Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 6: Adik kelas yang misterius


__ADS_3

...Happy reading.......


Hampir saja aku melemparkan botol minuman ini jika saja aku tidak memikirkan akibatnya.


"Hah, apa mereka tidak bisa sabar sedikit. Gue nyakin itu orang udah ngak makan selama sebulan. Penampakan nya aja udah kaya zombie" batinku.


Semua terus saja membuat ku kesal. Tapi kini semua bertambah saat orang yang kuhindari malah menemui.


"Amara, kamu mau bareng ke kantin ngak sama Mira?"


Aku memandang saudara kembarku. Dia memang sangat manis dan baik tapi tetap saja aku tidak menyukai.


Apakah aku jahat, entahlah. Kurasa dia sudah cukup mendapatkan kebahagiaan di rumah.


"Sorry kayanya Amara ngak bisa nemenin Lo karena dia bareng sama gue" ujar seseorang dari belakang.


Ya, siapa lagi. Dia adalah Irlanta dan dengan kurang ajarnya dia seenak jidat menaruh tangannya yang kotor dipundak ku.


"Apaan sih, Irla" balasku tidak enak hati kepada Mira.


Walaupun aku tidak menyukai Mira tapi ini bukanlah hal yang bagus untuk memperlakukan seseorang.


"Yaelah, udahlah. Mending kita cabut ke kantin daripada keburu rame. Noh, liat. Semua orang pada berhamburan ke sana. Udah, cabut ayo..."


Irlanta dengan paksa membawa ku pergi, meninggalkan Mira seorang diri.


Sesampainya di kantin aku melemparkan genggaman Irlanta dengan paksa. "Apaan- apaan sih, Lo ngak sopan tau sama Mira"


Mendengar apa yang ku ucapkan Irlanta mendengus jengah. "Oh, ayolah baby, Lo ngak perlu munafik. Gue tau Lo ngak pernah suka kan sama saudara kembar Lo?"


Tapi walaupun begitu, tetap tidak baik memperlakukan Mira seperti itu!


"Tapi gimanapun dia tetap saudara kembar gue, Irlanta"


"Lebih tepatnya, bukan saudara kembar Lo"


Aku terdiam. Ya yang dikatakan Irlanta benar, bahwa Mira bukan saudara kembarku lagi.


"Tapi-"


"Stop, gue ngak mau denger penjelasan apapun lagi. Mending kita pesan makanan, gue udah laper. Bye!"


Aku menghela napas. Merasa frustasi dengan apa yang terjadi. Tapi sudahlah, toh, ini bukan urusan ku. Kenap aku harus pusing memikirkannya?


Ya, dan pada akhirnya aku dan Irlanta sama sama melupakan masalah ini.



Kini kami berdua sedang menikmati makanan masing-masing hingga pada akhirnya Irlanta memberi tahu diriku perihal sesuatu.



"Oh iya, gue baru aja inget. Lo tau ngak, beberapa hari belakangan ini ada orang yang terus nanyain Lo "



"Hah, emang siapa?"



"Dengar- dengar sih adek kelas kita"



"Cowo atau cewe?"



"Cowo"



"Terus?"



"Ya, ngak tau sih. Tapi kayanya ada masalah. Eh Lo ngak lagi ada ribut sama adek kelas kan?"



"Ngak, gue lagi males"



"Bagus, gue juga lagi males ngelerai masalah Lo"


__ADS_1


"Tapi..."



"Tapi apaan?"



"Gue penasaran, kok bisa ya Lo terkenal padahal kan Lo cuma pembuat onar"



Mendengar penuturan Irlanta sontak saja aku menjitak kepalanya.



"Aww, sakit bego!"



"Biarin, eh gini gini juga gue pinter kali, ngak kaya Lo"



"Iya-iya yang paling jenius satu sekolah"



"Nah itu tau"



"Dih kepedean Lo"



"Lah emang fakta gue pinter"



Irlanta memutar bola mata jengah dengan kepedean ku. Sedangkan aku hanya tertawa merasa itu lucu.



Bukannya aku sombong, tapi bahkan tidak ada guru yang berani padaku kecuali Bu Sri. Dia satu satunya guru yang tidak segan kepadaku . Bahkan sering kali menghukum ku saat membuat masalah.




"Eh, anjir!"



Aku dan Irlanta menoleh sejenak saat mendengar keributan.



"Ih siapa tu?"



"Yang jelas kayaknya


Korban baru sih"



"Gila, siapa yang


Berani cari masalah sama violet"



Dapat terlihat semua orang berhamburan ikut mencari tahu apa yang terjadi.



"Hah, lagi dan lagi, kalo ngak Lo yang cari masalah pasti si violet, heran gue. Padahal sama sama cewe tapi biang kerok "



Aku hanya diam, melihat Irlanta yang menggerutu. Tapi kini aku ikut merasa penasaran. Akan sosok yang menjadi korban violet. Tapi satu hal yang bisa kupastikan, orang itu pasti begitu lugu.



Yah, orang lugu adalah sasaran yang tepat bagi para pembully.

__ADS_1



Kami berjalan ke titik pasti. Aku diam, ketika mengetahui apa yang terjadi disana.



Kulihat dengan mata kepalaku violet sedang menyiram seorang siswi dengan sekotak susu yang tak lain adalah Mira.



Tapi aku hanya diam. Menatap nanar nasib Mira dari sini. Memperhatikan dari jauh saat Ia meringis menahan sakit saat rambutnya di tarik dengan kuat.



Hingga membuat Mira menangis.



Aku merasa geram, tapi tidak lama rasa itu berubah menjadi kesenangan.



Kini aku tersenyum menikmati momen tersebut.



Aku berbalik, berusaha menyembunyikan rasa itu. Dan berjalan pergi.



Sepertinya aku merasa sedikit berubah menjadi jahat. Tapi anehnya ini terasa seru.



Ah, sudah cukup. Aku harus memberi tahu guru konseling sebelum situasi menjadi runyam.



Kini aku berada disini. Dengan rasa ngantuk yang menyerang membuatku terus saja memejamkan mata. Tapi guru kimia itu terus saja menghentikan.


"Amara, kamu tidak boleh tertidur saat dikelas!"


Setidaknya seperti itulah gambaran saat dia memarahi ku. Sayangnya aku sudah kebal terhadap ancaman. Karena itu merupakan makanan sehari-hari untukku.


Dan, kini kejutan kembali menghampiri. Saat tiba-tiba saja seseorang datang mencari.


Diriku...


Ku pandang kedua orang tua yang yang terus saja melihat ke arahku. Mereka terus saja berbisik, hingga salah satu orang berperawakan pria tua datang menghampiri.


"Amara kamu dipanggil oleh kepala sekolah"


Aku mengangkat alis, kurasa sepertinya aku tidak mencari masalah hari ini. Tapi kenapa surat cinta terus datang.


Maksud dari surat cinta adalah surat yang diberikan saat aku terkena masalah.


Jadi, jangan sampai salah paham.


Tapi ini kesempatan bagus. Karena aku bisa tidur sepuasnya disana tanpa diganggu oleh guru kimia menyebalkan ini.


Ya, setidaknya pikir ku saat itu...


Sayangnya dugaan ku sangatlah salah. Bukan kepala sekolah yang memiliki keperluan denganku, melainkan seorang adik kelas laki laki yang tersenyum manis saat aku menyapanya.


Dan mereka meninggalkan ku seorang diri bersama anak laki laki ini.


Aku tersenyum basa basi, berusaha mengusir hawa yang tiba-tiba saja terasa sesak. Entah kenapa, orang ini membuatku merasa tidak nyaman.


Terus saja berdiam diri dan tersenyum tiada henti. Membuat diriku merasa sedikit... takut?


Hingga akhirnya ia mengeluarkan sesuatu dan memberikan nya kepadaku.


Aku terkejut, saat melihat sebuah buku ia berikan. Ya, buku yang sama yang membuatku mengalami perjalanan waktu.


Sebuah buku bersampul hitam.


"Kurasa kamu mencari buku ini" ucapnya sembari terus tersenyum.


Aku menatap lekat orang didepan ku ini. Dia, bagaimana bisa?


"Kenapa buku milikku bisa ada bersamamu?"


Bukannya menjawab, orang ini malah terus saja tersenyum yang membuatku merasa gemas.


"Hei, aku bertanya kepadamu!"


Tapi kini senyuman di wajah itu menghilang, telah berganti menjadi tatapan yang menusuk.

__ADS_1


"Apakah kamu benar benar ingin tahu?"


Bersambung....


__ADS_2