Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 38:


__ADS_3

...Happy reading 🥰......


Kini aku benar benar merasa sangat frustasi. Sudah cukup lama aku mengelilingi istana ini tapi tetap saja aku tidak dapat menemukan nya. "Sebenarnya kamu ada dimana Tama?"


Aku merasa khawatir. Apalagi fakta bahwa aku tidak memiliki banyak waktu. Ku harap Leonard dan Mia dapat menahan Alvero lebih lama lagi. Setidaknya hingga aku berhasil menemukan Tama.


Aku terhenti saat tiba di tempat ini. Singgasana para Raja. Pemimpin dari kerajaan Neo. Inti dari Illinois.



Hanya ada tiga kata. Begitu indah dan mewah hingga membuat ku merasa takjub...


Aku menggelengkan kepala. "Ayolah, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti ini."


Aku pun berjalan pergi meninggalkan singgasana ini. Tapi...


Aku berbalik dan berjalan, mendekati singgasana itu. Aku pun terpikirkan sesuatu. Ada begitu banyak tempat di istana ini. Aku sudah mengunjungi tempat yang ada di tempat ini. Tapi mungkin saja ada yang telah ku lewati.


Pasti ada sesuatu yang telah ku lewatkan dan aku merasa sangat nyakin!


"Astaga aku ingat!"


Langsung saja tanpa lama aku langsung memfokuskan aliran mana. Kini ditanganku terkunci sebuah sihir. Aku menatap singgasana itu.


Aku tersenyum. "Aku nyakin kamu ada disana. Tama..."


Dan aku pun memejamkan mata. Ikut merasakan aliran mana yang memenuhi tempat ini.


...~~~~...


Begitu aku membuka mata. Kaki ini terasa begitu berat untuk melangkah.


Semuanya berwana merah gelap. Di tempat asing ini aku merasakan begitu banyak kejanggalan. Dendam, kematian yang mengenaskan, iri, benci dan penyesalan, semua telah menjadi satu.


Dan aku nyakin satu hal. Tempat ini adalah tempat bagi roh yang tidak bisa pergi ke dunia akhir. Dunia dimana para roh bisa beristirahat dengan tenang.


Aku mengusap tanganku yang terasa dingin. Bahkan langitnya pun tidak jauh berbeda.



Kini aku telah berada di dunia lain. Aku nyakin Alvero menyembunyikan Tama di tempat ini. Dan oleh karena itu aku tidak bisa menemukan Tama didalam istana. Namun, sayangnya kini aku menghadapi masalah besar.


Begitu banyak mahkluk menyeramkan berkeliaran dimana mana. Dengan bentuk tubuh yang sangat mengerikan dan suara yang memekik telinga.


Aku menghirup napas. Berusaha untuk tetap tenang saat berjalan di antara mereka. Dengan mata yang tajam mereka semua memperhatikan ku. Merasa begitu asing dan bahkan ada yang sampai mengikuti kemanapun aku pergi.

__ADS_1


"Hahhh... benar benar merepotkan!" aku menarik napas sebanyaknya. Syukurlah mahkluk mahkluk menyeramkan itu sudah tidak mengikuti.


Tapi sekarang, tanpa aku sadari aku telah sampai di suatu tempat. Tempat yang membuatku nyakin bahwa ini lah yang selama ini kucari.



Sebuah pohon yang begitu indah sekaligus terasa begitu kelam. Kelam akan asal usul tempat ini. Aku pun mendekat, memperhatikan dengan lebih seksama. Ada sesuatu yang aneh dengan pohon ini.


Dan entah kenapa aku merasa tidak asing. Pohon yang indah, seolah ia memiliki daya magis sehingga siapapun yang melihatnya tidak dapat memalingkan pandangan dari pohon ini.


Dan aku nyakin kamu berada di sana. Di dalam pohon itu, tempat dimana kita pernah bertemu...


Sebuah cahaya telah bersinar terang. Dan seolah menyambut kedatanganku pohon itu pun membalas aliran mana milikku dan ikut mengeluarkan sebuah cahaya.


Lalu munculah wajah dari seseorang yang kukenal. Aku menatap fokus berusaha untuk tidak kehilangan keseimbangan antara sihir dan raga.


Aku tersenyum menguatkan diri. Tapi tetap saja pohon ini terlalu menyerap energi. Sihir hitam yang dimilikinya terlalu kental hingga pada akhirnya membuat ku terkulai lemas. Dan secara tidak sengaja memutuskan aliran mana.


"Ti--dak..." dan kini Tama pun ikut menghilang dari pandanganku.


Aku mengusap peluh keringat yang ada. Dan berusaha untuk bangkit. "Apa yang sebenarnya di inginkan oleh pohon sialan ini, hah?!" cukup sudah kesabaran ku.


Tapi pada akhirnya ku hentikan karena aku yang cape sendiri. "Sekarang bagaimana cara untuk mengeluarkan Tama dari tempat ini?" tanyaku bingung.


Di tambah lagi, aku nyakin bahwa Leonard dan Mia pasti sudah berhasil di kalahkan oleh Alvero. Karena pada dasarnya kekuatan di antara mereka terlalu jauh.


Andaikan ada sebuah ke keajaiban. Oh ayolah bukankah sudah banyak hal aneh yang terjadi. Bisa tidak sekali saja aku mengalaminya lagi.


Aku pun menggaruk rambutku frustasi. "Dasar pohon sialan!" maki ku.


Dan akibat dari pukulan ku keluar sebuah cairan merah pekat dari batang pohon. Ini benar benar terasa aneh. Kenapa bisa terjadi seperti itu...


Dan kemudian...


"Ahkkk!" aku memegangi kepalaku yang terasa pusing. Tiba-tiba sebuah ingatan asing memaksa untuk masuk.


Terlihat bayang bayang seseorang. Dan dari tangannya terjatuh setetes darah. Lalu ia mengucapkan sesuatu seperti sebuah mantra.


Dan sebuah cahaya hitam pun menyinari dirinya hingga pada akhirnya dia pun berubah menjadi abu.


"Perjanjian dengan iblis..."


Aku menatap pohon ini. Mungkinkah...


Srett!

__ADS_1


Tanpa pikir panjang aku langsung menyayat pergelangan tanganku dan membiarkan darahku jatuh mengenai akar dari pohon ini.


Dan tepat sesuai dugaan, dari dalam pohon ini mengeluarkan sebuah cahaya. Kekuatan hitam langsung mengelilingi pohon ini. Sihir hitam ada dimana-mana dan juga ikut mengelilingi tubuhku. Hingga akhirnya menghilang dan Tama muncul dengan tiba-tiba di hadapan ku.


"Tama!"


Untung saja aku berhasil menangkap tubuhnya. Aku menatap lekat wajahnya. Wajah yang selama ini ku rindukan. Dan entah kenapa karena hal sepele ini aku sampai menangis.


"Kamu benar benar membuatku merasa khawatir..." dan langsung memeluk tubuh Tama saat itu juga. "Akan kuberikan pelajaran padamu begitu kita pergi dari tempat ini!" janjiku.


Aku terdiam saat merasakan sesuatu. Aku pun tersenyum bahagia saat Tama mulai membuka mata. "Akhirnya kamu sadarkan diri juga. Aku benar benar merasa khawatir."


Tapi...


"Apa yang kamu lakukan?" aku terdiam tidak bisa berbuat apapun.


"Ta--ma..." leherku langsung di cekik dengan kuat hingga membuat ku kesulitan bernapas. Dan dengan sihir Tama mengunci pergerakan tubuhku hingga membuat ku tidak bisa memberontak.


"Le--pas--kan aku!"


"Hahhh..." Aku mengusap leherku yang terasa sakit dan menatap Tama dengan tajam. Dengan teganya dia berusaha membunuhku setelah apa yang sudah kulakukan untuknya.


Namun rasa kesal itu seketika lenyap saat ku lihat matanya. Dia menatapku dengan tatapan kosong seolah tidak ada kehidupan di sana.


Kini aku mengerti dia tidak sepenuhnya sadar melainkan sedang dikendalikan oleh seseorang!


Brak!


Aku langsung menghindar dari serangannya.


"Ternyata memang benar. Ini semua adalah ulah mu." ujar Amara.


Di sana di balik pohon itu Alvero bersembunyi. Melihat semua dengan jelas. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau berada di sisi ku. Amara?" tanya Alvero.


Aku menatap Alvero kesal. "Berhenti mengganggu ku dan Tama. Alvero!" ancam ku.


Tapi ancaman itu tidak di pedulikan olehnya.


Dia memegang pundak Tama dan membisikkan sesuatu. Setelah itu Tama melihat ku dengan wajah yang sulit dibaca. Dan...


Wushh...


Andaikan aku tidak segera menghindar mungkin kini belati itu sudah menusuk tepat di jantungku. "Ku mohon sadarlah Tama!"


Tapi semua itu hanya sia sia. Hanya ada satu cara untuk menghentikan semua kegilaan ini. Yaitu dengan membunuh pria itu.

__ADS_1


Dan dari arah sana. Dia berdiri. Menatapku dengan senyuman yang ku benci. Dan selalu mengatakan hal yang sama. "Aku mencintaimu, Violetta..."


Bersambung....


__ADS_2