Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 11:


__ADS_3

Kamu tidak perlu seperti itu, Amara..."


Aku terdiam ketika mengetahui siapa orang dibalik bayangan hitam tersebut.


"Kamu, apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku.


Orang yang kumaksud adalah adik kelas yang misterius itu. Tapi dalam wujud aslinya.


"Apa ini adalah ulahmu?"


Jelas saja ini adalah ulahnya!


"Ya, benar."


Sudah kuduga!


Tapi bagaimana caranya?


Aku diam menatap tajam ke arah nya.


"Jadi kamu Anamra Tamaka?"


"Iya. Itu adalah namaku."


Aku menghela napas. Aku tahu bahwa dia bukan manusia tapi aku tidak pernah berpikir bahwa dia akan membuat sihir yang membuat diriku berpindah ke tempat asing yang aneh ini.


Tapi itu bukan lah sesuatu yang buruk...


"Jadi, bisakah kamu jelaskan apa yang terjadi, Tama!"


Aku akan menuntut penjelasan kepadanya!


Tama: Tentu saja. Karena ini akan berhubungan dengan misi yang akan kamu kerjakan."


"Ini adalah tempat tinggal ku. Saat ini kita berada di planet yang kalian manusia sebut dengan nama Neptunus. Tapi nama aslinya adalah Illinois. Saat ini kita berada di daerah Natana, pusat pemerintahan Illinois. Tempat ini adalah inti Illinois."


Aku menghela napas panjang mendengar penjelasan Tama. Aku tidak menyangka dia menggunakan sihir kepada ku untuk berpindah tempat ke planet Neptunus...


Eh tunggu dulu...


Planet Neptunus?


Apa!!!!


Aku berteriak tidak percaya saat menyadari apa yang terjadi.


Bagaimana mungkin!


Saat ini aku berada di planet Neptunus?!


Planet ke delapan dari matahari!


Ini sungguh gila!


Aku menatap tajam ke arah Tama, meminta penjelasan.


Tidak, aku tidak percaya, dia pasti sedang bercanda!


Amara: Hei jangan bercanda. Apa menurut mu aku akan percaya dengan gurauan mu itu. Lupakan saja."


Tapi bukannya menjelaskan dia justru tertawa!


"Ffff...hahaha...kamu sungguh lucu. Tapi sayangnya aku sedang tidak bercanda!"


Aku terdiam mematung mendengar hal ini.

__ADS_1


"Jadi ini bukan gurauan?"


"Tapi bagaimana mungkin? mustahil bagiku seorang manusia biasa tiba tiba saja bisa berada di planet Neptunus. Apa kamu tidak tahu berapa jaraknya. Dan lagi pula jelaskan padaku, jika memang benar saat ini aku berada di planet Neptunus bagaimana cara nya aku bisa bertahan dari tekanan nya?"


Huh!


"Dia pikir aku percaya. Ini adalah hal yang mustahil untuk terjadi. Lagipula sihir macam apa yang dia gunakan untuk melakukan semua ini. Kita lihat apa jawaban yang akan dia berikan kepadaku"


Aku berjalan mundur saat tiba-tiba saja Tama berjalan mendekat. Tentu saja aku tidak merasa takut tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak enak akan terjadi.


Tama menatap ku dengan tajam seolah olah siap untuk menerkam mangsanya.


Amara: Hei, berhenti. Sebenarnya apa tujuanmu?!"


Tapi sial, dia tidak mendengar apa yang aku ucapkan.


Dia terus berjalan maju mendekat hingga membuatku akhirnya terpojok. Dia memegang daguku dan menatapku dengan sorot mata yang mengancam.


"Tentu saja karena kamu bukan manusia biasa, Amara...apa kamu pikir manusia biasa bisa bertahan dari ruang garis waktu dan lagipula jika kamu adalah manusia biasa aku tidak akan memilih dirimu..."


"Ugh!" rintih Tama.


Ya, aku menonjok wajahnya. Dan itu karena aku berusaha melindungi diri.


"Apa yang kamu lakukan!" Bentak Tama tidak terima dengan apa yang telah kulakukan.


Tapi...


Aku berjalan maju dan menatap Tama. "Tentu saja untuk menghajar dirimu."


Aku memejamkan mata berusaha untuk menahan emosi.


Lagipula itu salahnya. Kenapa dia harus melakukan itu segala sampai memojokkan diriku seperti itu. Aku tidak akan menyerang jika aku tidak merasa terancam.


Tama: "Tapi sayangnya serangan kecil seperti itu tidak akan mempan kepada ku..."


Amara: "Tentu saja, karena aku tidak berniat melukai mu. Tapi apa yang kamu maksud bahwa aku bukan manusia biasa?"


Tama: " Coba kamu pikirkan apa yang telah menimpa dirimu akhir akhir ini."


Amara: "Lalu apa hubungannya?"


Tama: "Aku pikir kamu adalah seorang penguasa yang terlahir kembali."


Tunggu dulu...


"Apa dia bilang?!"


Aku berjalan mendekati Tama lalu...


Bugh!


"Ahkk!"


Aku memukul kakinya dengan keras!


"Yang benar saja, jangan bercanda!"


Tama: Kamu!"


Amara: "Rasakan itu! Aku meminta mu untuk menjelaskan apa yang terjadi bukan nya membuat dongeng. Kamu pikir aku anak kecil?"


Aku memijit kepalaku yang terasa pusing. Yang benar saja, aku? seorang penguasa?


Yang itu jelas sangat mustahil!

__ADS_1


Tama: Terserah jika kamu tidak percaya. Lagipula aku memang belum bisa mencari tahu lebih dalam tentang hal itu."


Amara: "Apa?"


Tama: Tapi yang jelas kamu bukan manusia biasa. Karena tidak akan ada manusia biasa yang bisa mengulangi garis waktu..."


Amara: "Tapi untuk mengenai hal itu aku sendiri pun tidak tahu apapun. Semua itu masih menjadi misteri untukku..."


Aku menunduk. Jujur aku memang mulai menyadari bahwa mungkin akulah penyebab pengulangan waktu itu terjadi.


Karena sedari kecil aku terus mengalami hal yang aneh dan janggal. Tapi baru kali ini aku merasakannya.


Tapi ada satu hal yang aku cemaskan.


Pengulangan waktu bukankah sesuatu yang sederhana. Aku nyakin akan ada konsekuensi dari itu semua.


Dan yang paling aku takutkan bagaimana jika aku justru malah menghancurkan garis waktu dan takdir!


"Eh?"


Aku menatap Tama saat aku merasakan tangannya mengelus rambutku dengan hangat.


"Apa yang dia lakukan?"


Tama: "Kamu tidak perlu mencemaskan hal itu."


Amara: "Tapi, bagaimana jika?"


Tama: "Shutt! diamlah dan dengarkan aku!"


Hah!


Aku terkejut bukan main saat jari Tama menyentuh bibirku. Sial, aku rasa pipiku merona karena hal ini!


Tama: Tenanglah...karena aku akan selalu berada di sisimu. Aku berjanji akan selalu menemani mu dan akan membantu mu mencari tahu apa yang terjadi padamu. Jadi, percayakan ini padaku..."


Aku diam mendengar apa yang Tama katakan. Dan entah kenapa jantung ini justru berdetak dengan sangat cepat.


Hah!


Aku langsung mendorong dada Tama agar menjauh dariku.


Tama: "Amara?"


Amara: "Ya, aku mengerti. Jadi menjauhlah dariku. Lagipula bukankah kamu tidak ingin aku jadi jatuh hati karena sikapmu itu."


"Huh! benar benar menyebalkan. Padahal dia yang bilang kepadaku untuk tidak jatuh hati padanya saat misi berlangsung. Tapi dia sendiri melakukannya. Sekarang bagaimana bisa aku tidak menyukainya!"


Aku memalingkan muka berusaha untuk tidak melihat wajah Tama.


Bisa bisa dia menyadari bahwa pipiku sedang merona karena dia.


Tama: Ya, baguslah..."


Amara: "Apa?"


Tama: "Aku senang kamu mengingat perkataan ku waktu itu. Lagipula akan sangat merepotkan jika kamu menaruh perasaan terhadapku. Jadi pertahankan itu, jangan sampai kamu menyukai ku. Karena jika itu terjadi, maka aku akan membuang dirimu..."


Aku menggenggam erat tangan ini.


"Hah! ternyata dia sedang mempermainkan aku ya?"


Amara: "Tenang saja, akan aku pastikan aku tidak akan jatuh hati padamu. Apalagi kepada seorang bajingan seperti dirimu!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2