Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 18:


__ADS_3

...Happy reading.......


Hah?


Aku tersenyum, astaga betapa naif nya aku. Bagaimana aku bisa lupa bahwa saat ini keberadaan manusia dianggap sebagai mahkluk rendahan.


Tapi tidak mengapa aku ingin mengetahui apa alasannya kali ini.


Amara: "Mohon maaf sebelumnya yang mulia, tapi bisakah yang mulia menjelaskannya. Saya kurang mengerti maksud ucapan yang mulia."


Lalu peri itu tertawa, entah karena ada hal yang lucu atau karena aku melakukan hal yang lucu?


Dia mengusap air matanya yang keluar akibat tertawa. "Ahahaha!... maafkan aku, aku tidak berniat untuk menyindir mu tapi jika kamu merasa tersindir berarti tepat sasaran dong?"


Ah, kurasa saat ini aku membutuhkan barang untuk dibanting. Persetan dengan etika, lagipula dia sendiri tidak beretika!


Tapi tidak lama ekspresi wajahnya berubah.


Peri: "Tapi bukankah itu benar. Kalian para manusia adalah makhluk yang tidak tahu diri. Kalian terus saja merusak ekosistem di bumi, melakukan pencemaran lingkungan bahkan kalian saling membunuh satu sama lain demi sebuah ambisi yang menghasilkan uang, benar bukan?"


Amara: "Anda benar. Tapi bukankah bukan hanya mahkluk bumi saja yang melakukan hal itu. Di mana ada makhluk yang hidup dengan akal dan pikiran pasti selalu ada pertikaian dan masalah yang ada. Tapi kenapa, anda begitu menyudutkan mahkluk bumi. Apa karena kami tidak memiliki kekuatan seperti yang lainnya?"


Aku menatap tajam peri ini. Sekarang aku ingin melihat reaksi seperti apa yang dia keluarkan.


Peri:"Ahh... sepertinya perkataan ku benar ya? dibandingkan dengan menyangkal nya kamu lebih memilih untuk mengalihkan nya, tapi pada akhirnya kalian makhluk bumi selalu menganggap bahwa kekuatan, kekuasaan dan uang adalah segalanya ya?"


Peri: "Padahal kalian memiliki sesuatu yang sangat penting. Yang tidak mungkin dimiliki oleh mahkluk lain."


Aku terdiam berusaha mencerna ucapan nya. Tapi...


Amara: "Tapi bukankah anda sendiri tidak jauh berbeda dengan kami?"


Peri itu tertawa, tapi kini bukan karena ingin menghina mahkluk bumi. Karena aku merasakan senyuman yang tulus.


Peri: "Kamu benar, justru daripada itu aku iri kepada kalian para makhluk bumi."


Hah?


Tidak dapat dipercaya!


Aku terdiam mematung tidak percaya apa yang dia katakan. Hei apa kamu tahu, aku bahkan rela berganti posisi kehidupan denganmu jika kamu tidak menginginkan nya!


Aku menghela napas berat memikirkan semua ini. Tapi baguslah sekarang aku bisa memastikan bahwa peri ini tidak memiliki niat jahat.

__ADS_1


Tapi walaupun begitu aku tidak bisa mempercayainya. Walaupun tidak ada mahkluk menyeramkan yang menempel pada tubuhnya tapi aku masih tetap bisa melihat sebuah sekumpulan asap hitam mengelilingi tubuhnya.


Ternyata sekalipun seorang peri penjaga, dia tidak terlepas dari dosa ya?


Kini peri melihat ke arah Tama. Seolah bertanya apa tujuan kedatangan kami berdua kemari.


Tama: "Begini yang mulia saya ingin mengajukan permohonan. Apakah yang mulia bersedia melakukan ritual Pistos untuk kami berdua?"


(Note: Pistos dalam bahasa Yunani artinya setia )


Mendengar hal itu Peri langsung terdiam. Dan karena hal itu aku merasa penasaran dengan apa itu ritual Pistos?


Aku memandang Tama meminta penjelasan. "Sebenarnya apa itu ritual Pistos?"


Mendengar ucapan ku peri memandang Tama dengan sinis.


Peri: "Apa kamu sedang bercanda? bahkan partner mu saja belum mengetahui apa arti dari ritual Pistos, apa kamu sudah gila Tama. Apa kamu tidak memikirkan konsekuensi dari ritual Pistos!"


Mendengar nada bicara peri yang mulai meninggi semakin membuatku merasa gelisah. Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh Tama. Dan sebenarnya apa itu ritual Pistos?


Dan yang paling penting apa konsekuensinya?


Tapi...


Tama: "Maaf sebelumnya aku tidak memberitahu dirimu. Tapi aku menunggu saat yang tepat, karena aku takut kamu akan menolaknya."


Amara: "Sebenarnya apa yang kamu inginkan sampai berpikir bahwa aku akan menolak permintaan itu?"


Tama menghela napas panjang untuk sesaat dan kembali menatap diriku.


Tama: "Ritual Pistos adalah sebuah ritual sumpah setia untuk menjadi seorang pelindung. Seseorang yang melakukan sumpah Pistos berkewajiban untuk melindungi tuannya dari segala masalah yang bisa membahayakan nyawa tuannya termasuk jika dia harus terbunuh dalam melaksanakan tugasnya."


Aku menggenggam erat tangan ku. Tidak peduli walaupun ini membuat luka di tanganku. "Jika begitu, apa konsekuensinya?"


Tama: "Jika seseorang yang melakukan sumpah Pistos gagal maka dia berkewajiban untuk membunuh dirinya sendiri dan jiwanya akan mengembara mencari reinkarnasi tuannya dan melakukan sumpah Pistos kembali."


Amara: "Lalu jika dia gugur saat melaksanakan tugasnya?"


Tama: "Maka jiwanya akan menghilang. Terhapus dalam takdir manapun."


Aku langsung menarik tanganku dengan paksa setelah mendengar semua itu. Apa yang Tama pikirkan, apa dia tidak waras.


Dengan emosi yang mengendalikan pikiran ku aku kembali bertanya. "Lalu siapa yang akan menjadi tuan dan pelindung?"

__ADS_1


Tama tersenyum. "Tentu saja kamu menjadi tuannya dan aku menjadi pelindungnya."


Ah, sialan!


Kenapa disaat seperti ini dia justru tersenyum. Dengan begitu aku tidak bisa marah lagi padanya!


Amara: "Apa kamu gila? kenapa kamu harus melakukan ini untuk melindungi ku! apa kamu pikir aku lemah! dibandingkan melakukan ritual ini bukanlah kamu masih tetap bisa melindungi diriku!"


Aku merasa kesal, sangat kesal. Kenapa Tama seenaknya merencanakan semua ini tanpa memberi tahuku sebelumnya.


Tama meraih tanganku dan menciumnya. "Aku tidak berniat membohongi mu. Tapi jika kamu mendengar hal ini lebih awal aku nyakin kamu pasti akan menolak kan?"


Amara: "Tentu saja! dasar bodoh!"


Terserah, aku akan memaki orang bodoh ini sesuka hatiku!


"Terserah kamu mau mengataiku seperti apa, aku tidak peduli. Karena yang terpenting bagiku adalah keselamatan mu. Jadi, aku mohon padaku, jangan menolak permintaan ku kali ini." dan dengan lembut Tama menghapus air mataku yang ternyata tanpa aku sadari sudah mengalir.


Aku baru sadar jika selama ini aku sedang menangis. Tapi aku tidak peduli, aku ingin jujur pada perasaan ku sekali ini saja.


Amara: "Tapi kenapa kita harus melakukan ritual Pistos?"


Tama: "Entah apapun jawaban yang aku berikan kamu pasti akan mencari alasan untuk menolaknya. Oleh karena itu, aku mohon padamu agar kamu setuju untuk melakukan ritual Pistos."


Aku menghapus air mata ini dan memeluk Tama dengan erat.


Tama :"Amara?"


Jika aku menolak Tama pasti juga akan mencari alasan agar aku menyetujuinya, kan?


Jika begitu tidak ada pilihan lain!


Amara: "Baiklah aku setuju tapi aku punya satu syarat."


Tama yang mendengar persetujuan dariku langsung tersenyum.


Amara: "Tapi jangan senang dulu. Kamu harus mengabulkan permintaan ku terlebih dahulu!"


Aku pun menggenggam tangannya.


"Ternyata tangannya besar sekali tapi tetap saja terasa hangat..."


Amara: "Berjanjilah padaku, aku mohon jangan mati."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2