
...Happy reading 🥰.......
Apakah pernah kamu berpikir apa yang akan terjadi pada masa lalu dan masa depan jika mereka berdua digabungkan.
Dan apa yang terjadi jika sang masa lalu mengetahui apa yang terjadi pada masa depan?
Dan apa yang terjadi pada masa depan jika sang masa lalunya tidak pernah ada?
Ini terdengar gila tapi mungkin saja bisa terjadi.
Aku menghela napas. Di saat saat seperti ini justru aku malah berpikiran yang aneh aneh. Aku pun termenung. Mulai berpikir alasan mengapa Alvero justru mencintai ku.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka pada masa lalu dan yang lebih penting apa hubungannya dengan ku?
Tapi yang lebih penting adalah masa kini.
Aku memegang senjata ku dengan erat. Meskipun aku tahu ini adalah rencana yang gila tapi ini juga adalah rencana terbaikku.
Pergi seorang diri untuk menghadapi seorang monster adalah perbuatan gila yang berani. Bau amis darah begitu menyengat indra penciuman. Mayat yang tergeletak di mana mana membuat suasana semakin mencekam.
Tapi tidak ada yang salah dengan ini. Karena aku adalah pelaku atas semua peristiwa yang terjadi. Dan ini mungkin terdengar kejam tapi aku tidak peduli.
Aku bersiap, sepertinya dia ada dibelakang ku!
"Ahkk!"
Brak!
"Ugh!" Aku meringis tak kala ketika tangan itu dengan kuat mencekik leherku. "Lepas--kan!"
Alvero tersenyum. "Tidak perlu khawatir. Percayalah padaku, aku tidak ada berniat untuk membunuhmu..."
Tapi semua itu adalah bohong. Berbanding terbalik dengan kata-kata nya dia justru semakin kencang untuk mencekik ku. Bahkan kini kakiku sudah tidak berpijak lagi pada tanah. "Dasar sialan, kau Alve--ro!"
Aku merinding saat tangannya itu mulai mengelus rambutku. Dasar menjijikan. "Lepas!" berontak ku. Tapi dia tetap tidak mau melepaskan ku.
Lalu Alvero pun mendekat, menatap wajahku dengan sendu. Sama seperti tadi, tiba tiba dia mengalami perubahan emosi. "Aku merasa sangat sedih. Meskipun kamu tahu bahwa ini semua adalah jebakan tapi tetap saja kamu pergi untuk menyelamatkan Tama. Kenapa, kenapa kamu tidak bisa melakukannya untuk ku?"
Aku menggelengkan kepala ketika mendengar semua omong kosong itu. Apa dia pikir aku bodoh. Tentu saja hal itu tidak akan pernah terjadi.
Tidak ada alasan kuat bagiku untuk melakukannya dan juga tidak ada keuntungan yang bisa kudapatkan. Apalagi setelah aku mengetahui kebenaran yang terjadi. "Bagus sekali. Tapi maaf beribu maaf aku tidak sudi untuk membantu mu apalagi bertahan di sisimu. Dasar iblis!"
Seketika Alvero menatap tajam ke arahku. Langsung saja ia kembali mencekik leherku. Tapi itu tidak membuat ku merasa takut. "Semoga kamu suka hadiah dariku." ujarku lalu tersenyum smirk.
Crat!
"Uhuk-ugh!" darah segar langsung keluar dari mulut Alvero. Tapi meski begitu dia tetap masih bisa tersenyum. Menatapku dengan pandangan meremehkan. "Bukankah sudah kukatakan. Tidak semudah itu untuk mengalahkan ku." dan Alvero pun semakin menguatkan tangannya untuk mencekik leherku.
Brak!
__ADS_1
Tubuh Alvero langsung terbanting tak kala Leonard datang dan langsung menendang tubuh Alvero. "Senang bertemu denganmu lagi!" sapa Leonard.
Aku yang berhasil lolos langsung menyentuh leherku yang kini luar biasa terasa sakit. Sepertinya hampir saja aku kehilangan nyawa. "Kenapa kalian terlambat sekali?!" tanyaku yang sudah kesal. Mereka berdua benar benar terlalu lama.
Sementara itu Leonard hanya bisa cengengesan. Aku membuang muka berusaha mengontrol emosi. "Sudahlah tidak ada gunanya. Lebih baik kalian urus dia." titah ku.
Tapi...
"Kalian pikir semudah itu?" Aku berbalik, menatap Alvero.
"Apa maksud mu?"
Alvero tersenyum, dan dapat dipastikan bahwa mungkin itu adalah tanda bahwa ia sudah melakukan sesuatu kepada Tama.
"Jika kamu pergi, menemui Tama kamu akan mati dibunuh oleh nya." jawab Alvero.
Aku menggenggam erat tanganku. Lalu kemudian memejamkan mata sejenak. Dan kembali menatap Alvero. Dengan nyakin aku berkata, "Jika memang benar maka itu tidak pernah menjadi alasan bagiku untuk takut dalam menghadapinya. Karena jika aku masih menyimpan rasa takut akan kematian maka sedari awal aku tidak akan pernah datang kesini. Karena kini tujuan ku sekarang adalah untuk datang menyelamatkan nya."
Dan tanpa ingin mendengar apapun lagi aku langsung pergi. Meninggalkan Leonard dan Mia untuk bertarung dengan Alvero. Aku tahu mereka berdua bukanlah lawan yang seimbang. Tapi yang kini ku perlukan adalah mengulur waktu sebanyak mungkin lalu membawa Tama pergi.
Mari kesampingkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Leonard tersenyum lalu memanggil Mia. Kini mereka berdua sudah siap untuk bertarung hidup dan mati melawan Alvero. "Tidak kusangka kamu akan berubah sejauh ini demi wanita itu, Flo." ujar Leonard.
Mendengarnya sontak saja membuat Leonard tertawa. Leonard menggelengkan kepala tidak percaya. "Kalian berdua memang benar benar adalah budak cinta. Tapi ingatlah, sekalipun kini kamu berhasil hidup sebagai Alvero tapi cinta wanita itu akan tetap menjadi milik pria itu dan kamu bukanlah orang tersebut."
"DIAMMM!" Teriak Alvero dengan kesal. Dan langsung menyerang Leonard dan juga Mia.
Mendapatkan serangan mereka berdua langsung menghindar dan melakukan strategi yang telah disiapkan.
Sebuah cahaya kini mengelilingi tubuh Leonard dan Mia. Kini wujud asli dari mereka berdua akhirnya terlihat.

__ADS_1

Pada dasarnya kaum minoritas sudah hidup lebih lama dari para mahkluk lainnya. Tapi karena perkawinan antar mahluk yang berbeda membuat para keturunan asli kaum minoritas semakin langka.
Dan hal yang paling menyedihkan adalah dimana hanya Leonard dan Mia saja satu satunya keturunan asli kaum minoritas.
Melihat Leonard dan Mia yang sudah memperlihatkan wujud aslinya justru membuat Alvero merasakan dejavu. "Sudah lama sekali. Aku tidak melihat wujud itu. Wujud asli dari kelompok minoritas. Dulu kita bertarung mati Mati matian di jalan yang sama. Yaitu jalan kebenaran. Tapi kini, kita berdiri disini. Sebagai lawan satu sama lain." ucap Alvero.
"Dan kamu sudah membuatku merasa kecewa Flo!" balas Leonard.
Mendengar Leonard yang lagi lagi memanggil nya dengan nama Flo membuat Alvero naik pitam. Dari tangannya sebuah cahaya hitam keluar. Lalu...
Duar!
Langsung menyerang mereka berdua. Tapi untungnya tidak berhasil untuk melukai Leonard dan Mia. "Sudah ku katakan. Aku bukan lagi Flo yang polos seperti dulu. Kini aku adalah Alvero. Pria yang dicintai oleh Wanita itu."
Leonard menghela napas. "Aku mohon berhentilah melakukan semua ini. Meski kamu terlahir kembali sebagai Alvero, itu bukan berarti wanita itu akan mencintaimu. Sadarlah bahkan kini dia sudah menemukan cinta nya kembali. Dan itu bukan kau!" jawab Leonard dengan tegas.
Tapi secara membabi-buta Alvero langsung menyerang Leonard dan Mia. Dia sudah merasa muak dengan seluruh ucapan Leonard.
Leonard menghela napas. Sebenarnya dia tidak pernah ingin bertarung melawan sahabatnya sendiri. Tapi kini tidak ada pilihan lain.
Dia sudah menerima takdir bahwa sahabat yang dulu selalu berada disisi nya telah berubah. Leonard menggenggam erat tangannya. Bersiap. Ia menatap Alvero. "Baiklah, mari kita bertarung sebagai lawan. Sahabat masa lalu ku!"
__ADS_1
Bersambung....