Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel

Petualangan Hebat Amara Ke Dunia Paralel
Eps 31:


__ADS_3

...Happy reading 🥰.......


Kini disinilah aku berada, berjalan di tengah kebingungan tidak tahu harus berbuat apa.


Siapa aku?


Dimana ini?


Di tempat yang asing. Aku berjalan melewati beberapa sorot mata yang terus menatap ku dengan aneh. Tidak ada yang bisa kuingat. Semuanya seolah menghilang begitu saja. Tidak ada yang bisa kulakukan. Kecuali...


"Apa yang sedang kamu lakukan?" ujar seseorang dari seberang sana.


Terlihat seorang anak laki laki yang seumuran denganku. Dia mengajak ku berbicara seolah kami saling mengenal.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi, bagaimana bisa kamu berjalan jalan dengan bebas melewati mereka dengan wujud aslimu. Bagaimana jika mereka melukai mu, Amara?" ucap anak laki laki itu kepadaku.


Terlihat raut wajahnya yang khawatir sekaligus marah. Tapi kini pertanyaannya adalah...


Siapa dia?


Kenapa dia bersikap seolah kami saling mengenal?


Dan kenapa dia memanggilku Amara?


"Namaku bukan Amara..." jawabku.


Mendengarnya, anak laki laki itu menatapku dengan terheran-heran. "Sepertinya telah terjadi sesuatu kepadamu."


Aku menggelengkan kepala. "Entahlah, aku tidak nyakin."


Dia memegang bahuku dan menatapku dengan dalam. Dan entah bagaimana caranya kini sebuah suara terdengar dari dalam kepalaku. Dia bertanya?


"Apa kamu telah kehilangan ingatan mu?"


Aku mengangguk.


Tidak lama dia memanggil seseorang dan dengan cepat menyuruhku untuk ikut dengannya. Masuk ke dalam gubuk rumah yang nyaris hancur itu.


Aku terdiam, tidak mau melangkah masuk. "Ayo cepatlah!" Paksa anak laki laki itu.


Aku menggeleng tidak mau. Tapi dia terus saja memaksaku untuk terus berjalan masuk ke dalam rumah itu. Dia menghela napas berat. "Tidak ada pilihan lain..." ujarnya dengan lirih.


Aku mundur beberapa langkah saat melihat tangannya yang mengeluarkan sebuah cahaya aneh. Benar kata orang itu, dia berbahaya!


Dia menatapku dan tidak lama...


Flop!


Aku menghilang.


Flop!


Dan muncul tepat di hadapannya.


Boom!


Anak laki-laki itu langsung terlempar ke belakang saat serangan angin ku tepat mengenai perutnya. Dia terjatuh dan tidak lama seorang anak perempuan keluar. Menatap semua ini dengan heran. Dan tidak lama, Ia menatapku dengan tajam.


Bersiap melakukan sesuatu...


Namun...

__ADS_1


Flop!


Aku menghilang.


Dan...


"Ahkkk!" aku meringis merasa sakit saat tubuhku dengan keras terbanting mundur. Tepat sebelum serangan ku mengenainya dia sudah lebih dulu menyerang. Aku berusaha bangkit tapi sialnya dia terlalu cepat.


Tik!


Dengan suara yang pelan dia tiba-tiba muncul dihadapan ku dan...


Plak!


Dia menepuk tangan.


Aku memegang kepalaku yang terasa pusing tepat setelah mendengar suara tepukan tangan itu. Semuanya terlihat berkunang kunang dan tepat sebelum aku menyadarinya, anak laki laki itu sudah tepat berada dihadapan ku. Bersiap untuk menyerang.


"Sial!"


Karena dengan begini, kalah sudah aku.


Tapi..


Boom!


Duar!


Suara letusan besar terdengar dan secara bersamaan muncul seorang pria berjubah hitam. Dia menangkap tubuhku dan sementara itu, mereka berdua terbanting dengan keras jauh ke belakang hingga menabrak salah satu rumah di sana.


Aku menatapnya, syukurlah dia sampai tepat pada waktunya. Aku tersenyum, karena kini penyelamat ku telah tiba. "Tama?" panggil ku.


Tama juga menatap ku, dia tersenyum. Aku melihat ke depan, sepertinya bukan hanya Tama yang datang. Karena tiba tiba saja segerombolan orang datang dan langsung menangkap mereka berdua. Hingga membuat membuat mereka berdua berteriak bukan meminta dibebaskan melainkan meminta ku untuk sadar.


Tapi aku memilih untuk tidak mendengarnya.


"Mereka bohong, Amira..."


Aku tersenyum dan memeluk Tama. Ya, dia benar. Namaku adalah Amira bukan Amara...


...~~~~...


Aku menunggu, terus saja menunggu entah sampai kapan. Terakhir kali Tama menyuruh ku untuk menunggu di perpustakaan. Mengingat aku sangat menyukai buku dia menyuruhku untuk menunggu di sini, supaya aku tidak merasa bosan. Tapi tetap saja ini terlalu lama. Bukan karena bukunya yang kurang menarik melainkan ada sesuatu yang lebih membuat ku merasa penasaran.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?


Ingatan saat anak laki-laki itu terus saja membayangi pikiran ku. Sebisa mungkin berusaha untuk melupakannya tapi sia sia.


"Sudah cukup, ini terlalu lama!"


Aku berdiri, beranjak untuk pergi dari sini. Apapun yang terjadi, aku harus segera mengetahui apa yang tengah terjadi.


Tapi kemudian langkah kaki ini seketika terhenti saat sekelebat bayangan asing mulai bermunculan.


"Aww!" aku memegang kepala yang terasa pusing.


Bayangan seseorang yang asing terus saja memaksa untuk masuk. "


"Apapun yang terjadi aku akan terus melindungi mu, Amara..."


"Percayalah padaku, Amara..."

__ADS_1


"Amara..."


Brak!


Hampir saja aku terjatuh dari tangga jika saja Tama tidak segera menangkap tubuhku. "Terimakasih....tapi dari mana saja kamu?" tanyaku.


Tapi bukannya menjawab pertanyaan dariku Tama justru menatapku dengan aneh. "Apa yang kamu ingat?"


"Tidak ada." jawabku bohong.


Aku merasa ada sesuatu yang Tama sembunyikan dariku, tapi apa?


Mendengar jawabanku Tama langsung melepaskan pelukannya dan membiarkan ku untuk berdiri sendiri meski kepala ini terus merasa pusing.


Lalu kemudian Tama menggenggam erat tangan ku. Ia tersenyum manis, "Mari akan ku bantu untuk menghilangkan rasa sakit ini."


Aku menutup mata. Tapi ini terasa sedikit aneh, entah kenapa aku justru semakin merasa pusing.


Sial, kenapa baru sekarang aku menyadarinya!


Sontak saja aku langsung melepaskan genggaman tangannya.


"Pergi!" bentak ku.


"Jadi kamu menyadarinya ya?" tanya Tama dengan senyuman yang terasa menganggu.


Aku melangkah mundur tapi sial, kepalaku semakin terasa pusing. "Siapa kamu? kamu bukan Tama!"


Meski aku tidak mengingatnya dengan jelas tapi aku nyakin akan satu hal. Bahwa dia bukanlah Tama yang kukenal!


Aku berusaha untuk lari tapi kepala ini semakin terasa pusing di tambah lagi kini tubuhku terasa sakit. Sebenarnya apa yang telah dia lakukan padaku!


Aku sudah tidak kuat lagi!


Aku langsung terjatuh tidak berdaya.


Melihat ku, dia justru tertawa senang. "Siapa kau sebenarnya!" teriakku merasa ditipu.


Dan itu membuatku langsung berpikir.


Apa mungkin anak laki-laki yang kutangkap tadi tahu sesuatu. Meski begitu yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa kabur dari si sialan itu.


Aku berusaha untuk menggunakan sihir mana tapi entah kenapa aku tidak dapat merasakan aliran mana di dalam tubuh ku.


Aku menatap Tama palsu itu dengan tajam. "Apa yang telah kau lakukan padaku!"


Dia tersenyum. "Tidak perlu khawatir, aku hanya sedikit melakukan sesuatu. Ku hentikan sementara aliran mana mu hingga tiba saatnya. Hari dimana seluruh rencana yang telah ku bangun berhasil!"


Aku menutup mata. Berusaha untuk tetap tenang. Sekarang bukanlah saatnya untuk merasa kesal melainkan sekarang adalah waktu untuk berpikir.


Bagaimana caranya kabur darinya?


Tapi semuanya sudah terlambat.


Sebuah cahaya sihir keluar dari tangannya. Dia menatapku dengan tatapan senang.


Aku mengigit bibir.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang..."


Dan tepat ketika tangan itu menyentuh kepalaku, semua mulai terlihat buram dan kemudian....

__ADS_1


Semua terlihat gelap...


Bersambung....


__ADS_2