
...Happy reading.......
Tama berjalan mendekat dan mengarah kan ku untuk melakukan sesuatu.
Tama: "Amara dengarkan perkataan ku. Aku akan membantumu untuk mengeluarkan mana yang berada ditubuh mu itu."
Amara: "Apa yang kamu maksud Tama? aku tidak mengerti. Lalu bagaimana bisa aku memiliki mana sihir didalam tubuh ini?"
Tentu saja aku merasa bingung. Seumur hidupku aku tidak pernah merasakan bahwa di dalam tubuh ini tersimpan sebuah mana sihir.
Karena aku tidak pernah merasakan nya...
Tama menggeleng kan kepala.
Tama: "Tidak, kamu salah Amara. Alasan kenapa kamu bisa bertahan di Illinois karena kamu memiliki mana sihir. Hanya saja ada sesuatu yang menghalangi mana milikmu. Tapi kini, penghalang itu sudah hancur saat kamu mengalami pengulangan waktu."
"Aku mengerti..."
Amara: "Jika begitu, bagaimana caranya untuk mengeluarkan mana ini?"
Apa yang dikatakan oleh Tama masuk akal. Jika aku bukan manusia biasa maka tentu saja aku memiliki kemampuan spesial bukan?
Walaupun terbesit sebuah pertanyaan.
Bagaimana mungkin Tama bisa mengetahuinya?
Tama: "Sekarang bersiaplah aku akan mengarahkan mu. Jadi aku sarankan kamu untuk tetap tenang."
Amara: "Baiklah aku mengerti."
Tama: "Sekarang tutup matamu dan rasakanlah mana yang mengalir. Maka kamu akan dapat mengendalikan nya!"
Tama menggenggam tanganku dan aku merasa sesuatu yang keluar dari tangannya.
Sebuah cahaya masuk kedalam tubuhku.
Aku tetap memejamkan mata sambil berusaha untuk terus merasakan aliran mana Tama yang mulai aku rasakan mengalir di tubuh ini.
"Ugh!"
Aku merasakan sebuah dorongan hebat. Sesuatu berusaha untuk keluar dari dalam tubuh ini. Dan aku tidak dapat menahannya.
Semakin aku berusaha untuk menahan maka semakin sesuatu itu mendorong paksa untuk keluar.
"Ah, aku mengerti. Ini adalah mana sihir yang dimaksud oleh Tama. Kini aku dapat merasakan nya!"
Tama yang menyadari bahwa aku sudah dapat merasakan mana sihir semakin menekankan mana miliknya untuk terus masuk ke dalam tubuhku.
Hingga aku dapat merasakan dengan jelas mana didalam tubuh ini keluar!
Tama melangkah mundur menjauhi diriku saat mana milikku berhasil keluar dan mengelilingi tubuh ini.
Jadi ini adalah mana!
Sesuatu yang terasa hangat sekaligus kuat berada ditubuh ini.
Sekarang adalah saatnya!
Aku mengarahkan semua kemampuan ku untuk mengendalikan mana ini.
Dan kini mana milikku mengeluarkan sinar yang begitu terang.
Wushh...
Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi aku nyakin bahwa saat ini sebuah mana sihir keluar dari dalam tubuhku!
Amara: "Sekarang fokuslah dan kendalikan mana milikmu lalu arahkan mana milikmu ke sekitar sini. Dan kamu akan melihat apa yang terjadi."
Amara: "Aku mengerti."
Dengan cepat aku bisa mengendalikan mana sihir ini dan mengarahkan sesuai dengan apa yang Tama katakan.
Aku memejamkan mataku dan fokus untuk merasakan mana yang yang berada didalam tubuhku.
__ADS_1
"Saat ini aku merasa seperti air yang mengalir. Tenang tapi menghanyutkan..."
"Baiklah jika begitu maka sekarang adalah saatnya!"
Dengan kemampuan yang aku miliki dengan mudah aku bisa mengarahkan mana ini sesuai dengan keinginan ku.
Sebuah sinar terang mulai mengelilingi tempat ini.
"Bagus!"
Aku pasti berhasil!
Ini menakjubkan!
Tempat ini menyerap mana milikku dan kemudian mengeluarkan sebuah cahaya.
Hutan yang ditumbuhi oleh pepohonan mati berangsur-angsur telah berubah.
Tempat ini akan segera berubah!
Tapi...
"Ugh!"
Entah kenapa, tiba tiba aku kehilangan kendali atas mana sihirku.
"Sial!"
Aku terjatuh tepat saat tiba-tiba seluruh mana ku menghilang begitu saja. Tidak berbekas sedikitpun...
Tama yang melihat hal itu segera bergegas menghampiri ku.
Tama: "Amara apa kamu baik baik saja?"
Tanya Tama dengan cemas.
Aku menggenggam tangan Tama. "Tidak perlu khawatir aku baik baik saja. Tapi, mana sihirnya...tiba tiba saja menghilang. Aku, tidak bisa merasakan nya..."
Dan karena hal itu aku kehilangan kendali atas mana sihirku sendiri...
Tama: "Tidak apa..."
Apa?
Tama melihat ku dan menggenggam tangan ini. Dia...
Tama: "Tidak perlu terlalu terburu buru. Lagipula kamu sudah melakukan hal yang bagus. Aku bangga kepadamu Amara..."
Tama...
"Dia merasa bangga atas apa yang aku lakukan..."
Entah karena alasan apa. Hanya karena sebuah kalimat sederhana itu aku sampai menangis.
Mungkin karena selama ini, untuk pertama kalinya seseorang mengatakan hal itu kepadaku...
Amara: "Terimakasih Tama..."
Ya, aku sadar.
Selama aku berada disisi Tama, semua pasti akan baik baik saja.
Oleh karena itu aku akan selalu berada disisi Tama...
Akan aku pastikan hal itu!
Tama: "Amara terima kasih..."
Amara: "Untuk apa?"
Tama tersenyum kepadaku. "Sekarang lihatlah ke arah sekitar mu."
Amara: "Hmm... memangnya ada apa?"
__ADS_1
Eh ini sungguhan?
Kemana perginya pepohonan mati itu. Bagaimana bisa?
Tempat ini apakah masih tempat yang sama!
Aku melihat ke arah Tama.
Dan Tama mengangguk.
Amara: "Tapi bagaimana bisa?"
Tama: "Itu karena mana milikmu. Aku sengaja menyuruhmu untuk mengarahkan mana milikmu ke tempat ini. Sebenarnya ini adalah tempat tinggal temanku sekaligus tempat persembunyian ku. Tapi tempat ini memiliki sebuah pelindung yang membuat tempat ini benar benar terlihat seperti hutan mati."
Amara: "Ah... sekarang aku mengerti."
Tama: "Jika begitu ayo masuk."
Tama mengarahkan tangannya kepadaku.
Aku tersenyum.
Orang didepan ku ini ternyata memiliki segudang rahasia ya?
Amara: "Tentu saja!"
Aku meraih tangan Tama dan bersama sama masuk ke dalam sana.
Aku melihat ke sekitar merasa takjub. Tempat ini benar benar indah sekali!
Eh?
Tiba tiba saja Tama melepaskan genggaman tangan ku...
Dan entah kenapa aku tidak menyukainya...
Aku merasa seperti di tinggalkan...
Tama: "Amara ke marilah!"
Amara: "Ya!"
Aku bergegas berjalan ke arah Tama.
Dan berusaha keras untuk berhenti berpikir seperti itu. Walaupun aku tahu mustahil untuk melakukan nya.
Terlihat saat ini Tama sedang bersama seseorang dan memperkenalkannya kepadaku.
"Sepertinya dia adalah teman yang dimaksud oleh Tama"
Tapi kemudian kaki ini berhenti melangkah begitu melihatnya.
Tapi apakah benar dia bisa dianggap sebagai seorang teman.
Tanpa alasan yang jelas aku merasa aura negatif keluar dari tubuhnya dan tentu saja aku tidak menyukai hal itu.
Tama: "Amara perkenalkan di Alvero temanku sekaligus tempat dimana aku bisa bersembunyi ketika datang berkunjung ke Illinois."
Amara: "Sayangnya aku tidak peduli."
Tama: "Amara apa yang kamu katakan?"
Aku memalingkan muka berusaha untuk menghindar.
Amara: "Tidak ada. Tama bisakah kamu langsung mengantarkan aku ke tempat peristirahatan. Aku sangat lelah dan aku juga malas untuk berinteraksi dengan temanmu itu..."
Tama: "Amara...?"
Amara: "Cepatlah karena aku tidak ingin melihat wajah temanmu itu..."
Bersambung....
__ADS_1