
...Happy reading 🥰.......
Aku menatap Tama meminta penjelasan. Meskipun saat ini kami berdua telah berhasil lolos dari kejaran mereka tapi tetap saja siapa yang tahu akan apa yang menanti. Ditambah lagi fakta di mana kami berdua telah menculik pimpinan Neo. Sagarantana.
Dapat dibayangkan kericuhan apa yang terjadi di Neo dengan menghilang nya pimpinan mereka sekaligus matinya jutaan prajurit.
Tapi ternyata sama halnya dengan ku, Tama pun juga merasa bingung. Dia tidak pernah menyangka bahwa ambisi Sagarantana akan sebesar itu untuk menghabisi nya.
Kami berdua saling menghela napas. Oke, baiklah. Mari kita pikirkan jalan keluar dulu untuk saat ini.
Tapi semua niat itu seketika buyar saat aku tidak sengaja melihat wajah Sagarantana. Lihatlah dia, bahkan hingga saat ini dia tetap menjaga wajah sombongnya itu dengan menatap kami berdua rendah.
Tapi sudahlah, lebih baik aku segera pergi dari tempat ini...
Tapi sayangnya langkah kaki ku langsung terhenti tak kala saat mendengar kata-kata yang di ucapkan olehnya.
"Kalian pikir, kalian adalah penyelamat. Padahal kalian juga sama dengan ku, sama sama haus akan ambisi dan kekuasaan."
Aku hanya bisa terdiam mendengar nya. Tidak pernah kupikirkan untuk mengelak ucapannya karena pada dasarnya semua itu memang benar.
"Kamu benar. Tapi aku tidak peduli karena tujuan ku hanyalah untuk membantu Tama. Selebihnya aku tidak terlalu peduli." jawabku.
Mendengarnya Sagarantana tertawa. "Kau benar benar lucu. Apa kamu pikir aku akan percaya. Siapa orang gila yang akan mau menolong temannya hingga mempertaruhkan nyawanya. Aku nyakin kamu bukan orang seperti itu."
"Sekali lagi kamu benar. Aku hanya menolong Tama karena tentu saja Tama menawariku sebuah keuntungan yang tidak bisa ku tolak. Dan tentu saja aku memiliki alasan pribadi yang tidak perlu kamu ketahui." jawabku setelah itu aku langsung berjalan pergi menyusul Tama.
"Awas!" teriak Tama.
Tapi sialnya aku yang kurang fokus tidak dapat menghindar dari serangannya. Sial, rupanya selama ini Sagarantana sudah berhasil melepaskan ikatan sihir yang ku pasang.
Akibatnya perut ku tertusuk oleh sebuah tongkat tipis panjang nan tajam hingga menembus tubuhku. Seketika aku langsung muntah darah dan terjatuh lemas tidak berdaya.
"Sialan kau!" ujarku dengan suara yang mulai melirih.
Banyak sekali darah yang mengucur deras dari luka tusuk itu. Aku pun berusaha menghentikan pendarahan dengan cara menutup luka. Dan yang lebih sialnya aku tidak bisa menggunakan teknik penyembuhan pada diriku sendiri dikarenakan mana ku yang habis untuk melarikan diri tadi.
Sementara itu Tama langsung menghampiri dan menggendong tubuhku. Terlihat dia sangat cemas dan menutupi lukaku dengan sebuah sihir.
__ADS_1
Tapi sama halnya dengan ku, Tama juga sudah kehabisan mana. Dan tidak lama kemudian sihirnya memudar.
"Uhuk!
Aku tersenyum seperti nya lukaku semakin parah di saat aku kembali memuntahkan darah yang ternyata sudah berwarna hitam pekat. Aku nyakin Sagarantana sialan itu telah memasukkan sesuatu ke dalam tongkat itu.
Dan Tama pun semakin cemas. Terlihat dari raut wajahnya yang panik. "Bertahanlah..." ujar Tama.
Hingga akhirnya Tama menatap tajam kearah Sagarantana. "Dasar brengsek!" maki Tama.
Dan seolah seperti sesuatu yang lucu Sagarantana pun tertawa dengan keras. Ia menatap kami berdua dengan tatapan angkuh. "Bagaimana rasanya kehilangan apa yang telah kamu perjuangkan selama ini Tama... Menyenangkan bukan?"
Tubuh Tama pun bergetar marah ketika mendengar ucapan Sagarantana. "Kenapa kamu melakukan semua ini? Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?! Apakah kamu tidak puas setelah membunuh Ayahanda dan memfitnah diriku hingga menjadi buronan. Apa semua itu tidak cukup bagimu untuk menyiksaku?!"
Sagarantana pun tersenyum kecil. "Justru lebih dari itu. Akan ku buat kau menderita lebih sakit dari apapun..."
"Kenapa, kenapa kau melakukan ini?" Tama.
"ITU KARENA KAU TELAH MEREBUT APA YANG SEHARUSNYA MENJADI MILIKKU, ANAMRA TAMAKA! SEHARUSNYA AKULAH YANG MENJADI PENERUS NEO BUKANNYA KAU!" Teriak Sagarantana yang sepertinya sudah kehilangan kendali akan emosinya.
Setelah mengatakan semua itu Sagarantana berjalan ke arah kami berdua. Langsung saja Tama bertindak tapi sayangnya kekuatan Tama tidak ada apa apanya dibandingkan dengan Sagarantana.
Dan aku hanya bisa terdiam, tidak dapat melakukan apapun. "DASAR SIALAN KAU!" maki ku kepada Sagarantana.
Brak!
"Ahkk!" Aku meringis merasakan sakit yang luar biasa saat dengan kejamnya Sagarantana membanting tubuhku hingga membuat ku terpental ke belakang.
"AMARAAA!" Teriak Tama di iringi dengan pemberontakan yang dilakukannya
Sayangnya semakin Tama memberontak maka semakin sihir itu mengekang tubuhnya dengan kuat. "Ahh.." rintih Tama.
"Sedari dulu aku selalu merasa iri kepadamu. Apapun yang kamu lakukan selalu mendapatkan dukungan dari Ayahanda sedangkan aku? dia selalu menolak apa yang aku usulkan." ujar Sagarantana.
"Apa maksud mu?" tanya Tama dengan bingung.
"Dia selalu membedakan kita berdua. Kau pasti tidak menyadarinya kerena sedari dulu ayah selalu membanggakan dirimu. Dia selalu menjauh dariku dan selalu mendekati dirimu..."
__ADS_1
Mendengarnya Tama menggeleng. "Kamu salah, justru kamulah yang selalu menjauh dari ayah. Kamu yang selalu saja sibuk bertemu dengan para bangsawan. Asal kamu tahu ayah selalu mengunjungi kamarmu setiap hari tapi apa? kamu tidak pernah ada. Kamu selalu pergi untuk menemui para bangsawan ituuu! jadi jangan pernah putar balikan fakta yang ada, Sagarantana!"
"DIAMMM!" bentak Sagarantana tidak terima.
Mendengar nya Tama terdiam dan menatap dalam Sagarantana. "Apa selama ini kau selalu berpikir seperti itu...?"
Tapi Sagarantana justru memalingkan wajah. Seakan bahwa semua itu memang benar.
Dan dari sini aku sedikit mulai mengerti apa yang terjadi. Ternyata semua permasalahan ini bukan berawal dari saat masa pemilihan penerus melainkan berawal dari salah paham mengenai kasih sayang seorang ayah.
Tapi meskipun begitu, semua perbuatan yang dilakukan oleh Sagarantana tidak akan pernah bisa dibenarkan!
Dengan seluruh kekuatan ku yang masih tersisa. Aku diam diam mengarahkan sebuah tongkat yang tadi sempat menusuk ku ke arah Sagarantana.
Berharap akan berhasil mengenai tubuh nya. Sehingga Tama bisa memiliki kesempatan untuk lari.
Wushh!
Aku berhasil melakukannya!
Tongkat itu berhasil tepat menusuk di perut Sagarantana. Dan hal itu pun dijanjikan kesempatan oleh Tama untuk melarikan diri dari cengkraman Sagarantana.
Tapi apa yang terjadi?
"Uhuk!"
Kenapa justru aku yang semakin merasakan sakit yang luar biasa. Bukankah tongkat itu tepat mengenai Sagarantana?
Seperti sebelumnya aku kembali merasakan sakitnya di tusuk. Dan tepat sebelum aku menyadari apa yang telah terjadi Sagarantana mengangkat tubuhku.
Dia menatapku. "Tidak semudah itu untuk mengalahkan ku, mahkluk Bumi!"
"Ahkkk" aku berteriak saat sesuatu berusaha keluar dari dalam tubuhku.
Sebuah cahaya berwarna merah muda keluar tepat dari jantungku. Dan tepat di saat itu juga aku langsung terjatuh.
Sagarantana pun tertawa puas. "Akhirnya ini menjadi milikku! setelah penantian panjang aku berhasil mendapatkan nya!"
__ADS_1
Sagarantana tertawa dan tidak lama dia mengarahkan tongkat itu kembali padaku. Dia tersenyum. "Selamat menemui ajalmu..."
Bersambung....