Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 40:


__ADS_3

...Happy reading 🥰......


Ketika aku membuka mata, satu satunya yang dapat kulihat adalah ruangan putih. Tidak ada lagi hal yang lain. Semuanya benar benar berwarna putih.


"Jadi, apakah aku sudah mati?" kini pertanyaan itu memenuhi kepalaku.


Aku melihat sekeliling lalu kemudian aku tersenyum. "Mungkin saja atau..."


Tiba-tiba sebuah cahaya indah bersinar lalu munculah seorang wanita. Melihat nya membuat ku sama sekali tidak berkedip. Menatap dengan takjub. "Tidak mungkin..."


Tapi semua kekaguman itu tidak lama berganti dengan perasaan terkejut. Karena wanita itu, adalah diriku sendiri.


"Senang bertemu denganmu, Amara." sapanya.


Aku mundur beberapa langkah. Apa yang kulihat di luar akal sehat. "Pergilah, aku tidak akan bisa terlena dengan sihir ilusi milikmu." ancam ku.


Aku berusaha untuk tetap tenang, mungkin saja saat ini aku terkena sihir ilusi. Meski semua ini terasa begitu nyata.


"Sudah kubilang, menjauh lah!" ancam ku lagi. Tapi wanita itu tidak peduli dan semakin mendekati ku.


Dan anehnya, kini aku tidak bisa menggerakkan kaki ku. Seolah ada sesuatu yang membuat kakiku terasa berat untuk melangkah. "Apa yang kamu lakukan padaku?" tanyaku dengan setenang mungkin.


Meski aku sudah berusaha menyembunyikan rasa takut ini tapi dengan mudahnya dia tahu. "Santai saja Amara. Aku tidak memiliki niat jahat sama sekali padamu."


Aku menggeleng tidak percaya. "Bohong, semua orang selalu berkata seperti itu padaku. Bahkan Tama sekalipun. Seseorang yang telah begitu ku percaya dengan teganya telah menipu ku..." jawabku dengan lirih.


Aku menunduk. Kini aku sadar bahwa sedari awal Tama yang menempatkan diriku ke dalam bahaya agar wanita itu bisa menguasai tubuhku. Dan sekarang dia berhasil.


"Ffff.. hahahaha."


Aku menatap nya dengan bingung. "Kenapa kamu tertawa?"


Lalu dia menjawab. "Untuk apa dia melakukan hal itu jika pada dasarnya aku dan kamu adalah orang yang sama."


Deg!


"Apa maksud mu?"


Dan entah kenapa situasi ini semakin membingungkan.


Wanita itu menghela napas. "Namaku adalah Violetta."


"Aku tahu!" ujarku ketus.


Tapi meski mendapatkan perlakuan tidak suka dariku justru membuat nya semakin merasa senang. Aku yang melihatnya tentu saja memandang nya dengan aneh.


"Dasar orang gila." Gumam ku yang masih bisa di dengar olehnya.


Violet berjalan mendekat dan menyentuh tanganku. Ingin sekali ku tarik tangan nya agar tidak menyentuh tanganku tapi entah kenapa tiba-tiba aku merasa sangat tenang.


Dan dari jarak yang dekat ini aku menyadari sesuatu. Meskipun wajah kita sama tapi aura yang kita miliki sangat berbeda.


Dia begitu tenang seperti air dan juga indah seperti alam semesta ini. Violetta adalah gambaran mahkluk yang sempurna....


"Apa aku bisa seperti dia..." batinku.

__ADS_1


"Kenapa, kamu iri?"


Sontak saja aku langsung menjauh. Entah sejak kapan wajah kami berdua terlalu dekat. Dan yang lebih parahnya...aku, tersipu malu?


Langsung saja aku menepuk-nepuk pipiku. Mustahil aku menyukai diriku sendiri!


Melihat tingkah konyol ku membuat Violet tertawa. Tawa yang begitu manis...


Aku langsung membuang muka. "Berhenti tertawa. Itu sama sekali tidak lucu."


"Ah, maafkan aku. Hanya saja aku teringat akan masa lalu."


Amara: "Masa lalu apa?"


Violet: "Masa dimana aku masih menjadi mahkluk hidup yang bebas."


Aku terdiam. "Memang apa yang terjadi pada hidupmu?"


"Aku tidak terlalu ingat tapi satu hal yang pasti, Kaum ku mati dengan cara yang mengenaskan."


Setelah mengatakan itu suasana berubah menjadi hening dan canggung.


"Jadi dia juga pernah menjalani kehidupan sama seperti ku."


Dan jika memang benar bahwa kami adalah orang yang sama bukankah bisa dibilang dia adalah kehidupan ku di masa lalu?


Dan jika begitu, apa yang terjadi hingga jiwanya pergi membara?


Aku menyentuh pundaknya dan bertanya, "Tapi, apa ini tidak berbahaya?"


"Kau dan aku. Bukankah kita adalah orang yang sama. Aku adalah masa kini dan kamu adalah masa lalu. Jika begitu apa tidak masalah jika sang masa lalu bertemu dengan sang masa depan?"


"Tidak, kamu salah. Kamu adalah sang masa lalu dan aku adalah sang masa depan."


Eh?


Bibirku seketika membisu. Seolah tidak dapat berkata-kata. Bagaimana bisa?


"Jangan bohong, apa kamu berniat menipu ku!" ujarku dengan nada yang mulai meninggi.


Violet yang merasakan perasaan kesal ku menghela napas. "Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi apa yang terjadi adalah bagian dari takdir."


"Bukankah kamu tadi bilang bahwa kaum mu mati dengan cara yang mengenaskan?" tanyaku.


"Iya itu memang benar. Tapi aku juga bilang bahwa aku tidak memiliki ingatan yang jelas. Karena sang masa lalu telah mengubah sang masa depan."


Mendengar jawaban itu membuat terdiam. Entah harus senang atau justru bingung. Disisi lain aku senang bahwa masa depan bisa berubah. Tapi disisi lain aku takut jika apa yang aku lakukan justru akan menambah parah keadaan yang ada di masa depan.


Jika begitu tidak ada pilihan lain. Aku sudah membulatkan tekad. Aku tidak bisa mundur karena bagaimanapun masa depan sudah mulai berubah. Jadi aku hanya harus melakukan sesuatu agar hal yang buruk tidak terjadi di masa depan. Meski aku sendiri tidak terlalu yakin.


Violet yang menyadarinya perasaan ku ikut mendukung ku. "Jika begitu tugas ku sudah selesai."


"Apa?"


"Karena sang masa lalu telah membulatkan tekad untuk mengubah masa depan maka masa depan yang sekarang perlahan lahan akan mulai menghilang dan tergantikan dengan masa depan yang baru."

__ADS_1


Lalu sesuatu yang baru mulai terjadi.


Tubuh Violet perlahan mulai memudar. "Aku tahu ini sulit bagimu tapi aku yakin kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama sepertiku."


Tepat sebelum tubuhnya benar-benar menghilang aku bertanya. "Bagaimana cara mengalahkan Garansatana?"


Berharap Violet pernah mengalami apa sekarang aku alami.


Violet mendekat dan...


Hap!


Dia memeluk ku dan menenggelamkan wajahnya di pundak ku. "Kamu tahu kesalahan apa yang ku buat? sebuah kesalahan yang sangat sangat aku sesali seumur hidupku."


Aku mengelus rambutnya. "Dan apa itu?"


Violet tersenyum. "Membiarkan Tama hidup."


Deg!


Sontak saja aku langsung mendorong tubuh Violet dengan keras. Dan menatap nya dengan benci.


Melihat sikapku yang langsung berubah total membuat Violet tertawa. Dan kini, sikapnya berubah.


Dia bukan Violet yang aku kenal.


Aura positif yang tadi aku rasakan tiba tiba berubah menjadi aura negatif.


Sebuah sihir hitam dengan cepat menguasai tubuhnya.


Tidak, lebih tepatnya sihir hitam itu berasal dari dalam tubuhnya. Dia tersenyum miring dan perlahan mulai mendekat.


Menatapku dengan mata hitamnya.


"Uhuk!"


Akibat dari sihir hitam tersebut membuat ku mengalami muntah darah yang hebat. Jantungku yang terasa panas membakar semakin membuat ku tersiksa.


Aku menatapnya kesal. "Sial!"


Karena lagi lagi aku kembali di tipu.


Dengan belati hitam di tangannya dia menjambak rambutku. "Lepaskan aku..."


"Ahkkk!"


Aku teriak saat belati itu dengan kuat menancap tepat di jantung ku lalu kemudian berubah menjadi abu.


Aku pun langsung terjatuh lemas. Dan menatapnya dengan benci. "Sekarang aku mengerti. Bahwa kamu adalah iblis itu sendiri. Kamulah yang telah menghancurkan dunia!"


Ahkkk siaran aku ingin sekali membunuhnya tapi tubuhku benar benar sudah tidak berdaya.


Dan tepat sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dia berkata, "Sekarang, bunuh dia..."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2