Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 17:


__ADS_3

...Happy reading.......


Hanya ada satu yang bisa aku ucapkan ketika melihat semua ini.


"Wow!"



Sebuah tangga yang indah menjulang tinggi. Aku terkesiap sesaat melihat pemandangan ini. Memang benar kata orang, sepertinya aku terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga tidak menyadari bahwa di bagian alam semesta lain tersimpan keindahan yang luar biasa.


"Ho...Ho..Ho...aku seperti merasa sudah gila. Hei bayangkan jika semua ini hanya mimpi pasti aku akan berguling-guling dilantai merajuk merasa kecewa."


"Tapi bagaimana jika ini mimpi?"


Aku langsung menepuk-nepuk pipiku bahkan tidak segan langsung menamparnya begitu saja.


Plak!


"Aww!"


Aku sudah tidak waras. Aku langsung mengusap pipiku yang terasa nyeri dan mungkin sudah nyut-nyutan. Ah sial, tapi baguslah ini bukan mimpi.


Dan ya...


Tepat disebelah ku terlihat Tama yang menepuk dahi dan menggelengkan kepala merasa tidak habis pikir.


Tapi masa bodoh!


Yang penting ini bukan mimpi!


Oyyeh!


"Oke Amara tenangkan dirimu. Sekarang kamu tidak punya banyak waktu jadi bergegaslah pergi dan lihat kejutan yang menanti."


Tanpa basa-basi lagi aku langsung berlari menaiki anak tangga ini.


Kejutan aku datang!


Sementara itu....


Tama: "Hah... sepertinya obatnya sudah habis. Siapapun tolong ingatkan aku untuk membeli obat di apotik."


😂😂😂


...~~...


Saat ini aku sedang duduk melamun menunggu kehadiran Tama. Sudah lama sekali dia tidak muncul-muncul.


Ya tentu saja, setelah mengangumi keindahan tempat ini.



Aku menggeleng kan kepala mengusir bayangan yang berkeliaran di kepala ku. Sungguh memalukan, karena merasa takjub melihat pemandangan ajaib aku sampai tidak sadar air liur ku menetes.


Tapi untung saja Tama belum sampai, jika tidak malu aku.


Sebuah rumah pohon yang berbentuk jamur dengan nuansa suasana ungu ditambah dengan langit yang terang tapi tetap menyuguhkan suasana malam benar benar tidak bisa dilewatkan begitu saja.

__ADS_1


Aku berdiri menggenggam tanganku.


Ya, aku berjanji akan membawa barang kenangan dari tempat ini dan mungkin dari tempat lain juga.


Tanpa basa-basi lagi saudara- saudara, Amara langsung saja berkeliling memungut apa saja yang indah dari tempat ini.


Ya... sekali-kali cosplay jadi pemulung tidak ada ruginya.


Tama: "Daripada kamu memulung sampah sampah itu lebih baik kamu membantu ku. Aku benar benar kelelahan saat ini." ujar Tama dengan napas yang terengah-engah.


Aku yang mendengar hal itu langsung saja berkata sinis. "Tidak kamu salah, sampah - sampah ini jauh lebih berharga. Lagi pula kenapa kamu lelah segitunya padahal hanya menaiki beberapa anak tangga. Dan ya satu hal lagi, kenapa kamu begitu lama?"


Tama yang mendengar ucapan ku langsung menyentil dahiku.


"Aduh, hei!"


Aku meringis merasa sakit, orang gila ini tidak main-main dalam menyentil dahiku.


Tama: "Kamu gila? apa kamu tidak sadar anak tangga itu berjumlah sekitar 5.000 lebih dan kamu bilang lama. Menaiki nya saja aku menggunakan sihir tahu!"


Amara: "Hei santai saja. Kamu pasti berbohong mana mungkin sampai 5.000. Jika tidak kenapa aku bisa dengan cepat menaiki nya, jika memang benar, aku sudah lebih dulu pingsan karena kelelahan!" sanggah ku.


Tunggu sebentar!


Aku terdiam sebentar berusaha untuk berpikir. Apa mungkin Tama jujur?


Lagi pula jika dipikir pikir lagi tangga tersebut memang cukup panjang. Apa mungkin aku yang aneh?


Ah... sudahlah!


Tama: "Terserah jika kamu tidak percaya, tapi ingatlah bahwa aku berkata jujur kali ini."


Amara: "Ya, baiklah akan aku ingat. Sekarang antarkan aku masuk ke dalam. Aku sudah berusaha keras untuk masuk tapi tidak ada yang berhasil."


Tama tersenyum lalu melihat diriku. "Tentu saja kamu tidak bisa masuk, karena hanya orang yang diundang yang boleh masuk."


Hah?


Apa maksud nya?


Aku mengerutkan kening tidak mengerti apa yang Tama katakan. "Apa kamu bilang?"


Sementara itu Tama hanya tertawa membalas pertanyaan ku dan menggenggam tanganku. "Baiklah sekarang, aku, Anamra Tamaka mengundang Amara Airi Melasti untuk masuk ke dalam tempat ini!" dan dengan lantang Tama mengucapkan kata-kata itu dan disaat yang sama sebuah sihir muncul berkeliaran mengelilingi pintu masuk dan dengan ajaib pintu terbuka.


Lagi, lagi dan lagi aku dibuat kagum dengan apa yang kulihat. Memang benar dunia fantasi adalah yang terbaik.



Walaupun diluar terlihat kecil tapi begitu menginjakkan kaki kedalam tempat ini terlihat luas dan lihatlah di atas sana. Atapnya bahkan terbuat dari langit!


Amara: "Tama, bahkan jika kamu meninggalkan aku disini aku nyakin, aku pasti bahagia...." ucapku dengan penuh haru membayangkan hal itu.😎


Tapi dengan suara yang tegas Tama menolak permintaan itu.


Tama: "Jangan mimpi!"


Aku menghela napas. "Biasa saja kali!"

__ADS_1


Dan dari seberang sana seseorang berjalan menghampiri kami berdua.


Dan tanpa rasa curiga sedikitpun aku justru maju ikut menghampiri. Dan andaikan saat itu aku memilih untuk pergi, aku nyakin mungkin saat ini aku tidak kehilangannya...


...~~...


Aku berjalan tanpa ragu berusaha memastikan siapa yang datang. Terlihat sebuah bayangan seorang wanita yang memiliki sayap sedang berjalan mendekat.


Apa mungkin seorang peri.


Hingga tanpa aku sadari langkah kaki ini sebenarnya tidak pernah melangkah. Entah apa yang terjadi tapi aku tetap berdiri di tempat yang sama.




"Ternyata benar dia memang seorang peri..."


Begitu peri itu datang Tama langsung membungkukkan tubuhnya memberi hormat.


Tama: "Salam saya kepada yang mulia, penjaga dari tempat ini, yang melindungi seluruh ruang waktu alam semesta."


Aku terdiam mendengarnya.


Seorang penjaga ruang waktu, jika begitu apa artinya dia adalah dewa?


Tapi kemudian...


Eh, Peri itu tertawa?


Peri: "Ahahaha... kamu memang masih sama saja seperti dulu Tama. Aku sungguh merasa terhormat tapi sayangnya perkataan mu tidak benar, seolah kamu sedang menyindir diriku, benar bukan?"


Sementara itu...


Tama: "Ahahaha... ternyata yang mulia peka juga ya, Ahahaha..."


Peri: "Ahahaha...sudah hentikan, apa kamu mau kepalamu aku penggal Anamra Tamaka?!" ujar peri itu dengan nada yang mulai meninggi.


Dan tentu saja tanpa rasa takut Tama malah tertawa!


Tama: "Ahahaha... justru itu adalah yang saya nantikan yang mulia. Dan ya perkenalkan dia adalah Amara, seorang manusia."


Hei Tama apa yang kamu katakan!


Bukankah dia adalah penjaga tempat ini, dan jika begitu itu artinya dia sama saja seperti penguasa!


Begitu Tama memperkenalkan ku, aku langsung merasa gugup. Dan dengan bodohnya aku langsung melambaikan tangan.


Amara: "Salam hormat yang mulia...." sapaku yang tentu saja dengan tangan yang sudah bergetar dengan hebat.


Tapi apa ini?


Dengan sinis nya dia berkata.


"Maaf tapi aku tidak bisa melakukan hal itu apalagi dengan mahkluk rendahan seperti dirimu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2