membutuhkan sesuatu dari tempat ini untuk koleksi mu?"


Wow...


Dia benar benar hebat sekaligus menyeramkan.


Tapi yang benar saja. Aku memang menginginkan sesuatu untuk koleksi pribadi ku tapi tentu saja bukan pulpen seperti ini.


Memang tampilan bagus tapi tetap saja!



"Maaf sepertinya aku tidak membutuhkan nya. Dari pada ini, bisakah yang mulia memberikan satu buah buku di sana. Aku nyakin itu lebih berguna."


Mendengar permintaan ku peri pun tertawa. "Kamu benar benar tidak tahu bersyukur ya? tapi tenang saja itu bukanlah sebuah pulpen biasa..."


Dan tepat sebelum peri menyelesaikan kalimatnya, secara tiba tiba Tama datang dan berusaha mengambil pulpen milikku.


Hap!


Tapi tentu saja tidak semudah itu.


Amara: "Jangan pernah bermimpi untuk mengambilnya dariku!"


Tama: "Kembalikan pulpen itu, dan yang mulia , kenapa anda memberikan barang berharga seperti itu kepada Amara? apa anda lupa betapa berbahayanya pulpen itu?"


Aku terdiam mendengar ucapan Tama. Jadi pulpen yang berada di tanganku ini bukanlah pulpen biasa. Menarik sekali!


Aku menatap peri. "Jadi aku tidak bisa menggunakan pulpen ini sesuka hatiku?" tanyaku.


Peri pun tertawa. "Apa kamu pikir aku akan menyerahkan sesuatu yang hebat kepada orang yang lemah seperti mu dengan mudah? tentu saja tidak!" jawab peri dengan sinis.


"Lalu apa gunanya pulpen ini?" tanyaku.


Peri: "Kamu akan mengetahuinya nanti."


Aku menghela napas. Menerima fakta bahwa dalam hidupku akan selalu dipenuhi oleh berbagai banyak pertanyaan. Ya, tapi tidak masalah, karena aku akan menganggapnya sebagai tantangan.


Aku membungkuk hormat kepada peri. "Jika begitu saya ucapkan rasa terima kasih kepada yang mulia, walaupun saya tidak nyakin harus melakukannya." Setelah mengatakan hal itu aku berjalan ke arah Tama.


Karena kami berdua harus segera pergi. "Jika begitu kami berdua pamit." ujar Tama.


Peri tersenyum dan ikut membungkuk. Setidaknya disaat detik detik terakhir sebelum kami berdua pergi, aku melihat dia tersenyum. Dan oleh karena itu, aku merasa sedikit terganggu.


"Siapa sebenarnya keluarga peri..."


Dan itu adalah pertanyaan yang kuingat terakhir kali sebelum semua ingatan ini menghilang...


...~~~~...


Begitu sampai kami berdua langsung bergegas. "Maaf kami terlambat Alvero." ucap Tama.

__ADS_1


"Tidak apa, lebih baik kita bergegas sekarang. Akan lebih baik jika kita sampai ke pusat Neo sebelum gelap." jawab Alvero.


Dan setelah itu kami berdua melanjutkan perjalanan. Aku melihat sekeliling. Tidak ada yang berubah kecuali bagian dimana para hewan primata bercahaya mulai keluar. Mungkin mereka juga ikut merasa bahwa malam akan segera tiba.


"Hei Alvero, seingat ku kalo tidak salah hari ini adalah hari perayaan festival berdirinya Neo." tanya Tama.


Alvero mengangguk. "Kau benar Tama. Lihatlah sepertinya perayaan nya sudah dimulai."



Aku terkesima melihat keindahan ini. Begitu ramai, dengan dihiasi ornamen pernak-pernik. Semua orang terlihat begitu bergembira. Banyak anak kecil yang berlari ke sana kemari. Dan begitu juga terdengar bising, yang dipenuhi oleh teriakan para orang tua yang mengkhawatirkan anak anaknya.


Dan itu semua sedikit membuat hatiku sedih. Mengingat bagaimana hubungan keluarga ku.


Ah, sudahlah tidak ada gunanya aku memikirkan hal itu.


"Apa yang terjadi, Tama?" tanyaku.


Tama tersenyum sembari mengikat tangan kami berdua dengan seutas tali berwarna merah, mungkin supaya kami tidak berpisah karena kerumunan ini.


"Hari ini adalah hari perayaan berdirinya Neo yang entah ke berapa, aku tidak ingat akan hal itu." jawab Tama.


Alisku seketika terangkat mendengar penuturan Tama. "Dasar, padahal sebelumnya kamu adalah calon penerus." ucapku sambil menepuk dahi.


"Hahaha, kamu benar." jawab Tama sembari tertawa walau terasa garing.


Mendengar percakapan kami berdua Alvero berjalan menghampiri. "Ini adalah perayaan hari berdirinya Neo yang ke 1.500 tahun." ujarnya.


Aku berbalik, membuang muka. Aku masih tidak menyukainya.


Bohong!


Lebih tepatnya aku masih tidak sanggup melihat wajahnya. Karena saat aku melihat wajahnya maka disaat itu pula aku merasa lemas.


Dan banyangan mengerikan itu entah kenapa justru semakin banyak.


"Ugh!" aku memegang kepala ku yang terasa pusing.


Hap!


Tapi untungnya Tama menangkap tubuhku sebelum aku benar benar terjatuh. "Apa yang terjadi Amara? kamu baik baik saja?" tanya Tama dengan cemas.


Aku mengangguk. "Tidak ada. Hanya saja sepertinya aku terlalu lelah untuk berjalan."


Tama menghela nafas. "Baiklah jika begitu lebih baik kita beristirahat sebentar disini."


Aku tersenyum. "Benarkah?"


Karena jujur saja ini bisa menjadi kesempatan bagiku untuk ikut menikmati perayaan ini. Bayangkan saja kesenangan yang akan aku dapatkan!


Tama: "Hmm, aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Lagipula bukankah ini yang kamu mau, walaupun aku sedikit kurang nyakin apakah kamu benar benar lelah."


Aku tersenyum dan dan berdiri. "Aku tidak bohong, tapi tentu saja rasa sakit ini tidak akan menghentikan ku untuk ikut menikmati perayaan ini!" jawabku dengan semangat.


Aku berjalan pergi meninggalkan Tama untuk menikmati perayaan ini. Langkah kakiku yang menjauh dan senyuman yang terukir di bibir Tama benar benar membuat ku lupa.

__ADS_1


Bahwa seharusnya aku tidak pergi meninggalkannya saat itu. Dan di hari itu menjadi awal dari rasa penyesalan ku...


Bersambung...


__ADS_2